
Hello! Im an artic!
Awalnya Serena pikir setelah memasuki bandara dia perlu mencari Ralphie.
Tak disangka ketika dia masuk, Ralphie sedang berdiri dengan satu tangan dikantong sebelah celana dan sedang telepon.
Hello! Im an artic!
Serena melihat hingga terbengong, kemudian membengkamkan bibir dan berjalan pergi.
Tetapi belum dekat dengan Ralphie, dia malah berhenti ditempat yang berjarak dua meter.
Dia berdiri dengan tenang disana menunggu, kira-kira menunggu limat menitan, Ralphie baru mengakhiri teleponnya.
Mendengar Ralphie sudah selesai telepon, Serena mendongakkan kepala melihat kearah dia.
Hello! Im an artic!
Ralphie baru saja memasukkan ponselnya kedalam saku celana, ketika mendongakan kepala, matanya bertemu pandang dengan mata Serena. Pandangannya berhenti sedetik kemudian langsung berbalik badan menuju kearah ruang tunggu.
Serena membengkam bibirnya dan hanya mengikuti langkah masuk kedalam.
Setelah memasuki ruang tunggu, Ralphie duduk dan memainkan ponselnya.
Orang yang ada diruang tunggu sangat banyak, hanya beberapa tempat saja yang kosong.
Satu tepat disebelah Ralphie, sisanya cukup jauh.
Serena berjalan lebih lambat dan terakhir ia berjalan kearah tempat duduk yang jaraknya sedikit lebih jauh.
Ia tidak menyadari ketika ia sedang berjalan kearah tempat tersebut, Ralphie yang awalnya sedang main ponselnya pun melihat kearahnya. Raut wajahnya semakin kesal.
Kurang lebih lewat sepuluh menit, adanya pemberitahuan untuk naik keatas pesawat.
Serena berdiri dari tempat yang ia duduk, tetap tidak bergerak, matanya hanya mengarah ke Ralphie.
Melihat Ralphie berdiri, ia baru berlari kecil kearah Ralphie.
Ralphie seperti tidak melihat dia lalu keluar dari ruang tunggu.
Keluar dari ruang tunggu, Ralphie langsung berjalan menuju pesawat.
Selama perjalanan, Serena hanya terus mengikuti dibelakang Ralphie dan sama sekali tidak berbicara.
__ADS_1
Tiba-tiba dari belakang Serena ada yang mendorong, dia sama sekali tidak melihat, seluruh badannya tidak terkontrol dan akhirnya jatuh kearah depan.
Awalnya Serena berpikir dia akan menabrak Ralphie, Ralphie tiba-tiba berbalik badan mengulurkan tangan dan menangkap badan kecil dia.
“Kenapa?” tanya Ralphie.
Serena dengan suara kecil: “Didorong.”
Mendengar Serena bahwa dia didorong, Ralphie menatap tajam perempuan yang berada dibelakang Serena.
Perempuan itu kaget melihat tatapan mata Ralphie, melihat tatapan jelas yang tidak enak dari Ralphie, perempuan itu langsung dengan sinis berkata: “Apapun ngga ada yang terjadi! Dia sendiri yang ngga hati-hati terus jatuh.”
“Oh jatuh sendiri, ngga hati-hati banget.” Ralphie mengulangi perkataan perempuan itu lalu menarik tangan Serena untuk berdiri dan berjalan didepannya.
Perkataan yang terdengar ditelinga Serena, kalau dia percaya pada perempuan itu. Hatinya sedih dan memasang muka cemberut.
Setelah naik pesawat dan mendapatkan tempat duduk, Serena dan Ralphie sama sekali tidak berbicara.
Pesawat sudah melandas kurang lebih sepuluh menitan, Ralphie tiba-tiba berdiri.
Serena melihat dia sekilas lalu melepaskan pandangannya kembali.
Tiba-tiba didepan terdengar suara teriakan yang sangat nyaring, Serena membalikkan kepada untuk melihat ke arah sumber suara.
Ia melihat perempuan tadi yang mendorong dia, tidak tahu kenapa, tiba-tiba terjatuh dilantai.
Dia sama sekali tidak tahu kalau disana sedang terjadi sesuatu yang cukup menarik.
Ralphie dengan sikap dingin menatap kearah perempuan itu, “Kenapa jatuh sendiri? Hati-hati dong!” Nada yang dia gunakan untuk berbicara sama persis seperti dia berbicara kepada Serena tadi.
