I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 143 Lebih Berusaha Lagi Agar Bisa Cepat Mengendong Cicit


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Setelah selesai makan siang, saat Serena dan mereka keluar dari ruang makan, Theo sedang menunggu diluar.


Melihat Serena keluar, Theo segera berdiri dan menyambutnya, “Nona, Tuan ingin bertemu denganmu.”


Hello! Im an artic!


Serena terbengong menatapi Theo, ia bahkan tidak menyadari bahwa yang dipanggil Theo adalah dirinya sendiri.


Lacey segera mengingatkannya “Serena, Kakek Su ingin bertemu denganmu”


“Hahh… baiklah” Serena berteriak Hah terlebih dahulu, setelah ia sadar dengan cepat ia berkata Baiklah.


Lacey melihat Serena seperti itu dan mengejeknya “Serena, Kakek Su ingin melihatmu, apakah sangat mengejutkan?”


Hello! Im an artic!


Bukan terkejut, melainkan takut, ok?


Sebelumnya Kakek itu berencana mengusirnya dengan sebuah Cek, dia juga pernah berjanji kepada Kakek bahwa ia tidak akan bertemu Raphiel lagi. Tetapi sekarang ia malah menjadi istri Raphie, dan menjadi istri cucunya, semuanya tahu betapa tidak sukanya kakek Su terhadap dia.


Tapi aku tidak mungkin tidak pergi menemuinya…


“Tidak.” Serena tersenyum dan berkata dengan sopan kepada Theo “Baiklah, merepotkan mu”


“Ini memang tugas saya. nyonya, mari ikuti saya ” Theo membungkuk dan memimpin jalan


Serena menganggukkan kepala, lalu mengikuti Theo di belakang, dan tiba di teras


Kakek sedang mengambil satu tangkai bunga anggrek, ia mengambil gunting dan dengan hati-hati memotong daun yang sudah menguning. Ditubuhnya tidak terlihat kekerasan waktu itu, malah terlihat tenang, membuat Serena terbengong


Theo melirik Serena dan kemudian dengan hormat memanggil, “Tuan, Nyonya sudah tiba.”


Mendengar Theo berkata Serena sudah datang, ia bergegas meletakkan gunting yang ada ditangannya


Ia menoleh dan melihat Serena berdiri disana, Kakek pun tersenyum dan menyapa “Serena sudah datang, cepat duduk.”


Serena tidak menyangka Kakek akan seperti ini, ia terbengong.


Theo melihat Serena tidak merespon, ia segera memanggilnya, “Nyonya, tuan suruh duduk.”


Serena baru Ngeh dan menoleh kebelakang dan berkata “Terima kasih”, setelah itu dengan gugup ia duduk dihadapan Kakek .

__ADS_1


Melihat Serena duduk dengan ketakutan, Kakek Su menyadari bahwa waktu itu ia sudah membuat Serena ketakutan


Ia berusaha mencoba meringankan nadanya dan dengan ramah bertanya kepada Serena “sudah makan siang?”


Serena dengan gugup menjawab, “Sudah.”


“Ya, baiklah.” kakek Su menganggukkan kepala dan melambaikan tangan kepada Theo.


Theo mengambil sebuah kotak dan menyerahkannya kepada kakek su, kakek su membuka kotaknya dan mengeluarkan sepasang gelang zamrud.


Serena adalah desaigner perhiasan, pada pandangan pertama ia sudah tahu bahwa gelang ini sangat langka dan berharga. Warnanya yang hijau dan tingkat transparansinya, juga terdapat ukiran naga dan phoenix diatasnya, harganya tampaknya sangat tinggi.


“Ini untukmu” kakek Su menyerahkan gelang itu kepada Serena.


Serena menggeleng-gelengkan kepala “Ini…saya….tidak boleh”


“Ini untuk menantu perempuan keluarga Su, ini diturunkan dari leluhur keluarga su, secara turun-temurun, nenek Ralphie sudah memakainya, sekarang kamu adalah istri Ralphie, gelang ini adalah milikmu.”


“Tetapi aku…” Serena belum selesai berbicara sudah di potong oleh kakek Su.


“Kamu tidak suka karena gelang ini bukan gelang baru?”


Serena takut kakek Su salah paham dan segera menjawab, “Bukan, bukan.”


