
Hello! Im an artic!
Dalam ruang baca tidak ada jawaban dari Ralphie, hanya ada suara barang-barang dibanting, Serena sangat cemas, ingin membuka lalu masuk ke ruangan tersebut, tetapi menemukan bahwa pintu dikunci oleh Ralphie.
Dia hanya bisa menggunakan sekuat tenaga untuk mengetuk pintu, memanggil Ralphie, “Ralphie, kamu kenapa? Kamu bukalah pintu sebentar…”
Hello! Im an artic!
Sayangnya Ralphie yang berada di dalam tidak menjawabnya, juga tidak membukakan pintu.
Pada waktu yang bersamaan, terdengar suara pelayan sedang menaiki tangga, melihat Serena mengetuk kamar Ralphie, tapi dalam kamar Ralphie tidak terdengar suara apapun, lalu langsung bertanya, “Nyonya muda, Tuan muda di dalam kamar kenapa?”
“Tidak tahu, pintu dikunci olehnya.”Serena sambil mengetuk pintu, sambil menggelengkan kepala.
Pelayan melihat ke arah pintu yang terkunci itu, lalu berkata: “Nyonya muda, saya punya kunci cadangan, saya ambil sebentar.”
Hello! Im an artic!
“Maaf merepotkanmu.”Serena mengangguk-anggukkan kepala
Pelayan setelah dengan cepat menjawab ‘tidak merepotkan’, sambil berjalan pergi mencari kunci.
Serena mengetuk pintu menyebut nama Ralphie, sambil menunggu pelayan mengambilkan kunci.
5 menit kemudian, pelayan sudah kembali, “Nona, kunci sudah saya ambil.”
“Biarkan saya membuka pintu.” Serena dengan terburu-buru mengambil kunci dari pelayan, memasukkan kunci ke dalam lubang pintu, lalu membukanya.
Begitu pintu dibuka, Serena terkejut.
Dalam kamar sudah tidak seperti bentuk awal, dekorasi mewah menjadi berantakan, dalam ruangan tersebut yang terlihat oke adalah tempat tidur, yang sedang Ralphie tiduri.
Mata Ralphie membawa kemarahan, wajahnya juga, seperti ada dendam diantara dia dan tempat tidurnya.
Untuk waktu yang lama Serena termenung, sebelum akhirnya kembali.
“Ralphie.”Serena menyebut nama Ralphie, baru ingin lari menuju Ralphie, tapi dihentikan oleh pelayan.
“Nyonya muda, Tuan muda sedang marah, anda jangan kesana.” Dengan cemas pelayan berkata kepadanya.
“Kamu tidak usah khawatir, saya pergi lihat, tidak apa-apa.” Serena melepaskan tangan pelayan tersebut, lalu menghamiri Ralphie.
__ADS_1
“Ralphie, kamu kenapa?” Serena berjalan mendekati Ralphie, ingin memegang tangannya, menghentikannya.
Baru saja dia menyentuh punggung tangannya, Ralphie seperti seorang yang tertusuk duri, lalu mengangkat tangannya dan melemparkannya.
Serena tidak ada persiapan, tubuhnya tidak stabil, jadi terlempar ke atas lantai.
Lantai penuh dengan pecahan barang yang dilempar Ralphie, Serena terjatuh diatas pecahan tersebut, tubuhnya menggunakan pakaian agak banyak jadi tidak terluka, hanya saja tangannya ketika tangannya menahannya, dia terluka.
Pelayan melihat Serena didorong oleh Ralphie ke lantai, dengan cepat lari untuk menolongnya, “Nyonya muda, anda baik-baik saja?”
Serena menahan sakit, menggelengkan kepala,”Saya tidak apa-apa.”
Pelayan ketika membantu Serena untuk berdiri, melihat luka di tangan Serena, lalu dengan cepat mengeluarkan suara, “Aiyaaa, Nyonya muda tangan anda terluka.”
“Saya tidak apa-apa, saya pergi lihat keadaannya.”Serena lalu berjalan lagi ke arah Ralphie, tapi pelayan takut Serena kembali terluka, lalu dengan erat memegang Serena.
“Nyonya muda, anda tidak boleh pergi, Tuan muda bisa melukai anda.”
“Tapi juga tidak bisa membiarkannya begitu saja.”Serena melihat Ralphie hatinya merasa sangat sakit.
Pelayan melihat Serena, lalu melihat juga Ralphie di atas tempat tidurnya, dalam kecemasan, berteriak: “Tuan muda, anda melukai Nyonya muda.”
