
Hello! Im an artic!
Ralphie pernah mendengar dari Felix tentang keluarga Serena, ia ingin membuka mulutnya dan memberitahukannya, tetapi melihat ekspresinya yang begitu bahagia, akhirnya ia pun tidak mengatakan apa-apa.
Serena melihat sebentar ke arah Ralphie lalu melihat ke jalan yang ada didepannya lalu berkata: “Delapan tahun yang lalu, setelah ibuku meninggal, ayahku memberikan aku kepada ibu asuh dan tidak mempedulikanku, walaupun kita sangat sulit bisa bertemu, tetapi sekali bertemu kita pasti bertengakar, sampai akhirnya ayahku menikahi Bibi Bella. Bibi Bella memberiku kasih sayang seorang ibu, ia mempedulikanku, membelikan aku baju dan memberikan apa yang aku suka………”
Hello! Im an artic!
Mendengar Serena bercerita tentang hubungan ia dengan ayahnya dan ibu tirinya, ketika ia membicarakan hubungan ia dengan ayahnya suaranya sangat datar, tetapi ketika ia bercerita tentang ibu tirinya suaranya sangat keras dan menarik perhatian Ralphie.
Setelah selesai bercerita, Serena melihat ke arah Ralphie dan meminta maaf kepadanya: “Maaf, aku sudah bercerita hal yang membosankan seperti ini kepadamu.”
Ralphie melihatnya beberapa saat lalu menggelengkan kepalanya dan berkata: “Tidak apa-apa.”
“Baik.” Serena pun mengalihkan pandangannya dan melihat lampu kelap kelip yang ada diluar sana dan tidak tahu sedang memikirkan apa.
Hello! Im an artic!
Melihat Serena yang menjadi diam seperti ini hari Ralphie merasa sangat tidak enak, tetapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
Pas disaat ini, pelayan toko pun memberikan gantugan yang sudah dibugngkus itu kepada Ralphie.
Ralphie pun menerimanya dan mmemberikannya kepada Serena.
“Ngapain?” Serena sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Ralphie.
Ralphie menaikkan alisnya: “Bukannya kamu bilang kamu menyukainya?”
Serena pun terbengong, lalu ia tertawa dan berkata, “Aku rasa gantungan ini cocok sekali dengan tas yang tadi kita beli.”
Ralphie tidak mengatakan apa-apa dan langsung mengeluarkan gantungan itu dari dalam kotaknya dan langsung memberikannya kepada Serena.
“Apa?” Serena sama sekali tidak bisa mengikuti Ralphie.
Lalu tiba-tiba dari dalam mulut Ralphie ia berkata, “Tas.”
Serena terbengong dan memberikan tasnya kepada Ralphie dan sama sekali tidak tahu apa yang mau dilakukan oleh Ralphie.
Ralphie menggantungkan gantungan itu ke tas Serena dan mengembalikan tas itu kepadanya.
Serena melihat gantungan yang digantungkan oleh Ralphie ketasnya, lalu ia melihat Ralphie dan tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah keluar dari sana, Ralphie bertanya: “Lapar tidak? Mau makan apa? Waterfront Blossom? Aku dengar di Distrik Flidonada buka restoran baru dan katanya lebih enak dari Waterfront……”
Ralphie masih belum menyelesaikan apa yang dikatakannya, ia langsung sudah dihentikan oleh Serena, “Aku tidak pengen kesana.”
Ralphie mengangkat alisnya dan berkata: “Heh?”
“Aku pengen makan KFC.” Serena menjawabnya sambil menunjuk KFC yang ada di depan Waterfront.
__ADS_1
Dikasih pilihan untuk makan direstoran yang bintang lima, ia malah memilih unuk makan makanan tidak sehat seperti KFC……… tetapi Ralphie hanya menuruti permintaannya.
Kalau mau makan KFC ya sudah kita ke KFC saja, asal kamu senang.
Pelanggan di KFC banyak sekali, antriannya juga sangat panjang.
Ralphie yang sekujur tuuhnya menggunakna barang mewah pun ikut mengantri di kerumunan banyak orang, itu awalnya sudah menarik perhatian banyak orang, ditambah lagi dengan tampangnya yang ganteng, ia menjadi sorotan semua orang yang ada disana.
Ralphie orangnya sanat pembersih itu yang membuat ia masih punya begitu banyak tempat yang belum pernah dikunjunginya.
Setelah mereka memasuki KFC, Serena sudah mulai merasa menyesal.
Ralphie jelas-jelas adalah orang yang tidak makan makanan seperti ini, ditambah lagi ia adalah orang yang tidak suka berada dikerumunan banyak orang.
Denga nada bicaranya yang rendah Serena berkata: “Bagaimana kalau kita ke tempat lain saja.”
“Ralphie menundukkan kepalanya dan melihat kearah Serena, “Kenapa?”
“Orangnya banyak sekali, lagian kamu pasti tidak makan KFC kan?” Serena menjawab sambil mengertukan keningnya.
Orangnya memang banyak sekali, dan memang benar juga Ralphie tidak suka makan KFC. Tetapi karena Serena yang mengatakan ingin makan KFC, pasti ia ingin memakannya.
