I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 305 Aku Tidak Mau Ada Hubungan Apa-apa Lagi Denganmu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Saat Serena menunggu Ralphie di luar klub, di dalam klub, Selina sedang membicarakan dia.


“Ralphie, kamu jahat sekali! Orang itu mengejarmu dari Wonderful Plaza sampai kesini, kamu masih membiarkan dia ditahan diluar.”


Hello! Im an artic!


Ekspresi Ralphie tidak berubah sama sekali, dia hanya dengan serius melihat dokumen yang ada di tangannya.


Satu laki-laki Perancis yang duduk bersama mereka bertanya dengan wajah senang, “Siapa yang mengejar Ralphie dari Wonderful Plaza sampai kesini?”


“Seorang wanita Asia cantik, orang itu demi mengejar Ralphie, hampir tertabrak mobil.” Selina menjawab sambil tersenyum.


Laki-laki Perancis itu mendengar perkataan Selina, pertama terkejut, lalu wajahnya dengan sedih berkata, “Wow, gila ya! Sayang sekali Ralphie bersikap sangat dingin kepadanya, sungguh kasian!”


Hello! Im an artic!


“Bukan kasian juga.” Selina mengedipkan matanya, lalu berkata: “Demi membuat dia salah paham, Ralphie hingga memintaku mengandeng tangan dia.”


Sudah mengenal Ralphie bertahun-tahun, dia tahu betapa bencinya Ralphie jika ada wanita yang dekat-dekat dengan dia.


Walaupun Selina sudah mengenal dia bertahun-tahun, tapi tetap sulit untuk mendekati dia.


Menggandeng tangannya, lebih tidak mungkin.


Demi membuat seorang wanita salah paham, dia sengaja menyuruh Selina menggandeng tangan dia, untuk menunjukkan dia peduli dengan wanita lain.


Mata laki-laki Perancis itu menjadi terang, lalu membalikkan badan melihat ke arah Ralphie, “Ralphie, wanita itu siapa? Kenapa kamu begitu peduli?”


Ralphie yang sedang membalik kertas dokumen itu terhenti seketka, lalu seperti tidak mendengar apa-apa, wajahnya dingin, lalu melanjutkan membalik-balik dokumen di tangannya.


Selina memperhatikan reaksi Ralphie, dia mengdipkan mata ke lai-laki Perancis itu, lalu dia berjalan ke depan jendela, melihat kedepan, lalu terkejut “Hei, dia menunggu didepan.”


Jari Ralphie yang sedang membalik dokumen bergetar, walaupun pandangannya melihat dokumen itu, tapi dia sudah jelas hanya membutuhkan beberapa menit untuk melihat semua isi dokumen itu, sebenarnya, sedari masuk sepuluh menit hingga sekarang, dia tidak membaca apa-apa.


Wajah Ralphie terlihat sedang mencibir, dia sungguh tidak bisa disembuhkan! Setelah disakiti begitu parah oleh dia, dia masih peduli akan Serena.


Masih mengikuti dia, dari Cina hingga ke Swiss, dari Swiss ke Perancis……


Saat Ralphie sedang melamun, terdengar suara Selina yang berkata, “Hei, sekarang hujan!”


Kalimat ini, akhirnya menyentuh perasaan Ralphie, dia membalikkan kepala melihat ke arah jendela.

__ADS_1


Walaupun dia tidak bisa melihat Serena yang sedang berada diluar, tapi dia bisa melihat dengan jelas hujannya semakin deras.


Terpikir perkataan Selina, Serena yang sedang menunggu dia di luar, apalagi hujan juga tidak akan reda, Ralphie menjadi kesal.


Dokumen yang dia pegang, dia genggam semakin kencang.


Dan Selina masih berkata ke laki-laki Perancis itu: “Sudah basah kuyub, kenapa dia masih menunggu disini? Tidak tahukah dia harus berteduh……”


Dia belum selesai berbicara, Ralphie bangkit dari duduknya, lalu mengambil mantel dia yang digantung, lalu berjalan keluar.


Laki-laki Perancis itu melihat dia pergi, langsung terburu-buru bertanya, “Ralphie, kamu mau kemana?”


Tapi Ralphie seperti tidak mendengar apa-apa, dia pergi begitu saja.


“Ralphie kenapa?” tanya laki-laki Perancis itu sambil melihat Selina.


Selina tersenyum misterius, “Dia ingin bertemu dengan wanita cantik.”


“Wanita cantik? Wanita cantik yang mana?”


“Tentu saja yang sedang menunggu di depan……”


Setelah keluar dari klub, Ralphie berdiri dibawah hujan deras, dia memanggil taksi, lalu naik ke taksi itu.


