
Hello! Im an artic!
Serena bersandar di kursi penumpang, lalu menganggukkan kepala, “Baiklah.”
Setela Ralphie mendapat persetujuan dia, Ralphie mengeluarkan handphone-nya dari dalam sakunya, dia nyalakan, dia mengetuk layarnya dua kali, lalu mengarahkan layar handphone-nya ke Serena.
Hello! Im an artic!
“Beberapa restoran ini ada makanan Chinese, bukan oriental, tapi lumayan enak, kamu coba lihat mau makan dimana?”
Melihat foto beberapa restoran yang ada di handphone Ralphie, ekspresi Serena menjadi lembut.
Dia dan Ralphie sama-sama pertam kali datang ke Afrika Selatan, bagaimana dia bisa tahu beberapa restoran Chinese itu lumayan enak?
Sudah jelas, saat Serena sedang berada di White’s Jewellery International, Ralphie secara khusus pergi untuk mencicipi makanan disana.
Hello! Im an artic!
Ralphie tidak tahu pemikiran Serena, Ralphie menunggu dengan tenang untuk Serena memilih restoran.
Serena berkedip, lalu menunjuk satu nama restoran di handphone: “Kita makan disini saja.”
“Baiklah.” Ralphie menganggukkan kepala, lalu menyetir mobil.
Restoran Chinese itu memang lumayan enak, Serena makan hingga kenyang.
Karena makan terlalu kenyang, setelah sesampainya di hotel, dia merasa kembung.
“Ralphie, aku merasa kembung, aku akan pergi ke tempat Karina untuk jalan-jalan ya.”
Ralphie merapikan dokumen yang ada di tangannya lalu berkata: “Aku akan menemani kamu.”
“Tidak perlu, Manajer Utama mengenal kamu.” Serena menggelengkan kepala sambil menolak.
Ralphie mengerutkan keningnya, merasa tidak senang.
Serena mengangkat tangannya dan dengan halus mengelus kening Ralphie yang mengerut, “Jangan mengerutkan kening kamu lagi, aku hanya jalan-jalan, sebentar saja juga sudah kembali.”
Pada akhirnya Ralphie tidak bisa keluar bersama Serena, dia hanya bisa diam di dalam kamar melihat dokumen.
Setelah Serena keluar dari kamarnya, dia pergi ke supermarket hotel untuk membeli cemilan, lalu pergi ke kamar Karina.
Sesampainya di kamar Karina, Serena menyuruh Karina memanggil dua orang desainer dari timnya untuk datang juga.
“Nona Luo……” Setelah kedua desainer itu masuk, mereka langsung melihat Serena dan menyapa dia.
__ADS_1
Serena menyapa kembali: “Kemarilah makan.”
“Terima kasih……” Kedua desainer itu duduk dengan sempit.
Empat orang itu umurnya sepantaran, banyak pembahasan topik yang sama.
Tadinya kedua desainer itu merasa sulit untuk dekat dengan Serena, tapi setelah berbincang, mereka sadar Serena sangat mudah untuk didekati, jadi mereka memberanikan diri, mulai menanyakan Serena soal gosip.
“Nona Luo, ada gosip katanya pria anda sangat kaya, sangat tampan, apakah benar?”
Mendengar mereka menggosip soal Serena dan Ralphie, Karina hampir tersedak tanpa ludah sendiri, “Uhuk……”
“Kak Karina, kamu kenapa?” Serena bertanya dengan ragu.
Karina menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa……Uhuk……”
Serena menjawah ‘Oh’, lalu menjawab pertanyaan kedua desainer itu, “Suamiku sangat tampan, saat pertama kali melihat dia aku hingga terpukau.”
Sekarang dipikir-pikir, saat pertama kali bertemu dengan Ralphie, akan penampilannya, tempramennya sangat baik, bagaimana dia tidak jatuh cinta pada pandangan pertama……
Kedua desainer itu bertanya dengan penasaran, “Nona Luo begitu cantik, apakah bisa dibuat terpukau oleh laki-laki?”
“Mau bagaimana lagi, suamiku terlalu tampan.” Serena benar-benar mengatakan yang sesungguhnya, tapi kedua desainer itu tidak terlalu percaya, mereka menganggap Serena seperti hanya membesar-besarkan saja.
Yang benar-benar tahu hanya Karina, penampilan laki-laki itu memang memukau, jadi dia tidak merasa aneh.
Serena tidak lama-lama di tempat Katina, setelah berbincang dengan mereka, dia bangun dan pergi.
