I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 5 Cinta Pertama Berselingkuh


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Karena kemarin malam dia sudah janjian dengan Isa Lu, jadi ketika jam delapan pas, dia sudah sampai di kamar Royal Club yang di pesankan Isa Lu.


Ketika baru masuk, ia melihat sofa kulit yang bergaya Eropa, di sofa itu terdapat beberapa laki-laki yang mengenakan jas dengan rapi, disamping beberapa laki-laki ini terdapat wanita cantik yang sedang dirangkul oleh mereka, wanita-wanita itu berumur kisaran tujuh belas sampai delapan belas tahun, badan mereka masih sangat indah dan membuat orang yang melihatnya tergiur.


Hello! Im an artic!


Alis Ralphie sedikit berkerut, dia menghentikan langkah kakinya, seakan detik selanjutnya ia akan membalikkan badannya dan pergi dari sini.


Disaat ini, Isa Lu yang duduk di tengah beranjak berdiri, “Ralphie, ayo kesini! Ayo duduk.” Sambil berbicara dia menunjuk tempat kosong yang ada di sofa itu.


Isa Lu sudah membuka mulut, Ralphie juga sudah tidak enakan untuk pergi dari sini.


Setelah ia memberikan jasnya kepada pelayan, ia mencari tempat yang agak jauh dari Isa Lu, Ralphie mangangkat gelas araknya, melihat ke arah semua orang dan bersulang dengan orang yang menuangkan araknya, ketika ia bersiap untuk minum, Isa Lu malah berdiri, : “Ralphie, minum sendiri mana enak, ayo minum sama-sama.”


Hello! Im an artic!


Ralphie menyipitkan matanya, lalu berkata: “Kalau kamu masih mendekati aku sejengkal lagi dengan aroma ini, aku akan membuang kamu.”


Isa Lu sangat mengenal Ralphie, mendengar apa yang di katakannya, dia berdiri dengan tegak dan mundur dua langkah, “Ok, aku tidak mendekatimu.”


Ralphie tidak begitu mempedulikannya, lalu bersandar ke sofa yang lembut itu, lalu menundukkan kepalanya dan melihat minuman yang ada di tangannya.


Isa Lu mengeleng-gelengkan kepalanya, lalu berjalan ke arah Ralphie: “Kamu pembersih begitu apa bagus? Sampai aroma parfum pun tidak bisa tahan, kamu masih mau menikah gak? Atau mungkin istrimu itu wanita yang tidak memakai parfum? Sekarang selain wanita yang ada di desa tidak ada wanita yang seperti itu lagi…….”


Menikahi wanita yang tidak memakai parfum? Gerakan tangan Ralphie yang mengangkat gelas birnya pun terhentikan.


Di dalam kepalanya terlintas wajah Serena, di tubuhnya sepertinya tidak ada aroma parfum……


“Ralphie?” Melihat gerakan tanagnnya yang berhenti, Isa menjerit namanya.


Bagaimana dia bisa memikirkan wanita itu? Ralphie mengedip-ngedipkan mataya, lalu berjalan ke arah Isa dan berkata “Aku keluar sebentar”, sambil meletakkan gelas yang ada di tangannya, dan beranjak pergi dari sana.


Semua orang melihat Ralphie yang beranjak berdiri, mereka mengira ada yang tidak beres dengan Ralphie, semuanya melihat kearahnya, lalu Isa tersenyum dan berkata ke semua orang “Dia keluar sebentar”, lalu lanjut bersulang dengan orang-orang.

__ADS_1


Ralphie keluar dari ruangan itu, berjalan melewati lorong dan sampai ke tempat yang terbuka.


Dia hanya mengenakan kaos, angin malam di akhir musim gugur datang dan kesejukan itu langsung menembus ke seluruh tubuhnya dan juga menerbangkan seluruh pikiran-pikrian yang ada dibenaknya.


Ketika dia sudah berdiri beberapa menit dan berencana untuk kembali ke ruangan itu, ia baru membalikkan badannya, ia malah melihat seseorang yang sangat familiar dengannya yang sedang berdiri di depan ruangan itu.


Bagaimana dia bisa ada disini? Ralphie menghentikan langkah kakinya dan pandangannya tertuju pada Serena.


Ini benar nomor ruangan yang di kasih tahu Maggie, Serena mengangkat tangannya dan mengetok pintu itu beberapa kali, tetapi tidak ada balasan dari dalam, ketika dia berencana untuk mengetuk lagi, ia baru menyadari ternyata pintu itu tidak tertutup, lalu ia pun dengan perlahan mendorong pintu itu.


Ketika pintu itu terbuka dia pun melihat ke dalam ruangan itu, seorang pria sedang menghadap ke arah pintu dan sedang membawa bunga mawar dan berlutut di depan Maggie.


Ketika ia mengenali laki-laki yang sedang berlutut di hadapan Maggie adalah siapa, Serena menghela nafas dalam-dalam, melototi dengan matanya yang besar, dan sedikit merasa terpukul.


Kakak Gu………..ini apa-apaan? Sedang menembak Maggie?


Tidak, Kakak Gu gimana bisa menyukai Maggie? Dia pasti salah orang, Serena terus memberitahukan dirinya bahwa dia salah orang.


Tetapi, perkataan laki-laki itu dengan Maggie menghancurkan semua dunia mimpi Serena.


“Alfred, aku malah mengira kamu dan Serena pacaran? Saat masa sekolah, kalian masuk bareng dan keluar bareng.” Di dalam nada bicara Maggie terdapat maksud untuk membuat Serena marah.


