I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 22 Ralphie Sangat Keras Kepala


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena mengira Ralphie akan menanyakan lokasi acara pernikahan, dengan cepat dia berkata, “Acara pernikahannya ada di lantai 3.”


Ralphie malah tidak memperdulikannya dan langsung menariknya hingga ke meja resepsionis, berkata dengan suara dingin, “Siapkan kamar terbagus untuk saya.”


Hello! Im an artic!


“Tidak perlu….” Serena yang tadinya ingin berkata tidak perlu menyiapkan kamar, tetapi karena wajah Ralphie yang tidak enak dipandang itu, dia lebih baik mengurungkan kelanjutan kalimatnya.


Petugas disana juga kaget melihat ekspresi Ralphie, dengan cepat memasukkan data mereka dan memanggil seorang pelayan untuk mengantar mereka.


Mereka naik lift dan langsung sampai ke lantai teratas.


Pelayan mengantar mereka berjalan menelusuri sepanjang lantai dan akhirnya berhenti di depan sebuah kamar.


Hello! Im an artic!


Pelayan menggesekkan kartu untuk membukakan pintu mereka, setelah menyalakan lampu di dalam kamar, dia pun keluar dari kamar itu.


Ralphie menilai kamar itu dengan teliti, setelah itu baru melepaskan tangan Serena, berkata sambil melepas jas hitamnya, “Pergi mandi.”


Mandi? Memangnya dia…. Serena melihat Ralphie yang sedang membuka pakaian, spontan terkejut.


Ralphie tidak tahu isi pikiran Serena, dia meletakkan jas itu di sofa, kemudian mengeluarkan handphone dari dalam saku celana, membukanya, dan menelepon seseorang.


Dia berkata dengan orang di balik telepon “Dalam waktu setengah jam, antarkan pakaian perempuan baru ukuran M ke kamar nomor 666 di Hotel Pearl”, kemudian dengan tegas menutup telepon.


Mengantarkan pakaian perempuan? Serena tercengang, dia menunduk melihat pakaiannya yang basah, saat ini baru sadar saat Ralphie menyuruhnya mandi, itu agar dia melepaskan pakaiannya yang basah, dan pergi berendam di kamar mandi, bukan seperti yang dia pikirkan…. dia sungguh telah berpikiran buruk terhadap Ralphie.


Ralphie menoleh dan melihat Serena masih mengenakan pakaian basah berdiri disana, langsung berkata dengan sedikit kesal: “Ngapain masih berdiri disana? Cepat pergi mandi! Kamu mau masuk angin?”


Serena melihat sepertinya Ralphie tidak marah lagi, hatinya pun menjadi sedikit lega.


Dia langsung tersenyum kepada Ralphie, dan berbalik badan menuju ke kamar mandi.


Setelah melepaskan pakaiannya yang basah, Serena langsung mandi kilat dengan air panas, setelah mandi dia menemukan pengering rambut di lemari dalam kamar mandi, tetapi tidak menemukan stop kontak disana.


Dia merasa ragu sejenak, kemudian membawa pengering rambut itu sambil keluar kamar mandi.

__ADS_1


Ralphie sedang memainkan handphone di sofa, mendengar suara langkah kaki, dia mengangkat kepala dan melihat Serena keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah.


Serena mengangkat tinggi alat pengering rambut dan berkata: “Di dalam tidak ada stop kontak.”


Ralphie tidak berkata apa-apa, hanya melihat seisi ruangan kamar dan terakhir menunjuk stop kontak dekat sofa yang sedang dia duduki, “Disini.”


Serena menjawab “Ya”, kemudian mencolokkan pengering rambut ke stop kontak itu dan mulai mengeringkan rambutnya.


Awalnya dia merasa tidak tenang, dia takut suara pengering rambut akan mengganggu Ralphie, tetapi melihat Ralphie tetap duduk tenang bermain handphone, hatinya pun menjadi lebih tenang.


Serena belum selesai mengeringkan rambut, suara bel kamar sudah berbunyi.


Ralphie menoleh melihat Serena sekilas, meletakkan handphone dan berjalan menuju pintu itu.


“Direktur Ralphie, ini pakaian yang anda minta.” Felix datang membawakan beberapa kantong pakaian untuk Ralphie.


Felix sungguh bernasib malang, tadinya dia mengira dengan menyelesaikan pekerjaan di Negara M lebih awal, Direktur perusahaannya akan meliburkannya beberapa hari.


