
Hello! Im an artic!
“Kuenya kenapa bisa di kamu?” Serena dengan bingung bertanya pada Felix.
Felix dengan gagap menjawab, “Itu……tadi Direktur Su ketinggalan di mobil.”
Hello! Im an artic!
Serena menganggukan kepala dan berkata ‘Oh’, kemudian mundur satu langkah, “Masuklah.”
Felix mana berani masuk rumah? Dia dengan cepat, “Ngga perlu, aku buru-buru. Ini kuenya.”
Mendengar Felix yang berkata sedang buru-buru, Serena pun tidak memaksanya untuk bertamu, Serena mengambil kue darinya sambil berkata, “Terima kasih.”
“Sama-sama, ini adalah kue yang sengaja Direktur Su minta Elizabeth beliin.” Sebelum pergi, Felix pun tak lupa untuk berkata baik mengenai Ralphie kepada Serena.
Hello! Im an artic!
Membicarakan kebaikan atasan sendiri adalah salah satu pekerjaan mereka.
Serena memang sudah menebak kalau kue ini disiapkan oleh Ralphie, sekarang Felix mengatakan hal yang sebenarnya, hati Serena pun menjadi penuh kegembiraan.
Ralphie meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan buat yang Serena suka, bahkan membelikan kue kesukaan dia……itu berarti menandakan dia mempedulikan Serena? Setidaknya sebagai teman…….
Sedikit demi sedikit harapan terus muncul dihati Serena, kemudian detik berikutnya Serena memberikan kue tersebut kepada asisten kemudian berlari terburu-buru naik ke atas.
Dia lari ke ruangan baca Ralphie kemudian mengetuk pintu.
Ketika terdengar suara ketuk pintu tok tok tok, Serena baru menyadari kalau dia terlalu bersemangat hingga lari ke ruangan baca Ralphie.
Tetapi saat ini dia sudah tidak dapat menyesali karena Ralphie sudah membukakan pintu.
“En itu……aku panggil kamu untuk turun makan.” Serena nervous dan gelagapan, jarinya pun memegang erat ujung baju.
Ralphie merasa terkejut saat melihat Serena berada didepan pintu ruangan, yang membuat dia semakin kaget karena Serena mengajaknya turun makan?
Walaupun Serena hanya datang untuk memanggilnya maka, tetapi Ralphie sangat senang.
Sekarang dia tidak berharap Serena bisa mencintainya, dengan dia bisa memberikan sedikit kesempatan untuk Ralphie agar dapat mendekatinya, itu sudah cukup.
Ralphie melihat Serena, kedua ujung bibirnya pun perlahan naik keatas.
Melihat Ralphie tidak merespon, Serena pelan-pelan mendongakan kepalanya, kebetulan dengan pandangan Ralphie yang terdiam.
Seperti bintang yang sedang memancarkan cahaya dari bola mata, seperti putaran kabut, sekali lewat sama sekali tidak melihat apapun……
Ralphie menyadari pandangan Serena mengarah padanya, dengan cepat dia langsung mengalihkan tatapannya, “Yuk.”
Tiba-tiba mendengar Ralphie bersuara, Serena masih belum engeh apa yang dikatakan Ralphie, “Apa?”
__ADS_1
“Yuk makan.” Ralphie berbicara sambil keluar dari ruangan dan duluan turun ke bawah.
Melihat punggung Ralphie yang pergi, Serena tersenyum dan mengikutinya……
Seperti biasa Ralphie duduk ditempat duduk yang utama, Serena duduk disebelah kanannya.
Meja makan yang sama tetapi dari awal sampai akhir keduanya tidak berbicara sama sekali, tetapi setidaknya ada sedikit gerakan seperti memberikan sumpit, mengambilkan nasi, mengambilkan lauk dan lain-lain.
Suasana sekarang sama seperti mereka masih menjadi teman, hangat dan indah, perasaan yang sudah lama hilang, membuat keduanya merasa puas.
Setelah makan, Ralphie keluar dari ruang makan duluan baru Serena.
Ketika Serena keluar, kedua tangannya membawa dua piring.
Ketika Ralphie melihat piring tersebut berisi kue, dia terdiam sebentar.
Kue dari mana? Dia beli?
Jangan salahkan Ralphie kalau tidak kepikiran kalau kue itu adalah kue yang dia minta Elizabeth untuk membelikannya, karena bagaimanapun dia sudah memerinta Elizabeth untuk membuang kue tersebut.
