
Hello! Im an artic!
Serena melewati masa sakit hingga dua belas jam dan akhirnya melahirkan seorang anak perempuan dengan berat badan 4 kg.
Karena terlalu lelah, belum sempat dia melihat anaknya, dia sudah pingsan……
Hello! Im an artic!
Ketika Serena sadar, dia melihat Ralphie yang duduk dipinggir kasur dan segera bertanya, “Dimana anak kita?”
“Lagi tidur.” Jawab Ralphie sambil menunjuk ke arah kasur kecil disamping.
Serena baru menyadari tangan sebelah kiri Ralphie ada sebuah kasur kecil.
Serena sedikit menaikan kepala melihat kearah kasur, tentu saja dia melihat seorang anak dengan kulit kemerahan, berkerut dan memejamkan mata sedang berbaring di dalam kasur.
Hello! Im an artic!
“Kenapa merah-merah? Kenapa berkerut?” Tanya Serena bingung.
Ralphie menggengam tangan Serena, dengan lembut berkata, “Baru lahir, nanti lewat dua hari tidak akan gitu lagi.”
“Baguslah kalau gitu.” Serena menganggukan kepala, pandangannya kembali melihat kearah anak kecil itu, setelah itu bertanya, “Kapan dia akan bangun?”
“Baru saja tertidur, mungkin nanti.” Serena menggengam lagi tangan Serena, lalu mencium tangannya, kemudian berkata, “Serena, kamu sudah berusaha, terima kasih.”
“Bodoh, demi anak kita, semua itu memang sudah seharusnya……”
Serena keluar dari rumah sakit setelah tiga hari.
Setelah keluar dari rumah sakit, dia langsung pulang ke rumah kakek.”
Kakek tidak enak badan, tetapi ingin bertemu cicit, Serena dan Ralphie akhirnya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kakek.
Tentu saja rumah utama keluarga Su menjadi ramai, orang-orang pada datang untuk melihat Serena dan anaknya.
Balik kerumah utama keluarga Su dua hari setelahnya, Ryan datang dengan rasa berkecil hati.
Karena tahu Ryan belum menemukan Kathryn, sikap Serena menjadi tidak begitu baik, “Kamu ngapain datang?”
Ryan tahu ini semua ulahnya sendiri, jadi dia tidak berani berkata apapun, hanya datang melihat anak sebentar lalu pergi.
Setelah Ryan pergi, Serena bertanya pada Ralphie, “Sedikit jejak memangnya tidak ada?”
“Sudah cek ke Kota S, Ryan sudah cari seluruh kota S, tetap saja tidak ketemu orangnya.” Jawab Ralphie.
“Heng, itu salah dia sendiri.” Serena berkata seperti itu, tetapi hatinya sangat mengkhawatirkan Kathryn.
__ADS_1
Karena bagaimana pun kondisi tubuhnya seperti itu kalau dia ingin bersembunyi, melahirkan anak, berarti sekarang dia sangat berbahaya.
Karantina orang baru melahirkan bagi orang barat harus seratus hari, bagi orang selatan harus satu bulan, tetapi detailnya itu harus berdasarkan pendapat keluarga masing-masing.
Selama karantina, banyak hal yang dilarang, banyak pantangan, membuat Serena menjadi pusing, Serena sangat mensyukuri diri sendiri karena dia dibagian selatan, jadi hanya perlu waktu satu bulan, bukan dibagian barat yang memerlukan waktu seratus hari.
Awalnya Kakek berencana mengadakan acara besar karena sudah full satu bulan, tetapi Serena tidak terlalu suka.
Bagi Serena, satu keluarga berkumpul dan bersenang-senang jauh lebih baik, daripada kedatangan banyak orang asing, dia merasa tidak perlu.
Ralphie tentu saja akan menghormati pendapat Serena.
Akhirnya ketika full satu bulan itu, selain keluarga Su, hanya Isa mereka yang hadir.
Ryan tidak hadir karena menemani Kathryn di Negara M.
Ya, Ryan sudah menemukan Kathryn.
Kondisi Kathryn saat ini cukup parah, jadi Ryan hanya bisa membawanya ke Negara M, sekarang kondisi hubungan mereka cukup baik.
Setelah satu bulan, Serena yang telah menghabiskan satu bulan penuh, akhirnya merasa bebas.
Ralphie merasa kasihan padanya, jadi akhirnya mengajak dia keluar.
Setelah masuk mobil, Ralphie bertanya, “Mau kemana?”
Ralphie mengerti alasan Serena ingin pergi ke Peninsula hotel, jadi Ralphie hanya tersenyum, “Oke.”