Setengah jam kemudian, taksi yang dinaiki Ralphie sampai ke depan pintu masuk hotel tempat Serena menginap.


Tadinya, Serena masih berpikir karena Ralphie tahu dia tidur dimana, jadi bisa mencari dia disana.


Saat dia melihat Ralphie masuk ke hotel di seberang hotelnya, dia baru tersadar dia terlalu banyak berpikir.


Ternyata hanya kebetulan, Ralphie mau pergi ke hotel di seberang hotelnya.


Serena suasana hatinya bagus, setelah dia membayar taxi itu, dia dengan cepat naik ke atas.


Saat dia masuk ke lobby, Ralphie baru saja mau masuk ke dalam lift.


Serena takut Ralphie tidak terkejar lagi, dia berlari mengikuti dia naik. Karena langkahnya yang terlalu besar dan tidak hati-hati, kakinya menjadi terkilir.


“Aw……” Serena kesakitan dan terjatuh ke lantai.


Ralphie mendengar suara dia kesakitan, tanpa dia sadari mengehentikan langkahnya dan membalikan kepalanya.


Melihat Serena yang terjatuh di lantai, alis dan hatinya mengkerut, bahkan dia sudah mau menghampiri Serena untuk membantu dia.

__ADS_1


Tapi pada akhirnya dia tidak menghampiri Serena, dia hanya berhenti untuk masuk ke dalam lift, lalu mengeluarkan hpnya dari kantong celananya, dan menelpon seseorang.


Serena akhirnya dibantu orang, “Nona, Anda tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa, terima kasih.” Serena dengan buru-buru berterima kasih, lalu berjalan pincang untuk mengejar Ralphie.


Saat itu Ralphie sudah jalan lagi, berjalan masuk ke dalam lift.


Serena melihat pintu lift itu akan tertutup, dengan cepat berteriak: “Tunggu.”


Ralphie yang berdiri di dalam lift tidak bergerak sama sekali, tapi orang yang berdiri di sebelah Ralphie, dengan baik membantu dia membuka pintu lift.


Serena akhirnya dibantu oleh pelayan hotel, “Nona, kamu tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa, terima kasih.” Serena berterima kasih ke pelayan hotel itu, lalu berjalan pincang ke sebelah Ralphie.


Ralphie sedang berbicara di telepon dan sama sekali tidak melihat dia.


Serena merasa sedih dan tersakiti, apalagi dia merasakan sakit kakinya yang terkilir, merasa jangan sedih. Dia ingin mengaku salah kepada Ralphie, dia ingin menjelaskan semuanya ke Ralphie, tapi perilaku Ralphie yang begitu dingin terhadapnya, membuat dia tidak tahu apakah harus berbicara atau tidak.


Saat liftnya datang, setelah Ralphie berkata ‘Aku tutup dulu’ di teleponnya, dia berjalan masuk ke dalam lift.


Serena cemberut, sambil pincang berjalan masuk ke dalam lift.


Sudah jelas di dalam lift hanya ada mereka berdua, suasanya sangat tenang.


Serena menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Ralphie, aku salah.”


Melihat Ralphie, Serena lalu melanjutkan perkataannya: “Saat itu ayahku terkena stroke di rumah sakit, Bella sudah memberitahukanku, kamu……”


Serena belum selesai berbicara, Ralphie langsung menyela dia, “Urusanmu tidak ada hubungannya denganku, kamu tidak perlu berbicara denganku.”


Mendengar perkataan Ralphie, Serena menjadi merah, lalu dia berkata dengan cepat: “Ralphie, aku tahu aku salah, tidak percaya denganmu, tapi tolong kamu dengar penjelasanku dulu ya?”


“Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa, aku tidak tertarik untuk mendengarnya.” Ralphie berkata dengan dingin: “Kamu tidak tahu yang aku inginnya dari awal bukan penjelasanmu…….”


Berkata begitu, Ralphie berhenti berbicara seperti dia teringat sesuatu.


Dia kenapa? Sudah jelas memutuskan untuk melepas.


Sekarang mau apa lagi? Apakah dia sudah lupa akan rasa keputusasaan ini?


Apakah dia merasa masih kurang tersakiti?

__ADS_1


Ralphie menarik napas dalam-dalam, kalimat ‘Yang aku mau dari dulu adalah hatimu’ di sembunyikan di dalam mulutnya, diubah menjadi, “Jangan mengikuti aku lagi, aku tidak mau ada hubungan apa-apa lagi denganmu.”


__ADS_2