
Hello! Im an artic!
Ralphie keluar dari lift, dalam sekejap dia bisa langsung dapat melihat Serena yang menatap bawah dan berdiri didepan pintu kantor.
Dia terdiam sebentar, kemudian berjalan ke arah Serena.
Hello! Im an artic!
Dia baru saja berhenti setelah terus berjalan hingga jarak 1 meter didepan Serena.
Merasa ada bayangan, Serena mendongakan kepala dan berpapasan dengan mata Ralphie.
Bola mata Ralphie, semakin lihat semakin membuat Serena malu.
Dalam waktu sekejap pun langsung bengong.
Hello! Im an artic!
Melihat mata orang yang dicintai, hanya ada diri sendiri, tidak ada orang lain, Ralphie merasa perutnya sedikit sakit.
Dia menarik nafas panjang, kemudian dengan sengaja nya melepaskan pandangan dan bertanya, “Kenapa didepan, tidak naik keatas?”
Mendengar suara Ralphie, Serena pun tersadar, dia sedang menatap langsung mata Ralphie, dan dengan segera mengalihkan pandangan.
“Itu……aku takut kalau masuk ke dalam akan menggangu kerjaan kamu.”
“Tidak akan.” Ralphie setelah menjawabnya, dia kembali berpikir-pikir, dan menambah satu kalimat, “Lain kali, aku tidak yakin bisa turun secepat ini, kalau kamu datang, langsung naik ke atas saja.”
Memutarkan kepala melihat ke Serena seklias, Ralphie lanjut berkata, “Aku akan meminta Felix untuk memberitahu resepsionis, jadi tidak akan menahanmu.”
Serena langsung pergi kekantornya sepertinya tidak terlalu baik deh? Serena sebenarnya ingin bertanya pada Ralphie, tetapi setelah pikir-pikir, akhirnya dia juga tidak bertanya dan hanya menganggukan kepala, “Oke.”
Ralphie menjawab ‘En’, lalu membalikkan badan berjalan kearah pintu besar.
Serena meremas tasnya dan mengikutinya.
Pak Li yang sedang berdiri didepan mobil, begitu melihat Ralphie keluar langsung memberikan hormat, “Direktur Su.”
“Kasih kuncinya ke aku, nanti kamu pulang naik taksi saja.” Kata Ralphie.
“Baik, Direktur Su.” Pak Li dengan hormat memberikan kuncinya.
Ralphie mengambil kunci, membuka kunci mobil, lalu membuka pintu tempat duduk penumpang depan.
Setelah Serena masuk duduk, dia baru berjalan memutar dan masuk kedalam kursi pengemudi.
Kemudian menjalankan mobil meninggalkan parkiran di Grup Su.
__ADS_1
Langit sudah gelap, lampu neon mulai menyala, dan malam valentine baru saja akan dimulai.
Serena duduk dekat jendela, dengan diam mengarah keluar jendela, seakan sedang memikirkan sesuatu, tetapi juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan.
Sampai akhirnya Ralphie memberhentikan mobil, dia baru sadar.
Begitu melihat, dia melihat tulisan ‘Peninsula Hotel’.
Peninsula Hotel bagi Serena sangatlah bermakna, karena disinilah tempat dia dan Ralphie pertama kali bertemu.
Ralphie kenapa membawanya datang kemari? Ada sesuatu yang perlu diurus?
“Kamu datang kesini karena ada urusan?”
Ralphie dengan sembarang memberikan jawaban ‘En’, kemudian mematikan mesin mobil dan turun.
Serena terdiam beberapa detik, kemudian ikut turun.
Mereka berdua berjalan satu didepan satu dibelakang memasuki ruangan, begitu masuk, manager hotel langsung menyambut.
“Direktur Su.”
Ralphie menganggukan kepala, kemudian bertanya, “Semua sudah disiapkan?”
Manager melihat sekilas ke Serena yang ada dibelakang Ralphie, kemudian menganggukan kepala, “Sudah siap semua.”
“Silahkan arahkan jalan.” Jawab Ralphie dengan datar.
Ralphie dan Serena mengikuti managernya dan sampailah dibagian paling atas Peninsula hotel.
Dibandingkan dengan keramaian dibawah, di atas jauh lebih sepi.
Manager membawa Ralphie dan Serena pergi ke sebuah kamar yang sudah disiapkan sejak awal, setelah pintu terbuka, lampu dinyalakan, lampu-lampu yang indah langsung menyala.
