
Hello! Im an artic!
Makan malam sangat lezat, Serena tampak sangat menikmatinya.
“Aku sangat kenyang… oh….” kata Serena sambil bersendawa.
Hello! Im an artic!
Ralphie tersenyum, lalu berdiri, “Apakah kamu ingin pergi ke teras sambil menurunkan makanan?”
“Baiklah.” Tanpa berpikir Serena langsung mengangguk.
Ralphie mengantar Serena keluar dari restoran, melewati aula dan koridor panjang, dan ketika sampai di depan toilet dekat pintu masuk tangga, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan menunjuk arah jalan di sebelah kiri, “Teras ada di ujung kiri, kamu pergi duluan, aku ke kamar mandi sebentar.”
“Oke.” Serena mengangguk, lalu berjalan ke arah kiri.
Hello! Im an artic!
Di ujung ada sebuah teras besar, di atasnya banyak lampu-lampu kecil bergantungan. Walau tidak begitu terang, tapi lampu-lampu itu berkelap-kelip dengan sangat indah.
Di bagian tengah teras terdapat sebuah meja dan dua kursi, Serena duduk di salah satu kursi tersebut, menikmati cahaya lampu di atas teras, sambil menunggu Ralphie.
Tidak terasa waktu terus berjalan, Ralphie yang tadinya pergi ke toilet, hingga saat ini belum muncul.
Serena mengerutkan kening, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke ruangan tadi untuk mencari Ralphie.
Begitu keluar dari pintu teras, ia mendengar sebuah suara.
Serena berbalik ke belakang tanpa sadar, namun belum sempat menemukan asal suara itu, lagi-lagi ia mendengar suara ledakan. Sesaat kemudian, ia melihat kembang api yang sangat banyak di atas langit.
Sepanjang malam itu, langit menjadi sangat terang seperti siang hari, langit dan daratan dipenuhi dengan lebah dan kupu-kupu, semuanya berwarna ungu dan merah.
Sesaat Serena sempat terpesona melihat hal itu, lalu ia kembali bergegas menuju teras.
Begitu tiba di halaman bawah, ia melihat seorang sosok yang tidak begitu dikenalnya sedang berdiri.
Di belakangnya, terdapat kembang api yang begitu indah, sementara sekarang ini ia seolah-olah seperti baru saja keluar dari dunia yang indah itu.
Serena melihat orang itu dengan tatapan kosong, melihat kembang api yang ada di belakangnya dengan tatapan kosong, dan tiba-tiba teringat ketika ia berada di mobil, sambil melihat ponselnya ia berkata, “Sayang sekali aku melewatkan kembang api East Plaza malam ini.”
Setelah itu, orang itu membawa Serena ke sebuah villa kastil, pada saat itu ia benar-benar tidak teringat akan apapun.
Bahkan tadinya ia pikir Ralphie membawanya kemari hanya untuk makan malam.
__ADS_1
Tak disangka, ternyata Ralphie membawanya ke tempat ini untuk menyaksikan kembang api.
Kembang api yang khusus dipersiapkan untuknya….
Serena memandang Ralphie, dan Ralphie hanya terus menatapnya. Serena tersenyum dan berteriak, “Terima kasih, Ralphie….”
Suara itu tersamarkan oleh suara ledakan kembang api, tapi dari gerakan mulutnya, Ralphie bisa menebak apa yang diucapkan oleh Serena.
Dia menatap Serena dan dengan lembut menjawab, “Serena, aku mencintaimu.”
Di tengah-tengah suara ledakan kembang api, Serena sama sekali tidak bisa mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ralphie, sehingga Ralphie berani mengatakannya.
Serena tidak bisa menangkap apa yang dikatakan Ralphie, ia hanya melihat mulut Ralphie sedang komat-kamit, jadi ia agak bingung, lalu dengan suara cukup keras Serena bertanya, “Ralphie, apa yang kamu katakan?”
Wajah Ralphie terlihat tenang, ia menjawab dengan yakin, “Serena, aku mencintaimu…”
Karena merasa telah melewatkan kata-kata Ralphie, Serena masih bertanya-tanya, ia pun berbalik ke rumah.
