
Hello! Im an artic!
Serena bukan hanya kali ini memasuki ruang kerja Ralphie, juga bukan hanya kali ini meihat Ralphie yang sedang menunjau dokumen. Tetapi Serena belum pernah melihat bagaimana sikap Ralphie terhadap bawahannya.
Berwibawa, tenang seperti bisanya, memberikan kesan arogan yang sangat terasa berbeda, saat Ralphie sedang serius, fokus seperti saat ini, mengangkat satu tangannya, memancarkan aura kekuatan dan kepercayaan diri yang sangat mendominan.
Hello! Im an artic!
Ekspresi mukanya selalu datar seperti itu, tidak memancarkan ekspresi yang tidak diperlukan, suaranya yang ringan, nada bicara yang sangat cool, cuek, suasana hati yang tidak gampang meledak-ledak, dengan ciri khas yang dia banget.
Serena memandangi Ralphie, hingga membuatnya termenung.
“Kamu cari aku ada……..” setelah selesai melakukan rapat via video, Ralphie mengangkat kepalanya dan mendapatkan bahwa Serena sedang menatapnya, perkataannya seketika terhenti.
Serena tertangkap basah sedang memandangi Ralphie, dia merasa sangat tidak nyaman, “Itu…… tidak apa-apa, aku cuma ingin tau kamu sudah selesai apa belum?”
Hello! Im an artic!
“Masih ada beberapa dokumen yang harus dipelajari.” Ralphie menjawab dengan memandang Serena.
Serena dengan malu-malu berkata, “Baiklah, kamu kerjain aja, tidak usah memperdulikanku.”
Ralphie mengiyakan, mengambil satu dokumen dan mulai membacanya.
Serena juga tidak berani diam-diam memandangi Ralphie lagi, mengambil buku dari atas meja kecil untuk dibacanya.
Sampai membukanya, dia baru menyadari bahwa di covernya terdapat tulisan Ralphie.
Spesifiknya apa yang dia tulis, Serena juga tidak mengetahuinya, tetapi setidaknya ada buku setebal ibu jari, penuh dengan tulisan, bisa dibayangkan seberapa lama dan tenaga yang dia gunakan untuk menulisnya.
Orang-orang merasa iri terhadapnya, Ralphie adalah Direktur dari Grup Su, punya kekuasaan yang tidak mutlak, memiliki kekayaan yang sangat melimpah, tetapi tidak ada tau mengenai seberapa besar usaha yang telah dia lakukan sampai berada pada posisi ini.
Selama dia tinggal bersama dengan Ralphie, dia hampir melihat Ralphie yang lembur setiap malam.
Meskipun saat di Kyoto dia sempat terluka dan dirawat dirumah sakit, dia juga harus meninjau bertumpuk-tumpuk dokumen.
Serena memutar kepalanya, melihat Ralphie yang sedang menggaruk salah satu alisnya, dan tangan yang lain sedang membalikkan dokumen, membuat matanya terasa perih.
Kemudian dengan sadar mulai berdiri dan berjalan ke arah Ralphie, mengulurkan tangan dan menutup dokumen yang berada ditangannya.
Dari atas dokumen tiba-tibe muncul sebuah tangan yang sangat lentik yang membuat Ralphie terdiam, kemudian mengangkat kepalanya menandang Serena.
“Aku mau keluar, apa kamu mau keluar bersamaku?”
Mendengar perkataan Serena, Ralphie mengira dirinya sedang berkhayal.
__ADS_1
Sudah berapa lama dia tidak mengajak Ralphie keluar? Saking lamanya sampai Ralphie mengira selama hidupnya tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi.
Serena mendapati Ralphie yang terdiam, mengira Ralphie akan menolak ajaknnya.
Dari sorot matanya terlihat ada sedikit kekecewaan, saat dia akan mengatakan bahwa, “Kalau kamu tidak ada waktu maka lupakan saja, ”
Ralphie segera menjawab, “Baiklah.”
Mendengar Ralphie berkata “Baiklah” sorot mata Serena seketika bersinar, “Kalau begitu aku pergi ganti baju dulu.”
“Iya.” Ralphie menganggukan kepalanya, kemudian berkata, “Pakai yang sedikit lebih tebal.”
“Iya, aku tunggu kamu dibawah.” Serena langsung membalikan badan, berlari kegirangan keluar dari ruang kerja Ralphie.
Melihat ekspresi kegirangan Serena yang keluar dari ruang kerjanya, alis matanya menyiratkan sedikit senyuman, kemudian menutup dokumen yang sedari tadi dibacanya, kemudian berdiri mengambil jaket yang digantung di sebelahnya kemudian memakainya dan segera keluar dari ruang kerjanya.
Serena pada awalnya mengira dia harus menunggu Ralphie beberapa waktu lagi, tidak disangka begitu dia sampai dibawah, Ralphie sudah disana terlebih dulu menunggunya.
