
Hello! Im an artic!
Ketika keesokan harinya Serena pergi ke kantor, ia baru ingat bahwa bungkusannya tertinggal di mobil Ralphie.
“Bagaimana bisa aku melupakan bungkusan itu.” Serena berkata smabil menepuk-nepuk jidatnya.
Hello! Im an artic!
Claudia melihatnya dengan aneh, “Kenapa?”
“Aku meninggalkan lukisan yang harus dikumpulkan sama Halle pagi ini di mobil.” Serena pun serasa sudah mau menangis.
“Kamu meninggalkannya di taksi?” Claudia bertanya.
Serena menggelengkan kepalanya, “Bukan di taksi, tapi di mobil orang lain.”
Hello! Im an artic!
Lalu Claudia pun menjawab: “Kalau gitu kamu telepon orang itu.”
“Aku tidak ada nomornya.” Serena sudah mau menangis, kalau dia ada nomornya orang itu, dari tadi dia sudah menelepon orang itu.
“Hah……..” Claudia pun terdiam, lalu berkata: “Kalau tidak kamu bilang sama Kakak Lin dulu.”
Bilang sama Halle? Serena sama sekali tidak merasa cara ini ada gunanya, dia tahu Halle selalu mau mempersulitnya.
Cara yang paling bagus adalah ia menunggu laki-lakiitu di kantor dan mengambil lukisan itu darinya.
Hari itu dia bertemu dengannya di departemen personalia, mungkin dia boleh kesana mencarinya.
Berpikir begitu, Serena langsung dengan tergesa-gesa berkata kepada Claudia, “Claudia aku jalan dulu”, dan meninggalkannya.
Karena kemarin Ralphie menyuruh Felix untuk datang kesini jam 7.30, jadi keesokan harinya jam 6.50 Felix sudah menunggu Ralphie di depan rumahnya.
Pas jam 7.00, Ralphie bersiap-siap untuk keluar dari rumahnya. Yang berbeda dari biasanya adalah, hari ini dia membawa sebuah bungkusan.
Sebentar saja, Felix sudah merasa bungkusan itu sangat familiar.
Ini….bukannya bungkisan Nona Luo yang kemarin tinggal di mobil? Kemarin dia masih bingung kenapa bungkusan itu hilang, ternyata diambil oleh Ralphie.
Mengingat kemarin ketika ia bertanya mau bagaimana dengan bungkusan Nona Luo, Ralphie seperti tidak mempedulikannya, saat itu Felix merasa sedikit aneh.
__ADS_1
“Direktur Su, pergi ke kantor kah?”
“Pergi ke PT……….” Ralphie terdiam, kenapa tanpa berpikir panjang ia sudah bilang mau pergi ke PT. Antarts?
Lalu Ralphie mengerutkan dahinya dan berkaga: “Pergi ke kantor.”
“Baik.” Felix menghidupkan mobilnya.
Ralphie terus melihat pemandangan yang ada di luar jendela dan tidak tahu sedang memikirkan apa.
Sampai ketika sudah hampir sampai ke kantor, Ralphie berkata: “Pergi ke PT. Antarts.”
Ke PT. Antarts? Felix terbengong beberapa saat, baru ia sadar kalau Ralphie mau ke PT. Antarts untuk mengembalikan bungkusan itu.
Emangnya yang tadi dijawab Direktur Su ‘Pergi ke PT……’, ternyata jawabannya adalah ‘PT. Antarts’?
Felix melihat Ralphie dari kaca spion dan menebak-nebak.
Direktur Su, kamu masih angkuh saja!
Senyuman di wajah Felix makin lama makin lebar, hasilnya ia baru tersenyum sebentar, Ralphie sudah menyenternya.
Sebenarnya dari tempat tinggal Ralphie sampai Perusahaan Su hanya butuh setengah jam, diperjalanan menuju PT. Antarts mereka terjebak macet selama setengah jam.
Ketika sampai di PT. Antarts, sudah pukul 8.30.
Ekspresi wajah Ralphie sudah tidak begitu bagus.
Felix tahu suasan hati Direktur Su saat ini sedang tidak bagus, jadi dia memilih untuk diam dari untuk mencegahnya marah.