Ralphie melihat Serena lalu berkata: “Coba sesekali juga boleh.”
Serena yang awalnya memang ingin sekali makan KFC, di tambah Ralphie yang berkata seperti itu, ia pasti langsung mengiyakannya, “Baik.”
Mereka berdua mengambil makanannya dan menuju ke tepi danau.
Disekitar danau itu terdapat banyak bangku untuk beristirahat, Serena pun mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan mengelap bangku itu dengan sangat teliti lalu menetakkan satu lembar tissue sebagai alas dibangku itu.
“Cepat duduk.” Serena duduk dan mennjuuk bangku itu.
Ralphie tidak menolah dan duduk diatas bangku itu.
“Mau makan apa dulu? Burger? Ayam? Atau sayap ayam?” Serena bertanya sambil memegang bungkusan itu.
Ralphie menjawabnya dengan tenang, “Terserah.”
“Kalau begitu makan burger dulu.” Serena pun mengambilkan burger dari dalam bungkusan itu dan memberikannya kepada Ralphie.
Ralphie pun menerima burger itu dengan ekspresi yang datar, lalu ia memakan burger itu dengan sangat lambat dan elegan seolah ia sedang makan direstoran bintang lima.
Serena pun menundukkan kepalanya dan langsung memakan bugernya.
Dari siang sampai sekarang Serena belum memakan apa-apa, dia benar-benar lapar sekali satu bungkusan KFC itu sepertinya hampir semuanya masuk kedalam perutnya, Ralphie hanya makan sedikit.
Serena memasingkan tissuenya kepada Ralphie dan berkata: “Kamu makan dikit sekali, kamu pergi pesa sedikit lagi?”
“Tidak usah, sudah cukup.” Ralphie menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Serena pun menganggukkan kepalanya ‘Baik’, lalu membereskan sampah mereka dan membuangnya ditong sampah yang ada didekat sana.
Setelah selesai makan, mereka tidak langsung pulang, mereka jalan-jalan sebentar disekitar sana.
Mereka berjalan-jalan sampai akhirnya telepon Ralphie berbunyi.
Dia mengeluarkan handphonennya dari kantong dan mengangkat teleponnya.
“Ada apa…..tidak usah, biarkan Elizabeth yang datang……tunggu sebentar.” Setelah selesai berkata ‘Tunggu sebentar’ Ralphie menoleh dan melihat Serena, “Kamu mau makan dessert yang kita makan di The Sugar Empress tidak?”
Serena terdiam sebentar, “The Sugar Empress?”
Serena menggelengkan kepalanya dan berkata “Tidak usah, tidak usah merepotkannya.”
Ralphie tidak menjawabnya dan langsung memesan beberapa nama kue itu dan langsung menutup teleponnya.
Setelah Ralphie menutup teleponnya, Serena merasa sedikit tidak enak hati dan berkata: “Apakah tidak apa-apa?”
“Dia sekalian membawakannya, tidak apa-apa.” Ralphie menjawabnya dengan tenang.
Ralphie sudah berkata seperti itu, Serena juga tidak berani mengatakna apa-apa dan hanay menganggukkan kepalanya dan berkata ‘Terima kasih’.
Karena sudah lumayan malam, mereka pun tidak jalan-jalan lagi dan langsung berjalan ke mobil dan pulang.
Keesokan harinya setelah Serena pulang kerja, dan bersiap-siap untuk pergi ke stasiun mrt.
Setelah kira-kira ia berjalan 200 meter menuju stasiun mrt, handphonenya pun berbunyi.
Serena pun menghentikan lagkah kakinya, lalu mencair handphonenya dan melihat ternyata dalah telepon dari Ralphie, lalu ia pun menjawabnya.
“Kamu sudah pulang kerja?”
“Iya, ini baru keluar dari kantor.” Serena menjawab.
“Kamu tunggu sebentar, sepuluh menit lagi aku sampai.” Ralphie harusnya sedang mengendarai mobil, jadi jawabnnya tidak begitu sepenuh hati, lalu ia juga mendengar suara klakson.
Sepertinya ia masih dijalan untuk menjemputnya pulang? Serena pun menjawabnya, “Aku tunggu kamu ditempat biasa.”
Serena pun menutup teleponnya, lalu ia pun membalikkan badannya dan berjalan ke tempat biasa Ralphie menjemputnya.
Ia baru saja melewati lampu merah, dari sana ada laki-laki yang menggunakan jaket besar dan memakai masker langsung menerobos lampu merah.
Orang itu sepertinya sedang mencari jalan, mukanya penuh kebingunangan dan mencari petunjuk jalan, lalu berjalan kedepan Serena, lalu ia bertanya: “Nona, boleh tanya jalan ke Drisker Mansion?”
“Drisker Mansion ada disana……” Serena melihat ke sebelah kananya dan menjawab.
Ia masih belum menyelesaikan apa yang dikatakannya, laki-laki itu tiba-tiba langsung menutupi wajahnya dengan tangannya.
Serena tidak sempat untuk melawannya, ia hanya mencium aroma yang sangat menyengat yang masuk ke hidungnya dan lalu ia pun kehilangan kesadarannya.
__ADS_1