
Hello! Im an artic!
Felix merasa binggung menatap sekantong obat yang di pegang oleh Direkturnya.
Obat ini pasti dibelinya untuk istrinya, tetapi nyonya sakit apa? Kenapa harus membeli begitu banyak obat?
Hello! Im an artic!
“Tuan Su, Nyonya sakit?”
Ralphie berkata “um”, dan setelah beberapa detik,ia menambahkan, “Lambungnya tidak enak.”
Lambung tidak enak apakah perlu membeli obat sebanyak itu? Felix tersenyum dan kemudian berkata “Tuan Su, tidak perlu meminum obat sebanyak ini.”
“Aku tahu” jawab Ralphie.
Hello! Im an artic!
Apakah Anda tahu Andamembeli begitu banyak? Felix hanya bergumam dalam hatinya, suara Ralphie terdengar lagi, “Aku tidak tahu gejala apa yang dia miliki dan obat seperti apa yang harus dimakan.”
Tidak tahu apa gejalanya, jadi membeli semua obat maag masing-masing 1 kotak?
Apa yang dikatakan Felix ada benarnya.
Felix menyarankan: “Tuan Su, atau coba hubungi Dokter Chen untuk konsultasi?”
Ralphie berkata “um” dan menelpon Dokter Chen.
Dokter Chen memberi tahu Ralphie bahwa lebih baik jangan sembarangan meminum obat, ia akan pergi ke villa untuk memeriksa Serena.
Setelah Ralphie dan Dokter Chen setuju untuk datang ke villa keesokkan harinya, ia pun mengakhiri panggilan.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya tiba di villa.
Ralphie masuk dan tidak melihat Serena seperti biasanya, alisnya langsung mengerut.
“Nyonya muda belum pulang kerja?” Ralphine bertanya pada pelayan.
Pelayan menjawab, “Nyonya muda baru saja menelepon dan berkata bahwa dia akan pergi ke keluarga Luo untuk makan malam.”
Dia menelpon pelayan tetapi tidak menelpon Ralphie.
Ralphie hanya merasakan kesejukan di hatinya …
Serena awalnya merasa tidak enak badan dan berencana pulang lebih awal untuk beristirahat.
Tetapi diluar dugaan, ketika dia pulang kerja, Bibi Bella sudah menunggunya di depan pintu perusahaan.
Bibi Bella menyapanya sambil tersenyum, “Serena, pulanglah untuk makan malam, ayahmu tidak di rumah, anggap saja kamu menemaniku, oke?”
__ADS_1
Bibi Bella sudah berkata begitu, Bagaimana mungkin Serena menolaknya? ia mengangguk dan setuju, “Oke.”
Setelah terbengong sejenak, Serena ingat bahwa Ralphie akan menunggunya untuk makan malam di rumah, jadi ia berkata, “Bibi Bella, tunggu sebentar, aku mau menelepon dulu.”
Bibi Bella bertanya “Menelponnya?”
Mendengar kata-kata Bibi Bella, dia teringat hubungan antara Ralphie dan Flora, ia yang awalnya mau menghubungi Ralphie tidak jadi.
“Tidak, aku menelpon pelayan agar mereka tidak menyiapkan makan malamku.”
Bibi Bella menatap Serena lalu mengangguk, “Sana telepnlah.”
Serena menganggukkan kepalanya dan pergi menelpon pelayan.
Setelah Serena selesai menelepon, Bibi Bella dengan gembira menyapa Serena, “Serena, satu mobil dengan Bibi saja, setelah makan malam aku akan menyuruh supir membawamu pulang.”
Serena teringat bahwa sebelumnya ia pernah meminta sopir untuk pulang duluan, dan Ralphie marah besar, dia menggelengkan kepalanya dan menolak “Aku ikut mobil Bibi, tapi supir tetap ikut, biar nanti pulangnya lebih mudah.”
“Baiklah, biarkan supir ikut” Bibi Bella mengangguk.
Mereka berduanya masuk ke mobil dan menuju ke Villa keluarga Luo.
Di Sepanjang perjalanan, Bibi Bella menanyakan masalah pekerjaan kepada Serena, dan keduanya berbicara dengan senang.
Setelah tiba makan malam sudah disiapkan.
