
Hello! Im an artic!
“Em….” Ralphie perlahan membuka matanya.
Matanya terbuka lebar, tidak terlihat seperti orang mengantuk.
Hello! Im an artic!
Serena terdiam, dan kemudian berkata, “Aku…. tadi melihatmu tertidur di sofa lalu membangunkanmu.”
Setelah beberapa detik, Ralphie menjawab, “Aku tidak sengaja tertidur.”
Serena mengangguk dan berkata, “Kembalilah ke kamarmu untuk tidur, jika tidur di sini, Kamu akan kedinginan.”
“Oke,” walaupun sudah menjawab iya, tapi ia tidak segera bangun.
Hello! Im an artic!
Dia melihat keluar jendela, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Serena berdiri di sana sebentar, lalu pergi ke dapur dan membuat dua gelas susu.
Dia menyodorkan segelas susu kepada Ralphie, “Minumlah susu panas ini lalu lanjut tidur.”
“Terima kasih.” Ralphie mengulurkan tangannya untuk mengambil susu itu, lalu memberi isyarat kepada Serena untuk duduk di sampingnya.
Sambil memegang gelas susu, Serena langsung duduk di sofa.
Keduanya menggenggam gelas masing-masing, dan walaupun tidak ada yang berbicara, suasana malam itu terasa hangat.
Setelah menghabiskan susu, Ralphie berdiri dan berkata, “Sekarang sudah semakin malam, aku akan mencuci gelas. Kamu naik duluan untuk istirahat.”
Serena belum sempat menjawab, Ralphie langsung mengambil gelas itu dari tangannya.
Ralphie membawa gelas ke dapur, mencucinya, dan menyimpannya kembali ke dalam lemari, kemudian berjalan keluar dari dapur.
Ketika dia kembali ke ruang tamu, Serena sudah tidak ada di sana.
Ralphie naik ke atas.
Sebelum masuk ke kamarnya, ia berhenti dan berbalik ke kamar Serena yang berada tepat di samping kamarnya.
Dia berdiri sambil terdiam beberapa detik, lalu meraih gagang pintu dan memutarnya.
Sama seperti malam waktu dia mengalami mimpi buruk, pintu kamarnya tidak terkunci.
Bukan kebetulan itu terjadi satu dua kali. Ralphie mengerutkan keningnya, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan.
Serena sedang berbaring di tempat tidur, ia tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Tidak tahu sedang bermimpi apa, Serena terlihat sedang tersenyum.
Posisi tidurnya terlihat seperti kurang nyenyak, kedua tangan menggenggam selimut, dan separuh badannya tidak terbungkus oleh selimut.
Ralphie dengan hati-hati memperbaiki posisi tidurnya, lalu menutupi badan Serena dengan selimut.
Membantu mematikan lampu kamarnya, lalu pergi.
Ketika Ralphie berjalan pergi, ia mendengar Serena mengigau, “Kembang api itu sangat indah….”
Tubuh Ralphie gemetar, dan ekspresi wajahnya seketika menjadi prihatin.
Serena kali ini tidur dengan sangat nyenyak hingga baru terbangun jam 10 pagi pada keesokan harinya.
Ketika dia turun ke bawah, Ralphie sedang berbicara telepon.
Serena takut mengganggunya, ia berhenti sejenak.
Tampaknya Ralphie menyadari keberadaan Serena, ia kemudian memutar badannya untuk melihat.
Melihat Serena ada di sana, dia sedikit tersenyum, lalu segera mengakhiri teleponnya “Aku pulang nanti malam, sampai jumpa.” lalu ia menutup teleponnya.
“Nanti malam pulang? Pulang ke mana?” Serena bertanya kebingungan.
Dengan masih memegang ponselnya Ralphie berjalan ke arah Serena, “Sudah bangun?”
“Ini sudah siang, kenapa kamu tidak memanggilku bangun?” Serena bertanya.
“Iya, agak lapar.” jawab Serena dengan ragu. “Tapi di sini tidak ada pelayan, apa tidak terlalu repot?”
Ralphie menggelengkan kepalanya, “Tidak, di dalam kulkas ada makanan, Kamu mau makan apa?”
“Terserah.” Serena menjawab tanpa ekspresi.
Ralphie menuju ke dapur, tidak lama kemudian ia keluar dari dapur dan membawa sepotong kue tiramisu yang mereka beli semalam.
