
Hello! Im an artic!
Melihat tangan Maggie yang hendak melandas di wajahnya, Serena pun menutup matanya.
Dia bisa merasakan angin yang dihasilkan oleh gerakan tangan Maggie.
Hello! Im an artic!
Tetapi, rasa sakit yang ia bayangkan tidak datang, malahan terdengar suara yang familiar.
Itu adalah Maggie………..Serena terbengong beberapa saat, lalu membuka matanya dan melihat tangan Maggie yang hendak menampar wajahnya malah dipeggang erat oleh tangan seseorang.
Tangan itu sangat indah dan bersih sampai tidak bisa dijelaskan, pandangan Serena terpaku pada tangan itu selama beberapa detik, lalu ia melihat pergelangan tangann itu dan melihat, itu adalah tangan Ralphie yang mempunyai muka yang sangat tampan itu.
Dia menunjukkan mukannya yang tidak terkejut sama sekali yang sangat dingin dan menakutkan semua orang yang melihatnya. Dapat terlihat jelas amarah yang ada di dalam dirinya.
Hello! Im an artic!
Ralphie tidak melihat tatapan mata Serena, dia menyipitkan matanya dan melihat ke arah Maggie, dengan matanya yang sinis, “Kamu mau pukul dia?”
Tidak tahu Maggie tertegun karena perawakan Ralphie yang tampan atau karena dibuat terkejut oleh Ralphie, dia hanya tertegun melihatnya dan tidak memberikan balasan apa-apa.
Ralphie memperlihatkan matanya yang sangat kejam dan ketika semua orang masih belum tersadar, dia dengan keras melepaskan tangan Maggie.
Gerakannya itu, seolah seperti ia sedang membuat sampah yang sangat membuatnya marah.
Tenaganya yang sangat besar dan gerakannya yang kasar langsung membuat Maggie terlempar ke pintu ruangan itu, kepalanya pun terbentur ke pintu dan mengeluarkan punya ‘ Pang’.
Pas pada saat itu, Alfred yang pergi ke balkon untuk mengambil jaketnya kembali, pas sekali ia melihat adegan ini, ia langsung lari ke arah Maggie dan membantunya berdiri, “Maggie, kamu tidak apa-apa kan?”
“Alfred, Serena bilang aku merampasmu, dia bersekongkol dengan orang lain untuk menindasku………” Maggie langsung lari ke dalam pelukan Alfred, dan menangis dengan keras.
Alfred menepuk-nepuk pundaknya dan menenangkannya, pandangannya yang penuh amarah tertuju pada Serena dan Ralphie, “Serena, aku sama kamu tidak ada hubungan apa-apa denganmu, itu semua hanya kamu yang terlalu percaya diri, cara kamu memperlakukan Maggie mambuatku sangat kecewa denganmu.”
Tidak ada hubungan apa-apa? Terlalu percaya diri?
__ADS_1
Serena terus menatap Alfred dan tidak memberikan reaksi apa-apa. Didalam hati Ralphie ia merasakan amarahnya yang berapi-api, semakin lama emosinya semakin membeludak, tiba-tiba ia langsung menarik tangan Serena lalu membalikkan badannya dan pergi.
Dilorong itu terasa sunyi, Serena ditarik Ralphie kesini, mereka berdua tidak berbicara sama sekali, sesekali terdengar suara berisik yang keluar dari dalam ruangan.
Terus berjalan sampai ke ujung lorong itu, Ralphie baru menghentikan langkah kakinya, dari dalam kantongnya ia mengeluarkan sebuah kartu, lalu ia mengeseknya dan mendorong pintunya, ia menarik Serena masuk ke dalam runagan itu, lalu terdengar suara pintu itu tertutup.
Setelah melempar Serena ke sofa itu, Ralphie pergi menuangkan segelas air dan meminumnya.
Dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia kerjakan, wanita ini ada hubungan apa dengannya? Kenapa ia malah ikut campur urusan wanita ini?
Dalam seteguk ia telah menghabiskan air yang ada didalam gelas itu, Ralphie dengan keras meletakkan gelas itu di atas meja, lalu dengan dingin melihat ke arah Serena dan berkata: “Kalau kamu sudah merasa tenang, kamu pergi sendiri.”