Kakek Su sudah berkata demikian, Serena mana berani untuk menolaknya.


“Aku akan memakainya, Terima Kasih.” Serena sudah berpikir untuk memakainya dulu, nanti baru dikembalikan ke Ralphie.


Melihat Serena memakai Gelang itu, Kakek Su merasa sangat puas, “Kedepannya kamu akan tinggal disini dengan Ralphie, jika tidak terbiasa kamu harus ngomong.”


Mendengar kakek Su berkata akan tinggal disini Serena saking gugupnya hingga lupa “Tinggal disini?”


“Ini adalah kamar pernikahanmu dengan Ralphie, tentu saja tinggal disini…” tiba-tiba ada yang memotong saat kakek Su belum selesai berbicara.


“Tidak tinggal disini.”


Serena menoleh dan melihat Ralphie berdiri dibelakangnya. Tidak ada ekspresi apapun dimukanya, hanya saja saat ia melihat gelang yang dipakai Serena, ia mengedipkan matanya.


Kakek Su mendengar perkataan Ralphie lalu menatapnya “Kamar ini khusus aku siapkan untuk kalian, kalian tidak tinggal disini?”


“Ya, tidak tinggal disini, disini terlalu jauh dari kota, tidak leluasa untuk pergi dan pulang kerja” jawab Ralphie.


Serena menjadi tenang mendengar Ralphie berkata tidak tinggal disini.

__ADS_1


Jujur saja, Serena tidak akan tahan bila menyuruhnya tinggal di villa mewah yang seperti istana ini.


“Kamu tidak leluasa untuk pergi dan pulang kerja, tapi kan Serena tidak kerja, dia bisa tinggal disini.” kakek Su mengalihkan pandangannya ke Serena, “Serena, bagaimana kalau kamu tinggal disini bersama kakek?”


Serena sangat ingin menolak, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk menolaknya, ia merasa serba salah dan mengenggam bajunya.


Ralphie melirik tangan Serena yang sedang mengenggam bajunya, dan berkata, “kami baru saja menikah, apakah kakek mau kami pisah tempat tinggal?”


Pengantin baru pisah tempat tinggal? Tentu saja tidak boleh, kakek su segera berkata “Haiya, aku melupakannya, kalian baru saja menikah harus tinggal bersama untuk membina hubungan, dengan begitu aku baru bisa cepat mengendong cicit”.


Mengendong cicit???


Serena sangat jelas bahwa yang Ralphie ucapkan bukan seperti yang kakek su maksud, tetapi wajahnya seketika menjadi merah.


Ralphie tersenyum memandangi pipi Serena yang merah.


“Baguslah kalau kakek mengerti.”


“Kakek Mengerti, kamu juga harus berusaha.” berusaha untuk apa tidak perlu disebutkan lagi, sama-sama mengerti.


Ralphie diam saja, ia hanya mengenggam tangan Serena, tangan Serena hanya bergetar sebentar dan tidak melepaskannya.


Ia tersenyum dan berkata “Kalau begitu kami balik dulu ke tempat tinggal kami yang di kota.”


“Sana, sana” kakek su berkata sambil melambaikan tangannya dengan tidak sabar.


Ralphie hanya menjawab “ooo” dan menarik Serena untuk berdiri.


Serena terdiam sejenak dan memberikan salam kepada kakek Su, “Bye bye kakek.”


Kakek Su menganggukkan kepala dan berkata, “Kalau ada waktu datanglah untuk melihat kakek.”


“Baik kek.” Serena menjawab sambil menganggukkan kepala.


“Ya.” kakek Su menoleh ke arah Ralphie dan berkata “Jaga Serena baik-baik”.


Ralphie menatapnya dengan tatapan sinis, hal seperti ini apa masih perlu kakek su ajarin? Serena adalah istrinya, ia pasti akan menjaganya dengan baik.


“Aku tahu” lalu Ralphie mengandeng tangan Serena dan meninggalkan teras.


Kakek Su tersenyum senang melihat Ralphie dan Serena pergi sambil bergandengan tangan.


“Theo, kamu lihat cocok kah tuan muda dengan nyonya muda?”

__ADS_1


“Tuan muda dan nyonya muda adalah pasangan yang sangat cocok.”


__ADS_2