
Hello! Im an artic!
Serena sendiri tidak tahu sampai kapan dia bisa melarikan diri dari Ralphie, setelah menutup telepon dari Ralphie, ia kembali ke ruangan untuk lanjut mengobrol dengan Claudia yang sudah lama tidak ketemu.
“Barusan bicara telepon dengan siapa? Kenapa harus menyingkir?” Claudia melihat Serena masuk, sambil tersenyum ia bertanya.
Hello! Im an artic!
“Dengan orang rumah.” Serena menjawab sambil melihat ke bawah.
Claudia tidak banyak bertanya mengenai ‘keluarga’ Serena, dia hanya berkata, “Bagaimana kabarmu beberapa bulan terakhir ini?”
“Lumayan.” Serena mulai tersenyum dan bertanya, “Bagaimana denganmu? Sudah empat bulan tidak mendengar kabarmu. Kamu ke mana saja?”
Mendengar pertanyaan Serena, tatapan mata Claudia terlihat agak kebingungan, ia berkata, “Tidak ke mana-mana, hanya sibuk mengurus pekerjaan.”
Hello! Im an artic!
Serena tidak memperhatikan Claudia seperti sedang ada masalah, ia hanya bertanya, “Kalau begitu kepulanganmu kali ini, apakah karena kamu berencana untuk pindah?”
“Bukan.” Claudia menggelengkan kepalanya.
Serena melihat ke arahnya dan bertanya, “Apakah kamu masih tinggal di Gallowen Manor? Atau mencari tempat lain?”
“Masa kontrak di Gallowen Manor sudah berakhir. Pemilik rumah telah mengambil kembali rumah itu. Aku sudah tidak bisa tinggal di sana, sekarang masih mencari tempat lain.” Claudia menghela nafas.
“Lalu kamu tinggal di mana sekarang? Bagaimana kalau….” Serena tadinya ingin menawarkan Claudia untuk tinggal bersamanya, tapi dia teringat kalau dia tinggal di tempat Ralphie, dan tidak mungkin membawa Claudia tinggal di sana.
Setelah pikir-pikir, Serena berkata, “Bagaimana kalau kamu tinggal di apartemenku di Kota Barat?”
Serena memiliki sebuah apartemen kecil di Kota Barat yang diwariskan oleh ibunya.
Setelah ibunya meninggal, Serena sudah tidak pernah lagi ke sana, ia hanya meminta seseorang untuk membantu mengelolanya.
Intonasi suara Serena merendah, Claudia menggelengkan kepalanya, “Tidak, itu rumah yang diberikan ibumu kepadamu, aku tidak bisa tinggal di sana.”
Serena agak tersenyum dan berkata, “Hanya untukmu tinggal sementara waktu, bukan untuk waktu yang lama, lagipula rumah itu sudah sepuluh tahun lebih tidak ditinggali, biarkan ada sedikit kehidupan di sana.”
“Serena….” Claudia masih ingin menolak, tapi Serena menghentikannya, “Sudah sepakat, besok kamu pindahkan barang-barangmu ke sana.”
Claudia tidak bisa apa-apa, ia hanya mendengarkan perkataan Serena.
Setelah keduanya lanjut mengobrol, Serena mengantar Claudia ke hotel. Di kamar Claudia, ia tinggal sampai jam sebelas malam. Sampai kira-kira Ralphie sudah tidur, baru Serena pulang dari tempat Claudia.
“Claudia, aku pulang dulu, besok pagi aku akan ke sini untuk menemanimu ke Kota Barat.”
“Serena, sekarang sudah sangat larut, kau menginap saja di sini, tidak usah pulang.” kata Claudia cemas.
__ADS_1
Serena menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa. Kau sekarang istirahat ya, aku akan ke sini besok pagi.”
“Kalau begitu hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai di rumah.” kata Claudia dengan pasrah.
“Oke, aku pergi ya.” Serena melambai pada Claudia dan pergi.
Setelah keluar dari hotel, Serena menelpon supir Li.
Setelah beberapa menit menunggu di pinggir jalan, supir Li datang.
Serena masuk ke mobil dan menyandarkan badannya ke kursi mobil.
Satu jam kemudian, mereka tiba di vila.
Serena memberitahu supirnya “Besok tolong jemput aku jam enam pagi.” kemudian dia berjalan masuk ke vila.
Karena sudah larut malam, Serena takut membangunkan yang lain, ia tidak membunyikan bel pintu, hanya langsung memasukkan kata sandi di pintu.
Serena mengira sudah sangat malam, semua orang pasti sudah tidur.
Setelah ia masuk, ternyata lampu dinding di ruang tamu masih menyala, dan di sofa ada seorang yang dikenalnya sedang duduk.
Kenapa dia belum tidur dan masih di sini?
