I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 86 Laki-Laki Brengsek Ingin Melihat Ke Masa Lalu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ketika Serena menghubungi Ralphie, sekertaris di kantor Felix sedang mengambilkan sebuah dokumen yang hendak disetujui olehnya.


Karena ia khusus hanya mengatur nada dering untuk telepon dari Serena, jadi ketika handphonenya berbunyi, Ralphie pun tidak tertarik untuk melihat dokumen yang diambilkan oleh sekertarisnya dan langsung menerima telepon yang ada di handphonenya.


Hello! Im an artic!


Mungkin karena percakapan ia dengan Serena sudah terlalu menarik, sampai-sampai ia tidak memperhatikan tatapan dan raut muka sekertaris yang mengirimkan dokumen itu sudah mulai berubah, dan terlebih lagi ia sama sekali tidak menyadari kalau sekertaris wanita itu berjalan mendekatinya.


Ketika ia menyadari sekertaris itu berjalan ke arahnya, wanita itu sudah langsung lari ke arahnya dan memeluknya.


Respon pertama yang dilakukannya adalah ia mengangkat tangannya dan terdiam.


Karena terlalu tiba-tiba dan tenaganya lumayan kuat, handphonenya yang ada ditangannya itu pun langsung terlempar kearah dinding dan jatuh ke atas lantai, handphonennya pun sudah hancur berkeping-keping. Ini juga adalah alasannya kenapa Serena mendengar suara barang yang terlempar, dan setelah itu teleponnya pun putus.


Hello! Im an artic!


“Lepaskan!” Ralphie pun menggunakan tangannya untuk melepaskan perempuan itu dan menggunakan tenaganya untuk mendorong wanita itu.


Gerakan tangannya itu sangat tegas dan kasar, seperti sedang mendorong barang yang sudah kotor.


Tenaganya sangat besar dan membuat wanita itu langsung terlempar ke atas lantai.


Lalu terdengar suara seperti orang yang sedang kesakitan, tetapi Ralphie sama sekali tidak mempedulikan suara itu, lalu dengan ekspresinya yang dingin ia langsung menarik pintu kantornya dan menjerit: “Felix.”


Seiring dengan langkah kakinya, Felix pun bergegas masuk ke dalam kantor dari luar.


Ketika ia melihat wanita yang ada diatas lantai itu adalah sekertarisnya, Felix pun langsung terkejut dan segera berjalan ke arah Ralphie, “Direktur Su.”


“Keluarkan dia dari perusahaan kita.” Dengan matanya yang sangat sinis Ralphie melihat kearah wanita yang ada diatas lantai itu, dan suaranya terdengar sangat kejam.


Pada saat itu juga, sekertaris wanita Ralphie menyadari kalau apa yang ia rencanakan sudah gagal dan apa yang dilakukannya tadi itu sudah melewati batas dan membuat Ralphie marah, lalu dengan tatapan yang merasa bersalah ia pun langsung berkata: “Direktur Su, aku benar-benar tidak sengaja, aku tadi sedikit tidak seimbang makanya…….”


Namun ketika ia masih belum menyelesaikan apa yang hendak dibicarakannyam Felix sudah menariknya dan membawanya keluar dari kantor itu.


Wajah sekertaris wanita itu langsung menjadi pucat, sambil berusaha untuk melepaskan dirinya ia berkata: “Direktur Su, memang benar kamu adalah atasanku, tetapi kamu sesuka hatimu memecat aku seperti ini, aku akan melaporkannya ke bagian inti perusahaan.”


Sekertaris wanita itu berkata dengan nada bicara yang besar dan menarik perhatian dari semua karyawan yang bekerja sana dan melihat ke arah kantor Ralphie.


Tetapi ekspresi Ralphie hanya biasa saja seolah ia tidak mendengar apa yang dibicarkannya, lalu berjalan ke arah Felix dan melambaika tangannya dan langjut berjalan ke arah toilet.

__ADS_1


Awalnya Felix berencana untuk mengantarkan Ralphie ke toilet, tetapi ia melihat ke arah karyawan yang sedang melihat ke arah Ralphie.


“Kalian sedang apa, semuanya mau dipecat dari perusahaan juga?”


Setela Felix berkata seperti ini, semua karyawan yang melihat kearah mereka pun kembali mengerjakan pekerjaan mereka.


Kali ini Felix baru melihat ke arah sekertaris wanita itu: “Kamu kira kamu ini siapa? Masih mau melaporkan Direktur Su ke bagian pusat?”


Ia tidak ada sedikit perasaan kasihan kepada wanita itu, kalau saja bukan karena ia tidak ada kekuatan sama sekali, ia masih berencana untuk melaporkan direktur mereka, harusnya dari awal Felix sudah harus memecatnya. Sekarang ia malah mengganggu direktur mereka sendiri dan mau melaporkannya, ini benar-benar membautnya tidak bisa mengatakan apa-apa.


“Direktur?” Muka wanita itu tiba-tiba langsung sangat terkejut.


Orang yang tadi diganggunya itu adalah Direktur perusahaan mereka? Direktur Grup Su……


Dia sekarang takut yang harus ia bayar bukan hanya pekerjaannya saja…….


Ralphie mencuci tangannya dan mengganti pakaiannya di ruang ganti terlebih dahulu baru kembali ke kantornya.