Serena yang tanpa melihat situasi langsung menjawab, “Kue yang kamu beli, coba dulu.”
Serena berbicara sambil memberikan piring satunya untuk Ralphie.
Ralphie yang beli? Ralphie merasa ada yang aneh, atau Serena yang sedang bercanda.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Ralphie menyembunyikan kebingungan itu lalu dengan datar berkata, “Aku malahan lupa.”
“Kamu tinggalin di mobil, makanya tadi Felix balik lagi untuk anterin kue.” Jawab Serena sambil tersenyum.
Ralphie meninggalkannya di mobil, Felix yang mengantarkannya?
Ralphie terdiam sebentar baru menyadari segalanya.
Pasti ketika Elizabeth akan membuang kue itu, Felix diam-diam menyimpan kue tersebut, kemudian diam-diam membawa pulang ke rumah.
Sekarang dia semakin berani ya! Ralphie tanpa suara dan hanya dalam hati berkata ‘He’, memikirkan apakah dia harus mengembalikan Felix kembali ke kantor pusat Grup Su.
Wajahnya mengekspresikan dan berkata: “Dia melakukan dengan baik!”
Jelas-jelas ini perkataan yang memuji, tetapi Serena merasa ada yang aneh, seakan mengandung makna lain.
Tetapi dia memikirkan banyak, karena seluruh perhatiannya berpaling ke kue yang ada dipiring.
“Rasanya selalu enak!”
Melihat Serena yang makan kue dengan puas, Ralphie tiba-tiba merasa Felix diam-diam membawa kue pulang adalah ide yang bagus.
__ADS_1
Kalau begitu dia tidak perlu mengirimnya ke kantor pusat, hanya perlu menyiapkan kerjaan yang lebih saja.
Mungkin karena merasa senang, Ralphie yang biasa tidak makan makanan manis pun memakannya dengan senang.
Dulu Ralphie merasa kue terlalu manis, dia tidak bisa memakannya, saat ini Ralphie merasa kue ini sangat lembut dan enak, lumayan, bahkan membuatnya ada keinginan terus membeli untuk Serena makan.
Memang perlu di akui, cinta memang sangat luar biasa, setidaknya mampu membuat seorang Direktur Su berubah.
Setelah makan kue, waktu pun menunjukkan sudah larut, Serena naik keatas sambil menguap, baru saja dia akan naik ke atas, terdengar suara Ralphie dari belakang, “Serena.”
“En?” Serena membalikkan kepala, wajahnya memasang senyuman tipis.
Ralphie melihat senyumnya itu tanpa sadar juga ikut tersenyum, “Good night.”
“Good night.” Kata Serena sambil mengangkat kedua alisnya.
Ralphie menganggukan kepala, tak lagi berbicara.
Serena membalikkan badan, akan berjalan keatas, lalu melihat kopernya sendiri, dan dia menyadari bahwa dia melupakan koper yang perlu dibawa kembali kekamar.
Serena menggeleng-gelengkan kepala, baru saja akan mengangkat koper. Dengan cepat sudah ada tangan lain yang memegang koper.
Serena membalikkan kepala dan berpas-pas an melihat mata binar Ralphie.
Hatinya pun berdebar kemudian mengalihkan matanya.
Bola mata Ralphie yang berbinar-binar, kemudian dengan pelan berkata: “Aku saja.”
“Oh, oke.” Serena pun mundur dua langkah.
“En.” Ralphie menganggukan kepala, mengangkat koper memutari dia dan naik keatas.
Serene berdiri ditempat awal, melihat punggung Ralphie yang naik keatas, dan baru tersadar dan berlari keatas.
Ketika Serena naik, Ralphie sedang menunggu didepan kamar Serena. Melihat dia naik, Ralphie memberikan koper kepada Serena.
“Besok masih harus kerja, cepetan balik kamar dan istirahat.”
“En.” Serena menganggukan kepala sambil mengambil kopernya, kemudian berkata: “Kamu juga.”
Ralphie menganggukan kepala, “Ok.”
Mendengar Ralphie membalasnya, wajah Serena penuh dengan kesenangan, dia menunjuk kebelakang, “Kalau gitu aku masuk dulu.”
Ralphie berkata ‘En’, berdiri ditempat awal, melihat dia masuk kedalam, hatinya merasa sangat senang.
Hubungan diantara mereka berdua tak lagi asing, walaupun belum balik seperti dulu, tetapi sudah ada kemajuan.
Jadi seperti ini dulu saja……baikkan jadi teman dulu…
__ADS_1