I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 92 Mempertanyakan Alfred


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena sudah siuman dan Ralphie pun sudah merasa sangat lega, walaupun mereka masih belum tahu laki-laki yang menangkapnya itu adalah siapa, tetapi Ralphie tidak tergesa-gesa karena ia percaya Felix pasti bisa mendapatkan infromasinya dengan sangat cepat.


Setelah ia keluar dari kamar itu, ia pun pergi ke kamar sebelah yang pernah ditiduri oleh Serena.


Hello! Im an artic!


Dia baru tidur sebentar, handphonenya sudah berdering.


Ia melihat langit di luar jendela sudah terang lalu ia pun mengangakt teleponnya.


Ini adalah telepon dari Felix dan ia melaporkan info yang ia dapatkan kepada Ralphie.


“Direktur Su, kita sudah menemukan orang dibalik kejadian ini.”


Hello! Im an artic!


“Baik, siapa pelakunya? “Ralphie menanyakannya dengan sangat tenang.


“Berdasarkan info yang kita dapat dari kedua orang itu, orang yang menyuruh mereka adalah Alfred.”


Setelah mendengar nama Alfred, Ralphie sedikit merasa terkejut.


Emangnya karena ia sudah menghajarnya hari itu, jadi ia mau balas dendam kepada Serena?


Ralphie mengerutkan keningnya lalu bertanya, “Sekarang orangnya ada disana?”


“Sudah diserahkan kepada polisi.” Felix menjawab.


Warna wajah Ralphie sangat gelap lalu ia bertanya: “Perhatikan hasil info yang didapatkan polisi sana.”


“Baik.” Felix menjawabnya lalu bertanya, “Direktur Su, kemarin kita menemukan tas Nona Serena, nanti saat kamu datang kerja, kamu mau mengambilnya atau……”


Felix masih belum menyelesaikan perkataannya, Ralphie langsung memotong pembicaraannya, “Kamu antar kesini, hari ini aku tidak pergi kerja.”


“Hari ini anda tidak datang kerja?” Felix sedikit terkejut.


Ralphie mengerutkan keningnya dan menjawab ‘Iya’


Felix dengan takur berkata: “Tapi, Direktur Su, hari ini anda ada meeting yang penting dengan Grup Sphere.”


Ralphie dengan tenang menjawab: “Ganti hari.”


Mendengar Ralphie berkata ganti hari, Felix serasa ingin menangis, tetapi keputusan yang sudah dibut Direktur Su lebih tidak bisa diganti lagi, “Baik, Direktur Su.”


Ralphie manjawab ‘Baik’ lalu menutup teleponnya.


Ralphie melihat jam, sudah jam tujuh pagi, ia tidak berencana untuk melanjutkan tidurnya, lalu ia pun pergi cuci muka dan mempersiapkan sarapan.


Setelah ia selesai menyediakan sarapan, ia pun pergi keatas dan memanggil Serena.

__ADS_1


Ketika ia mengetok pintu, Serena sudah bangun dan ia sedang membereskan tempat tidurnya.


Serena menoleh dan melihat Ralphie yang sedang bediri didepan pintu kamarnya.


“Pagi!” Serena tersenyum dan menyapanya.


“En, hari ini sudah merasa enakan tidak?” Ralphie masih bediri didepan pintu.


“Sudah enakan.” Serena menganggukkan kepalanya.


Ralphie melihatnya beberpa detik lalu berkata, “Sarapannya sudah aku siapkan.”


“Oh, baik aku segera kesana.” Serena berbalik dan membereskan tempat tidurnya yang masih belum selesai dirapikannya, setelah selesai ia pun turun dan menikmati sarapannya.


Sarapan hari ini Ralphie siapkan sesuai dengan pemintaan yang diminta oleh Dokter Chen bubur.


Walaupun Serena sudah merasa baikan tetapi selera makannya masih belum pulih.


Setengah mangkok bubur itu belum diselesaikann saja ia sudah beranjak bediri.


Ralphie melihat Serena yang meninggalkan meja makan, lalu Ralphie langsung membereska makanan itu dan meletakkannya ke dapur.


Ketika Ralphie keluar dari dapur, Serena baru turun dari lantai atas.


“Itu………aku mau pergi kerja.”


Ralphie terdiam beberapa saat lalu berkata, “Izin”.


Ralphie menjelaskan: “Badan kamu masih belum pulih total, tunggu info dari polisi dulu.”


Akhirnya Serena mendengarkan Ralphie dan telepon ke kantornya dan izin kerja.


Setelah selesai izin, Serena melihat Ralphie yang sedang duduk di sofa dan menonton televisi seolah tidak pelu kerja, lalu ia tidak bisa menahannya dan bertanya, “Hari ini kamu tidak kerja?”


