
Hello! Im an artic!
Setelah melewati masa makan kue bersama, hubungan Serena dan Ralphie memasuki tahap yang cukup baik.
Ralphie setelah jam kerja akan terus membawakannya kue yang Serena suka makan.
Hello! Im an artic!
Serena pelan-pelan tersenyum, mengambil ponsel untuk melihat jam dan waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Serena meletakkan pulpen, kemudian berdiri buka pintu, lampu ruangan baca Raplhie yang diseberang masih menyala.
Awalnya Serena sama sekali tidak tahu Ralphie akan sibuk sampai malam sama seperti dia, hanya saja pagi hari ini tanpa sengaja mendengar asisten rumah tangga bangun tengah malam dan melihat Ralphie turun ke bawah untuk membuat kopi.
Serena melihat sebentar kearah ruangan baca, kemudian berbalik badan turun kebawah.
Hello! Im an artic!
Ketika Serena naik kembali, dia membawa nampan yang berisi segelas susu dan segelas kopi.
Sebelum dia membawa nampan masuk kedalam ruangan baca Ralphie, Serena mengetuk pintu ruangan dengan pelan.
Setelah beberapa detik, barulah terdengar suara langkah kaki.
Pintu ruangan baca pun terbuka, Ralphie muncul dari belakang pintu, lampu ruangan baca yang terang menyinari dia.
Serena terbengong sebentar.
Ralphie terkejut karena tak menyangka Serena akan datang mengetuk pintu tengah malam, Ralphie tahu Serena setiap hari akan tidur larut malam karena harus mengejar sketsanya, dia merasa sedih tetapi tidak dapat melarangnya. Jadi dia hanya bisa membawa kerjaan kembali ke rumah dan menemaninya.
Tak sangka Serena akan menyadarinya.
Pandangan Ralphie terpacu pada nampan yang dibawa oleh Serena, Serena tahu dia sibuk maka sengaja membuatkan dia kopi?
Hatinya merasa hangat, Ralphie dengan pelan berkata, “Kamu kenapa belum tidur?”
Didalam ruangan yang tenang, suara Ralphie terdengar sangat hangat dan lembut.
Benar-benar terdengar sangat menggoda, Serena menelan ludah, kemudian berkata, “Aku akhir-akhir ini mengejar gambar sketsa, jadi tidurnya lebih malam.”
“Oh.” Ekspresi wajah Ralphie yang seakan mengerti.
“Tadi aku ke bawah untuk membuat susu, terus lihat kamu sepertinya belum tidur, jadi aku bikinin kopi untuk kamu.” Kata Serena.
“En, terima kasih.” Kata Ralphie, kemudian dia mundur dua langkah, “Sini masuk.”
Serena menganggukan kepala, menyajikan kopi masuk kedalam ruangan.
Ini pertama kalinya Serena masuk kedalam ruangan baca milik Ralphie, dekorasinya sedikit berbeda dengan Shadewoods Manor.
__ADS_1
Selain sofa, meja kerja, kursi, rak buku yang sama masih ada satu barang unik yang sama yaitu ayunan.
Diluar jendela, ternyata ada sebuah ayunan.
Kelihatannya masih sangat baru, tidak ada yang pernah duduk, tetapi barang ini muncul diruangan baca Ralphie, benar-benar sangat unik.
Ayunan ini seharusnya dipasang dikamar dia!
Okelah, Serena mengaku dia suka dengan ayunan itu.
Serena terpana dengan ayunan yang ada didepan hingga lupa meletakkan kopi diatas meja.
Perilaku yang begitu jelas, kalau Ralphie tidak menyadari berarti dia benar-benar buta.
Ralphie mengalihkan pandangannya kearah ayunan, lalu tersenyum diam-diam.
Ralphie ingat kalau Serena menyukai ayunan, ketika berada di Kyoto, didepan hotel ada sebuah ayunan, dan dia tertidur disana.
Mata Ralphie berbinar-binar, hati Ralphie seakan ada ide.
“Sketsa hari ini sudah selesai digambar?” Tanya Ralphie basa-basi.
Mendengar Ralphie yang tiba-tiba berbicara, Serena terkejut, kemudian menggelengkan kepala “Masih ada satu sketsa yang baru saja selesai setengah.”
Ralphie menganggukan kepala dan berkata ‘En’, kemudian berkata: “Maaf jadi repotin kamu agar meletakkan kopi di atas meja kerjaku.”
