
Hello! Im an artic!
Serena pada akhirnya tetap tidak keluar dari kamar, dengan patuh bersandar dibelakang pintu sambil mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di luar.
Suara dari luar terdengar sangat bermacam-macam, seperti suara teriakan, pukulan, dan suara erangan dari seseorang…
Hello! Im an artic!
Setiap mendengar suara dari luar, hati Serena terasa sangat tidak karuan. Serena sangat ketakutan, dari beberapa suara yang dia dengar tadi, ada suara Ralphie.
Entah sudah berlangsung berapa lama, suara yang terdengar semakin lirih, sampai akhirnya tidak terdengar lagi.
Sudah tidak ada suara lagi? apakah mereka sudah selesai?
Bagaimana keadaan Ralphie? Serena tanpa berpikir panjang dengan cepat membuka pintu kamarnya, dia dikejutkan dengan seisi ruangan yang sangat berantakan.
Hello! Im an artic!
Pecahan kaca, perabotan rumah yang berserakan dimana-mana, para pengawal Tuan Wang yang terkapar di lantai.
Sedangkan Tuan Wang dengan tubuh yang menggigil terdiam di atas kursi, dengan Ralphie yang berdiri didepannya.
Pandangan Serena hanya tertuju ke arah Ralphie, mengamati dengan seksama, setelan jas yang dipakainya hanya sudah terlepas dari tubuhnya, hanya tersisa kemerja dalam yang terdapat beberapa bercak darah.
Bercak darah? Dia terluka? Serena seketika berlari ke arah Ralphie.
Ralphie yang mendengar ada seseorang sedang berlari ke arahnya segera membalikan badan, menyadari bahwa seseorang itu adalah Serena, membuatnya sangat tercengang.
“Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk menungguku didalam?”
Serena tidak menggubris perkataan Ralphie, seraya berkata, “Kamu terluka dibagian mana?”
Ralphie menjawab, “Aku tidak apa-apa.”
Serena tidak begitu saja mempercayai jawaban Ralphie, dia dengan segera memeriksa sekujur tubuh Ralphie, meraba seluruh bagian tubuh Ralphie dari depan kebelakang tanpa melewatkan satu bagianpun.
Sentuhan yang dilakukan Serena seketika membuat bagian bawah tubuh Ralphie menegang, napasnya tidak beraturan, Ralphie membalikan badan dan berusaha menghentikan tindakan Serena, tiba-tiba saja matanya menciut.
Serena terheran-heran melihatnya, melihat raut muka Ralphie yang berubah tajam, dan Serena berusaha menanyakan sesuatu kepada Ralphie.
Seketika saja Ralphie menghentikan tangan Serena, ditarik kedalam pelukannya, dipeluknya dengan erat, dengan cepat membalikan badan hingga keduanya saling bertukar posisi.
__ADS_1
Serena yang mendapat perlakuan mendadak ini merasa sangat kebingungan, saat hendak mengangkat kepala dan bertanya apa yang terjadi, serena malah mendapati Tuan Wang yang mengayunkan tangannya menusukkan belati ke punggung Ralphie.
Serena merasakan dalam sekejap darah kental mengucur dari sekujur tubuh Ralphie, Serena pun tidak merasakan nafas dan dekat jantung Ralphie.
Serena tidak sempat melakukan apapun, Ralphie malah mendorong Serena dari pelukannya.
Serena tidak memberontak, terdorong sampai jatuh ke lantai. Serena dengan kaget mengangkat kepalanya, dan melihat Ralphie membalikan badan dengan belati yang masih menancap dipunggungnya, darah segar terus mengucur, hampir membuat punggungnya penuh dengan lumuran darah.
Tetapi Ralphie seakan tidak merasakan bahwa tubuhnya terluka, dan mengangkat kakinya yang dengan segera dihantamkan.
Tuan Wang sebenarnya juga sudah tidak berdaya, dapat menusukkan belati ke punggung Ralphie itu dikarenakan Ralphie yang sedang tidak waspada dengan keadaan memeluk Serena.
Tendangan Ralphie membuat Tuan Wang terlempar dengan keras menabrak dinding dibelakangnya dibarengi dengan suara bung bung, dan Tuan Wang tidak bergerak lagi.
Ralphie yang menggunakan sisa tenaganya secara berlebihan, dan dengan luka tusuk yang dalam, membuat sekujur tubuhnya tidak mampu berdiri dengan tegak.
“Ralphie…..” Serena dengan tergesa-gesa segera bangkit dan berlari ke arah Ralphie.
