
Hello! Im an artic!
Serena naik kelantai 10 untuk mencari Karina setelah keluar dari kantor Elliot.
“Nyonya Serena.” Karina menyapa Serena sambil memberi hormat.
Hello! Im an artic!
Serena tersenyum kepada Karina, lalu dengan sopan berkata: “Kak Karina, jangan panggil saya ‘Nyonya Serena’, karena sekarang aku adalah bawahanmu yang belum menjadi designer profesional.”
Karina mengerti apa yang dimaksud, tetapi identitas Serena saat ini sangat membuatnya menjadi serba salah. Istri Direktur di Kantor, murid designer terkenal dari Kitty Philip.
Dengan sedikit keberatan, Karina akhirnya berkata: “Kalau gitu aku panggil saja Serena ya.”
“Oke.” Serena menganggukan kepala.
Hello! Im an artic!
Karina menganggukan kepala, kemudian berkata: “Manajer Ye sudah katakan padaku, kamu setelah ini adalah designer dibawah aku, aku bawa kamu ke Kantor.”
“Kalau gitu repotin kamu.” Serena menganggukan kepala dan mengikuti Karina.
Setelah masuk kantor, Karina bertepuk tangan untuk mengalihkan pandangan semua orang.
“Ini adalah teman kantor baru kita namanya Serena, Welcome.”
Serena tersenyum dan sedikit membungkuk untuk member hormat kepada semua orang, “Halo semua, aku Serena, Mohon bantuan kalian!”
Karina adalah guru designer yang dibawa dari Paris oleh Elliot, di Kantor dia bisa dibilang memiliki jabatan yang sangat tinggi. Kali ini dia membawa seorang murid training khusus yang menang di perlombaan perhiasaan didunia dengan nilai terbaik, hal ini membuat banyak designer dikantor ingin menjadikan Serena sebagai guru mereka, tetapi Karina tampak tidak memberikan respon apapun.
Saat ini semua orang merasa bingung Karina tak hanya membawa Serena masuk kedalam Kantor, tetapi juga memperkenalkan Serena langsung, yang membuat orang merasa Serena adalah murid Karina, jadi banyak orang yang mulai tidak senang dengan Serena, tetapi tidak ada yang berani merusak nama baik Karina.
Satu per satu bertepuk tangan, dan ada satu orang yang dengan kencang berteriak ‘Welcome’.
Serena mengalihkan pandangannya pada orang tersebut, tak sangka dia melihat orang yang tak asing baginya, teman kantor dulu saat bekerja di Grup A, Sarah.
Dia tak menyangka akan bertemu Sarah disini, Serena merasa senang.
Tentu saja dia tak lupa kalau sekarang dia bekerja untuk Karina, jadi dia tidak bertegur sapa dengan Sarah, hanya bisa mengedipkan mata.
Karina tidak tahu apa yang ada dipikiran semua orang, setelah mengenalkan Serena, dia turun tangan langsung untuk menyiapkan meja kerja Serena, kemudian baru pergi kembali ke kantornya.
Setelah Karina pergi, Sarah langsung menghampiri Serena, “Serena, kamu ternyata juga kerja disini.”
__ADS_1
“Aku tidak tahu kalau ternyata kamu juga disini, kedepannya mohon bantuanmu ya.” Kata Serena sambil tersenyum.
Sarah menyipitkan matanya, lalu dengan tatapan tajam berkata: “Kamu itu murid yang Kak Karina bawa langsung untuk diperkenalkan ke kita, harusnya aku yang mohon bantuanmu.”
“Murid Kak Karina?” Serena terdiam sebentar, kemudian menggelengkan kepala, “Aku bukan.”
“Aku lihat Kak Karina yang turun tangan langsung untuk bawa kamu masuk ke kantor, kirain kamu muridnya.” Jawab Sarah sambil tertawa.
Serena menggelengkan kepala, “Bukan, hanya saja aku sebelumnya pernah ikut kelas Miss Karina, terus jadinya kantor tugasin dia untuk bawa aku.”
Setelah itu Sarah lanjut berbicara sebentar dengan Serena dan pergi.
Sudah lama dia tidak pernah bekerja, tiba-tiba mulai bekerja membuat sekujur tubuh Serena pegal.
Ketika masuk rumah, terlihat ada mobil Ralphie yang diparkiran.
“Ralphie hari ini pulang cepat?” Serena senang sambil masuk kedalam rumah, tetapi setelah masuk, Serena tidak melihat Ralphie dan hanya ada Felix.
Serena terdiam sebentar, kemudian dengan senang bertanya, “Felix, sejak kapan balik?”
