
Hello! Im an artic!
Masalah Maggie, Serena tidak bertanya lagi pada Felix bagaimana terakhir dia mengurusnya, karena Serena tidak punya waktu untuk memikirkannya dan juga tidak ingin memikirkannya.
Serena lebih sibuk lagi dari sebelumnya, siang hari dia harus masuk kelas training khusus, malam hari harus mendapatkan training khusus dari Desaigner Kitty.
Hello! Im an artic!
Malam ini, sebelum sesi video call berakhir, Desaigner Kitty memberikan Serena tugas.
“Serena, kamu belajar sama aku sudah bisa terbilang cukup lama, aku ada tugas untuk kamu.”
Serena menggunakan bahasa perancis yang kurang lancar menjawabnya, “Silakan katakan Desaigner Kitty.”
“Dua hari lagi adalah hari valentine, aku berharap kamu bisa membuat sketsa dengan tema utama hari valentine.” Kata Desaigner Kitty.
Hello! Im an artic!
Hari valentine? Serena terdiam sebentar, kemudian menganggukan kepala, “Baik.”
“Iya.” Desaigner Kitty menganggukan kepala, kemudian memberitahu detail syarat pembuatan sketsa dan mengakhiri sesi video call.
Setelah menutup laptop, Serena ke toilet untuk mencuci muka dan beranjak tidur.
Serena malah bolak-balik diatas kasur tidak bisa tidur.
Isi kepalanya penuh dengan dua kata “Hari Valentine”.
Jika memikirkan hari valentine 4 tahun yang lalu, Serena akan menyiapkan sebuah hadiah, dan disaat hari valentine dia akan memberikannya pada Alfred, setiap kali Alfred pasti akan sangat terkejut. Karena itulah alasan Serena bisa bertahan diam-diam menyukainya selama 4 tahun, Serena pikir dia dan Alfred hanya dibatasi oleh jendela yang belum dipukul hancur.
Sampai akhirnya Alfred menembak Maggie di PT. Antarts, hal itu seakan menampar dirinya hingga sadar.
Sebenarnya masalah ini baru terjadi beberapa bulan lalu, tetapi Serena merasa seakan sudah berlalu satu tahun yang lalu, bahkan saat ini Serena sudah tidak ingat jelas wajah alfred seperti apa.
Mungkin karena saat ini dihati nya yang paling dalam hanya ada Ralphie seorang.
Memikirkan Ralphie, hati Serena kembali sakit.
Diantara dia dan Ralphie, selamanya tidak akan menginjak kemungkinan yang lebih jauh.
Orang yang dia cintai, tidak mencintainya.
Serena memejamkan matanya, air mata pun pelan-pelan mengalir dipipinya……
Ralphie adalah seseorang yang super duper sibuk, setiap hari dari pagi hingga malam hanya berada didalam kantor, masalah hari valentine, sudah dia lupakan sejak awal, bukan, seharusnya bisa dibilang selama 27 tahun dia hidup, sama sekali tidak pernah ingat ada hari valentine ini.
Hingga tiba-tiba saja mendengar Elizabeth ingin izin, ingin kembali Kyoto untuk melewati hari valentine dengan pacar, Ralphie baru menyadari.
Setelah kembali ke kantor, Ralphie mulai memikirkan bagaimana melewati hari valentine dengan Serena.
Makan malam romantis di hari valentine sudah pasti harus, tetapi memberikan bunga mawar ketika hari valentine sepertinya tidak perlu, lalu apa yang harus dia kasih ke Serena?
Kasih perhiasaan? Tidak, terlalu berlebihan.
Kasih tas? Tidak, Serena tidak suka.
Kasih baju……
Ralphie terus memikirkan ide, tetapi tak ada satu pun ide yang bagus.
__ADS_1
Kebetulan, sore itu, ketika Ralphie bertemu dengan klien untuk membicarakan kerja sama, tiba-tiba tanpa sengaja melihat klien membawa sebuah boneka kayu.
Ukiran boneka kayu itu sangat jelas seperti beneran.
Ralphie mengetahui dari klien nya bahwa ini adalah seni ukiran kayu di kota terpencil.
Setelah mendapatkan informasi dari klien, Ralphie pergi kesana dengan alasan ‘Dinas’.
14 Februari, Hari Valentine.
Dimana-mana penuh dengan ‘cinta’, seakan hampir seluruh pasangan diduna keluar secara bersamaan, penuh dengan buir-buir cinta.
Apapun yang dibahas orang-orang juga mengenai ‘Hari Valentine’.
Pacar siapa siapa kasih 99 tangkai bunga mawar.
Entah siapa didepan pintu kantor membawa bunga mawar sambil bernyanyi lagu cinta untuk menembak siapa……
Serena hanya dengan diam duduk dikursi kantor, mendengar teman kantor sedang berdiskusi, wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi, hatinya yang terdalam sangat kecewa.
Walaupun Serena sejak awal tidak berharap banyak pada hari valentine, tetapi memikirkan Ralphie yang pergi dinas dihari valentine, dia bertemu saja tidak bertemu, benar-benar membuat hati tidak nyaman.
Dalam hati nya seakan menyerah, Serena mengibaskan rambutnya kebelakang, lalu membuka laptop.
Sebuah email masuk dari Desaigner Kitty.