Setelah selesai mengatakan kalimat itu, Ralphie tidak mempedulikan Serena dan pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Serena sendiri di ruangan itu.
Awalnya Ralphie berencana untuk langsung pulang dari sana, tetapi setelah ia berjalan sampai kedepan lift, ia baru teringat jaket dan barangnya masih ada di ruangan Isa, dia terbegong beberapa saat, lalu ia berjalan balik ke ruangan Isa.
Ketika sampai disana, dia melihat wanita dan pria yang ada didalam ruangan itu sudah ngobrol dengan sangat heboh, Isa melihatnya kembali lalu berkata: “Jalan-jalan sampai selama ini, aku kira kamu sudah tersesat.”
Ralphie tidak mengatakan apa-apa, dia hanya berjalan ke tempat jaketnya digantung lalu mengambil jaketnya sendiri.
“Ada urusan.” Dengan santai Ralphie melontarkan dua kata itu.
Isa melihatnya sebentar lalu mengangukkan kepalanya, “Kalau kamu memang ada urusan, aku tidak bisa menghalangimu, besok baru pesta lagi.”
“Katakan lagi.” Ralphie melontarkan dua kata itu dan langsung pergi dari ruangan itu.
Setelah Ralphie keluar dari ruangan itu, Serena tidak bisa menahan lagi dan langsung menangis sekeras mungkin.
Empat tahun ini, mereka berdua bersamaan, sampai ia pernah mengira bahwa Alfred menyukainya, ia pernah mengira bahwa didalam hati Alfred ada dirinya. Tapi ia sekarang bersujud didepan Maggie untuk menembaknya.
Dia menyukai orang yang paling dibenci oleh Serena……..
Dia bilang Serena terlalu percaya diri, dia bilang dia dengan Serena tidak ada hubungan apa-apa.
Serena, kamu sudah bisa melupakannya tidak?
__ADS_1
Serena, kamu sudah bisa melepaskannya…………
Serena menangis histeris, dia sudah menyukainya selama empat tahun.
Semua cintanya.
Serena menangis sangat lama, sangat lama, sampai handphone yang ada diruangan itu berdering baru ia berhenti menangis.
Dia pun mengusap air matanya lalu mengambil handphone dari tasnya dan mengangkat teleponnya.
Ternyata adalah telepon dari Claudia, dia bertanya Serena sedang dimana, kenapa masih belum kembali ke tempatnya.
Serena hanya menjawabnya bentar lagi dia pulang, terus dia langusng menutup teleponnya.
Lalu ia meletakkan handphonennya kembali ke dalam tasnya, dia baru teringat ini adalah ruangan laki-laki tadi.
Laki-laki itu tiba-tiba keluar dan menghalangi dia dari tamparan Maggie, lalu dengan keras membantunya menindas Maggie balik, lalu laki-laki itu membawanya kesini………
Serena bahkan tidak tahu nama laki-laki itu, dia bahkan sudah membantunya berturut-turut dua kali.
Mengingat apa yang laki-laki itu bilang sebelum dia meninggalkan ruangan ini, Serena pun menundukkan kepalanya.
Dia terdiam cukup lama, lalu dia membuka tasnya dan mengambil selembar kertas dan pen dari dalam tasnya.
Diatas kertas itu, tertulis dua kata ‘Terima kasih’, setelah berpikir beberapa lama, lalu ia pun menuliskan namanya diatas kertas itu.
Serena tidak tahu apakah kertasnya itu akan dibuang oleh petugas pembersih di ruangan ini ke tong sampah, tetapi ia tetap menaruk kertas itu dibawah sebuah gelas yang ada diatas meja.
Setelah selesai menyelesaikan semua ini, Serena baru keluar dari ruangan ini.
Ketika keluar dari ruangan itu, pintu ruangan yang ada di sebelahnya pas sedang terbuka dan beberapa laki-laki dan perempuan pun keluar dari ruangan itu.
Serena hanya melihatnya sekilas, lalu dengan cepat berjalan ke arah lift dan masuk kedalam lift.
Dia tidak tahu, ada Isa diantara orang-orang itu, melihat Serena keluar dari ruangan Ralphie, Isa langsung tercengang, lalu terkejut dan tidak percaya.
__ADS_1
Ketika semua perasaan terkejut itu sudah berlalu, ia pun mengantarkan semua orang itu pulang lalu mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Ralphie.