Ternyata belum setengah hari dia beristirahat, Direktur sudah menelepon dan memintanya membeli pakaian perempuan sekaligus mengantarkannya ke kamar itu.


Saat dia terbengong, dengan segera membelikan apa yang diminta dan mengantarnya ke alamat yang disebut.


Mata Felix melihat seisi ruangan kamar hotel, berencana melihat perempuan rahasia milik Direktur Ralphie.


Melihat Felix masih belum pergi dan terus melihat ke dalam kamar, Ralphie mengerti apa maksudnya.


Ralphie menoleh melihat kamar itu dan bertanya dengan nada datar, “Masih ada urusan?”


Tentunya Felix tidak berani mengatakan ingin melihat gadis pujaan Ralphie, dia hanya menggelengkan kepala berkata: “Tidak, tidak ada lagi.”


Ralphie menjawab “Ya”, dan melihat Felix dengan cuek dan dingin.


Felix yang dilihat seperti itu merasa mati rasa, dengan panik dia berkata “Direktur Ralphie, saya masih ada urusan lain” dan langsung meninggalkan tempat itu.


Ralphie menutup pintu, dan berjalan ke dalam kamar, memberikan kantong-kantong itu kepada Serena, “Ini pakaianmu.”


Serena menjawab “Terima kasih” dengan suara pelan, kemudian menerima kantong itu dan masuk ke dalam kamar mandi.


10 menit kemudian, Serena selesai mengenakan pakaian dan berjalan keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Ralphie melihat pakaian Serena dari atas ke bawah, bawah ke atas, pas sekali, dan modelnya juga bagus.


Ternyata selera Felix lumayan juga.


Serena tidak tahu pemikiran Ralphie, menyadari Ralphie melihatnya terus, dia mengira ada yang tidak beres, dengan segera dia menunduk melihat diri sendiri, dan melihat sekali lagi.


“Ayo, kita jalan.” Ralphie berkata kepada Serena dan jalan duluan.


Serena mengambil tas di sofa dan mengikuti langkah Ralphie.


Keluar dari kamar hotel, menelusuri koridor yang panjang, kemudian masuk ke lift dan tiba di lantai 3 tempat acara pernikahan diadakan.


Saat keluar dari lift, Ralphie tidak melangkah cepat seperti biasanya, kali ini dia memperlambat langkah dan berjalan dengan santai di samping Serena, kemudian pun mengisi buku tamu di acara pernikahan itu.


Selesai mengisi buku tamu, Serena dan Ralphie memasuki ruangan utama, tiba-tiba telepon Ralphie berdering.


Serena juga menghentikan langkahnya, kemudian menoleh berkata kepada Ralphie: “Kamu pergi angkat telepon dulu saja, saya tunggu kamu di dalam.”


Ralphie menjawab “Ya”, dan mengeluarkan handphone dari dalam saku, mengangkat telepon sambil berjalan di koridor yang panjang itu.


Serena melihat punggung Ralphie dengan tatapan kosong selama beberapa detik, kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang utama tempat acara pernikahan.


Saat masuk ke dalam, Serena menyapa 2 orang baru disana, kemudian berjalan hingga ke area teman-teman lamanya.


Belasan perempuan di kelas juga ikut kemari, dan semuanya membawa pendamping sendiri.


Maggie datang membawa Alfred.


Serena melihatnya dengan santai, kemudian mencari dan duduk di tempat yang nyaman.


Semua melihat Serena, dan langsung menyapanya, “Rena, kamu sudah datang ya, kami sudah menunggumu sejak lama.


Serena tersenyum dan menjawabnya 1 per satu, “Maaf, ada sedikit urusan, jadinya datang agak telat,


Maggie melihat orang-orang di sekitar berkumpul di tengah-tengah melihat Serena, dalam matanya terlintas rasa cemburu dan iri.


Setiap kali pasti begini, asalkan Serena muncul, Maggie tidak ada apa-apanya lagi.


Mengapa harus Serena? Apakah dirinya lebih buruk dibanding Serena?

__ADS_1


Maggie memikirkannya dalam waktu lama, kenapa setiap kali harus terjadi seperti ini.


Tidak, hari ini Maggie tidak akan kalah! Dia melihat Serena yang berjalan ke arahnya dengan mata yang gelap.


__ADS_2