Mungkin komentar dari Desaigner Kitty mengenai sketsa yang dia kirimkan kemarin malam, itulah yang dipikirkan Serena, lalu dia membuka email.
Yang menarik perhatian adalah sebuah foto perhiasan, dan perhiasan ini terlihat sangat tidak asing.
Bukankah ini sketsa yang dia kirim kemarin malam kepada Desaigner Kitty? Kenapa sudah mencari sebuah perhiasan?
Desaigner Kitty mengirimkan email padanya untuk menanyakan perihal apakah ingin memperjualkan karya ini.
Serena tak menyangka Desaigner Kitty akan memberikan dia kejutan ini, karya yang sangat di welcome, kemudian dijual, ini adalah sebuah penghormatan bagi seorang designer.
Setelah Serena melihat sekali lagi email, dia lalu membalas setuju kepada Desaigner Kitty.
Setelah itu, Serena mengambil ponsel untuk menelepon Ralphie, ingin berbagi kabar baik ini padanya.
Baru saja Serena mengambil ponselnyam dia tiba-tiba teringat kalau Ralphie dinas.
Setelah ragu sebentar, Serena akhirnya meletakkan ponselnya karena dia tidak ingin mengganggu Ralphie.
Tak sangka, baru saja dia akan meletakkan ponsel, Ralphie meneleponnya.
Jodoh sekali……inilah kata yang muncul diotak Serena, wajahnya pun tersenyum memanas.
Dia memegang wajahnya, lalu mengangkat telepon.
“Halo?”
Suara Ralphie pun terdengar, “Serena, Felix bawa mobilnya pergi, setelah kamu selesai kerja, bisakah ke kantor untuk jemput aku?”
Ke kantor? Dia sudah balik dari dinasnya?
Serena tak sadar kalau saja dia tersenyum dengan bahagia, hanya dengan pelan menjawab: “Oke.”
Ralphie menjawab ‘Iya’, kemudian berkata: “Jadi repotin kamu.”
__ADS_1
“Tidak repot kok.”
“Sampai jumpa nanti.”
“Baik.” Jawab Serena, setelah Ralphie memutuskan telepon, dia juga baru memutuskan telepon.
Setengah enam sore, begitu waktu jam selesai kerja teng, Serena langsung membereskan barang dan pergi dari kantor.
Setelah duduk dimobil Pak Li, dia langsung memintanya untuk ke Grup Su.
Setelah sampai Grup Su, Serena tidak langsung naik ke kantor Ralphie, hanya berdiri didepan pintu Grup Su, lalu menelepon Ralphie.
Diruangan rapat Grup Su, sedang terjadi suasana yang cukup panas.
Ternyata semua sedang mendiskusikan sebuah proyek yang sangat berharga untuk Grup Su.
Ditengah-tengah diskusi yang ramai itu, tiba-tiba terdengar dering ponsel yang cukup kencang didalam ruangan rapat.
Suasana bising diruang rapat seketika pun hening.
Orang bodoh mana yang tidak mematikan ponsel ketika memasuki ruang rapat? Dan berbunyi didepan Pak Direktur, benar-benar cari mati.
Semua orang melihat ke arah Ralphie, tidak tahu bagaimana dia akan menyelesaikannya.
Tak disangka, detik berikutnya, mereka melihat Direktur mereka sedang mengambil ponsel dari sakunya, kemudian memberikan tangan yang mengartikan ‘Bubar rapat’ dan pergi meninggalkan ruangan.
Dan hanya meninggalkan orang-orang yang memasang wajah kebingungan.
Semua orang berpikir malam valentine mereka yang romantis ini pasti akan melewatinya dikantor karena bagaimana pun ini adalah proyek yang harganya sangat tinggi.
Ternyata Direktur mereka membiarkan proyek ini begitu saja, dan setelah memberikan maksud ‘bubar rapat, langsung pergi begitu saja?
Kondisi apa ini? Apa mereka yang sedang berhalusinasi?
Semua orang saling bertatap pandang, kemudian dengan kompak melihat kearah asisten Direktur mereka, Felix.
“Pak Felix, kita tadi tidak salah dengar kan? Direktur tadi bilang bubar rapat kah?”
Felix dengan serius menjawab, “Kalian tidak salah denger, memang bubar.”
Semua orang membelalakan mata, kemudian kembali bertanya, “Direktur pergi kemana? Kenapa tiba-tiba bubarin rapat?”
Semua orang bertanya dengan terkejut, “Apa pak Direktur mau melewati hari valentine?”
Felix tidak mempedulikan mereka, dan merapikan seluruh barang Ralphie yang ada diatas meja, berdiri lalu keluar dari ruang rapat.
Direktur pergi melewati hari valentine, kerjaan yang ditinggalkan tentu dia yang membereskannya.
Apa boleh buat, siapa suruh Direktur punya Nyonya yang perlu dimanja, sedangkan dia hanya seorang jomblo ngenes.
Mungkin, sudah waktu nya dia mencoba untuk pacaran?
Wajar saja diusia nya yang sekarang ini dia memikirkan masalah ini, tetapi hanya dalam sekejap, dia kembali dengan cepat menolaknya.
Sebagai asisten Direktur Su, membutuhkan waktu 24 jam untuk terus siap.
Sekalipun ada pacar, dia juga tidak punya waktu untuk memanjakannya.
Lebih baik tidak perlu mencari pacar…
__ADS_1