I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 375 Dia Adalah Anak bibiku


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Sepuluh menit kemudian pengurus rumah itu kembali, tapi tidak membawa Serena.


“Mana orangnya? Kenapa tidak kamu bawa kesini?” Tanya Abbott.


Hello! Im an artic!


Pengurus rumah melihat Ralphie dengan hati-hati, lalu berkata: “Nona itu sepertinya sakit.”


Ralphie mendengar pengurus rumah mengatakan Serena sakit, dia langsung penghampiri pengurus rumah, sambil menarik kerahnya, “Dia kenapa? Bawa aku ke dia.”


Pengurus rumah itu di takuti oleh tindakan Ralphie hingga tidak mengatakan apa-apa.


Abbott yang takut akan tindakan Ralphie langsung berkata: “Aku akan membawamu kesana.”


Hello! Im an artic!


Ralphie melepas pengurus rumah itu, lalu dengan cepat mengikuti Abbott.


Malcolm berpikir-pikir, lalu mengikuti mereka.


Abbott setelah membawa Ralphie dan Malcolm jalan selama sepuluh menit lebih, mereka sampai di ruangan bawah tanah vila.


Pintunya dibuka, langsung bisa melihat Serena dengan wajah pucat tertidur di lantai.


Ekspresi Ralphie menjadi buruk, lalu dengan cepat menghampiri Serena, mengangkat Serena ke pelukannya, “Serena……”


Serena seperti kesakitan, tidak membuka matanya.


Mata Ralphie memerah, seluruh tubuhnya terisi dengan amarah yang mengerikan.


Melihat dia yang akan meledak, Malcolm yang masuk dari belakang menyadarkan dia: “Sepertinya karena panas, cepat bawa dia ke rumah sakit.”


Amarah Ralphie memadam, lalu mengangkat Serena, dan langsung berjalan keluar.


Malcolm dengan buru-buru mengikuti dia, saat keluar dan berpapasan dengan Abbott, dia mengatakan kalimat ini ‘Kamu bersiap-siap menerima amarahnya.’.


Sejak Ralphie memeriksa rekaman CCTV di White’s Jewellery International, sampai sekarang, Malcolm bisa menarik satu kesimpulan, Ralphie sangat peduli akan Serena.


Diperjalanan menuju rumah sakit, Serena terbangun.


“Serena, kamu sudah sadar?”


Serena melihat sekeliling, lalu berkata: “Bukankah aku berada di……Kenapa aku bisa ada didalam mobil?”


“Ya, kita sudah pergi dari sana, sedang diperjalanan menuju rumah sakit.” Jawab Ralphie.


“Untuk apa pergi ke rumah sakit?” Serena setelah bertanya tiba-tiba seperti terpikir sesuatu, dia bangun dengan terkejut, “Ralphie, apakah kamu terluka?”

__ADS_1


Ralphie memeluk dia, “Aku tidak terluka, aku akan membawamu ke dokter untuk diperiksa.”


“Aku tidak apa-apa, tidak perlu ke dokter.” Serena menggelengkan kepalanya.


Ralphie berkata dengan tidak setuju: “Kamu barusan pingsan karena panas, akan lebih baik ke dokter untuk diperiksa sebentar.”


Serena tahu Ralphie sangat cemas akan dia, jadi dia tidak memaksa lagi, “Baiklah, pergi ke rumah sakit untuk diperiksa.”


“Ya, bagus……” Ralphie dengan hangat memeluk Serena, terlihat seperti memeluk harta karun.


Malcolm selalu berpikir Ralphie adalah orang yang diam dan cuek, tapi tidak terpikir saat Ralphie di depan Serena, dia menjadi sangat lembut da hangat.


Apakah ini yang dimaksud kekuatan cinta dalam dongeng


Dia menghela napas didalam hatinya, Malcolm berkata sambil tersenyum, “Direktur Su dan Nyonya Su sangat mesra, membuat orang iri.”


Serena saat melihat orang yang berbicara ternyata adalah laki-laki liar yang dia temui di aula White’s Jewellery International, merasa sangat terkejut, “Kamu?”


“Dia adalah Direktur White’s Jewellery International, Serena kenal dengan dia?” Tanya Ralphie.


Malcolm batuk dan berkata: “Ehem……Sepertinya ada kesalahpahaman dengan Nyonya Su.”


“Salah paham? Salah paham apa?” Ralphie menatap Malcolm dengan mata yang tajam.


Malcolm gemetar, dia bersiap menjelaskan kesalahpahaman antara mereka.


Serena dengan cepat berkata, “Tuan ini adalah yang hari itu di aula White’s Jewellery International yang kakinya tidak sengaja aku injak.”


