I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 386 Mendatangi Pernikahan Isa Dan Claudia


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Akhirnya kedatangan Ralphie dan Serena ke Kyoto juga telah diketahui oleh Isa.


Sebuah panggilan terhubungi, “Ralphie, kamu tidak menganggapku teman ya? Datang ke sini lebih awal sama sekali tidak menghubungiku. Kalau aku tidak ketemu Felix, aku juga akan tidak tahu.”


Hello! Im an artic!


“Aku datang menemani Serena.” Dengan kata lain, aku hanya sekalian mendatangi pernikahanmu.


Benar-benar membuat orang menjadi sedih!


“Ralphie, apakah baik jika kamu hanya punya istri dan tidak punya teman?”


“Sangat baik.” Ucap Ralphie datar sambil melihat Serena yang berada di taman bunga lavender.


Hello! Im an artic!


Isa dengan sedih mengucapkan ‘Oh’, lalu bertanya, “Ralphie, dimana kamu dan Serena berada?”


Ralphie membalas, “Di Pedesaan.”


“Ralphie, ternyata kamu membawa Serena ke Pedesaan?” ucap Isa terkejut dan lanjut bertanya, “Lingkungan disana sangat baik kan? Kalau tahu seperti itu, aku juga membawa Claudia kesana. Sayangnya sekarang terlalu sibuk, tidak bisa kesana.”


Ralphie sama sekali tidak bereaksi kepada ucapan Isa.


Isa sama sekali tidak peduli dengan reaksi Ralphie dan bertanya lagi, “Ralphie, kapan kalian datang kesini? Ryan besok siang tiba.”


Ralphie tanpa pikir dan segera membalas. “Lusa.”


“Kamu baru datang di hari pernikahanku? Ralphie, aku baru saja ingin mengundangmu sebagai pengiringku.”


Ralphie tidak membalas ucapannya dan hanya berkata, “Ryan.”


“Aku mengundangmu dan Ryan sebagai Pengiringku. Cepatlah kamu datang, sekalian Serena menjadi pengiring pengantin Claudia…” Isa belum selesai mengatakan, Ralphie langsung memutuskan pembicaraannya. “Tidak.”


“Ralphie, kamu jangan seperti itu. Kita bahas dululah.” Isa masih mencoba untuk mengundang Ralphie, tapi Ralphie segera memutuskan panggilannya.


Kebetulan Serena melihat Ralphie yang terdiam dan bertanya, “Apa yang terjadi?”


Isa mau kamu jadi pengiring pengantin.” jawab Ralphie.


Serena diam dulu, lalu mengangguk kepala dan mengeluarkan kata ‘Oh’.

__ADS_1


Ralphie megerutkan dahinya sambil berkata, “Kamu tak boleh pergi.”


Serena memandang ke arahnya sambil berkata, “Sebenarnya kamu berpikir terlalu banyak. Masalah pengiring pengantin, Claudia tidak banyak mengungkit kepadaku, mungkin karena aku hamil, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan.”


Ralphie tidak berbicara tapi ekspresinya cukup membaik.


Serena tersenyum lalu berkata, “Aku ingin memetik beberapa tangkai bunga lavender.”


“Aku pergi petik buat kamu.” ucap Ralphie sambil berjalan menuju padang bunga lavender.


Serena menariknya, “Aku ingin pergi bersamamu.”


Ralphie sebenarnya ingin menolaknya, tapi akhirnya ia juga membawa Serena pergi, karena ia tidak ingin mengecewakannya.


Ralphie dan Serena tinggal Pedesaan untuk dua hari hingga hari pernikahan Isa. Setelah Ralphie membiarkan Felix menyiapkan pakaiannya, ia langsung membawa Serena menuju ke pernikahan Isa.


Saat mereka tiba di hotel, Felix sudah menunggu mereka di depan pintu.


Melihat kedatangan mereka, ia langsung menyapanya. “Direktur Su dan Nyonya Serena.”


Serena dengan sopan menyapa. “Tuan Felix.”


Sedangkan Ralphie langsung bertanya, “Pakaian sudah disiapkan?”


Ralphie mengiyakannya, lalu menggandeng Serena menuju ke arah pintu hotel.


Felix dengan sopan mengikuti langkah mereka.


Belum tiba pintu hotel, tiba-tiba terdengar sebuah suara. “Halo cantik, kita bertemu lagi.”


Serena membalikkan tubuhnya dan melihat lelaki yang pernah ia temui di Villa. Ia mengerutkan dahinya.