Dia terus cemas dengan masalah Ralphie memecat Felix, sekarang Felix kembali, tentu saja mengartikan Ralphie tidak jadi memecat Felix, tentu saja dia sangat senang.
“Sebenarnya dua hari kemarin sudah harus kembali, tetapi karena ada urusan yang lain, jadi hari ini baru kembali.” Jawab Felix.
Felix sedikit terbata-bata lalu melihat Serena sekilas, kemudian menjawab, “Direktur Ralphie dia……belum balik.”
Serena sama sekali tidak menyadari ada yang aneh dari ekspresi wajah Felix, Serena mendengar Felix berkata bahwa Ralphie belum kembali, ekspresinya sangat kecewa, “Dia hari ini bakal lembur sampai malam banget ya?”
“En, mungkin……” Jawab Felix tidak jelas.
Serena hanya berkata ‘Oh’, lalu tak lagi berbicara.
Setelah Felix terdiam beberapa detik, kemudian dia berkata: “Nyonya, aku datang untuk mengantarkan koper Anda.”
“Oh, Terima kasih.” Serena menganggukan kepala dan mengucapkan terima kasih kepada Felix.
Felix dengan sopan berkata, “Nyonya, Anda tidak perlu sungkan, saya saja belum sempat berterima kasih pada Nyonya karena sudah bantu berbicara hal baik tentang saya di depan Direktur Ralphie.”
“Kamu itu karena aku makanya jadi ada masalah seperti ini……” Belum selesai Serena berbicara selesai, suara pelayan rumah terdengar, “Nyonya, makan sudah siap.”
“Oke” Serena merespon, kemudian membalikkan kepala bertanya pada Felix, “Felix, sudah makan belum? Mau makan bareng?”
“Nyonya, aku tidak makan, aku masih ada urusan yang perlu diselesaikan.” Felix menggelengkan kepala.
__ADS_1
“En, hati-hati di jalan.”
Setelah Serena makan malam, dia mengangkat koper naik kekamar.
Dia membereskan koper terlebih dahulu, kemudian pergi mandi.
Setelah mandi, dia turun kebawah, duduk diruang tamu untuk nonton sambil menunggu Ralphie pulang.
Pukul setengah sebelas malam Ralphie baru pulang.
Melihat Serena yang duduk diruang tamu, Ralphie merasa terkejut, “Sudah sangat larut, kamu kenapa belum tidur?”
“Aku pikir……” Perkataan Serena tiba-tiba terhenti, karena dia mencium aroma parfum dari tubuh Ralphie.
Biasa dia akan menjaga jarak dengan perempuan, tetapi kenapa tubuhnya ada aroma parfum?
Ralphie tidak menyadari dengan keanehan di wajah Serena, dan langsung bertanya kepada Serena yang bertanya setengah, “Kamu pikir apa?”
“tidak apa-apa, aku siapin air untuk kamu mandi.” Selesai berkata, Serena dengan cepat naik ke atas.
Ketika Ralphie ingin melepaskan baju, dia baru menyadari ada aroma parfum.
Matanya langsung memberikan tatapan jijik, Ralphie membuang bajunya ke keranjang.
Walaupun aroma parfum itu ada karena mantel dia dan tanpa sengaja tertempel aromanya ketika dia berkunjung mencari Selina, tetapi dia tetap tidak menyukainya.
Lain kali dia harus jauh-jauh dari Selina, itulah yang ada dipikiran Ralphie.
Dia tak tahu, kalau Serena ngambek karena aroma parfum yang ada ditubuhnya itu.
Ralphie begitu sibuk, setiap hari pergi pagi pulang malam, mana mungkin ada waktu pergi dengan perempuan lain.
Tetapi aroma parfum ditubuh itu memang benar ada.
Apalagi setelah dia pulang dinas, dia tidak pernah lebih mesra dengan dia lagi, jangan-jangan……tidak mungkin, Ralphie tidak akan seperti itu.
Setelah ngambek tidak ada hasilnya, Serena akhirnya memutuskan untuk mencoba test Ralphie.
Setelah Ralphie naik kasur, Serena sengaja memeluk Ralphie, kemudian Ralphie hanya mencium jidatnya dan memeluknya erat saja, setelah itu tidak bergerak lagi.
Tidak mungkin, Raphie bukan orang seperti itu. Ralphie begitu mencintai Serena, melakukan hal banyak untuk dia, Ralphie bagaimana mungkin bisa berhubungan dengan orang lain? Sekalipun Ralphie beneran ada perempuan lain, pasti orang lain yang menggodanya.
Serena ada pemikiran seperti ini, dan mulai memperhatikan situasi Ralphie, apalagi dengan perempuan, dan tentu saja orang yang akan ditanya adalah Felix.
__ADS_1