
Hello! Im an artic!
Ralphie baru tahu bahwa alasan Serena tidak mau pergi ke keluarga Luo bukan karena ingin bertemu Ryan, tapi memang benar-benar tidak ingin kesana.
Beberapa saat kemudian Serena berkata lagi bahwa dia tidak bisa pergi kesana, jika Ralphie ingin pergi, dia menyuruhnya untuk pergi sendiri.
Hello! Im an artic!
Kalau Serena tidak pergi, kenapa dia harus pergi.
Sebenarnya Ralphie ingin mengajak Serena pergi ke keluarga Luo bukan karena ingin membuatnya tidak nyaman disana.
Hanya ingin tau kejadian waktu lalu Leonard hampir saja memukul Serena , dia sangat geram dan ingin memberikan balasan pukulan kepada Leonard.
Ketika dia ingin menjawab Serena, kalau dia tidak pergi, dirinya pun juga tidak pergi kesana, akan tetapi Serena sudah berbalik arah lalu masuk ke kamar.
Hello! Im an artic!
“Serena…” panggil Ralphie menyusulnya.
Pintunya sudah tertutup, Ralphie masih berada di luar kamar.
“Ser… Serena…” Ralphie mengetuk pintu memanggil-manggil dari luar kamar, didalam kamar Serena tidak merespon apapun.
Serena marah! Senyum pahit tergambar di wajah Ralphie.
Siapa yang memintanya pergi ke keluarga Luo bersamanya….
Ralphie masih berdiri di depan pintu kamar tapi tidak mengetok-ngetok pintu lagi. Kemudian dia meninggalkan tempat itu.
Mendengar langkah kaki Ralphie meninggalkan pintu kamar, mulut Serena menyeringai, dia pasti pergi ke keluarga Luo…..
Tak lama setelah Ralphie pergi, kakek datang menemuinya.
Kakek masuk ke kamar Serena, lalu dia sambil buru-buru bertanya: “Serena, kakek dengar kamu terluka? Apakah lukanya parah?”
Ternyata waktu lalu kakek mengetahui kalau Ralphie memanggil dokter Chen datang ke rumah untuk memeriksa Serena.
Mendengar perkataan kakek, Serena merasa sangat kaget.
Luka merah ditangannya itu bukanlah apa-apa.
“Itu…. kek. Aku tidak terluka.”
“Tidak terluka bagaimana? Jelas-jelas dokter Chen kesini.” Kakek sangat tidak percaya.
Setelah Serena meyakinkan Kakek bahwa dia tidak apa-apa, barulah dia meninggalkan Serena.
Ralphie keluar dari halaman rumah, lalu menelpon Ryan lagi untuk membujuknya mengantarkan barang milik Serena yang tertinggal.
__ADS_1
Sudah bertahun-tahun mereka saling kenal, bisanya jika tidak ada masalah mendesak, Ralphie tidak akan menelponnya, tiap kali menelponnya juga hanya sepatah dua patah kata saja. Tapi hari ini Ralphie menelpon Ryan sampai dua kali.
Ryan yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Ralphie dan Serena.
Sudah tidak heran lagi, karena tadi pagi Ralphie mengajak serena pergi dengan wajah yang cemberut.
Di perjalanan Ryan menerobos lampu merah beberapa kali, agar segera sampai di rumah keluarga Su.
“Ralphie, kamu dan Serena tidak bertengkar kan?”
Mendengar ucapan Ryan, Ralphie berpikir sikap dan perhatian Ryan terhadap Serena, dia diam sejenak lalu berkata, “Kamu berharap kami bertengkar?”
Ryan merasa bahwa jawaban Ralphie sangat aneh, kenapa dia sangat berharap dirinya dan Serena bertengkar?
“Ya pasti tidak berharaplah.”
Jawab Ryan membuat Ralphie yakin, wajahnya membaik.
“Ya kamu tidak ingin kami baik-baik saja.”
Apanya yang tidak ingin baik-baik saja? Ryan sangat heran, lalu dia teringat sesuatu dan berkata: “Oh ya Ralphie, besok pagi Isa sudah mendarat, apa kalian ada waktu untuk makan bersama?”
“Iya….” sebenarnya Ralphie ingin menjawab iya, oke. Tapi dia hanya berkata iya saja, dia baru menyadari bahwa yang ditanyakan oleh Ryan adalah dia dan Serena.
“Harus tanya Serena.” Maksud Ralphie ada tidaknya waktu Serena , dia harus tanya ke Serena lebih dulu.
