I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 170 Hanya Tersisa Satu Kamar


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Louisa tahu Felix, tapi lihat Felix datang menjemput Serena membuatnya terkejut, ditambah lagi mendengar Felix memanggil Serena “Nyonya”, Ia terdiam sejenak.


“Serena, kamu….”


Hello! Im an artic!


“Louisa, aku… ” sebelum selesai berbicara, Louisa memotong perkataanya secara langsung, “Kamu tidak perlu menjelaskan, aku tahu, orang sepertiku tak pantas mendapatkan perlakuan tulusmu. ”


Setelah mengatakan ini, Louisa tidak menunggu jawaban Serena, Ia berbalik dan berjalan pergi.


“Louisa..Louisa…” Serena bahkan berteriak beberapa kali, Louisa tidak berbalik kembali.


Serena akhirnya hanya bisa melihatnya menghilang dari pandangannya.


Hello! Im an artic!


Felix tidak berpikir bahwa ia hanya memanggil Serena, akan menyebabkan situasi ini, Ia agak tidak nyaman dan berkata: “Nyonya, aku akan membantu untuk menjelaskannya padanya.”


Serena diam sejenak, dengan lembut menggeleng kepalanya, “Ini bukan urusanmu.”katanya


“Ini… ” Felix berkata, Serena telah membuka pintu belakang, masuk dan duduk.


Felix menyentuh hidungnya, lalu melewati kepala mobil dan naik.


Setelah duduk, ia melihat Serena melalui kaca spion lalu menyelakan mobil.


Satu jam kemudian, Felix memarkir mobilnya di depan pintu Royal klub.


Felix membuka pintu dan berkata: “Nyonya tunggu sebentar, aku pergi untuk bertemu Tuan Ralphie. ”


Mendengar perkataan Felix, Serena sadar memalingkan kepalanya dan melihat ke arah pintu gerbang Royal Klub.


Hanya melihat Ralphie dalam sekelompok orang dari Royal Club, orang-orang yang juga akrab dengannya , yaitu Isa dan Ryan.


Ternyata dia lagi bersama Ryan mereka, ah!


Mendadak Serena menemukan bahwa Ralphie saat ini sedikit berbeda.


Dia tampak seperti… sedikit malas.


Bagaimana bisa Ralphie yang selalu dingin dan elegan itu malas?


Mungkin aku yang salah, bukan? Serena mengigit bibirnya dan memalingkan matanya lagi.

__ADS_1


Lalu aku melihat Felix condong ke arah Ralphie.


Mengapa Felix merangkul Ralphie?


Dengan keraguan, Serena membuka pintu dan menunggu mereka datang.


Setelah datang, Felix yang meragkul Ralphie dengan wajah senyum pahit berkata: “Nyonya, tuan Ralphie mabuk bersama Isa dan Ryan, sepertinya malam ini tidak bisa naik ke pesawat. ”


Mabuk? Serena menatap Ralphie dan melihat wajahnya sedikit merah yang tak wajar.


Aku tak tahu berapa banyak Ia minum, hanya berdiri di luar mobil saja ada bau alkohol yang kuat.


Saat mendengar Felix mengatakan dia mabuk, Ralphie memprotes, “Aku tidak mabuk…”


“Ya, kamu tidak mabuk.” Serena menjawab dan kemudian berkata kepada Felix: “Bawalah dia di dalam mobil. ”


“Hhmmm…” Felix mengangguk.


Mungkin pengaruh alkohol yang kuat sehingga setelah Ralphie masuk ke dalam mobil, seluruh tubuhnya terjatuh ke jendela kanan.


Serena takut bahwa dia akan sampai di sana, maka dengan cepat mengulurkan tangan untuk memegangnya.


Bersandar pada tubuh Serena.


Serena menggeser tubuhnya, tetapi tak dapat mendorongnya pergi.


“Ahhhh…” Ralphie mengerang dengan tidak nyaman, kemudian berbalik, wajahnya berputar ke arah dada Serena.


Saat seperti ini sangat canggung, wajah Serena langsung merah.