Ralphie menyadari ekspresi Serena sehingga segera menatap ke arah pemilik suara tersebut. Saat Ralphie menyadari tatapan lelaki itu kepada Serena, ia juga ikut mengerutkan dahinya. “Ia pernah bertemu denganmu?”


“Iya, saat kemarin di Villa, ia ingin menahanku. Untung saja ada Manajer Liu datang membantuku.” Serena membalas dengan jujur.


Sebenarnya masalah ini, Manajer Liu sudah pernah memberitahu kepada Ralphie. Awalnya Ralphie ingin menjalankan aksinya setelah meninggalkan kota ini, tapi saat ia bertemu dengan orang itu, ia langsung mengubah pikirannya. “Felix.”


Felix mengerti maksud Ralphie, lalu mengangguk dan membalas. “Baik, Direktur.”


Ralphie mengiyakannya lalu lanjut menggandeng Serena menuju depan.


Ekspresi Tuan muda Ye berubah saat melihat Serena tidak peduli kepadanya dan pergi bersama pria lain. “Dasar wanita. Aku akan membuat kamu tahu akibat setelah membuatku marah.”

__ADS_1


Felix mendengus lalu segera mengejar Ralphie dan Serena.


Baru saja Felix pergi, lalu seorang pria berbadan besar berjalan kearah Tuan muda Ye, “Nestor, kamu kenal dengan Asisten Zhou?”


“Ayah, apa yang kamu katakan?” Tuan muda Ye dengan bingung bertanya.


“Asisten Zhou.” Balas Ayah Nestor Ye sambil menunjuk ke Felix.


“Aku tidak kenal.” Nestor menggelengkan kepalanya dan berkata, “Ayah, aku kemarin di usir dari Villa Privat, kamu harus membantuku.”


Pandangan mata Ayah Nestor masih saja tertunjuk ke arah Felix. Dalam hatinya masih berpikir siapa kedua orang yang berjalan dengan Felix, sehingga Felix bisa sangat hormat kepadanya.


Ia bertanya tanpa berpikir, “Membantumu apa?”


Nestor menceritakan semua tentang Serena dan ketertarikannya pada Serena kepada Ayahnya.


Baru saja ia selesai berbicara, ia langsung terkena tamparan dari Ayahnya.


Nestor tercengang oleh tamparan Ayahnya. “Ayah menamparku?”


“Iya, aku menamparmu. Kamu tahu Villa Privat itu tempat apa? Itu adalah Villa milik Grup Su. Kamu tahu siapa itu Asisten Zhou? Ia adalah Asisten Direktur Grup Su.” Sebelumnya ia bingung mengapa Felix hormat sekalu kepada kedua orang itu, akhirnya ia mengerti setelah mendengar ucapan anaknya. Hanya saja ia takut kedua orang itu adalah pemimpin tinggi Grup Su.


Jika begitu, anaknya telah membuat masalah dengan orang lain.


“Apa?” Nestor sangat bingung.


“Dasar, kamu nanti ikut aku pergi minta maaf.” Ayah Nestor memutuskan untuk membawa anaknya meminta maaf kepada Ralphie dan Serena. Hanya saja ia tidak tahu dan telat menyadarinya, karena Ralphie sudah memutuskan untuk menjalankan aksinya, sehingga sudah memastikan konsekuensinya.


Sedangkan sekarang Ralphie dan Serena telah tiba di kamar yang disiapkan Isa.


“Serena, kamu gantilah gaunmu.” ucap Ralphie sambil menunjuk gaun ungu diatas ranjang.


Serena mengerutkan dahinya. “Apakah harus ganti?”


“Ini lebih formal.” Ralphie berhenti sejenak dan lanjut berkata, “Kalau tidak suka, kita tidak perlu pergi.”


Serena seketika menolak saran Ralphie. “Tidak boleh, kita harus pergi.”


Bercanda saja, ia datang kesini demi pernikahan Claudia, bagaimana mungkin ia tidak pergi? Maupun ia tidak suka, ia bisa menahannya.


Ralphie mengangguk lalu berkata, “Kita disana sebentar lalu pergi.”


“Baik, aku pergi ganti gaun dulu.” ucap Serena lalu membawa gaunnya pergi ke ruang ganti pakaian.

__ADS_1


Ralphie melihat Serena, lalu mengambil setelannya sendiri, dan menggantinya…


__ADS_2