Apakah sedang menunggunya?
Tapi sekarang, Serena tahu bahwa Ralphie melakukan semua ini hanya untuk membayar kesalahannya.
Bahkan bisa dibilang, ketika tahu kalau semua ini ditukarkan dengan anaknya, ia merasa sangat sakit hati.
Berusaha menenangkan suasana hatinya, Serena menutup pintu, membungkuk di atas lemari sepatu dan mencari sendal.
Ralphie mendengar ada yang bergerak lalu ia berdiri, “Sudah pulang?”
“Um,” Serena mengangguk, mengenakan sandal, dan berjalan masuk ke dalam.
Dia tidak berjalan ke Ralphie seperti biasanya, dia malah pergi ke dapur dan menuang segelas air, lalu naik ke atas.
Ralphie berdiri sambil memperhatikan gerakan Serena, membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat wajah Serena yang lelah, ia akhirnya memilih untuk diam, hanya melihat Serena pergi tanpa suara.
Sebenarnya Serena terlihat tidak begitu tenang. Tuhan tahu ia cukup kuat untuk tidak menanyakan hal ini kepada Ralphie, kenapa tidak menginginkan anak itu.
Setelah menutup pintu kamar, Serena bersandar di belakang pintu sambil menangis cukup lama sebelum ia pergi mandi, kemudian berbaring di tempat tidur.
Di tempat tidur Serena tampak gelisah kesulitan untuk tidur, lama setelah itu ia kemudian bermimpi.
Dalam mimpinya, ada sebuah suara anak kecil bertanya kepadanya, ibu, mengapa kau tidak menginginkanku?
__ADS_1
Serena berusaha ingin menjawab, ibu menginginkanmu nak, tapi dia tidak bisa berkata-kata. Akhirnya Serena terbangun dari mimpinya dan menangis, “Nak…”
Meski dia tahu ini hanyalah mimpi, tapi Serena merasa anak itu benar-benar menanyakan kepadanya.
Ia tidak lanjut tidur, hanya memegang selimut, diam-diam menangis.
Sampai pukul 5.30 pagi, alarm dari ponselnya berbunyi, dia baru bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap.
Setelah selesai siap-siap, dia mencari kunci apartemen Kota Barat dari dalam koper yang dibawanya.
Pukul enam, dia mengemasi barang-barangnya lalu turun. Di bawah ia bertemu pelayan rumah yang sudah bangun untuk mempersiapkan sarapan.
“Nyonya masih pagi sekali Anda sudah bangun? Saya belum membuat sarapan.” Pelayan itu terkejut melihat Serena.
Serena menjawab, “Aku sedang buru-buru, tidak sempat sarapan.”
“Bagaimana bisa tidak sarapan?” Kalau begitu saya menyiapkan sandwich untukmu….” pelayan belum selesai berbicara, sudah disela oleh Serena.
“Tidak perlu, saya pergi dulu.” Serena berbicara lalu berjalan keluar.
Pelayan itu melihatnya meninggalkan rumah, ia menghela nafas dan kembali ke dapur.
Walaupun semalam tidur agak larut malam, tapi pagi sebelum jam tujuh Ralphie sudah terbangun.
Setelah bangun, ia ke kamar mandi, mandi sebentar, dan mengenakan baju rumah. Lalu seperti biasanya pergi ke sebelah dan mengetuk pintu kamar Serena.
Tidak ada yang menjawab dari dalam, Ralphie mengerutkan kening, melihat jam tangannya baru menunjukkan pukul tujuh.
Setelah sempat merasa ragu, Ralphie membuka pintu kamar Serena.
Di dalam kamar sangat sunyi dan tidak ada orang.
Ralphie melihat sekeliling dengan tatapan kosong, lalu ia keluar kamar.
Pelayan sudah menyiapkan sarapan, ketika melihat Ralphie turun, pelayan itu menyapa, “Selamat pagi tuan.”
“Pagi.” Ralphie merespon dengan mengangguk, lalu masuk ke ruang makan.
Ketika masuk ke ruang makan, ia tidak melihat orang yang diharapkannya, ia pun langsung mengerutkan kening dan bertanya, “Di mana nyonya?”
Pelayan itu menjawab apa adanya, “Tadi jam enam pagi nyonya sudah pergi, bahkan tidak sempat sarapan.”
“Masih sangat pagi pergi ke mana?” Ralphie bertanya sambil mengerutkan kening.
Pelayan terdiam sejenak, lalu menjawab, “Nyonya mengatakan dia ada sesuatu yang harus dikerjakan.”
Mendengar pelayan itu berkata bahwa Serena ada urusan yang harus dikerjakan, Ralphie tidak berpikir banyak, ia hanya mengangguk lalu duduk untuk sarapan.
__ADS_1