
Hello! Im an artic!
Di depan kasir, pelayan bertanya sambil tersenyum, “Nona, ada yang bisa saya bantu?”
“Minta bill ruang 121 ya.” Serena menjawab dengan senyuman kecil.
Hello! Im an artic!
Pelayan menganggukkan badan dan mulai menghitung, kemudian keluar struk dari mesin tersebut, dan memberikannya kepada Serena, “Semuanya 16 Ribu Yuan.”
Waduh, hanya beberapa sayur saja sampai puluhan ribu.
Serena sudah tidak mampu berdebat lagi.
“Baiklah.” Dia mengangguk dan membuka resleting tasnya, kemudian mengambil dompet dari dalam, membukanya dan baru saja mengeluarkan sedikit uang tunai dan kartu debit, sebuah tangan melewati bahunya dan menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam, “Gesek saja ya.”
Hello! Im an artic!
“Hah?” Serena berbalik dan melihat Ralphie dengan wajah tak berekspresi.
Serena terkejut dan diam beberapa detik, baru berkata, “Tuan Su, malam ini biar saya yang traktir….”
Ralphie melihat uang cash dan kartu di tangan Serena, kemudian mengatakan dua kata dengan dingin, “Tidak perlu”.
Menyadari pandangan Ralphie, Serena tiba-tiba menjadi pucat.
Dia mengangguk dan menundukkan kepala, kemudian perlahan memasukkan kembali uang dan kartu itu ke dalam tasnya.
Ralphie melihat dengan jeli setiap gerak gerik Serena, alisnya terangkat, baru saja ingin mengatakan sesuatu, pelayan itu pun mengembalikan kartunya.
Dia mengambil kembali kartu itu dan berbalik kemudian pergi.
Setelah berjalan dua langkah dan melihat Serena tetap tidak bergerak, Ralphie menghentikan langkahnya dan melihat Serena, “Tidak mau pergi?”
Mendengar suara Ralphie, Serena mengangkat kepala, melihat laki-laki itu sedang menunggunya, dia pun menggigit bibir dan mengikutinya.
Melihat Serena sudah berjalan menghampiri, Ralphie pun melanjutkan langkahnya, berjalan lurus menuju pintu keluar.
__ADS_1
Dua orang berjalan bersama-sama, satu di depan dan satu di belakang, saat berjalan sampai pintu keluar, Serena berhenti disana dan berkata, “Tuan Su, sudah sangat malam, saya pulang dulu.”
Ralphie berbalik badan, menatap Serena selama beberapa detik dan hanya menjawab “Ya”.
Serena memaksakan diri tersenyum kepadanya, dan berjalan hingga ke tepi jalan sambil menunggu taksi.
Ralphie terdiam menatap bayangannya, hingga sebuah taksi berhenti di depan Serena.
Saat Serena membuka pintu taksi dan bersiap-siap naik, Ralphie berlari dengan langkah yang sangat besar, sebelum Serena naik ke atas mobil, dia berhasil meraih tangannya dan mencegatnya.
“Aaa..” Serena terkejut, saat melihat jelas orang itu, dia pun bertanya, “Ada masalah apa?”
Ralphie sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Serena, dengan wajah tanpa ekspresi dia menarik Serena hingga sampai ke parkiran.
Saat tiba di depan mobilnya, dia membuka pintu mobil dan mendorong Serena masuk ke dalam, kemudian langsung menutup pintu.
Ralphie berputar sampai ke pintu satunya dan masuk, tanpa melihat Serena, dia langsung menginjak gas hingga penuh dan mobil pun melaju dengan kencang.
Tidak ada percakapan apapun antara mereka berdua, suasana dalam mobil terasa sangat aneh.
Serena duduk di samping Ralphie, dia dapat melihat dan merasakan aura dingin dan cuek yang terpancar dari laki-laki itu.
Serena diam-diam melirik Ralphie.
Kedua tangan laki-laki itu berpegang pada setir mobil, pada wajahnya yang halus dan lembut terlihat kecuekan yang dalam, bibirnya sungguh rapat, terlihat sama sekali tidak berekspresi.
