I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 35 Ralphie Pergi Ke Club Venus


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ketika Serena turun dari atas, Bella dan Leonard sudah duduk dimeja makan menunggunya. Melihat Serena datang, Leonard berkata dengan nada yang tidak enak, “Membuat orang tua menunggu, apakah baik?” Serena menyadari kesalahannya dan tidak mengatakan apapun.


“Menunggu anggota keluarga sendiri apa salahnya?” Bella menatap Leonard sekilas, dan dengan senyum diwajahnya berkata kepada Serena, “Serena cepat makan sini.”


Hello! Im an artic!


Serena tidak mengatakan apapun, duduk disamping Bella dan makan. Setelah selesai makan siang, sebenarnya Serena sudah ingin pergi, tapi Bella ingin dia tinggal untuk makan malam bersama. Serena tidak enak hati dan hanya bisa tinggal sampai selesai makan malam bersama.


Ralphie berjalan ke area taman dengan lelah, tidak seperti biasanya masuk ke kamarnya dan mandi. Ia berdiam di sofa ruang tamu dan melihat kesekeliling dan merasa ada yang kurang. Seharusnya ia senang dengan keadaan ruangan yang tenang seperti biasanya, tapi malam tidak tidak terasa seperti biasanya.


Ralphie mengeluarkan telpon genggam dar sakunya, melihat nama yang tidak di kenal hari itu, lalu dengan pelan meletakkannya di sofa dan naik keatas.


Baru melangkah ke anak tangga pertama tiba-tiba tellpon genggam yang ia letakkan diatas sofa itu berbunyi.


Hello! Im an artic!


Raphie yang hendak keatas berhenti, ia terkejut dan merasa sedikit gembira, dan dengan langkah besar menuju sofa mengambil telpon genggamnya. Ketika melihat layar telponnya muncul nama orang yang bukan diharapkannya, kegembiraannya pudar dalam sekejap, lalu menekan tombol jawab dengan tidak senang.


Ralphie belum sempat mengeluarkan suara, suara yang hangat dari Isa sudah menyapanya, “Ralphie aku ada sesuatu yang perlu kamu bantu, apakah kau ada waktu?”


Tanpa berpikir Ralphie menjawab, “Tidak ada waktu.”


“Jangan bercanda, barusan aku pergi ke kantormu dan sekertarismu bilang kau sudah pulang… katanya kau sedang menikmati waktu luangmu, ini masalah yang sangat penting tolong lah kau kesampingkan dulu waktu luangmu itu.”


Ralphie sangat mengerti Isa, dia tidak akan mengurus selain urusan kantor, karena itu dia tidak ingin menggubrisnya, baru saja ia ingin mematikan telponnya.


Tidak disangka kata-kata Isa selanjutnya sangat serius, “Ralphie.. apakah kau bisa membantu ku, kumohon..”

__ADS_1


Mendengar perkataan Isa, Ralphie tidak jadi mematikan telponnya.


“Tuan besar memerintahkan ku untuk menemani anak-anak dari 10 keluarga teratas Kyoto, kalau sampai terjadi sesuatu dia pasti bertanya kepadaku, kau harus bantu aku… ”


Ralphie tahu betul latar belakang keluarga Lu, ia tidak tekejut mendengar 10 keluarga besar dari Kyoto, tapi ada yang aneh jika membiarkan Isa menemani mereka.


Ralphie mengerutkan keningnya dan bertanya, “Jam berapa?”


“Jam 8..” Ralphie terdiam sebentar, dan kembali bertanya, “Ralphie apakah kau bersedia untuk datang? Aku sedang berada didekat rumahmu, atau kau mau aku menjemputmu?”


Ralphie sangat lelah, tidak ingin menyetir, dan lagi nanti pasti akan minum minum, kalau menyetir akan menjadi masalah, maka ia setuju untuk di jemput. Isa bilang dia berada didekat rumahnya, ternyata benar-benar dekat, tidak sampai 10 menit Isa sudah datang.


Ralphie baru selesai mengganti baju, belum sempat memakai dasi. Bahkan tidak menyapanya ketika membukakan pintu untuknya.


Akhirnya ketika Isa masuk, ia langsung bertanya, “Ralphie apakah kau punya minuman? Aku sangat haus.”