Memberhentikan mobil ditempat parkiran Peninsula hotel, Serena dan Ralphie bergandengan tangan, berjalan ditempat hari itu Serena berdiri.
“Saat itu, kamu kenapa bersedia kasih aku masuk mobil kamu?” Jangan bingung kalau Serena bertanya hal itu, karena sejujurnya bukan style Ralphie yang bersedia memberhentiakn mobil dan membiarkan orang lain sembarang masuk mobilnya.
“Perasaan pertama kali, gimana ya ngomongnya?” Jawab Ralphie.
Serena dengam wajah semangat melihat kearah Ralphie, “En?”
Ralphie tersenyum dengan malu-malu dan menjawab, “Karena pengen lebih deket sama kamu.”
“Kamu beneran ada pemikiran seperti ini?” Serena terkejut, mau gimana, selama ini Ralphie selalu menunjukan sisinya yang sok cool itu.
Serena awalnya mengira, perasaan pertama, Ralphie tidak membencinya saja sudah cukup baik.
Ralphie mengangkat tangan, mencubit gemas hidungnya dan bertanya, “Kalau tidak, kamu kira apa?”
“Aku pikir setidaknya kamu tidak benci aku.” Jawab Serena sambil menjulurkan lidah.
“Bodoh……” Ralphie memanjakan Serena dengan mengelus pelan kepala Serena, kemudian bertanya, “Kalau saja ada satu kali kesempatan untuk kembali ke pertemuan pertama kita, kamu tahu apa yang akan aku lakukan?”
__ADS_1
“Apa?” Tanya Serena penasaran.
Ralphie tidak berbicara, dia berjalan kedepan dua langkah, balik badan menghadap ke Serena.
Serena bingung melihatnya, “Kenapa?”
Ralphie menggelengkan kepala, kemudian dengan sopan mengulurkan tangan kana kearah Serena, “Halo, nama aku Ralphie, bisakah kita menjadi teman?”
Serena bengong, kemudian baru mulai memerankan peran dia.
Serena menggengam tangan Ralphie dan berkata: “Halo, nama aku Serena, senang bisa berteman dengan kamu.”
Selesai berbicara, keduanya saling berpandangan dan tertawa, semuanya terdiam……
Setelah bengong beberapa waktu dijalan, Ralphie dan Serena akhirnya berjalan kearah tempat parkir.
Baru saja sampai di tempat parkir, mereka mendengar ada suara ribut.
“Sengaja memasang wajah seperti itu didepan temanku, maksud kamu apa?” Seorang perempuan sedang emosi pada seorang pria.
Pria ini orang tak asing bagi Serena dan Ralphie, oke, sebenarnya bisa dibilang dulu ‘musuh’ Ralphie, yaitu Alfred.
Serena tak menyangka, Alfred yang dulunya cukup keren, sekarang bisa berubah seperti sekarang ini.
“Tidak ada maksud apa-apa.” Jawab Alfred dengan datar.
Perempuan yang mendengar perkataan Alfred, langsung semakin emosi, mendorong Alfred, “Oke. Alfred, aku memberikan kamu mas kawin yang banyak, sekarang kamu merasa risih sama aku, jadi memperlakukan aku seperti ini……”
Wajah Alfred tidak enak lalu berteriak: “Didepan orang banyak kaya gini, kamu mau ngapain?”
“Aku……” Perempuan itu sepertinya kaget dan akhirnya menghentikan gerakannya.
“Kalau ada yang mau dibicarakan, ngomong saja dirumah.” Selesai Alfred berbicara, dia dengan kesal melihat ke arah sekitaran orang, “Lihatin apa? Apa kalian tidak pernah berantem antara suami istri……”
Ketika melihat Serena, Alfred terdiam, “Serena?”
Awalnya Serena tidak ingin bertegur sapa dengan Alfred, tetapi siapa sangka Alfred akan memperhatikannya……
Apa boleh buat, dia hanya bisa menarik Ralphie kesana.
“Sudah lama tidak ketemu, Alfred.” Serena menyapa Alfred, kemudian menganggukan kepala kepada perempuan yang berada disamping Alfred.
“Bukankah dia……” Perempuan disamping Alfred menunjuk kearah Serena, baru saja akan berbicara, Alfred langsung menahannya, “Dia adik kelas aku waktu kuliah.”
Perempuan itu melihat sekilas kearah Alfred, kemudian menganggukan kepala kearah Serena, “Halo.”
Walaupun Serena merasa aneh, tetapi dia juga tidak berpikir banyak dan membalasnya, “Halo.”
__ADS_1