
Hello! Im an artic!
Hari kedua kepala Ralphie sudah tidak sakit lagi, tapi tenggorokannya masih sedikit serak. Meskipun begitu, dia tetap berangkat kerja.
Felix tahu bahwa tenggorokan Ralphie sedang serak, dengan hati-hati menanyakannya, “Direktur Ralphie, tenggorokanmu serak dan terlihat sangat parah, saya belikan obat saja ya?”
Hello! Im an artic!
Ralphie pun bengong sejenak, kemudian menggelengkan kepala, “Tidak perlu, saya sudah ada obat.” Obatnya adalah obat yang khusus dibelikan Serena buat dia, teringat Serena, Ralphie tiba-tiba terpikir sesuatu dan menanyakannya ke Felix, “Pakaiannya dimana?”
“Pakaian?” Felix terlamun beberapa menit, baru sadar kemarin Ralphie menyuruhnya ke Hotel Pearl untuk mengambil pakaian, “Ada di ruangan saya.”
Ralphie menjawab “Iya”, kemudian berkata: “Bawa ke ruang saya nanti.”
“Baik.” Jawab Felix sambil menganggukkan kepala, segera berlari menuju ruangannya dan membawakan pakaian itu untuk Ralphie.
Hello! Im an artic!
Setelah mengambil pakaian, Ralphie mengirim pesan ke Serena terlebih dahulu, dan memberitahunya bahwa pakaian yang di hotel sudah diambil.
Serena sepertinya sedang sibuk, tidak segera membalasnya.
Ralphie menatap nama Serena di handphone dengan lama, akhirnya meletakkan handphone di atas meja kantor, membuka laptop, dan mulai bekerja.
Saat siang hari, Serena baru melihat pesan singkat dari Ralphie.
Sepertinya tidak terduga, dia langsung menelepon Ralphie.
Ralphie mungkin sedang sibuk, lama tidak mengangkat telepon. Serena mengerutkan dahi, saat siap-siap mematikan telepon, akhirnya telepon tersambung ke Ralphie.
“Halo……” Nada suara Ralphie terdengar sangat kecil, hampir tidak jelas.
Serena merasa heran sambil mengerutkan dahi, kemudian berkata: “Tadi pagi agak sibuk, sekarang baru melihat pesan dari kamu.”
“Tidak apa-apa.” Kali ini suara serak Ralphie terdengar sangat jelas.
Serena mengerutkan dahi, “Mengapa suara masih terdengar serak?”
Ralphie menjawab dengan pelan: “Hm……tidak terlalu kok.”
Sesuai logika seharusnya sudah baikan! Mengapa masih begitu serak? Serena berpikir dalam hati, kemudian bertanya, “Obatnya sudah diminum belum?”
__ADS_1
Ralphie terdiam beberapa menit, baru menjawab, “Belum.”
“Belum?” Mendengar Ralphie bilang tidak ada, nada suara Serena langsung melambung tinggi, “Kamu tidak minum obat, tenggorokan mana bisa baikan? Apakah kamu kira dia bisa sembuh sendiri?”
“Obat antibiotik harus tetap di minum, krisan dan kamperfuli juga harus diminum……”
Terdengar sederet pesanan Serena ke Ralphie, tapi Ralphie sama sekali tidak berkata apa-apa.
“Tidak bisa baik-baik menjaga kesehatan diri sendiri, sudah besar begini, benar-benar……” Lama sekali tidak terdengar respon Ralphie, omelan Serena pun terhenti, “Hey……apakah kamu benar-benar sibuk?”
Ralphie masih belum sempat menjawab, Serena berkata lagi: “Kalau gitu saya tidak ganggu kamu dulu.”
Selesai berbicara Serena segera mematikan teleponnya.
Selesai mematikan telepon, dia baru ingat, sebenarnya inti telepon dia dengan Ralphie kan tentang pakaiannya.
Tapi tadi dia malah sama sekali tidak menyinggung masalah pakaian dengan Ralphie.
Serena sepertinya tidak berdaya. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?
Apalagi dia begitu cerewet, apakah Ralphie akan merasa bahwa dia sangat cerewet? Akankah merasa dia seperti nenek tua yang cerewet……
Pada saat Serena menelepon Ralphie, Ralphie sedang melayani pelanggan.
Di dalam telepon hanya terdengar suara Serena sedang mengomelinya, dan akhirnya Serena mematikan telepon dengan buru-buru.
Ralphie menatap ke handphone yang sudah dimatikan, Serena menanyakan ke Ralphie apakah dia benar-benar sibuk, dia masih belum sempat menjawab, tapi akhirnya telepon sudah dimatikan dengan cepat?
