I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 47 Dia sangat terkejut


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Saat taksi Serena sampai di bioskop, Claudia sudah menunggu di sana.


Hello! Im an artic!


“Serena Kamu sudah datang.”


“Claudia, ini tiketnya.” Serena mengeluarkan tiket dari tas dan memberikannya pada Claudia.


Hello! Im an artic!


Claudia menerima tiket itu dan berkata: “Serena. Kamu benar-benar tidak ingin menontonnya bersama-sama? Kamu harus tahu sangat sulit mendapatkan tiket film Zero.”


“Tidak.” Serena menggeleng.


Claudia berkata: “Yah, aku tahu Kamu tidak tertarik nonton.”


Serena berkata: “Aku pergi dulu.”


“Ng.” Claudia mengangguk.


Serena melambaikan tangan padanya lalu berbalik pergi.


Serena tidak langsung pergi ke tempat Ralphie, melainkan ke toko terdekat untuk membeli buah.


Karena tidak tahu apa yang di sukai Ralphie, Serena membeli beberapa jenis buah.


Saat naik taksi, ia melihat jam di dalam taksi sudah pukul 6.15.


“Apakah dia sudah makan malam? Jika belum, sekalian membawakan makan malam untuknya.” Sambil bergumam Serena mengeluarkan ponsel dan menghubungi Ralphie.


Sepanjang pagi Ralphie memeriksa dokumen yang di berikan oleh Felix. Siang hari Dr.Chen datang untuk memberikan perawatan.


Setelah istirahat sebentar, sore hari mulai video conference.


Pukul 5 sore video conference selesai. Ia istirahat selama 30 menit lalu memesan makanan.


Sudah pukul 6.15 ketika makan malam datang. Ralphie mengelus tengkuknya yang sedikit sakit dan duduk di depan meja makan lalu mengambil sumpit. Sebelum ia makan, ponselnya berbunyi.


Ralphie meletakkan sumpit dan mengeluarkan ponselnya. Ia tertegun saat melihat nomor Serena lalu mengangkatnya.


Terdengar suara Serena, “Ralphie?”

__ADS_1


Ia bergumam ‘Ng’ lalu bertanya, “Sudah pulang kerja?”


Serena menjawab, “Sudah, baru sampai di bioskop.”


Bioskop? Benar, bagaimana ia bisa lupa malam ini Serena ingin menonton film? Filmnya akan mulai pukul 6.30 dan sekarang 6.15. Dia pasti sedang berada di pintu masuk.


Ralphie bergumam “Oh” dengan pelan.


Serena terdiam beberapa saat lalu bertanya, “Kamu sudah makan?”


Ralphie melirik makanan di atas meja makan lalu menjawab, “Sudah.”


“Ng, kalau begitu aku tutup.” Serena berkata.


Ralphie bergumam ‘Ok’ dan mematikan ponselnya.


Setelah itu, Ralphie melihat makanan di atas meja makan dan tidak ingin makan lagi.


Ia meletakkan ponsel di meja makan lalu pergi ke lantai dua.


Ia berjalan ke kamar mandi sembari melepaskan kancing bajunya.


Setelah mandi dengan air hangat, ia mengenakan piyama dan mengambil handuk. Sambil mengeringkan rambutnya, ia berjalan ke teras.


Ralphie diam di tempat, pandangannya mengarah ke lampu jalan yang tidak jauh.


Tak tahu berapa lama, tiba-tiba Ralphie melihat seseorang yang familiar yang kelelahan membawa barang. Ia berjalan menuju ke mansionnya.


Kenapa dia datang? Bukannya pergi menonton film?


Seiring dengan Serena yang berjalan mendekat, jantung Ralphir mulai berdegup kencang.


Ia melihat Serena yang berjalan ke arah halaman. Ia tersadar ketika terdengar suara bel dari bawah.


Kemudian ia segera turun dan membukakan pintu, melihat Serena yang berdiri di luar.


Serena berdiri diam di bawah lampu dan menatap Ralphie.


Setelah setengah menit, Serena tersenyum tipis dan berkata, “Kamu begitu kaget melihatku?”


Ralphie diam, pandangannya beralih dari wajah Serena ke plastik belanjaan yang di bawanya lalu mengulurkan tangan untuk mengambil plastik belanjaan itu namun Serena menghalanginya.


“Tidak berat. Aku bisa membawanya sendiri.” Serena mengganti sepatunya dan langsung membawa plastik belanjaan itu ke dapur.

__ADS_1


Ralphie menatap punggung Serena beberapa detik lalu menutup pintu dan mengikuti Serena.


Serena meletakkan plastik di meja dan melihat makanan yang belum habis di makan di atas meja makan dan bertanya, “Bukankah Kamu bilang sudah makan? Kenapa masih utuh?”


Wajah Ralphie sedikit malu mendengar perkataan Serena. Ia diam.


Ia belum pulih dan tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Serena marah namun tidak bisa mengatakannya. Ia hanya berkata: “Aku juga belum makan. Mau makan bersama?”


“Ng.” Ralphie mengangguk dan mengambil makanan untuk memanaskannya di dapur namun di hentikan oleh Serena, “Aku saja, Kamu duduk dan jangan bergerak.”


Setelah memberikan ekspresi ‘Sebaiknya Kamu jangan bergerak’ pada Ralphie, ia mengambil piring di atas meja makan dan pergi ke dapur.


Kali ini, makanannya tidak seperti sebelumnya


Setelah makan, mereka berdua duduk di sofa.


Suasana sedikit canggung karena keduanya diam. Serena memutuskan untuk mencari bahan pembicaraan.


“Kamu mau makan buah? Aku tidak tahu kesukaanmu maka aku membeli beberapa.”


Ralphie memperhatikan gerakan Serena tanpa ekspresi, ia tidak mengatakan apapun.


Serena sudah terbiasa dengan Ralphie yang diam. Ia mengeluarkan apel dari plastik dan bertanya pada Ralphie, “Apel?”


“Ng.”Ralphie mengangguk pelan.


Melihatnya mengangguk, Serena tersenyum, “Aku memotongnya dulu. ”


Serena mengambil pisau buah dari plastik dan memotongkan apel untuk Ralphie. Sangat di sayangkan, ia tidak berbakat. Saat memotong, setengah apel mendarat di meja.


Melihat pisau di tangan Serena, tanpa ekspresi Ralphie berkata, “Aku saja.”


“Aku bisa.” Serena membuang apel yang ada di atas meja ke tempat sampah dan lanjut memotong namun ia mengiris kuku tangannya.


Kali ini Ralphie tidak mengatakan apapun dan langsung mengambil pisau buah dari tangan Serena. Ia mengambil apel baru dan megupasnya.


Melihat apel bergerak di tangan Ralphie yang indah dan kurus, kulit apel dikupas tanpa putus membuat Serena tidak berkedip melihatnya.


“Ralphie Kamu mengupas apel dengan baik, pria yang terlalu sempurna. Kaya, tampan, bisa memasak…hmm…” Merasa dirinya terlalu banyak bicara, Serena langsung menutup mulutnya lalu melihat ke arah Ralphie dengan hati-hati.


Ia sedikit tersenyum, ujung bibirnya sedikit terangkat.


Tersenyum? Dia salah lihat kan? Ia kembali melihatnya dan Ralphie tidak tersenyum. Sepeti biasa, tanpa ekspresi.

__ADS_1


Walaupun salah, kenapa dia tersenyum? Serena menggelengkan kepalanya.


__ADS_2