Di depan pintu kamar Karina, dia bertemu dengan Manajer Utama yang sedang membuka pintu ingin keluar.
“Manajer Utama apa kabar.” Serena menanyakan kabar Manajer.
Manajer Utama melihat ke pintu kamar dibelakang Serena dan bertanya “Datang mencari Karina ya?”
“Ya.” Serena menganggukkan kepalanya.
Mata Manajer Utama bersinar, lalu berkata: “Kalian lumayan dekat ya?”
“Dulu aku pernah menjadi murid di kelas pelatihan khusus Guru Karina.” Jawab Serena.
“Oh begitu.” Manajer Utama terdiam untuk sesaat, lalu bertanya: “Dengar-dengar kamu menginap bersama suamimu ya?”
Serena terkejut Manajer Utama tahu dia tidak sendirian, dia terdiam untuk sesaat, lalu menjawab: “Suamiku cemas akan diriku jadi dia ikut datang kesini.”
“Di lihat-lihat suamimu sangat peduli padamu ya.” Pupil Manajer Utama mengecil, lalu berkata: “Kompetisi kali ini sangat penting bagi perusahaan, berharap kamu tidak….”
__ADS_1
Mendengar perkataan Manajer Utama sepotong, Serena merasa tidak senang, tapi dia tidak menunjukkannya, hanya mengangguk dengan datar, “Aku tahu.”
Manajer tadinya masih ingin mengatakan sesuatu ke Serena, tapi handphone serena berdering.
Serena berkata dengan maaf: “Maaf, aku angkat teleponnya ya.”
“Silahkan.” Manajer Utama menganggukkan kepala.
Serena mengeluarkan handphone-nya dari dalam kantongnya, melihat dilayar adalah nomor Ralphie, alis dan matanya menjadi santai.
“Ya, ada apa……ya, aku aku sudah keluar, aku akan segera pulang……baiklah…….aku akan hati-hati……”
Manajer Utama yang mendengar percakapan Serena, ekspresi wajahnya terlihat sangat rumit.
Setelah Serena menutup teleponnya, dia langsung membuka mulut bertanya, “Suamimu yang menelpon ya?”
Serena menganggukkan kepalanya dan mengiyakan Manajer Utama, lalu berkata: “Manajer Utama, maaf, aku pulang dulu.”
“Pergilah.” Manajer menganggukkan kepalanya.
Setelah Serena berkata ‘selamat tinggal’, dia langsung terburu-buru mausk ke dalam lift.
Lima menit kemudian, lift nya sampai di lantai paling atas dan pintu liftnya terbuka.
Serena langsung bisa melihat Ralphie yang sedang menunggu dia diluar, dia berjalan dengan cepat menghampiri Ralphie, “Aku sudah bilang aku akan segera kembali, kenapa kamu keluar mencari aku?”
“Aku ingin menunggumu.” Jawab Ralphie.
Karena ingin menunggu dia, dia sudah bilang dia akan segera kembali, Ralphie masih ingin keluar menunggu dia.
Serena menggerakkan bibirnya, lalu membuka tangan ke Ralphie, “Ralphie, kamu peluk aku masuk ya?”
Ralphie menjawab ‘baik’, lalu memeluk Serena sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Ditengah kebahagiaan yang Serena rasakan dia tidak tahu, saat ini ada orang yang akan mengubah suasana hatinya.
Laki-laki yang Serena temui tadi siang di White’s Jewellery International, laki-laki yang dia anggap laki-laki liar, Namanya adalah Malcolm Bai, tuan muda dari White’s Jewellery International.
Saat pertama kali melihat Serena, dia merasa Serena sangat mirip dengan bibi dari neneknya yang sudah meninggal di foto yang pernah dia lihat.
Saat dia memegang dagu Serena, setelah dia memperhatikan dengan jelas, dia sadar Serena dengan bibinya tujuh sampai delapan puluh persen mirip.
Jadi saat dia sedang dimarahi laki-laki liar oleh Serena, dia sama sekali tidak marah, tapi dia malah menyuruh bodyguardnya mencari informasi tentang Serena.
Sekarang hasil pencarian informasinya sudah ada, Serena adalah anak dari bibinya yang sudah meninggal, saudara sepupunya.
__ADS_1
Memegang informasi yang ada di tangannya, suasana hati Malcolm bercampur antara terkejut bahagia dan rumit.
Terkejut bahagia karena bertemu dengan anak bibinya, rumit karena permasalahan lama akan muncul lagi..