Ralphie teringat kembali sederet perkataan Serena di dalam telepon, semuanya adalah karena cemas dengan dirinya, Ralphie tidak kuat menahan dan akhirnya tersenyum.
Pada saat ini juga, terdengar suara Felix dari belakang, “Direktur Ralphie.”
“Iya?” Ralphie berhenti tersenyum, kembali ke ekspresinya yang sangat cuek, kemudian menekan handphone dan keluar dari menu panggilan.
Saat Felix melihatnya, kebetulan terlihat nama “Serena” di layar handphone Ralphie, hatinya bergetar. Nona Serena menelepon Direktur Ralphie? Sudah 10 hari dia memberikan nomor telepon Direktur Ralphie kepada Nona Serena, apakah dia sekarang baru meneleponnya? Artinya, Direktur Ralphie tahu bahwa dia yang memberikan nomornya ke Nona Serena?
Felix melihat Ralphie sejenak, kemudian dengan hati-hatinya berkata, “Direktur Ralphie, Tuan Takeshita, sedang menunggu Direktur.”
Hanya seorang pelanggan! Untuk apa buru-buru! Ralphie menjawabnya dengan cuek, kemudian berjalan menuju ke arah ruang rapat.
Mendengar nada cuek Ralphie, Felix mengira Ralphie menyalahkan dia memberikan nomor pribadi ke Serena, spontan dia sangat kaget dan gemetaran.
__ADS_1
Apalagi saat Ralphie baru berjalan 2 langkah, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, nafas Felix pun terasa sangat ditekan dengan keras.
Ralphie menatap Felix, kemudian berkata dengan pelan: “Kamu tidak perlu ikut saya lagi……”
Mata Felix terbuka besar, tidak perlu ikut lagi? Maksudnya mau dipecat?
Sejak hari pertama mengikuti Ralphie, Felix sudah sangat jelas kalau Ralphie tidak suka orang mencampuri masalah pribadinya.
Sebenarnya saat memberikan nomor telepon Ralphie ke Serena, dia juga sudah sempat memikirkan akibat seperti ini……
Felix tidak merasa disalahkan, karena memang dia sudah melakukan kesalahan, sudah seharusnya menanggung akibatnya! Kalau tidak juga tidak layak ikut di samping Ralphie.
Nada suara Ralphie yang dingin, sekali lagi terdengar, “……Kamu ke villa saya sebentar, bantu saya ambil barang……”
“Bagian kulkas paling atas, ada sekotak obat antibiotik, dan masih ada juga sekantong krisan dan kamperfuli.” Dengan nada suara terbata-bata, Ralphie menambahkan lagi, “Pada saat saya keluar dari ruang rapat, sudah harus melihatnya disini.”
Setelah Ralphie selesai berpesan, tanpa menunda lagi, langsung berjalan memasuki ruang rapat.
Felix bengong dan terlamun sebentar, kemudian baru sadar.
“Waduh duh duh! Benar-benar bikin kaget saja!” Selesai menggerutu, Felix teringat lagi kata Ralphie bahwa saat keluar dari ruang rapat, sudah harus melihat barang yang dia mau, Felix spontan menepuk kening dan berlari ke arah lift.
Dengan buru-buru Felix sampai ke villa Ralphie, sesuai yang dikatakan Ralphie, setelah mengambil barang, dan saat kembali ke kantor, pembicaraan Ralphie dan pelanggan sudah selesai.
“Direktur Ralphie, ini barang yang Anda mau.” Dengan nafas tidak teratur dia memberikan barang di tangan ke Ralphie.
Ralphie melihat dia tanpa berekspresi, juga tidak berkata apa-apa.
Felix berjalan mundur ke belakang sambil berkata: “Direktur Ralphie, saya seduh teh buat kamu……”
Perkataan masih belum selesai dikatakan, Ralphie langsung memotongnya, “Soal acara peluncuran produk baru PT. Antarts besok, siapa kesana?”
Felix bengong dan terdiam beberapa detik, baru merespon pikiran Ralphie, “Manajer Zhang yang pergi.”
“Ganti kamu saja yang pergi.” Ralphie menjawab dengan pelan.
“Hah?” Felix tercengang.
Ralphie melihat Felix sekejap, kemudian berkata: “Sebelum pergi, jemput saya dulu di villa.”
Ternyata Direktur Ralphie berencana pergi sendiri! Felix akhirnya tenang, “Iya.”
__ADS_1
Ralphie menjawab “Iya”, sambil menunjuk ke krisan dan kamperfuli yang ada di tangan Felix dan berkata: “Tolong seduhkan teh buat saya.”
“Baik……” Felix segera membawa krisan dan kamperfuli ke dalam ruangan penyeduh teh.