
Hello! Im an artic!
Saat Serena sampai di kediaman Claudia, Claudia sedang menyiapkan makan malam. Melihat Serena masuk, dia langsung menyapanya, “Rena, kenapa hari ini pulangnya malam sekali? Cepat cuci tangan dan makan.”
“Ada sedikit urusan tadi.” Serena berkata sambil berjalan memasuki kamar: “Kamu makan dulu, saya taruh tas ke kamar dulu.”
Hello! Im an artic!
“Cepat keluar.” Claudia menganggukkan kepala.
Serena menjawab “Iya”, kemudian masuk ke dalam kamar.
Dia meletakkan tas, mengirimkan pesan singkat berbunyi “Saya sudah sampai rumah”, kemudian pergi ke ruang makan dan makan bersama Claudia.
Saat makan, Serena dan Claudia hanya berbincang dengan santai, berbincang hingga tiba-tiba membicarakan masalah undangan pernikahan teman sekelas.
Hello! Im an artic!
“Memintamu mengajak pacar kesana?” Claudia mengangkat alis.
Serena mengerutkan kening dan menjawab, “Iya, makanya saya tidak mau pergi.”
“Bukankah hanya seorang laki-laki? Apa susahnya” Claudia menggelengkan kepala, lanjut berkata, “Kamu cari saja teman laki-laki untuk pergi bersamamu!”
Teman laki-laki? Dalam benak Serena langsung terlintas wajah Ralphie.
Ralphie lah satu-satunya teman laki-laki yang dia punya… tetapi dia pasti tidak mau ikut deh?
“Dia tidak akan mau pergi!” Serena secara tidak sadar mengatakan kalimat ini, sungguh keceplosan.
Claudia yang duduk di depannya tiba-tiba seperti menemukan keajaiban dunia, “Rena, kamu beneran sudah kenalan dengan seorang teman laki-laki?” Sebagai sahabatnya, Claudia tahu jelas beberapa tahun ini laki-laki yang dia kenal hanya Alfred, laki-laki sampah itu. Dan saat mendengar Serena baru berkenalan dengan seorang laki-laki , dan kelihatannya hubungan mereka cukup spesial, tentu saja membuat Claudia terkejut.
Serena kaget dan panik, dengan cepat dia menggelengkan kepala membela diri, “Tidak, tidak.”
“Tidak?” Claudia seperti tidak percaya, kemudian berkata lagi kepada Serena: “Cepat katakan yang sebenarnya.”
Serena juga tidak bisa cerita soal Ralphie kepada Claudia, dibilang tidak akrab, tapi Claudia pernah ke rumahnya, dan tahu jabatannya di PT. Antarts setinggi apa, di bilang akrab, tetapi sampai sekarang pun Claudia tidak tahu namanya.
Setelah berpikir sejenak, Serena berkata: “Baru kenal beberapa hari, belum terlalu akrab, saya hanya tahu dia bermarga Su.”
“Ha?” Claudia tercengang.
Serena meregangkan bahu, dengan ekspresi begitulah..
Claudia diam sejenak kemudian berkata: “Kedengaran sekali ini tidak menjanjikan, jika sungguh tidak bisa, saya kenalin satu untukmu saja.”
Serena langsung menggelengkan kepala, “Nanti saja dibicarakan lagi.”
Serena sudah berkata seperti itu, Claudia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Selesai makan dengan Claudia, Serena berbincang sebentar baru kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam kamar, hal pertama yang dia lakukan adalah mengambil handphone.
Ralphie sudah membalasnya “Ya” sejak setengah jam yang lalu.
Serena tersenyum, dan membalasnya lagi, “Tadi saya sedang makan, kamu sudah makan belum?”
Sepertinya Ralphie sudah istirahat, dan tidak membalasnya lagi.
Serena melihat handphone sejenak dan meletakkannya di lemari samping tempat tidur.
Kemudian dia mengeluarkan buku desain dari tas, berencana membuat sebuah desain dan setelah itu baru tidur.
Saat sedang menggambar, tiba-tiba desain itu berubah menjadi gambar seseorang.
Setelah Serena sadar, lukisan wajah seseorang sudah terlihat di kertas desain itu.
Kelima inderanya yang jernih, dengan hawa-hawa cuek dan berwibawa.
“Saya kenapa bisa menggambarnya…” Serena berbisik dengan kesal, mengambil kertas itu, dan akan segera membuangnya.
Tetapi saat melihat sketsa manusia di lukisan itu, gerakannya terhenti.