“Makan dulu ini sebagai pengganjal perut.”
“Ok, terima kasih.” Serena menerima kue itu dengan senang dan mengucapkan terima kasih.
Tanpa menjawab, Ralphie langsung kembali ke dapur.
Serena segera menghabiskan kuenya, lalu menyusul Ralphie ke dapur.
Di dalam dapur yang mewah itu, Ralphie yang menghadap ke jendela terlihat sedang sibuk.
Serena tidak terbiasa dengan pemandangan seperti ini.
Dulu, di Villa Shadewoods Manor, setiap kali ke sana, ia selalu melihat pemandangan seperti ini.
__ADS_1
Saat itu, ia belum memiliki perasaan apa-apa, ia hanya tersentuh karena Ralphie membuatkan makanan untuknya.
Setelah sekian lama, ketika melihat pemandangan seperti ini lagi, ia baru menyadari betapa ia merindukan saat-saat itu.
Dulu ketika Ralphie sedang memasak, meskipun Serena sama sekali tidak bisa masak, ia selalu bersemangat pergi ke dapur untuk membantu Ralphie.
“Untuk apa Kamu ke sini?” tiba-tiba Ralphie bertanya seperti itu.
Ketahuan dirinya sedang memperhatikan diam-diam, Serena sedikit malu dan berkata, “Ee… aku hanya mau memastikan, mungkin kamu butuh bantuan….”
Ralphie menjawab “Oh…” kemudian membungkuk untuk mengambil keranjang dari bawah dapur, lalu memberikan kepada Serena, “Ini coba kamu pilah-pilah dan singkirkan daun-daun sayur yang sudah tua.”
Sambil memegang hidungnya, Serena mengambil keranjang itu dan berkata “Oh, baiklah.”
Ralphie tidak menyadari ada yang aneh dari Serena, ia berbalik dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah 30 menit berlalu, makanan sudah disajikan di atas meja. Meskipun tidak sebanyak makan malam kemarin, tapi aromanya jauh lebih lezat.
Sudah sangat lama tidak makan masakan Ralphie, Serena hampir saja menggigit lidahnya.
Ia agak menyesal karena sebelumnya sudah makan kue. Sekarang ia merasa agak kekenyangan.
Serena pikir Ralphie pasti sengaja memberinya kue, lalu melihat Ralphie dengan tatapan sedikit kesal.
Ralphie tidak mengerti kenapa Serena menatapnya seperti itu, dengan kebingungan ia bertanya, “Kenapa?”
“Kenapa tadi kamu menyuruhku makan kue?” Serena bertanya dengan penasaran.
Ralphie mengangkat alis, “Kamu tidak suka kue itu?”
“Aku menyalahkanmu karena menyuruhku makan kue, sekarang aku tidak bisa makan.” Serena menggerutu.
Mendengar perkataan Serena yang kekanak-kanakan, Ralphie tidak tahu harus sedih atau tertawa. Bagaimanapun, Serena sangat menyukai masakan Ralphie, Ralphie pun merasa senang dan berkata, “Aku akan memasaknya lagi lain kali.”
Mendengar Ralphie menjawab seperti itu, mata Serena berbinar, “Untuk makan malam?”
“Tidak mau.” Ralphie menggelengkan kepalanya.
Mendengar Ralphie mengatakan tidak, wajah Serena langsung berubah menjadi cemberut, “Baiklah….”
Melihat wajah Serena cemberut, Ralphie tidak tahan, dan langsung menjelaskan, “Nanti malam aku harus pulang ke rumah Keluarga Su untuk merayakan malam tahun baru bersama.”
Mendengar Ralphie mengatakan malam tahun baru, Serena langsung teringat, hari ini adalah hari terakhir di tahun ini.
“Uh… aku lupa.” kata Serena dengan canggung.
Ralphie mengangguk, “Ya, aku akan merayakan tahun baru di rumah Keluarga Su malam ini.”
“Hm, baiklah.” Serena mengangguk.
__ADS_1
Ralphie tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya menatapnya dalam.
Saat itu Serena tidak mengerti mengapa Ralphie menatap seperti itu. Setelah tiba di rumah keluarga Su, barulah ia mengerti apa arti tatapan Ralphie malam itu.