Felix yang sedang memungut serpihan handphone Ralphie yang ada dilantai pun beranjak berdiri ketika melihat Ralphie kembali ke kantonya.


“Direkur Su, setelah ini aku akan membantumu mencarikan sebuah handphone yang sama persis dengan yang satu ini.”


Setelah itu Ralphie melambai-lambaikan tangannya untuk menyisyaratkan Felix untuk keluar dari kantornya.


Felix pun bergegas membongkokkan tubuhnya dan memberikan hormat kepada Ralphie dan segera keluar dari kantornya sambil mengambil handphonenya yang sudah rusak itu.


Setelah menunggu pintu kantornya sudah tertutup, Ralphie langsung bergegas ke meja kerjanya dan segera menghubungi Serena.


Serena disana sedang mengkhawatirkan apa yang terjadi pada Ralphie kenapa ia tiba-tiba memutuskan teleponnya, lalu ia melihat telepon dari kantor Ralphie dan ia pun langsung mengangkatnya.


“Kamu tidak apa-apa kan? Kenapa telepon kamu tadi tiba-tiba terputus?”


Ralphie menjawab: “Aku tidak apa-apa, handphone aku yang tadi sudah rusak.”


Setela mendengar Ralphie berkata bahwa ia tidak apa-apa hanya saja handphonenya yang rusak, Serena pun mulai merasa tenang, “Baikahlah kalau begitu.”


Ralphie pun terdiam sebentar, lalu menanyakna sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan apa yang sedang mereka bicarakan tadi “Habis pulang kerja kamu ada waktu tidak? Bantu aku pergi beli hadiah.”


Serena terkejut beberapa saat, lalu menjawabnya, “Baik.”


“Jam 5:30 aku pergi menjemputmu.”

__ADS_1


“Baik.”


Serena meletakkan handphone yang ada ditangannya, lalu bersiap-siap untuk melanjutkan gambarnya yang masih belum selesai, tetapi ternyata handphonennya berdering lagi.


Dia mengeluarkan handphonenya dan melihat ada nomor asing yang memghubunginya dan ia pun terkejut beberapa saat lalu mengangkatnya.


“Halo?”


Setelah mendengar suara dari dalam telepon, Serena hanya membalasnya satu kalimat ‘Maaf, anda salah sambung’, lalu ia pun menutup telepon itu.


Tetapi orang yang menghubunginya itu tetap saja menghubunginya lagi.


Serena langsung mematikan telepon itu, lalu ia pun langsung mendaftarkan nomor telepon itu dalam daftar nomor pengganggu.


Lalu handphonenya pun tidak begitu ribut lagi, Serena pun menarik nafas yang dalam lalu mengambil pensilnya dan lanjut menggambar.


Jam 5:30, Serena berjalan keluar dari kantornya, lalu ia melihat mobil Ralphie yang sedang berhenti disebrang jalan.


Lalu ia pun memberikan senyuman lembut dan berencana untuk berjalan kesana, tetapi ia malah mendengar suara orang yang memanggilnya.


“Serena.”


Serena pun membalikkan kepalanya lalu melihat Alfred yang sudah lama sekali tidak ditemuinya.


Dia pun terkejut, lalu ia pun mengalihkan pandangannya darinya dan menganggap ia tidak ada disana, lalu ia melanjutkan langkahnya untuk menuju ke mobil Ralphie.


“Serena, aku sudah putus sama Maggie.” Alfred mengatakannya sambil menarik tangan Serena.


Setelah merasakan genggaman erat dari tangan Alfred ditangannya itu, Serena langsung meresponnya dengan melepaskan tangannya dengan seluruh tenaganya.


Serena membalikkan kepalanya dan melihat ke arah Alfred, didalam tatapan matanya terlihat ekspresinya yang dingin dan sangat asing, “Alfred, kamu sebenarnya sedang mikirin apa? Kalau kamu mau kasih tahu aku kalau kamu sudah putus dengan Maggie, aku kasih tahu kamu, kamu tidak perlu memberitahukan aku, aku juga tidak ingin mengetahuinya , karena aku tidak ada hubungan apa-apa lagi denganmu…….”


Alfred tidak menunggu Serena menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya, ia langsung membuka mulutnya dan berkata: “Serena, aku benar-benar sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Maggie lagi, bagaimana kalau kita memulai lagi dengan baik-baik?”


Setelah mendengar apa yang dikatakan Alfred, Serena pun tertawa.


“Alfred, kamu tahu tidak, apa yang kamu katakan ini seberapa mengerikan? Hanya demi masa depan kamu, kamu memilih untuk bersama dengan Maggie. Sekarang kamu sudah putus dengannya terus mau baik-baik dengan aku? Kamu kira kamu ini siapa?”


“Aku kasih tahu kamu Alfred, aku sudah ada orang yang aku suka, dia lebih baik dari kamu seratus, seribu kali, aku juga sangat-sangat menyukainya.”


Setelah mendengar apa yang dikatakan Serena, muka Alfred pun berubah menjadi pucat lalu ia berbicara dengan nada yang sangat besar, “Tidak, Serena, orang yang kamu suka itu aku, kamu kasih aku satu kali lagi kesempatan……” Alfred masih belum menyelesaikan apa yang dikatakannya, tiba-tiba satu tamparan sudah melandas diwajahnya.

__ADS_1


__ADS_2