
Hello! Im an artic!
Setelah Ralphie selesai melakukan rapat via video, waktu sudah berlalu selama dua jam lebih.
Ralphie mematikan laptopnya, Felix yang berada disampingnya segera memberikan kantong yang Serena berikan kepadanya kepada Ralphie.
Hello! Im an artic!
Memandangi kantong yang berada ditangan Felix, Ralphie seketika mengerutkan alisnya, “Bagaimana ini bisa ada ditanganmu?”
“Tadi Nyonya menyuruhku untuk memberikannya kepada Direktur.” Felix menjawab sejujur-jujurnya.
Kata-kata Felix ini membuatnya kaget dan membuat tangannya bergetar keras, matanya bergetar tidak karuan.
Setelah beberapa saat Ralphie kembali dari kesadarannya dan bertanya, “Dia bilang kalau ini buat aku?”
Hello! Im an artic!
Felix dengan terheran-heran memandangi Ralphie sekejap, baru kemudian mengangguk, “Iya.”
Baju ini sebenarnya dia kasih ke aku, bukan untuk laki-laki itu…..
Hal semengejutkan ini menenangkan kecemburuan yang ada di hari Ralphie. Dia mengambil kantong itu dari tangan Felix, kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Felix yang memperhatikan gerak-gerik atasannya itu merasa sedikit aneh.
Kira-kira setelah dua menit Ralphie kembali kedalam ruang kerjanya dan bertanya, “Dia pergi kemana?”
Dia? Nyonya? Felix tercengang menjawab, “Nyonya sudah pergi ke bandara, sekarang mungkin sudah didalam pesawat.”
Sudah didalam pesawat? Ralphie tertegun, kemudian baru tersadar bahwa dia lah yang menyuruh Felix untuk mengatur kepulangannya ke kota A.
Selang beberapa waktu, Ralphie melambaikan tangannya mengisyaratkan Felix untuk keluar dari ruangannya.
Felix sedikit kebingungan, tapi masih membungkuk hormat kepada Ralphie kemudian membalikan badan pergi meninggalkannya.
Setelah pintu ruangannya tertutup, dengan terburu-buru membuka kantong itu, mengambil kemeja dari dalamnya.
Matanya fokus memandang ukuran baju yang sangat familiar, sudah jelas hanya melihat ukuran baju itu dia tahu jawabannya. Tetapi dia masih mengira bahwa baju itu Serena beli untuk laki-laki lain.
Memandangi kemerja yang dipegangnya membuat ujung bibir Ralphie bergetar, dan tidak disangka sorot matanya melembut.
Cahaya didalamnya bagaikan air, bergelombang tanpa henti.
Setelah mengetahui bahwa baju sebenarnya akan diberikan kepadanya, perasaan Ralphie menjadi tidak karuan, dengan kebaikannya memberikan Felix libur setengah hari, dia menenangkan diri duduk di sofa menonton televisi.
Menduga bahwa Serena sudah turun dari pesawat, dia segera mengambil hpnya dan segera menelpon Serena.
__ADS_1
Serena naik pesawat kembali ke kota A pada jam tiga sore, setelah tiga jam seharusnya pesawat sudah mendarat.
Serena membawa kopernya dan keluar dari pintu keluar VIP, dan dari kejauhan melihat sosok yang sangat familiar, Elizabeth.
Apa dia akan naik pesawat menuju ke Kyoto? Hal ini muncul dalam pikiran Serena seketika, tetapi Elizabeth malah mengayunkan tangan kearahnya.
“Nyonya, tuan Felix menyuruhku menjemput nyonya.”
Ternyata Felix yang menyuruhnya! Serena tersenyum pahit dan mengangguk, “Kalau begitu maaf jadi merepotkanmu nona Eizabeth.”
“Tidak merepotkan, ini adalah pekerjaanku.” Elizabeth tersenyum, dan segera membawakan koper yang dibawa Serena.
Sebenarnya Serena tidak membolehkannya, tetapi Elizabeth bersikeras, alhasil dibiarkannya koper miliknya itu dibawa dia.
Mengendarai mobil Elizabeth dan Serena yang terduduk di kursi, memandangi lampu gemerlap kota A, perasaannya sedikit gelisah.
Dia kemarin tinggal di Kyoto selama hampir duapuluh hari, kalau bukan karena kakek yang menelpon memintanya kembali, mungkin dia tidak akan kembali saat ini.
Bersama dengan Ralphie, eh sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan…..
Saat Serena sedang melamun, handphone didalam sakunya tiba-tiba berbunyi.
Saat turun dari pesawat dia baru menghidupkannya, sebenarnya siapa yang pada saat seperti ini menelponnya?