“Istirahat.” Ralphie menjawabnya dengan tenang.


Serena tidak banyak berpikir dan menemaninya menonton televisi.


Beberapa saat kemudian, dari lua terdengar suara bel.


Ralphie pun pergi membuka pintu, dan didepan rumahnya berdiri dua polisi kemarin.


“Selamat pagi Direktur Su.”


Ralphie manjawabnya ‘Iya’ lalu membuka pintu dan membiarkan mereka masuk.


Setelah polisi itu masuk, Serena yang sopan pun memperkenalkan dirinya lalu mempertanyakan kejadian yang terjadi semalam.


Serena menceritakan kejadian yang terjadi kemarin lalu polisi pun memberitahukannya hasil investigasi yang mereka dapatkan.


“Nona Serena, kemarin kita terus mencari informasi dari kedua laki-laki yang menangkapmu kemarin malam, lalu kita menemukan orang yang menugaskan mereka bernama Alfred, tidak tahu apakah anda mengenalnya?”

__ADS_1


Setelah mendengar polisi mengatakan ‘Alfred’, Serena pun langsung terkejut, “Bagaimana bisa dia?”


“Apakah Nona mengenalnya?” Polisi bertanya.


Serena menjawab: “Dia adalah kakak kelasku saat aku kuliah, aku tidak tahu kenapa ia berbuat hal seperti ini.”


Polisi menjawab: “Alasan dibalik hal yang ia lakukan akan kita cari, setelah hasilnya keluar kita akan memberitahukan anda.”


“Baik, terima kasih.” Serna menundukkan kepalanya.


Menunggu setelah kedua polisi itu pergi dari sana, muka Serena pun langsung berubah dan ia berkata; “Aku sungguh tidak menyangka ternyata adalah Alfred.”


Ralphie mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Serena tetapi tidak mengatakan apa-apa.


Serena sudah bersama dengan Ralphie lumayan alam, ia sudah terbiasa dengan sikap Ralphie yang diam seperti ini.


Dia juga tahu tatapan mata dari Ralphie itu adalah balasan kepadanya, lalu ia pun membuka multunya, “Aku tidak mengerti kenapa orang bisa berubah seperti ini? Dulu, ia bukan orang seperti ini, kamu tahu tidak?”


Sebenarnya Ralphie sangat suka Serena yang seperti ini, ia terus berbicara dan Ralphie hanya mendengarkannya disamping.


Tapi hari ini ia tidak suka dengan topik pembicaraannya Alfred.


Ia tidak suka ia mengatakan tentang Alfred dan berpikir tentangnya.


Tetapi apakah ia boleh menolaknya? Jadi walaupun ia sangat tidak suka mendengarnya, tetapi ia tetap menjawab Serena dan menggelangkan kepalanya menandakan ia tidak tahu.


Melihat Ralphie menjawabnya, Serena pun mulai menceritakan tentang Alfred, “……… dia lebih besar satu angkatan dari aku, dari hari pertama aku sekolah aku sudah mengenalnya, waktu itu ia sama sekali tidak seperti ia yang sekarang, ia adalah orang yang disukai banyak orang, sangat lembut dan mendapat julukan pangerann berkuda putih…….”


Mendengar Serena berkata ternyata Alfred adalah orang yang terkenal di sekolahnya, Ralphie pun emngalihkan pandangannya dan melihat ke layar televisi.


Serena sama sekali tidak menyadari Ralphie sudah tidak tertarik mendengarnya, ia masih saja terus bercerita tentang Alfred.


Setelah sekian lama ia menyadari Ralphie tidak meresponnya, ia pun melihat ke arah Ralphie.


Ia baru sadar ternyata Ralphie sudah tidak mendengarnya dan menonton televisi.


Cahaya dari luar jendela terpancar ke wajahnya dan membuat wajahnya yang tidak senang terlihat sangat jelas.


Lalu Serena sedikit merasa sedih.


Kenapa ia bisa tidak senang? Dia kenapa?


Ketika otaknya dipenuhi dengan pikiran ini, ia pun membuka mulutnya dan bertanya, “Ralphie, kamu kenapa?”


Setelah mendengar suara dari Serena, Ralphie pun langsung mngelap wajhanya dengan tangannya dan berkata, “Tidak apa-apa.”


Serena melihat wajah Ralphie selama beberapa detik lalu ia tidak menemukan wajah tidak senang itu lagi di wajahnya.


Emangnya tadi ia salah lihat?


Ralphie dengan lembut bertanya, “Mau makan sedikit makanan yang manis tidak?”

__ADS_1


“Heh?” Serena awalnya bingung sebentar lalu menjawab “Baik.”


__ADS_2