Maggie melihat ke arah Serena dan tersenyum puas, lalu dengan gayanya yang malu-malu dan menghadap ke arah Alfred dan menganggukkan kepalanya.


Alfred beranjak berdiri dan menggendong Maggie dan berputar di dalam ruangan itu.


“Jangan begitu, ada orang yang sedang melihat?” Maggie memeluk leher Alfred dan sedikit malu-malu melihat ke arah luar pintu.


“Siapa berani melihat? Aku…….” Alfred berkata dengan sedikit marah dan membalikkan badannya yang sedang menggendong Maggie, ketika ia melihat Serena yang sedang berdiri di depan pintu itu, apa yang dia katakan semuanya terhentikan dan ekspresi wajahnya juga menjadi kaku.


Kira-kira setelah sepuluh detik berlalu, Alfred baru tersadar dan sedikit gugup bertanya, “Serena, kenapa kamu bisa disini?”


Bagaimana aku bisa disini? Karena kamu yang mau aku datang!


Bukan, bukan kamu yang menyuruh aku datang tapi Maggie yang menyuruh aku datang.

__ADS_1


Membiarkan aku melihat kamu berlutut di hadapannya untuk menembaknya.


Maggie tertawa dan berkata: “Alfred, aku yang menyuruh Serena datang. Awalnya aku pikir kita semua sangat dekat, kamu mentraktirku, waktu di kantor aku sekalian mengajak Serena datang, tapi aku tidak tahu kamu akan memberiku kejutan.”


Alfred melihat Maggie sebentar lalu merasa malu dan melihat ke arah Serena, “Serena, aku……..”


Tidak menunggu apa yang mau di katakan Alfred, Maggie menggandeng dan bersandar di badan Alfred, melihat ke arah Serena dan tertawa: “Serena, kamu bisa beri selamat pada aku dan Kakak Gu tidak?”


Serena tahu, Maggie sengaja bertanya begitu, dia hanya mau melihatnya sakit hati.


Tetapi Maggie sudah berhasil, karena Serena merasa sangat sakit.


Selama ini ia mengira hubungan dia dengan Alfred hanya tinggal jarak setebal kertas tipis, sekarang ia mendengar Alfred mengatakan dulu mereka tidak ada hubungan apa-apa, dia masih memeluk wanita yang terus membuatnya repot itu, hati Serena sangat sakit sampai rasanya ia tidak bisa bernafas lagi.


Dengan keras ia mengigit bibirnya, dengan begitu ia baru bisa menahan air matanya.


“Selamat, semoga kamu bisa bahagia dengan Kakak Gu, selamanya.”


“Terima kasih, Serena.” Selesai mengatakan ini, Maggie membalikkan badannya dan dengan suara manja berkata dengan Alfred: “Alfred, aku merasa sedikit dingin, jaket aku ada di balkon, bolekah kamu membantuku mengambilnya sebentar?”


Alfred mengalihkan pandangannya dari Serena, lalu menganggukkan kepalanya, “Baik, aku akan pergi sekarang.” Selesai bicara, dengan tergesa-gesa ia pergi ke balkon.


Setelah Alfred pergi, Maggie tersenyum dan melihat ke arah Serena: “Serena, sudah lihat kan, Kakak Gu yang kamu suka, sekarang sudah menjadi pacar orang lain. Melihat sendiri orang yang kamu sukai selama bertahun-tahun sekarang malah menyukai wanita yang paling kamu benci, perasaan kamu sekarang bagaimana………”


“Kakak Gu begitu menyukaimu, kamu harus baik-baik bersamanya.” Serena berusaha untuk tersenyum, tidak ada orang yang memperhatikan, dia sedang mengepalkan tangannya sampai berubah menjadi warna putih dan kukunya yang menusuk ke dalam daging telapak tangannya.


Mendengar perkataan Serena, Maggie tertawa, “Serena, mengatakan kata-kata ini, sepertinya hatimu sangat sakit yah?”


“Serena, kamu tahu kenapa aku mau menjadi pacarnya Kakak Gu?” Berbicara sampai disini, dia berhenti, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Serena dan dengan suara yang kecil dia berkata: “Simpel sekali, aku mau merampas semua yang kamu miliki.”


Mendengar apa yang dikatakan Maggie, mengetahui ternyata dia merampas Alfred bukan karena ia menyukainya, hati Serena semakin terpukul.


Setelah terdiam beberapa detik, dia mengangkat kepalanya, seolah tidak terjadi apa-apa, lalu dia melihat ke arah Maggie lalu sambil tertawa dia berkata: “Maggie, ternyata selama ini kamu selalu bermusuhan denganku karena kamu cemburu dengan apa yang aku punya yah?” Berbicara sampai disini Serena terdiam sebentar, lalu dia melanjutkan lagi: “Sebenarnya kamu tidak usah cemburu dengan aku, karena di bidang memain trik-trik licik aku tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu.”


Setelah mendengar Serena mengatakan bahwa dia cemburu dengannya, Maggie pun marah besar. Ketika ia mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Serena, dia sudah tidak bisa menahannya lagi, dengan emosi ia mengangkat tangannya lalu hendak menamparkannya ke muka Serena.

__ADS_1


Maggie mengangkat tangannya dengan sangat tiba-tiba, dan juga sangat cepat, membuat Serena sama sekali tidak sembat untuk mengelaknya.


Melihat tangan Maggie yang hendak melandas dimuka Serena…


__ADS_2