“Silakan!” Manager dengan gerakan sopan mempersilakan Ralphie dan Serena masuk.
Setelah menunggu Ralphie dan Serena memasuki kamar, manager juga ikut masuk dan lanjut mengantar mereka ke ruang makan.
Ruangan didekor ala Eropa diatas meja, dengan hidangan makanan yang mewah dan lilin yang romantis.
Setelah manager mengantar mereka ke meja makan, dia keluar dan ketika akan keluar, sekalian menyalakan lampu warna warni dikamar.
Seketika yang ada diatas meja hanya ada lilin yang menyala, suasana terlihat lebih ada gairah, membuat suasana hati Serena menjadi deg-degan.
“Kamu……” Baru saja Serena ingin buka suara bagaimana Ralphie bisa menyiapkan ini semua, Ralphie tiba-tiba juga buka suara, “Aku kasih kamu lihat sesuatu.”
Perkataan Ralphie, membuat Serena menjadi penasaran, “Apa?”
__ADS_1
Ralphie tersenyum, kemudian berjalan kedepan jendela dan menekan sebuah tombol di atas jendela.
Detik berikutnya, langit plafon diatas sekejap menghilang dan berubah menjadi langit yang penuh dengan bintang.
Serena terkejut hingga membuka lebar mulutnya, “Ini bohongan apa beneran?”
“Beneran.” Ralphie tersenyum semakin lebar dan berkata: “Ini adalah pemandangan unik di Peninsula Hotel, seluruh Kota A, hanya Peninsula Hotel yang memiliki pemandangan ini.”
Ralphie tidak memberitahu Serena, kalau ini adalah suite kamar teromantis untuk pasangan di Peninsula Hotel.
“Bagus banget.” Serena mengdongakan kepala melihat kearah atas.
Ralphie berkata, “Sebagus apapun, tetap harus makan dulu, makan sambil lihat.”
“Aku tahu.” Jawab Serena speechless.
Ralphie tersenyum, kemudian mengambil sumpit mengapit lauk untuk Serena.
Serena menundukan kepala sambil mengapit makanan, bola matanya berbinar-binar.
Serena tahu Ralphie menyiapkan ini tidak ada pemikiran lain, benar-benar hanya makan saja, tetapi dia bisa berpura-pura, berpura-pura bahwa makan malam romantis ini memang sengaja Ralphie siapkan untuk dia.
Setelah makan malam, Serena minum susu sambil melihat keatas langit.
Ralphie menatap Serena lama, kemudian mengeluarkan sesuatu yang sejak awal sudah disiapkan, dia menaruhnya didepan Serena, dengan suara lembut, rendah, elegan, “Kasih kamu.”
Ekspresi Ralphie terlihat sangat datar, padahal sebenarnya hatinya sangat nervous.
Dua hari ini dia sedang mempersiapkan suasana seperti ini.
Tetapi kenyataannya, dia tetap nervous.
Dia khawatir Serena akan menolak hadiah ini, karena ini bisa dibilang dia menyiapkan hadiah ini karena perasaan cinta padanya.
Serena melihat kearah kantong yang ada ditangan Ralphie, otaknya sedikit tidak berfungsi. Serena sampai bengong, terlihat sangat mengemaskan.
Ralphie melihat Serean yang begitu menggemaskan, perasaannya menjadi luluh, nadanya pun menjadi sangat lembut, “Waktu dinas aku lihat terus beliin kamu deh.”
“Makasih.” Serena mengulurkan tangan, mengambilnya dari tangan Ralphie, lalu dengan pelan membukanya.
Membuka kado didepan orang lain, sebenarnya adalah sebuah perilaku yang tidak sopan.
Tetapi Serena saat itu sudah tidak memikirkan harus sopan atau tidaknya, karena dia ingin sekali melihat hadiahnya.
Serena membuat kotak dan melihatnya.
Sebuah boneka ukiran dari kayu, dan orang itu adalah Serena sendiri.
__ADS_1
Melihat ukiran boneka ditangan, Serena sangat menyukainya, dia dengan pelan mengelus kepala boneka tersebut.
Ralphie melihat Serena yang terlihat seperti tidak ingin melepaskan bonekanya pun mengerti kalau Serea menyukainya, tetapi dia tetap bertanya, “Suka tidak?”