Meja yang penuh dengan hidangan, sangat mewah, Bibi Bella memerintahkan pelayan untuk mamasaknya sesuai dengan selera Serena.
Serena suka daging tersebut, dan setiap kali ia pulang ke rumah Luo, Bibi Bella pasti meminta Bibi Liu untuk membuatkannya.
Setelah berapa lama tidak memakannya, Serena langsung memegang sumpit dan mengambil daging untuk di makan.
Begitu daging itu dimasukkan ke dalam mulutnya, Serena merasa aneh dan membuat perutnya sangat tidak nyaman, dan dia ingin muntah, lalu ia menutup mulutnya.
“Serena, ada apa denganmu?” Bibi Bella bertanya dengan cemas.
Serena tidak berbicara, ia hanya melambaikan tangannya dan bergegas ke kamar mandi.
Bibi Bella merasa ada yang aneh dan ia meletakkan sumpit lalu mengikutinya.
Sayangnya, pintu kamar mandi dikunci oleh Serena, ia bahkan tidak bisa melihat kondisi Serena sama sekali, dan hanya mendengar suara muntah dari kamar mandi.
Bibi Bella mengetok pintu dan berteriak “Serena, bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik-baik saja …” kata Serena, dan kemudian ia muntah lagi.
Bibi Bella mendengarkan suara muntah dari dalam, dan tiba-tiba matanya melotot tidak tahu memikirkan apa.
Ia menatap ke arah kamar mandi, lalu berbalik untuk kembali ke ruang makan. Setelah berjalan dua langkah, dia berbalik dan berjalan lagi, dan bolak balik beberapa kali.
__ADS_1
Bibi Bella datang ke dapur dan memanggil Bibi Liu “Bibi Liu, kesini sebentar.”
“Ya,” Bibi Liu segera berjalan keluar dari dapur.
Mata Bibi Bella menatap ke arah kamar mandi, lalu dia berbisik ke telinga Bibi Liu.
“Ya, Nyonya,” Bibi Liu mengangguk dan berbalik ke dapur.
Bibi Bella kembali ke depan kamar mandi dan menunggu Serena keluar.
Sekitar dua menit kemudian Serena keluar dari kamar mandi.
“Bibi, maaf, aku telah mempengaruhi selera makanmu” kata Serena dengan nada meminta maaf.
“Tidak apa-apa, tapi ada apa denganmu? kenapa kamu bisa muntah seperti ini?” Bibi Bella bertanya pada Serena sambil berjalan menuju ruang makan.
“Akhir-akhir ini terlalu lelah, jadi membuat lambungku terasa tidak enak” Serena menjawab sambil tersenyum.
Terlihat tatapan mata yang aneh dari mata Bibi Bella, lalu ia tersenyum dan berkata, “Kalau lambungmu tidak enak, beli obat dan jangan menganggap remeh, lama-kelamaan bisa menjadi penyakit.
“Iya, Bibi ” Serena menjawab sambil tersenyum.
Bibi Bella tersenyum dan tidak berbicara, ia duduk didepan Serena dan lanjut makan.
Setelah beberapa suap, Bibi Liu keluar dari dapur dengan membawa sepanci sup.
“Nyonya, supnya sudah siap.”
“Ambilkan 1 mangkuk untuk Serena” kata Bibi Bella.
“Ya.” Bibi Liu menyerahkan semangkuk sup kepada Serena.
Serena berkata “Terima kasih” dan mengambilnya.
Bibi Bella memakan makanannya sambil tersenyum, ia menatap Serena tanpa berkedip.
Serena mengambil satu sendok sup untuk dimasukkan ke mulutnya, rasanya cukup enak dan dia sangat menyukainya.
Ia tersenyum dengan senang setelah minum satu mangkuk sup dan menambah lagi.
Bibi Bella melirik gerakan Serena, matanya berkedip dan tersenyum.
Setelah Serena selesai makan malam, ia berpamitan dengan Bibi Bella, dan naik ke mobil lalu pergi.
Setelah mengantar Serena, senyuman di wajah Bibi Bella menghilang.
Ia sudah berpengalaman, bagaimana mungkin ia bisa tidak tahu bahwa gejala-gejala yang Serena alami adalah Gejala kehamilan?
Melihat Serena seperti ini, mana mungkin mereka tidak tahu dia hamil.
__ADS_1
Kalau tidak tahu, maka …