Ketika melihat darah di tangan Serena, dia mengernyitkan matanya, dengan cepat pikirannya kembali.
Juga teringat dirinya yang melukai Serena, membuatnya terluka, alisnya mengernyit, lalu dia berdiri di samping Serena berkata kepada pelayan: “Apakah tidak lihat Nyonya muda terluka? Masih tidak pergi menelepon Dokter Chen?”
Pelayan belum sempat menjawab, Serena lalu berkata, “Hanya luka kecil, tidak perlu merepotkan Dokter Chen untuk kesini.”
“Dokter Chen memeriksa sebentar akan lebih baik.”Ralphie bersikeras untuk memanggil Dokter Chen datang.
Tetapi Serena tidak ingin merepotkan Dokter Chen, “Hanya luka kecil saja, besok juga akan baikan, tidak perlu merepotkan Dokter Chen.”
Pelayan melihat Tuan muda dan Nyonya muda, dengan suara pelan berkata: “Sebelumya nona kakinya pernah terluka, Dokter Chen memberikannya obat masih sisa agak banyak, bisa dipakai untuk Nyonya muda.”
Ralphie menganggukkan kepala, “Sana cepat pergi ambil.”
“Baik.” Pelayan menganggukkan kepala, dengan cepat keluar kamar, lalu mengambil kotak obat.
Setelah pelayan pergi, Ralphie mengantarkan Serena kembali ke kamarnya, kamarnya yang berantakan, dia tidak bisa mengobati Serena disana.
Setelah pelayan mengantarkan kotak obat, Ralphie lalu menyuruhnya untuk pergi.
__ADS_1
Hanya melihat dan membuka kotak obat, hanya mengambil obat yang diperlukan.
Lalu duduk di depan Serena, mengobati luka tangannya.
Luka yang disebabkan oleh pecahan kaca, meskipun ada beberapa luka pada Serena, tapi semuanya tidak begitu dalam.
Ralphie dengan hati-hati mengobati luka Serena, lalu mengoleskan salep.
Awalnya karena tahu kemarahan dan kebencian yang diakibatkan oleh Bibi Bella yang telah membunuh anaknya sendiri, juga karena hatinya sakit karena telah melukai Serena.
Setelah mengolesi salep, Serena akhirnya tidak tahan, lalu bertanya, “Sebenarnya ada apa? Membuatmu sampai semarah itu, membuat kamar menjadi berantakan.”
Mendengar perkataan Serena, Ralphie merasa ada yang menghentikan suaranya, sehingga tidak tahan lagi.
Bagian bawah matanya berkedip, lalu menjawab, “Hanya masalah perusahaan.”
Ralphie sebenarnya sudah tahu mengenai Bibi Bella, akan tetapi tidak ingin memberitahu kepada Serena.
Tidak hanya adalah karena Ralphie tidak ingin Serena tahu tentang kegugurannya, hal lain adalah Serena telah menganggap Bibi Bella sebagai ibunya sendiri, dia tidak ingin Serena tahu kebenaran dari Bibi Bella, dan menjadi sedih.
Ralphie tahu dengan sangat jelas, jika dirinya melakukan sesuatu terhadap Bibi Bella, Serena pasti tidak akan memaafkannya.
Jika benar, dia juga harus membalaskan dendam terhadap anak mereka.
Serena sekalipun tidak percaya kata-kata Ralphie, karena dia barusan melihat dengan mata kepalanya sendiri kemarahan Ralphie.
Sebenarnya adalah karena masalah apa, sampai membuat Ralphie begitu marah? Serena sangat ingin membantu Ralphie, tapi jelas-jelas Ralphie acuh tak acuh.
Ala kadarnya… Dalam hati Serena yang terdalam adalah kepahitan.
Sudah tahu dia tidak menyukaimu, masih berada di hadapannya. Sudah tahu dia tidak butuh perhatianmu, tapi masih saja peduli terhadapnya.
Menggigit bibirnya, Serena lalu berkata, “Jangan marah, karena permasalahan itu, kamu tenanglah.”
Meskipun Serena tidak tahu dia kenapa marah, tapi kata-kata ini secara langsung mengisyaratkan, secara diam-diam menggerakkan hati Ralphie.
Tubuhnya sedikit gemetar, lalu memeluk Serena ke dalam pelukannya.
Dia memeluknya dengan sangat erat, bahkan masih gemetar.
Ini membuat hati Serena, menjadi lunak, dia mengangkat tangannya ke pinggangnya, lalu meletakkan tangannya pada punggungnya, seperti sedang menghiburnya.
__ADS_1