Bercanda, Dimata Ralphie, Serena adalah orang yang harus dia lindungin. Bagaimana mungkin dia membiarkan Serena merasa sedih?
Tadi dia memang melihat perempuan itu terbangun dari tempat duduk makanya dia juga ikut bangun, dan ketika melewati perempuan itu, dia sengaja menyengol kakinya agar dia setengah jatuh.
Perempuan itu menunjuk Ralphie tanpa bisa berkata keluar sesuatu, “Kamu……”
Raplhie berbalik badan sedikit, salah satu ujung bibirnya naik keatas dan dengan nada menyindir berkata, “Aku kenapa? Kamu ga mungkin mau bilang kalau aku yang bikin kamu jatuh kan?”
Mendengar perkataan Ralphie, wajah perempuan itu semakin kesal, “Ia kamu.”
Ralphie seperti mendengar sebuah lelucon, matanya memberikan tatapan sinis lalu dengan sikap dingin berkata pada perempuan itu: “Bukankah kamu yang jalannya tidak hati-hati makanya jatuh?”
“Aku mau lapor polisi, kamu sudah melukai orang lain, disini banyak orang yang menjadi saksi.” Jawab perempuan itu sambil menangis.
__ADS_1
“Saksi?” Ralphie dengan datarnya melihat sekeliling, yang dia lihat adalah orang-orang yang sedang tidur.
Ralphie melepaskan pandangannya, lalu dengan cool melihat kearah perempua itu: “Ok, Kamu lapor saja. Aku tunggu.”
Selesai mengatakan ‘Aku tunggu’ dua kata ini, Ralphie merasa semua amarah kekesalan yang ada didalam hati pun akhirnya menghilang.”
“Ingat, lapor polisi, suruh cari aku di Grup Su.” Selesai Ralphie mengatakan perkataan ini, dia pun melangkahkan kaki kembali ke tempat duduknya.
Waktu yang perlu ditempuh dari Kyoto ke Kota A tiga jam, Serena dan Ralphie duduk bersama tetapi sama sekali tidak berbicara.
Pagi jam satu, pesawat pun mendarat di bandara Kota A.
Serena yang ngantuk pun mengikuti dibelakang Ralphie untuk turun pesawat, karena dia sangat ngantuk jalanpun jadi sangat lambat.
Ralphie yang selama ini jalan dengan sangat cepat, tidak tahu kenapa dia memasuki salah satu tangan ke saku celana dan berjalan tidak cepat dan tidak lambat.
Setelah keluar dari ruang tunggu, cuaca dingin pu menyambut.
Angin menerpa Serena yang membuat rasa kantuknya pun menghilang.
Setelah melihat, dia baru menyadari bahwa diluar sana sedang turun salju.
Angin dingin yang membawa salju turun dari atas, jatuh kebawah yang membuat tanah basah lalu meleleh dan menghilang.
Kota A ternyata sudah mulai turun salju!
Serena menghela nafas didalam hati sambil melihat lurus kearah Felix yang datang menjemput sedang berbicara dengan Ralphie.
Dia sedang marah padanya alangkah baiknya jika ia tidak duduk bersamanya, tunggu dia pergi baru ia panggil taksi saja!
Mata Serena terasa gelap, baru saja ia akan berbalik badan. Terdengar suara Felix, “Nona Serena, perlu aku bantu angkat barangnya?”
Langkah Serena terhenti dan melihat kearah Felix, “Ngga perlu, terima kasih.”
Felix hanya berkata ‘Oh’, melihat Serena tidak bergerak, dia kembali berkata, “Nona Serena, Direktur Su dengang menunggu Anda.”
Serena melihat sekilas kearah Ralphie, kemudian berjalan kearah pintu tempat duduk depan, buka pintu, lalu duduk.
Ralphie sama sekali tidak berbicara sekata patah pun, tatapan matanya yang kosong, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan.
Nona Serena bukankah selama ini selalu duduk bersama Direktur Su di belakang? Kenapa sekarang duduk didepan?
Felix sudah merasakan ada yang aneh diantara Ralphie dan Serena.
__ADS_1
Apa yang sedang diberantemkan oleh Direktur Su dan Nona Serena? Tadi pagi berangkat bukankah masih baik-baik saja? Kenapa malam malah berantem begini?
Tentu saja dia tidak memiliki keberanian untuk menanyakan masalah Direktur Su, dia hanya diam-diam masuk kedalam mobil kemudian menyalakan mobil dan pergi meninggalkan bandara.