Setelah lewat satu menit, Ralphie berkata, “Kamu antarkan bungkusan ini.”
“Baik.” Felix mengambil bungkisan itu dari tangan Ralphie dan turun dari mobil lalu berjalan menuju ke PT. Antarts.
Ketika baru smpai di kantor, Serena sudah mencari Ralphie di departemen personalia.
Tetapi ia sudah bertanya begitu banyak orang, dan sudah mencarinya kemana-mana, tetapi ia tetap tidak bisa menemukan Ralphie.
Ketika sudah hampir jam 8.40, ia sudah harus kembali ke departemen design.
“Aish……Halle pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk memarahinya habis-habisan.”
__ADS_1
Serena pun menghela nafas dan beranjak berdiri untuk menuju ke kantor Halle.
Ketika ia baru beranjak berdiri, ada orag yang menjerit, “Serena, ada orang yang mencarimu.”
Ada orang yang mencarinya? Serena terbengong sesaat, lalu membalikkan badannya dan berjalan kedepan kantornya, ternyata Felix sedang berdiri disana.
Serena terkejut dan berlari kearahnya, “Kamu…kenapa kesini?”
“Aku antarkan ini untukmu.” Felix memasingkan bungkusan yang ada ditangannya kepada Serena.
“Lukisanku!” Dengan senang Serena mengambil lukisannya dan meliaht ke arah Felix dan berterima kasih kepadanya, “Terima kasih, barang yang ada di bungkusan ini sangat penting untukku.”
Felix menggelengkan kepalanya, “Bukan aku, Direktur Su yang membantumu menjaganya dengan baik, dan juga Direktur Su yang menyuruhku untuk mengantarkannya padamu.” Felix tanpa ragu-ragu berusaha memperbaik hubungan antara mereka berdua.
Direktur Su? Dia? Serena terdiam sejenak, lalu berkata: “Kalau begitu tolong ya untuk sampaikan terima kasihku padanya yah.”
“Bagusan Nona Luo berterima kasih secara langsung padanya.” Felix menjawab sambil tertawa.
Serena tahu orang ini sekali demi sekali terus membantunya, dia memang sudah seharusnya berterima kasih dengan sungguh-sungguh padanya, hanya saja dia tidak punya nomor orang tersebut, ini sudah ketiga kalinya ia membantunya, bagaimana dia harus berterima kasih kepadanya?” Serena berkata: “Aku juga ingin berterima kasih secara langsung sama Direktur Su, hanya saja aku tidak ada kontaknya.”
Serena baru saja selesai berkata, Felix langsung menjawa: “Kalau begitu biar aku yang kasih kamu nomornya Direktur Su.” (Felix, baguskah kamu menjual Direkturmu seperti ini?)
“Baiklah.” Serena manganggukkan kepalanya.
Dengan sedikit takut Felix memberikan kartu nama Direktur Su kepada Serena, lalu menuliskan nomor pribadi Ralphie dikertas itu, “Nona Luo, ini adalah nomor Direktur Su, kamu boleh langsung menghubunginya.”
“Terima kasih.” Serena berkata dan mengambil kartu itu dari tangan Felix.
“Tidak apa-apa, Nona Luo, aku masih ada urusan, aku pergi dulu.” Felix menunduk-nunduk pada Serena dan pergi.
Ketika Felix baru pergi, Halle pun sudah datang.
“Gambarnya mana? Aku bukannya sudah kasih tahu kamu, hari ini sebelum jam kerja, aku sudah mau melihatnya?”
“Maaf, aku lupa menarukknya di kantormu.” Sambil minta maaf Serena mengeluarkan lukisan itu dari bugkusan itu, membukanya dan memberikannya kepada Halle.
“Kamu……” Awalnya Halle mau mamarahi Serena tetapi terakhir ia tidak memarahinya dan membawa lukisan itu pergi.
Melihat Halle yang sudah pergi, Serena pun merasa lega, lalu matanya tertuju pada kartu nama yang ada ditangannya.
Dia terus menatap kartu itu, sampai-sampai ia sudah mengingat nomor yang ada di kartu itu, ia baru mengeluarkan handphonenya dan memasukkan nomor itu…
__ADS_1