“Kamu buruan turun!”
Ralphie tidak berkata apa-apa, pandangan matanya tertuju pada Serena mengamatinya.
Dia kenapa melihat Serena? Apa di wajahnya ada sesuatu? Atau karena Serena pakai baju yang tidak cocok?
Serena menundukkan keplanya kebingungan, melihat dirinya sekilas, ternyata tidak ada yang aneh, dan berencana bertanya kepda Ralphie.
Serena yang berpikir berlebihan? Serena menggaruk hidungnya yang tidak gatal itu, kemudian mengiyakannya dan segera mengikutinya pergi.
Setelah naik mobil, Ralphie bertanya, “Mau pergi kemana?”
“Pergi ke Drisker Mansion.” Serena melanjutkan kalimatnya, “Aku ingin pergi kesana untuk makan tiramissu, boleh tidak?”
Ralphie mengiyakan, dan tidak berkata-kata lagi.
Setelah duduk sebentar kemudian dia mengambil hp dari kantong, kemudian melihat-lihat.
Kemudian berkata, “Malam ini di East Plaza akan ada pertunjukan kembang api…..”
“Sayang sekali sudah kelewatan, eiii….benar-benar sangat disayangkan…….”
Ralphie memalingkan kepalanya melihat Serena sekilas, kemudian kembali menatap jalan didepannya.
Sampai pada saat lampu merah, Ralphie mengeluarkan hp dari kantongnya, dengan cepat mengetik sebuah pesan dan mengirimnya.
Serena masih sibuk memainkan hpnya, sama sekali tidak memperhatikan perilaku Ralphie.
__ADS_1
Saat lampu hijau kembali menyala, Ralphie kembali memasukkan hpnya kedalam kantong, memulai menginjak gas mobilnya dan melaju.
Satu jam kemudian, sesampainya di Drisker Mansion, mereka membeli tiramissu.
Saat kembali menuju ke mobil, Ralphie bertanya, “Masih ingin pergi kemana lagi tidak?”
Serena terdiam dan kemudian menggelengkan kepalanya berkata, “Tidak.”
“Kalau begitu aku bawa kamu pergi kesuatu tempat? ” Ralphie menaik turunkan alisanya sambil bertanya.
Serena bertanya, “Ke mana?”
Ralphie tidak memberitahu Serena mereka akan pergi kemana, dia hanya berkata, “Nanti kamu juga akan segera tau.”
Setelah sampai ditempat tujuan, Serena masih tidak berani mempercayainya.
Ralphie ternyata membawanya pergi ke sebuah kastil tempat dimana dia dan Ralphie menikah.
Sebenarnya ini adalah tempat pernikahan yang kakek siapkan untuk mereka, tetapi karena saat waktu pernikahan Ralphie malah membawanya pergi, kemudian sejak saat itu dia tidak pernah kembali ketempat ini.
Sekarang kenapa dia membawa Serena kemari? Serena kebingungan memandangi kastil diluar mobil yang yang bersinar terang.
Saat Serena sedang melamun, Ralphie mematikan mesin mobilnya, segera turun dari mobil. Kemudian berjalan menuju kursi disamping kemudi dan membantu Serena membuka pintu mobil.
“Ayo turun.”
Serena kembali tersadar dari lamunannya, memandang ke arah Ralphie kemudian sambil memegangi tiramissu turun dari mobil.
Ralphie menutup pintu mobil, menguncinya, kemudian mengukurkan tangan menggenggam tangan Serena, “Ayo jalan.”
Serena mematung melihat Ralphie, melihat dia yang sampai detik ini tidak menjelaskan alasan mereka datang kemari, kemudian segera mengikuti langkahnya.
Ralphie membuka pintu utama, membawa Serena masuk kedalam.
Sebenarnya Serena mengira bahwa semua lampu menyala, pasti ada orang didalamnya
Setelah dia masuk dia baru menyadari bahwa didalam tidak ada seorangpun.
Jangan bilang Ralphie tangah malah membawanya kemari hanya untuk melihat-lihat kastil ini? Serena merasa bahwa kasil yang sangat megah jni sangat menarik untuk dilihat-lihat, tetapi ini sudah tengah malam, rasanya sedikit aneh.
Tetapi Ralphie tidak membawanya keliling, malah membawanya pergi ke restaurant. Meja makan megah ini ternyata sudah penuh dengan makanan, saking banyaknya sampai membuat Serena tercengang.
Serena mengayunkan bibirnya dan berkata: “Kenapa kamu dari awal tidak bilang bahwa kamu telah menyiapkan makan malam? Tau begitu aku tidak akan membeli tiramissu.”
“Tiramissunya letakan saja di kulkas, besok baru dimakan lagi.” Ralphie menjawab.
__ADS_1
Tiramissu tidak bisa dibandingkan dengan santapan semewah ini, jadi Serena setuju begutu saja, “Baiklah.”