Ryan awalnya khawatir kalau sampai Ralphie dan Serena bertengkar, tapi sekarang sudah tidak lagi, dia malah mengira Serena adalah istri yang sangat berkuasa.
Ryan mengangkat alisnya sambil berkata pada Ralphie, “Pasti boleh lah, coba tanya saja, aku tunggu jawabannya.”
Ralphie merasa wajah Ryan ada yang aneh, tapi kalimat yang dikatakannya tidak ada yang salah, lalu jawabnya: “Nanti aku kabarin.”
“Oke, hehe..” tawa Ryan mencurigakan bagaikan kucing mencuri ikan.
Ralphie mengerutkan kening: “Apa yang kamu tertawakan?”
Tentu saja menertawakannya karena istrinya sangat berkuasa! Tapi Ryan tidak berani mengatakannya dan hanya menjawab, “Tidak apa-apa.”
Tapi senyum dibibirnya tidak bisa dipercayai oleh Ralphie.
“Hah??” mata Ralphie melirik.
Ryan merasa dirinya sudah keterlaluan, lalu dia memutuskan untuk segera pergi.
“Eh… aku masih ada urusan. Barang milik Serena sudah aku berikan padamu, aku pergi dulu.”
Selesai berkata, Ryan menaruh tas milik Serena dan plastik belanjaan, lalu pergi meninggalkan Ralphie.
Ralphie merasa ada yang aneh dengan Ryan, tapi dia tidak ambil pusing. Lalu membawa tas dan plastik belanja masuk ke rumah.
__ADS_1
Serena terkejut melihat Ralphie masuk kedalam.
Bukankah dia pergi ke keluarga Luo, kenapa begitu cepat?
Serena bertanya dengan keraguan, “Kamu sudah pulang?”
Ralphie mengira Serena bertanya dia sudah kembali dari halaman depan, dijawabnya “Sudah.” Lalu memberikan tas dan plastik yang dibawanya, “Ini punyamu.”
Bukankah dia pergi ke keluarga Luo? Kenapa membawa barangnya?
Mata Serena menatap heran, barulah dia berpikir, mungkin Ryan yang mengantarkannya, dan diletakkan di depan rumah. Lalu saat Ralphie kembali, dia membawakannya masuk.
“Oh, terima kasih.” Serena mengambil tas dan plastik dari tangan Ralphie.
Terima kasih? Terima kasih karena sudah menelpon Ryan? Ralphie terdiam sejenak lalu menjawab, “Sama-sama, tidak masalah.”
Serena menjawab “em…” lalu lanjut berkata, “oh ya…..”
Belum selesai berkata, handphone di dalam tasnya berdering.
“Aku angkat telepon dulu.” Kata Serena pada Ralphie, lalu dia mengambil handphone dari dalam tasnya.
Ternyata yang menelpon adalah bibi Bella.
“Hallo, bibi Bella…..” Serena mengangkat telfon sampai kira-kira setengah jam lamanya.
Meskipun hanya bisa mendengar kata-kata Serena saja, tapi Ralphie bisa melihat ekspresi dan kalimat Serena yang menunjukkan hubungan akrab dengan bibi Bella.
Waktu lalu, ketika berada di keluarga Luo, bibi Bella benar-benar terlihat sangat perhatian pada Serena.
Ralphie teringat bahwa dulu Serena pernah bercerita padanya, bibi Bella ini begitu sangat baik padanya, dia adalah ibu tiri yang baik.
Tapi, apakah dia melupakan sesuatu?
Pada saat ini Ralphie memang belum mengetahuinya, dia lupa sesuatu persoalan yang sangat penting, yang akhirnya menyebabkan penyesalan dalam hidupnya.
Serena menutup teleponnya, dia melihat Ralphie masih berdiri ditempat yang sama, dia merasa tidak enak dengannya, “Maaf, aku telponnya terlalu lama.”
“Tidak apa-apa.” Jawab Ralphie mengangguk.
“Em..” jawab serena mengangguk juga, “Oh ya aku ingin bilang kalau kemarin aku menggesek 88.000 yuan menggunakan kartumu.”
Serena merasa kemarin dirinya memakai uang Ralphie banyak, jadi dia harus mengatakan ini pada Ralphie.
Ralphie tidak menyangka ternyata ini yang ingin dikatakan Serena, dia terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kartu itu sudah milikmu, pakai saja.”
Maksudnya, kartu itu sudah jadi milikmu, silahkan gesek sesukamu.
“Ha… okelah.” Serena merasa sudah banyak bertanya padanya.
__ADS_1