Diam, apa yang dia lihat? Dia melihat ada kue di kulkas Ralphie! Ini membuat siapapun yang ada dimuka bumi ini terkejut.


“Ralphie dalam kulkasmu ada kue?”


Kue? Ralphie terdiam, baru teringat kemarin ia membelikan kue tiramisu untuk Serena tapi tidak dimakan olehnya, akhirnya ia meletakkannya ke dalam kulkas.


Dia tidak mengira akan dipergoki oleh Isa. Ralphie dengan cepat memakai dasinya dan berjalan kearah dapur. Ia mengeluarkan sebotol the untuk Isa dan menutup kembali kulkasnya. Lalu degan cepat berkata “Ayo.” Lalu langsung meninggalkan dapur.


Isa kembali dalam kesadarannya, ia menghampiri Ralphie, “Ralphie pacarmu yang cantik itu datang kerumahmu?” Ralphie tidak menjawan Isa dan sibuk memakai sepatu.


“Ralphie aku sangat penasaran, wanita cantik itu adalah orang yang seperti apa.” Isa bericara dengan semangat.


“Mau pergi tidak?” Ralphie yang telah selesai memakai sepatu bertanya dengan datar kepada Isa, dari raut wajahnya mengatakan lambat sedikit lagi dia tidak akan pergi dari sini.

__ADS_1


“Ayo… Ayo…” Isa memakai sepatu dengan cepat dan mengejar Ralphie.


Ralphie tidak menunggu Isa langsung membuka pintu mobil dan duduk di tempat duduk samping supir. Isa yang menutup pintu rumah Ralphie dan menyusul masuk kedalam mobil, “Ralphie kuenya belum dimakan, apakah orangnya akan datang lagi?”


Kuenya belum dimakan, apakah dia akan kembali lagi? Ralphie terbengong sesaat, dan berkata dengan nada dingin, “Apakah sudah bicaranya? Kalau sudah cepat nyalakan mobilnya.”


Perasaan sahabatnya tidak begitu baik hari ini! Isa yang sangat mengenal Ralphie kemudian menutup mulutnya.


Tapi bagaimana mungkin mulut Isa bisa terbungkam?


Tidak berapa lama, dia mulai lagi, “Ralphie, kenapa tampangmu seperti orang yang sedang putus cinta?”


Putus cinta? Dia seperti orang yang sedang putus cinta katanya? Ralphie memandangi lampu jalan diluar jendela, dia menjadi bingung.


Isa mengira Ralphie akan membantah perkataannya, tapi setelah menunggunya cukup lama ternyata Ralphie tidak meresponnya.


Dia tidak tahan dan menatap Ralphie lewat kaca spion, ia menyadari Ralphie termenung menatap keluar jendela, pancaran matanya mengatakan ia sedang bingung….


Karena yang akan ditemaninya adalah anak-anak dari 10 keluarga teratas Kyoto maka Isa kali ini tidak membawa mereka ke Royal Club, tapi tempat club malam yang sangat terkenal di kota A yaitu Club Venus.


Tentu saja bukan ruangan biasa di Club Venus, tapi villa khusus tempat menghibur para tamu VIP. Ketika Ralphie dan Isa sampai ditempat itu, disana sudah duduk sekitar 8 anak muda. Ketika meilhat Isa yang datang menghampiri, mereka menyapanya.


Ralphie sangat jarang muncul makanya tidak ada yang mengenalinya. Tapi melihatnya yang datang bersama Isa, dia pasti bukan orang dari kalangan biasa, maka dari itu tatapan mereka semua tertuju pada Ralphie.


Ketika sudah duduk bersama ada beberapa orang yang menghapirinya dan menuangkan minuman untuknya, ingin mengenal latar belakang Ralphie lebih dalam. Ralphie malas meladeni mereka, kalau bukan karena Isa dia sudah pergi dari tempat itu.


Dua botol wine sudah habis untuk menemani mereka. Ralphie merasa sudah tidak kuat, akhirnya dia pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Angin yang menyambut musim dingin ini sedikit menusuk, Ralphie hanya mengenakan sebuah kemeja, kesejukkan langsung menyebar keseluruh tubuhnya.


Ia menatap sebentar lampu jalan yang jauh diujung sana, ketika ia berbalik hendak kembali kedalam, telepon genggam yang berada disakunya bebunyi.

__ADS_1


__ADS_2