Akhirnya dia menyelipkan kertas itu ke halaman terakhir buku desain dengan sangat berhati-hati.
Kemudian perlahan memasukkan buku itu ke dalam tas, barulah berbaring dan memejamkan mata.
Memikirkan kata-kata Claudia tadi, jika dia meminta Ralphie menemaninya kesana, apakah dia akan mau?
Besoknya, Serena bangun dan langsung membuka handphone, terlihat balasan dari Ralphie sejak jam 7.
Serena spontan tersenyum, kemudian membalas: “Sudah saya duga.”
Saat Serena sedang sikat gigi, Ralphie sudah membalasnya lagi, “Iya, sudah bangun?”
“Baru bangun, kenapa kamu bangun begitu awal?” Serena sikat gigi sambil membalas pesan singkat Ralphie.
“Ada urusan di kantor.”
“Sudah sarapan belum?”
“Sudah!”
……
Kelihatannya beberapa hari ini Ralphie sangat sibuk, hanya saat Serena mengirimkannya pesan di pagi hari dia bisa membalas dengan cepat, sisanya dibalas dengan lama.
Dibandingkan Ralphie yang sibuk, Serena malah lebih santai.
Selesai menggambar tugas dari Halle, Serena juga menggambar sebuah desain sesuai pemikirannya.
Terakhir, dia merasa bosan dan mulai memaikan handphone.
__ADS_1
Dalam grup anak-anak kuliah, semuanya membahas masalah menghadiri acara pernikahan seorang teman.
Semuanya mengatakan akan membawa pacar kesana, dan saat Serena melihat pesan dari Maggie dan katanya pasti membawa pacar, Serena pun menggigit bibir dengan kuat.
Entah keberanian dari mana, dia langsung menutup ruang chat grup dan mengirimkan pesan singkat kepada Ralphie.
“Besok kamu sempat tidak? Saya mau minta tolong.”
Setelah pesan singkat terkirim, dia baru sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Sayangnya pesan singkat tidak seperti chat dalam grup, sekali dikirim tidak bisa ditarik kembali.
Serena menatap layar handphonenya, serasa ingin menangis.
Kenapa dia mengirimnya begitu saja? Bagaimana kalau Ralphie tidak sempat? Bagaimana kalau dia tidak bisa membantunya? Yang namanya buru-buru memang menyebalkan!
Tetapi sama dengan pesan singkat sebelumnya, Ralphie tidak membalas.
Serena merasakan rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Sore itu dilewati dengan stress dan bingung.
Saat pulang kerja dan bertemu Maggie, Serena sama sekali tidak peduli lagi dengan sindirian dan caci makinya.
Keluar dari gedung kantor, Serena berjalan pelan tanpa tujuan.
Saat melewati persimpangan Drisker Mansion, dia tiba-tiba kepikiran sebuah toko kue yang sangat dia sukai.
Setelah berpikir, dia memutuskan untuk pergi membeli kue.
Orang-orang di dalam toko kue sangatlah banyak, Serena mengantri selama 10 menit, dan pas sekali sampai gilirannya, handphone dalam sakunya berdering.
Dia mengambil handphone itu dan terlihat nama Ralphie di sana, dengan segera dia mengangkatnya, “Halo.”
“Bantuan apa?” Suara dingin Ralphie terdengar dari arah handphone.
Serena seketika tidak menangkap maksud perkataannya, “Ha?”
“Di pesan singkat yang kamu kirim….” Serena belum selesai mendengar perkataan Ralphie, malah terdengar suara pelayan toko bertanya, “Nona, kamu mau beli apa?”
Serena mengerutkan kening dan menjawab “Satu tiramisu.”
Kemudian baru menjawab Ralphie: “Itu… tadi saya belum mendengar perkataan kamu dengan jelas, bisa di ulangi?”
Ralphie tidak mengulangi perkataannya, hanya bertanya, “Kamu sekarang dimana?”
“Drisker Mansion.” Serena menjawab dengan sedikit keheranan.
Ralphie berkata “Tunggu saya di sana”, kemudian langsung menutup telepon.
Serena menatap layar handphone selama beberapa detik, dan baru tersadar maksud perkataan Ralphie, bahwa dia akan datang mencarinya.
__ADS_1
Memikirkan jawaban ini, suasana hati Serena yang mendung dan gelap tiba-tiba menjadi cerah.
Dia sama sekali tidak sadar, suasana hatinya membaik berkat Ralphie.