Serena mengankatnya seksama kepala Ralphie dari dadanya dan ke siku lengannya sebelum Serena duduk tenang lega.


Untungnya, Ralphie tidak terbangun dalam proses pergerakannya dan juga Felix yang mengemudi tidak memperhatikan mobil belakang. Jika tidak, Serena tak tahu bagaimana menjelaskan situasinya.


Serena tidak tahu, jika Felix sudah melihat dengan jelas melalui kaca spion situasi itu.


Ralphie mabuk kali ini, tapi hal ini adalah kesempatannya dekat dengan istrinya! Mata Felix penuh kebahagiaan.


Untuk mengalihkan perhatian, Serena menengadah dan melihat keluar dari jendela. Kemudian dia melihat jika arah mobil tidak kembali ke arah Villa, ia bertanya, “Kemana ini?”


Felix mengemudi sambil menjawab, “Sebentar lagi sampai di Peninsula Hotel”


“Peninsula Hotel? Ga pulang ke Villa?” tanya Serena dengan mengangkat alisnya.


Felix menoleh ke belakang melihat Serena, “Dari sini kembali ke Villa setidaknya dua jam, Tuan Ralphie selalu mabuk begitu parah, ke Hotel istirahat lebih awal lebih baik.”

__ADS_1


Serena berpikir sejenak, kemudian merasa bahwa Felix berpikir sangat betul dan setuju, “Oke, pergi ke hotel.”


Felix tersenyum dan kemudian mengendarai mobil ke tempat parkir Peninsula Hotel.


“Nyonya, saya akan memesan kamar, bisakah Nyonya disini bersama tuan Ralphie? ”


Serena sudah pasti tak bisa menolak dan berkata, “Oke.” ”


Felix turun dari mobil dan memasuki lobi hotel.


Setelah sekitar lima menit, Ia kembali.


“Nyonya, kamar sudah di pesan, mari kita masuk. ”


“Oke.” Serena mengangguk dan kemudian bersama Felix membantu Ralphie keluar dari mobil.


Setelah membantu Ralphie ke tempat tidur di Kamar Hotel, Felix berkata, “Nyonya, aku pergi lebih dulu. ”


“Yah… Pergi sekarang?” Serena merasa Felix terburu-buru.


Felix mengangguk: “Aku kembali dulu, tolong urus Tuan Ralphie, besok pagi saya akan membawakan pakaian untuk Nyonya dan Tuan.”


“Aku akan perhatikan dan merawatnya.” Serena mengangguk dan kemudian berkata, “Felix tolong bantu saya memesan kamar lain, kamu tahu saya dan dia…”


Kata yang terakhir tak dilengkapi Serena, hanya berkata “Mengerti kan” sambil menatap Felix.


Felix menatapnya dan berkata: “Saya tahu, tapi sisa satu kamar ini ”


“Hanya kamar ini?” kata Serena kecewa.


“Ketika saya ke lobi untuk memesan kamar, hanya ada satu kamar yang tersisa.” lalu kata Felix lagi, “Juga tak ada tempat tidur lebih ”


Sebenarnya, Ia sengaja melakukan ini untuk Ralphie dan istrinya. Bagaimana bisa memesan kamar lain? Tambahkan kasur lain?


Satu kamar, satu tempat tidur, satu selimut… dan kemudian eehhmmm…eeehhmmm…eehmmm…


Serena tidak tahu apa yang dipikirkan Felix, Ia mengangguk tak berdaya, “Oke deh.”


“Nyonya, saya pergi dulu.” kata Felix dengan cepat pergi meninggalkan kamar.


Apa yang dilakukan Felix? Kenapa dia kembali dengan cepat? Serena dengan bingung melihat Felix dan kembali ke kamar.


Ralphie menutup matanya dan berbaring di tempat tidur.


Wajah merahnya sekarang pucat dan dia tidak tahu kapan dasinya dilepas bahkan kancing bajunya pun di lepas, memperlihatkan dada yang kekar.

__ADS_1


Serena menatap dia selama beberapa detik, kemudian pergi ke kamar mandi.


__ADS_2