Mendengar suara teriakan Serena, Ralphie membalikan badan dan memandang ke arahnya. Karena kehilangan darah terlalu banyak, mukanya menjadi sangat pucat, tetapi dia sekakan-akan tidak terjadi apa-apa, menggerakan ujung bibirnya menghibur Serena sambil berkata “Aku tidak apa-apa”.
“Apanya yang tidak apa-apa? kamu kehilangan banyak sekali darah…” Serena memapahnya, air matanya pun mengalir tak terbendung.
“Jangan menangis… Ayo kita kembali…” Ralphie mengangkat tanggannya dan berusaha mengusap air mata Serena, entah seberapa dia berusaha mengangkat tanganya
Setelah mendapatkan handphone dari kantong celana Ralphie, Serena segera mencari kontak Felix dan menghubunginya…
Felix juga sepertinya sedang menunggu telepon dari Ralphie, begitu berdering sekali dengan segera dijawabnya.
“Direktur, anda dimana?”
“Kita ada di Club Temptation, lantai paling atas, Ralphie terluka…”
Serena dengan muka yang pucat karena cemas duduk dikursi depan ruang operasi, matanya tanpa berkedip memandangi pintu ruang operasi. dia tidak menyadari bahwa baju yang dipakainya penuh dengan noda darah.
Ralphie menjalani operasi sudah selama satu jam, tetapi Serena masih cemas tidak karuan.
Felix yang tidak tahan melihatnya segera membujuknya, ” Nyonya, anda sebaiknya istirahat sebentar, biarkan saya yang menunggu disini.”
Serena tidak memperduikan perkataan Felix, matanya hanya sibuk memandangi pintu ruang operasi.
“Nyonya, jika anda tidak setuju untuk istirahat sebentar, setidaknya anda harus mengganti baju.”
__ADS_1
Serena masih tidak memperdulikan perkataan Felix
Felix menghembuskan nafasnya keras-keras, menyerah membujuk sang majikannya itu.
Setengah jam pun berlalu, pintu ruang operasi akhirnya terbuka, dan kemudian dokter pun keluar.
“Dokter, bagaimana keadaannya…” Serena bergegas bangkit dari kursi dan berlari ke arah dokter.
Dokter membuka masker dan menjawab, “Operasinya berhasil, pasien sudah diperbolehkan dipindahkan ke kamar pasien.”
Mendengar jawaban dokter, Serena menghembuskan nafas lega, perasaan tegang yang tadi di rasakannya seketika menghilang, kemudian Serena terjatuh lemas.
Felix yang berada disampingnya segera menahannya, “Nyonya, anda tidak apa-apa kan?”
“Aku tidak apa-apa… Aku ingin pergi melihatnya…” Serena menggelengkan kepalanya berusaha melepas tangan Felix yang tadi menahnnya dan berjalan menuju kamar Ralphie.
Felix dengan terburu-buru berkata kepada dokter, “Nanti saya kembali menemui anda” dan kemudian segera menyusul Serena.
Serena yang berusaha pergi menemui Ralphie, baru berjalan sampai depan ruang rawat Ralphie justru menghentikan langkahnya.
Jika bukan karena dia marah dan pergi meninggalkannya, dia tidak akan diculik oleh orang-orangnya Tuan Wang.
Jika dia tidak diculik oleh orang-orangnya Tuan Wang, Ralphie tidak akan mungkin pergi sendirian menyelamatkannya.
Dan jika bukan karena dia yang tidak mendengarkan perkataan Ralphie dengan tidak keluar dari ruangan itu, Ralphie tidak akan terluka karenanya.
Ralphie terluka, dan semua itu terjadi karena Serena.
Serena atas dasar apa pergi melihat Ralphie?
Serena sadar diri dan membalikan tubuhnya kemudian pergi begitu saja.
Felix yang tadi menyusul Serena karena khawatir Serena akan terlibat masalah lagi pun tertegun melihat Serena yang pergi begitu saja.
Nyonya kenapa? Mata Felix bergerak ragu, dan segera pergi menyusulnya, “Nyonya, anda mau pergi kemana?”
Serena mengangkat wajahnya dan sekilas melihat Felix, kemudian menjawab, “Aku mau pergi ganti baju.”
Bukannya tadi buru-buru mau melihat keadaan Direktur? Kenapa sekarang malah mau pergi ganti baju?
Felix belum sempat bertanya kembali, Serena kemudian berkata, “Aku pergi dulu.” Dan kemudian pergi begitu saja.
__ADS_1
Felix memandangi punggung Serena yang semakin lama semakin menjauh, baru kemudian kembali ke ruang rawat Ralphie.