Serena menjadi sedikit awkward, kemudian dengan cepat meletakkan kopi.
“Kalau begitu aku balik kamar duluan ya.” Selesai Serena berbicara, dia bergegas berbalik badan untuk pergi.
Tetapi baru saja dia berjalan dua langkah, Ralphie tiba-tiba berbicara: “Cahaya lampu kamar terlalu terang membuat mata sakit.”
“Cahaya lampu lentera tidak terlalu cocok untuk kamu yang menggambar sketsa, kamu gambar disini saja.”
Selesai berbicara Ralphie kembali berkata, “Ruang baca cukup besar kok.”
Serena sedikit terdiam, lalu menganggukan kepala, “Oh, oke.”
Mendengar Serena berkata oke, hati Ralphie merasa lega.
Jujur, menghadapi kontrak kerja sama yang hingga miliyaran, Ralphie dapat melakukannya dengan tenang.
Tetapi keputusan kecil Serena dapat membuatnya nervous setengah mampus.
Melihat punggung Serena yang berjalan kekamar, Ralphie diam-diam menghela nafas lega.
Barang Serena tidak banyak, hanya beberapa data, pulpen dan kertas gambar.
Tidak memakan banyak meja kerja Ralphie.
__ADS_1
Berdua, yang satu sedang melihat dokumen, yang satu sedangn menggambar sketsa, walaupun sibuk masing-masing, tetapi seperti ada rasa gembira dan kehangatan disekitar.
Karena semalam menggambar sketsa di ruangan baca Ralphie, maka malam hari kedua, tanpa perlu menunggu Ralphie berbicara, Serena setelah makan malam langsung mengambil barang masuk ke dalam ruangan baca Ralphie.
Lama-lama kedekatan mereka pun semakin terbentuk.
Sehari demi sehari lewat, sudah menjelang tahun baru.
Sketsa yang perlu diselesaikan Serena juga semakin sedikit, dia juga tidak perlu berlarut malam lagi, Ralphie walaupun masih membawa pulang beberapa kerjaan untuk dikerjakan, tetapi dia tidak sibuk hingga malam hari lagi.
Satu minggu sebelum cuti, Serena akhirnya meyelesaikan semua kerjaan yang diberikan oleh Dottie.
Hari dimana Serena memberikan sketsa kepada Dottie, Serena sengaja mengajak Louisa keluar untuk merayakan.
“Cepetan ucapin selamat buat aku, aku akhirnya menyelesaikan semua pekerjaan.”
Louisa terdiam sebentar, “Semua kerjaan yang dikasih Dottie sudah kamu selesaikan semua?”
“Ia……” Dimulut Serena masih ada makanan yang belum ditelan.
Louisa dengan tatapan bingung berkata, “Bukankah kamu bilang sebelum cuti baru akan menyelesaikannya? Kenapa sekarang cepet banget selesainya?”
“Beberapa hari ini lagi cepat saja.” Setelah berbicara selesai, wajah Serena menjadi sangat merah.
Louisa makan sambil berkata, “Berarti……kamu sudah serahkan semuanya kepada Dottie?”
“En, sudah kasih dia semuanya.” Jawab Serena sambil menganggukan kepala.
Louisa terdiam beberapa detik kemudian bertanya, “Serena, kamu percaya Dottie begitu saja?”
Serena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Louisa, “Apa percaya dia?”
“Yah……” Baru saja Louisa ingin menjelaskan, ponsel disaku Serena pun berdering.
Serena tersenyum minta maaf pada Louisa, kemudian mengangkat telepon.
Mendengar suara yang ditelepon, Serena dengan sikap dingin berkata ‘Salah sambung’ lalu memutuskan telepon.
Louisa melihat raut wajah Serena yang tidak enak, kemudian berkata, “Kenapa?”
“Ngga apa-apa, cuma salah sambung saja kok…….” belum serena berbicara selesai, ponsel kembali berdering.
Dengan wajahnya yang dingin, Serena langsung mematikan ponselnya.
Serena mendongakan kepala dan melihat Louisa sedang menatapnya, Serena tersenyum berkata: “Orang ini selalu telepon mengganggu.”
“Kamu blacklist saja.” Louisa mengambil minuman yang ada diatas meja dan meminumnya.
“Nanti aku pulang akan memblacklistnya.” Serena menganggukan kepala, kemudian mengambil sumpit dan lanjut makan.
__ADS_1