“Terima kasih Direktur Bai.” Serena dengan sopan berterima kasih ke Malcolm.


Mungkin kalau kamu tahu kita adalah saudara, kamu tidak akan mengatakan ‘Terima kasih’ ini.


Malcolm menatap Serena, lalu menggelengkan kepala, “Sama-sama, bukan masalah besar.”


Ralphie terus memperhtikan Malcolm, tentu saja juga menyadari perubahan ekspresi di wajah Malcolm.


Pandangannya berpaling, bermaksud menunjuk dan berkata: “Bantuan Direktur Bai sangat besar.”


Mendengar perkataan Ralphie, respon pertama Malcolm adalah dia mengira Ralphie sudah tahu.


Tidak, dia seharusnya masih belum tahu, tapi dia penasaran.


Malcolm tidak berani asal berbicara, dia hanya tersenyum dan terdiam, fokus menyetir mobil.


Sepuluh menit lebih kemudian, mereka sampai di rumah sakit.


Ralphie setelah menunggu mobilnya berhenti, dia menggendong Serena turun mobil, lalu langsung membawa dia masuk ke dalam rumah sakit.


Saat Malcolm masuk, dokternya sedang memeriksa Serena, Ralphie tetap berada dekat di samping Serena.

__ADS_1


Setelah menunggu dokternya selesai memeriksa, dia tidak bisa menunggu lagi dan langsung bertanya akan kondisi Serena. “Dokter, dia tadi pingsan karena kepanasan, apakah dia kenapa-napa?”


Dokter menjawab: “Anak di dalam perutnya terkena dampaknya sedikit, tapi tidak ada masalah lain.”


Kali ini pertama kali Serena dan Ralphie sama-sama berkata, “Anaknya kenapa?”


Dokternya terkejut dengan perkataan mereka berdua, Dokter itu menelan ludah dan menjawab: “Hanya……Bergerak sedikit saja……, Istirahat saja……Sudah cukup.”


Bergerak……Ralphie merasa bingung, dia teringat Serena yang tadinya keras kepala, matanya pun memerah, lalu dengan dingin berkata ke dokter: “Rawat dia.”


“Tuan, dengan kondisi istri anda yang seperti ini, dia tidak perlu rawat inap, bisa istirahat di rumah……” Dokter itu belum selesai berbicara, Ralphie memotong perkataannya, “Urus prosedur rawat inap, apakah kamu tidak dengar?”


Serena mengerti isi hati Ralphie, dia memegang tangan Ralphie, lalu berkata dengan suara pelan, “Ralphie, aku baik-baik saja, anak kita juga tidak apa-apa.”


Bisikan Serena menenangkan Ralphie, “Ya, tidak apa-apa……”


Malcolm melihat sosok Ralphie dan Serena selama beberapa detik, lalu dengan tenang keluar.


Baru saja keluar, handphone-nya berdering.


Malcolm mengeluarkan handphone-nya dari dalam kantong, melihat di layar handphone-nya, tertera nomor ayahnya.


Kenapa ayahnya menelpon dia? Dengan penasaran, Malcolm menekan tombol angkat.


“Ayah!”


“Malcolm, kamu sekarang dimana?”


Malcolm menjawab, “Di rumah sakit.”


“Kamu ada apa di rumah sakit?”


“Ada sedikit urusan.” Malcolm terdiam dan bertanya, “Ayah menelponku ada apa?”


“Malcolm, kamu kenal dengan Direktur Grup Su?”


Malcolm terdiam, lalu bertanya, “Bagaimana ayah bisa tahu aku mengenal Direktur Su?”


“Barusan Abbott menelponku, dia ingin memintamu untuk meminta bantuan dengan Direktur Su, kalau kamu mengenal Direktur Su, kamu bicaralah dengan dia.”


Malcolm tidak menjawab perkataan ayahnya, dia malah bertanya kembali, “Apakah ayah tahu kenapa aku berada di rumah sakit?”


“Kenapa? Kamu terluka?”


“Anak didalam perut istri Direktur Su ada sedikit masalah, sedang diperiksa di rumah sakit, orang yang menyebabkan itu adalah……” Malcolm terdiam untuk sesaat, lalu berkata ‘Abbott’.


“Apa?” Ayahnya berkata dengan terkejut.


Malcolm tidak mempedulikan ayahnya yang terkejut dan dia melanjutkan perkataannya, “Ada lagi ayah, anda kenal dengan istri Direktur Su, bukan, semua anggota Keluarga Bai mengenal dia.”

__ADS_1


“Semua anggota Keluarga Bai kenal dengan dia? Siapa?”


“Anak dari bibiku, Serena……”


__ADS_2