Melihat Serena yang bergegas masuk ke rumah, Ralphie dari kejauhan berkata, “Mencintaimu telah menjadi naluriku, bagaimana aku dapat melepaskanmu…”
Ralphie berbalik dan melihat ke arah kembang api, tampak kesedihan pada raut wajahnya.
Serena terus berlari menuju ke halaman belakang, hingga ia melihat sosok Ralphie, kemudian ia pun berjalan selangkah demi selangkah ke arah Ralphie.
Saat itu Ralphie sedang berdiri membelakangi Serena, dan karena dihalangi oleh suara ledakan kembang api, ia sama sekali tidak menyadari bahwa Serena sedang berjalan mendekatinya.
“Ralphie, kamu kenapa?”
Menyadari bahwa Serena ternyata diam-diam mendekat ke arah dia, muka Ralphie langsung menjadi tegang.
“Tidak apa-apa.”
Kesedihan yang dilihat Serena dari wajah Ralphie seakan-akan hanyalah sebuah ilusi.
Tapi Serena sangat yakin kalau penglihatannya tidak salah.
Perasaan tadi Ralphie masih baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba menjadi sedih?
Ralphie tampaknya tidak ingin Serena jadi memikirkan hal ini, ia berkata, “Sekarang sudah larut malam, aku harus tinggal di sini semalam.”
Menginap semalam di sini? Serena langsung ingin menolak, tapi melihat raut wajah Ralphie yang kelelahan, ia memilih untuk diam.
Sejak sore tadi, Ralphie hanya sibuk di ruang belajar, kemudian ia masih harus menyetir mengantar Serena pulang. Dibutuhkan setidaknya 2 jam dari sini untuk kembali ke villa. Sekarang sudah hampir jam 12 malam. Tampaknya Ralphie akan menghabiskan malam ini di jalan.
__ADS_1
Serena hanya diam dan mengangguk, “Baiklah”.
Ralphie berbalik dan berjalan masuk.
Serena melihat kembang api yang mulai padam, kemudian segera pergi mengikuti Ralphie.
Ralphie mengantar Serena masuk ke Villa, lalu naik ke lantai dua dan berhenti di depan kamar utama.
“Kamu tidur di kamar ini….” kata Ralphie sambil membuka pintu.
Ketika pintu kamar terbuka, mereka teringat akan sebuah kenangan yang indah.
Villa Castil adalah rumah pengantin Serena dan Ralphie, kamar tidur utama di rumah pengantin, tentu saja itu kamar mereka.
Mereka berdua bukan benar-benar suami istri, bagaimana mungkin Serena tidur di kamar ini?
“Aku akan tidur di kamar lain.”
“Kamu tidur di sini.” Ralphie bicara dengan tegas.
Serena baru saja ingin menjawab, Ralphie langsung lanjut bicara: “Pintu di sebelah kiri adalah kamar mandi, dan pintu di sebelah kanan adalah ruang ganti. Di dalam ruang ganti ada pakaian. Jika kamu ingin mandi, carilah di dalam.”
Karena Ralphie sudah bicara panjang lebar, Serena sudah tidak bisa berkata apa-apa.
“Ok, baiklah.”
Ralphie diam, ia hanya mengangguk, dan meninggalkan ruangan.
Serena berdiri selama beberapa detik di dekat pintu kamar, lalu berjalan ke ruang ganti, mengambil pakain, dan menuju ke kamar mandi.
Setelah mandi, ia merasa agak haus dan turun ke lantai bawah untuk mencari air minum.
Dari tangga ia melihat Ralphie sedang duduk di sofa ruang tamu dengan mata terpejam.
Kenapa dia duduk di sana? Serena berjalan turun tangga sambil bertanya-tanya.
Serena sengaja mengeluarkan suara langkah kaki saat turun tangga, tapi Ralphie sedikitpun tidak membuka matanya.
Apakah dia tertidur? Serena sempat berpikir begitu, kemudian pelan-pelan berjalan mendekati Ralphie.
Pria itu bernafas dengan panjang dan tenang, dan terlihat sedikit senyum di sudut bibirnya. Sepertinya dia memang sudah tidur.
Apakah karena terlalu lelah sampai tertidur di sofa?
__ADS_1
Tidur di sofa seperti ini bisa membuatnya masuk angin.
Tanpa berpikir Serena langsung ingin membangunkan Ralphie, “Ralphie….”