Serena dalam hatinya bertanya-tanya sambil mengeluarkan hp dari saku nya. Saat melihat layar di hp bahwa Ralphie lah yang menelponnya, jantung Serena berdegup sangat kencang.
Dia kenapa sampai menelpon Serena?
“Kamu sudah sampai kota A?
“Baru saja sampai.” Serena menjawab seraya menahan ujung bibirnya.
Ralphie menyaut dengan “Ooh, apa kamu bertemu dengan Elizabeth? Dia seharusnya menjemputmu di bandara?”
Serena memandang ke arah kemudi dan melihat Elizabeth sekilas kemudian menjawab, “Iya, aku sudah berada didalam mobilnya.”
Ralphie kembali dengan “Ooh” nya, terdiam beberapa saat baru kemudian melanjutkan, ” Felix sudah memberi ku kantong yang kamu kasih.”
Felix sudah memberikan kantong itu ke dia? Serena memegang hpnya dengan sangat kuat, kemudian bertanya dengan tertawa, “Itu.. itu mungkin tidak lebih baik dari beberapa baju yang kamu miliki, kalau kamu tidak suka, kamu bisa membuangnya…..”
Serena belum menyelesaikan kalimatnya, seketika Ralphie menyela, “Aku sangat suka….”
Mendengar Ralphie yang berkata bahwa dia menyukainya, ujung bibir Serena mulai bergetar, “Baguslah kalau begitu.”
“Terima….. kasih.” Saat mengucapkan kata Terima kasih, Ralphie sedikit terbata-bata.
“Sama-sama.” Serena menjawab sambil memandangi pemandangan diluar jendela mobil.
__ADS_1
“Oke. Aku ada sedikit urusan, aku tutup telponnya ya.”
“Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.” Setelah itu Serena langsung menutup teleponnya.
Mobilnya dengan cepat sudah memasuki kawasan kota, setelah hampir sampai The Waterfront Blossom, Elizabeth bertanya, “Nyonya, apa tidak apa-apa jika kita makan malam di The Waterftont Blossom?”
Serena memandangi tempat itu dari kejauhan sekilas, kemudian menggelengkan kepala, “Tidak usah, lebih baik balik ke rumah dan makan.”
Serena akan kembali dirumah dan makan dirumah, Elizabeth tentunya tidak bisa menolak, menganggukan kepalanya dan berkata, “Baik”, kemudian kembali melajukan mobilnya ke arah rumah.
Setelah setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di kompleks perumahan, Serena dari kejauhan sudah melihat ada seseorang yang sedang berdiri diluar rumahnya.
Serena seketika mengerutkan keningnya, sekarang sudah jam sembilan malam, cuaca sedingin ini, orang macam apa yang sedang berdiri diluar rumahnya.
Setelah mobil berhenti, orang itu yang ternyata adalah pelayan dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Serena.
“Nyonya, anda sudah kembali.”
Mendengar perkataan pelayan itu, Serena tiba-tiba tersadar, pelayan sengaja untuk menunggunya sehingga berada diluar.
Serena merasa sedikit aneh, merasa sedikit bersalah.
“Maaf ya, cuaca malam sedingin ini masih membuatmu menungguku diluar.”
Pelayan itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Nyonya terlalu sungkan.”
Elizabeth mengambil koper yang berada di mobil untuk dibawakan oleh pelayan itu, kemudian berkata kepada Serena:” Nyonya, saya masih ada sedikit urusan, mau pamit dulu.”
Mendengar perkataan Elizabeth, Serena membalikkan badan ke arahnya, “Buru-buru sekali?”
“Iya, harus pergi mengurus sesuatu.” Elizabeth menjawab dengan melingkarkan senyumnya.
Mendengar bahwa Elizabeth yang ada urusan, Serena juga tidak ingin memaksanya untuk tinggal, kemudian menganggukan kepalanya, “hati-hati di jalan.”
“Baiklah.” Elizabeth hormat membungkukkan badan baru setelah nya kembali masuk kedalam mobil.”
Setelah melihat Elizabeth pergi dengan mobilnya, Serena mengikuti pelayan yang tadi menjemputnya masuk kerumah.
Setelah masuk kedalam rumah, Serena mengangkat kopernya ke lantai atas.
Tidak sampai sepuluh menit pelayan datang mengetuk pintu, ” Nyonya, makan malam nya sudah siap.”
Secepat ini sudah siap? Serena sedikit takjub menaik turunkan alisnya.
Kemudian mengiyakan dan mengikutinya turun kebawah.
__ADS_1
Diatas meja sudah tertata makanan yang melimpah, ditambah lagi semuanya adalah makanan kesukaan Serena.
Tidak diragukan lagi, Felix menyiapkannya dengan sempurna, tidak heran kalau Ralphie sangat percaya kepadanya, hal ini bukan tanpa alasan.