Setengah jam kemudian, mobil perlahan behenti di Gallowen Manor.
“Terima kasih telah mengantarku.” Serena berterima kasih dan mendorong pintu mobil kemudian turun.
Saat Serena menutup kembali pintu mobil, Ralphie yang duduk di kursi supir tiba-tiba berkata, “Saya lupa jam karena ada rapat.”
Serena menghentikan gerakan menutup mobil dan kembali menoleh ke dalam mobil.
Ralphie menyampingkan kepala melihat Serena, kemudian mengulangi perkataannya dengan jelas, “Saya telat, karena saya lupa jam.” Inilah alasan mengapa suasana hati Serena berubah yang disimpulkan oleh Ralphie sepanjang perjalanan tadi, dan Ralphie sungguh tidak sadar, dia salah.”
Serena menunduk dan berkata, “Saya tahu anda sangat sibuk.”
__ADS_1
Ralphie melihatnya, alis matanya pun mengerut dengan hebat, “Kamu……” Tadinya Ralphie ingin menanyakan apa penyebab dia seperti itu, tetapi malah tidak mampu mengatakannya, terakhir berkata, “Kamu masuk saja.”
Serena menjawab dengan gumam, kemudian menambahkan kalimat “hati-hati di jalan”, baru menutup pintu mobil dan berjalan ke dalam kawasan tempat tinggalnya.
Ralphie melihat Serena masuk hingga bayangnya menghilang, kemudian baru menghidupkan mobil dan pergi.
Setelah pulang ke villa, dia tidak pergi mandi seperti biasanya, tetapi langsung pergi ke ruangan kerja untuk menelepon Felix.
Felix pun terbangun dari mimpinya.
Di tengah setengah sadarnya itu dia mengambil handphone di samping ranjang. Membuka mata setengah dan melihat layar handphone, saat melihat nama Direktur Ralphie, dia spontan menjadi sangat sadar dan kantuknya hilang seketika.
“Direktur Ralphie?” Baru selesai berkata, terdengar suara datar dari hanphone itu, “Apakah kamu tahu Restoran besar di kota A?”
“Tahu, tahu.” Omong kosong, sekalipun dia ngigau, selamanya tidak akan melupakan restoran besar di kota A.
“Besok pagi sebelum ke kantor, saya ingin melihatnya berubah menjadi usaha lain.”
Phiang…..
Kepala Felix langsung seperti di jatuhkan ke lemari dekat ranjang, mengeluarkan suara yang lumayan nyaring.
Besok pagi sebelum ke kantor harus membuat restoran besar kota A berubah menjadi usaha lain? Apakah dia sedang bermimpi? Pasti sedang mimpi! Kalau tidak bagaimana mungkin Direktur Ralphie berkata seperti ini? Felix terus menghibur diri sendiri.
Sayangnya Ralphie tidak berencana membuat dia merasakan seperti mimpi, kemudian pun menambahkan, “Beri saya hasil sebelum jam 8.”
Sebelum jam 8 harus ada hasil?
Tunggu sebentar, ini sungguh bukan mimpi!
Kesalahan apa yang telah dilakukan restoran besar kota A? Sehingga membuat Direktur Ralphie kepikiran terus walau larut malam.
Jika Felix tahu penyebabnya hanya karena salah satu pelayan di restoran besar kota A mengusir Serena, apakah dia akan menangis?
“Direktur Ralphie….” Felix bertanya sambil menelan air liur, “Tidakkah terlalu cepat?”
“Kenapa? Kamu merasa waktunya terlalu lama? Oh, baiklah, sebelum pagi, saya mau melihat ada hasil.” Suara Ralphie sangat datar.
__ADS_1
Arti dari perkataannya adalah, hal kecil seperti ini saja tidak becus, dengan begitu kamu juga tidak seharusnya menjadi asistennya lagi, lebih baik langsung dikeluarkan.
Felix menjawab dengan cepat: “Tidak masalah, pasti beres.”