
Hello! Im an artic!
Di ruangan yang hening, ada wangi yang enak di ruangan.
Serena duduk di pinggir tempat tidur dan menekan tengkuk Ralphie dengan pelan.
Hello! Im an artic!
“Enakan?”
“Ng, enakan. Terima kasih.” Ralphie menoleh ke Serena. Alisnya yang semula berkerut kembali seperti semula.
Melihat Ralphie yang seperti ini, perlahan Serena menjadi tenang.
“Sama-sama. Berbaringlah, aku akan menekannya lagi.”
Hello! Im an artic!
“Ng.” Ia memalingkan kepalanya dan memicingkan matanya.
Serena terus memijat, ekspresi wajahnya lembut, sudut bibirnya terangkat memperlihatkan kepuasan.
Pijatannya yang lembut membuat sakit di tengkuk menghilang. Bulu mata Ralphie yang panjang berkedip. Lama kelamaan matanya terpejam dan ia tertidur.
Tanpa sadar, gerakan tangan Serena berhenti. Ia memperhatikan punggung orang yang berbaring terlentang.
Setelah beberapa saat, ia berdiri dengan pelan dan berjalan ke sisi lain kasur.
Ia melihat wajah tampan Ralphie yang sedang tertidur.
Di bawah penerangan lampu tidur, garis wajahnya yang sempurna mejadi lebih halus.
Serena menatap Ralphie dengan penuh kelembutan.
Hanya saat Ralphie tidur ia berani mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Karena ia tidak memiliki keberanian untuk menanggung konsekuensi Ralphie mungkin menghindarinya jika ia mengatakan apa yang di pikirannya,
“Apa kamu ada sedikit sedikit …” Serena berbisik, ia tidak bisa menahannya dan perlahan ia ingin mengelus wajah tampan Ralphie
Karena terlalu gugup, ujung jarinya gemetar hebat.
Ketika ujung jarinya hampir menyentuh wajah Ralphie, ia berhenti dengan takut.
Serena memandangi wajah tenang Ralphie yang sedang tidur. Ia menelan ludahnya kemudian mengulurkan ujung jarinya dengan hati-hati dan akhirnya mendarat di pipi Ralphie dengan ringan.
__ADS_1
Saat jarinya menyentuh pipi Ralphie, ia merasa ada arus yang kuat mengalir ke jarinya membuat hatinya kacau balau.
Karena takut membangungkan Ralphie, ia segera menarik tangannya.
Dengan hati-hati Serena menatap wajah Ralphie yang tidur. Mendapati ia masih tidur dengan nyenyak, Serena kembali mengulurkan tangannya.
Kali ini dengan hati-hati dari dahi Ralphie yang putih, alisnya, bulu mata panjang dan lentik, hidung yang mancung, mata yang indah, wajahnya yang halus dan akhirnya bibir tipis yang sempurna…
Begitu bibir Ralphie mencium bibirnya, perasaan yang lembut dan hangat dalam ingatannya langsung masuk dalam benaknya, membuat jantung Serena berdebar kencang.
Dia menatap bibir Ralphie dan wajahnya mendekat.
Sekali saja, hanya kali ini saja…
Ia berkata seperti itu dalam hati dan akhirnya menyentuh bibir Ralphie dengan hati-hati.
Dia tidak berani terlalu banyak bergerak. Ia mencium bibir Ralphie dengan ringan dan menariknya dengan cepat.
Serena tersenyum bahagia saat mendapatkan apa yang dia inginkan.
Setelah menatap wajah Ralphie lama, ia menarik selimut dan menyelimutinya dengan pelan kemudian berdiri dan meninggalkan kamar Ralphie…
Tak lama setelah Serena pergi, Ralphie bangun.
Ia duduk dan melihat sekeliling kamarnya, tidak melihat Serena. Ia diam sesaat lalu menyingkirkan selimut dengan cepat dan turun dari kasur.
Lampu dinding di ruang tamu menyala redup, Serena tidak ada di sana.
Ralphie langsung berjalan ke meja dan mengambil ponselnya. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menghubungi Serena.
Setelah menelpon, ia baru sadar sekarang sudah jam 12 tengah malam.
Sudah sangat malam, seharusnya ia sudah tidur…
Takut membangungkannya, dengan cepat Ralphie mematikan telepon yang sudah berdering beberapa kali.
Beberapa detik setelah ia mematikan teleponnya, ponselnya berdering.
Serena yang menelponnya. Jarinya yang memegang ponsel gemetar. Setelah menelan ludahnya, Ralphie menekan tombol jawab.
Tanpa menunggu Ralpie berbicara, terdengar suara Serena yang cemas, “Kenapa? Tengkukmu sakit lagi?”
Mendengar perhatian Serena, satu tempat di hatinya terasa penuh.
“Bukan.” Ralphie diam sejenak lalu melanjutkan, “Sudah sampai rumah?”
__ADS_1
Serena menngiyakan lalu berkata: “Aku di taksi. Sebentar lagi sampai.”
Masih di taksi? Ternyata ia baru saja pergi!
Ralphie mengerutkan bibirnya dan bertanya, “Kenapa tidak memanggilku?”
Setelah keheningan beberapa detik, Serena menjawab: “Kamu tidak enak badan dan juga Kamu sudah tidur.”
Ralphie memegang ponselnya dengan kencang lalu berkata dengan khawatir, “Tidak aman.”
“Aku menggunakan taksi regular, tidak apa.” Serena menjawab sambil tersenyum.
Ralphie mengatakan ‘Hum’ tanpa berkata apapun.
Serena diam beberapa detik lalu berkata: “Nanti aku tidak seperti itu lagi. Aku janji.”
Ralphie berkata ‘Ng’ dengan ringan.
“Kamu ingin makan apa besok? Aku akan membawakan sarapan.” Kali ini suara Serena sangat senang.
Ralphie tertular Serena. Ujung bibirnya terangkat, “Bubur.”
Setelah Serena berkata ‘Ok’ ia bertanya: “Kamu suka bubur apa?”
“Apa saja.” Tak di duga Ralphie yang biasanya pemilih soal makanan tak di bisa mengatakan apa saja. Jika Felix mendengarnya, mungkin ia akan menghela nafas karena Nona Luo punya pesona yang luar biasa.
Telepon masih berlanjut, tidak berakhir di sarapan.
Walaupun kebanyakan Serena yang berbicara dan Ralphie mendengarkan.
Tapi Ralphie tidak memutuskan teleponnya. Tak hanya itu, kadang ia membalas perkataan Serena.
Saat Serena mengatakan ia telah sampai di rumah, Ralphie baru mengucapakan selamat malam.
Meskipun Serena tidur larut malam, namun keesokan paginya ia tetap datang ke mansion Ralphie.
Sebaliknya, Ralphie membuka pintu dengan mata yang masih mengantuk.
Di mata Serena, Ralphie seperti seseorang yang sulit di gapai.
Tapi penampilannya yang baru bangun tidur sekarang membuat Ralphie tidak terlihat seperti itu, membuat orang merasa ia masih seperti orang kebanyakan.
Mungkin tidak banyak orang yang bisa melihat penampilan Ralphie yang seperti ini!
Serena menghela nafas puas kemudian tersenyum dan bertanya, “Apa kamu mau tidur lagi?”
__ADS_1
“Tidak.” Ralphie menggeleng. Ia berbalik menuju kamar mandi.
Serena menyunggingkan senyumnya melihat punggung Ralphie lalu menenteng sarapan ke ruang makan…