
Hello! Im an artic!
Dengan mukanya yang merah dan mataya yang bengkak Serena kembali ke rumah Claudia, tentu saja Claudia langsung terkejut.
Awalnya Serena tidak bermaksud untuk menceritakan kejadian antara Alfred dan Maggie dengan Claudia, tetapi Caludia sudah terlalu mengerti dia, jadi terakhir dia tidak bisa menutupi darinya.
Hello! Im an artic!
Setelah mengetahui disaat Alfred sedang bermesraan dengan Serena dia juga mempunyai hubungan dengan Maggie, Claudia benar-benar marah besar.
“Tidak disangka ternyata Alfred adalah laki-laki brengsek, disaat dia sedang bermesraan denganmu, ternyata dia masih bisa berhubungan dengan Maggie.”
“Sebenarnya aku sendiri yang terlalu percaya diri, dia sama sekali tidak pernah bilang kalau dia suka sama aku……..” Walaupun yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata itu, tetapi apa yang ada didalam hatinya malah bertolak belakang.
Claudia langsung berkata: “Apa maksudnya dia selama ini tidak pernah bilang dia suka sama kamu? Apa yang dilakukannya, bukannya sudah menjelaskan kalau dia suka sama kamu? Serena, kamu jangan bodoh, Alfred laki-laki itu sudah membohongi kamu disaat remajamu, dia adalah laki-laki brengsek yang menginjak dua kapal sekaligus.”
Hello! Im an artic!
Serena menghela nagas, lalu berkata: “Dia itu brengsek atau tidak, sudah tidak ada hubungannya sama aku.”
Claudia menganggukkan kepalanya lalu berkata: “Benar, jangan pikirkan cowok brengsek itu lagi. Kodok yang punya tiga kaki itu sulit dicari, laki-laki yang punya dua kaki bukannya ada dimana-mana?” Nanti kalau sudah sampai waktunya, kamu bisa cari laki-laki yang lebih baik seratus kali lipat dari Alfred, baru kita buat cewek itu kepanasan.”
Serena tahu itu adalah kata-kata yang digunakan Caludia untuk membuat dia tertawa, tetapi kata-kata itu sama sekali tidak lucu buatnya, lalu dia dengan lembut berkata ‘Terima kasih’ pada Claudia.
Setelah keluar dari Royal Club, Ralphie langsung kembali ke rumahnya.
Rumahnya sangat sepi dan gelap gulita, Ralphie membuka lampu dan masuk kedalam rumahnya.
Sambil menaiki tangga rumahnya, dia sambil melepaskan dasinya, lalu mendorong pintu kamarnya, membuka lampu dan membuang jas dan dasinya ke sofa, lalu membuka kancing kemejanya dan masuk ke kamar mandi.
Ketika ia sampai di pintu depan kamar mandi, handphonenya yang ada didalam jasnnya itu berdering.
__ADS_1
Dia mengerutkan dahinya, lalu berjalan balik ke sofa, mengambil handphonenya lalu melihat layar handphonennya dan mengangkatnya.
Ralphie masih belum mengeluarkan suara, dari sana sudah terdengar suara Isa, “Ralphie, kamu ada di mana?”
“Rumah.” Ralphie hanya melontarkan satu kata.
Isa langusng menjawab: “Ralphie, kamu mau bohongi siapa, kamu jelas-jelas sedang tidak ada di rumah, tapi di ruanganmu………”
Ralphie langsung mengerutkan dahinya, malas untuk berdebat dengan Isa, lalu ia pun menutup teleponnya dan masuk ke kamar mandi.
Awalnya Ralphie kira, Isa sedang kesepian lalu meneleponnya, jadi ia juga tidak mempedulikannya, tapi siapa sangka di pagi harinya, Isa malah sengaja datang ke kantornya untuk menanyakan hal ini.
Keesokan harinya, seperti biasanya Ralphie datang ke kantornya, dia baru saja membuka laptopnya dan belum sempat memasukkan passwordnya, tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu kantornya.
Gerakan tangan Ralphie untuk memasukkan passwordnya pun terhentikan lalu dengan tenang dia menjawab: “Masuk.”
Yang mendorong pintu dan masuk adalah Isa, ditangannya masih membawa sebungkus dokumen, jelas sekali sebelum ia pergi ke kantornya dia sengaja ke sini lebih dulu.
Isa tidak menjawab pertanyaan Ralphie, lalu berkata: “Ralphie, ternyata kamu hebat juga?”
Ralphie mengerutkan keningnya dan tidak begitu mengerti maskut dari pembicaraan Isa.
Isa duduk malas di sofa, sedikit pun tidak sungkan dan langsung mengambil dan mengigit apel yang ada dimeja itu, lalu berkata: “Ralphie, kamu jangan berpura-pura lagi, kemarin aku sudah melihat perempuan itu keluar dari ruanganmu.”
Kali ini Ralphie langsung mengerti, kemarin Isa melihat Serena keluar dari ruangannya, dia mengira Ralphie ada hubungan dengan Serena.
Dia mengusap-usap mulutnya dan tidak menjadwab pertanyaan Isa karena ia rasa itu tidak perlu.
Isa bicara sendiri: “Ralphie…., kemarin aku melihat wanita itu keluar dengan muka merah dan mata bengkak dari ruanganmu dan langsung lari masuk kedalam lift, jangan-jangan kamu sangat kasar terhadapnya……Ralphie, status kamu yang seperti ini, gaya kamu yang seperti ini, kamu malah main keras? Zek zek zek……….”
Ketika Ralphie mendengar Isa bilang ‘ Wanita itu keluar dengan muka merah dan mata bengkak dan lari masuk kedalam lift’ ekpresinya langsung menjadi kaku.
__ADS_1
Isa tidak menyadari ekspresi Ralphie yang berubah, dengan muka yang penuh perasaan penasaran bertanya, “Ralphie, perasan kemarin malam itu gimana…….”
Ketika ia belum selesai berbicara, Ralphie sudah memotongnya lebih dulu, “Kalau tidak ada urusan lain lagi, kamu sudah boleh keluar.”
Isa sudah susah payah untuk menangkap Ralphie, bagaimana bisa dia semudah itu sudah melepaskannya? Lalu dia berdiri dari sofanya dan berjalan ke depan meja kerja Ralphie lalu berkata: “Ralphie, kemarin kalian sudah tidur bareng? Kamu suka cewek yang begitu?”
Isa belum selesai bertanya, dia sudah melihat wajah Ralphie sudah berubah, dia pun langsung menutup mulutnya dan berjalan kearah pintu kantornya: “Aku baru ingat, aku masih ada urusan, aku pergi dulu……”
Sambil berbicara, Isa membuka pintu kantornya dan keluar dari kantornya.
Ketika sudah berlalu kira-kira beberapa detik, pintu kantornya terbuka lagi, Isa menerobos masuk lagi dan berkata: “Ralphie, kamu tenang saja aku akan bantu jaga rahasiamu.”
Mungkin karena ia takut Ralphie marah, setelah selesai mengatakan itu, Isa langsung menutup pintunya.
Isa sudah keluar begitu lama, Ralphie masih duduk dengan gayanya dan tidak pergi kemana-mana.
Tidak tahu sudah berapa lama, dari luar terdengar suara ketukan pintu.
Ralphie mengerutkan dahinya dan dengan simpel dia menjawab ‘ Masuk’.
Pintu kantornya terdorong, Felix mengambil dokumen dan masuk, “Direktur Su, ini adalah laporan keuangan yang dikirimkan oleh PT. Antarts, tolong anda cek sebentar.”
Ralphie mangambil dokumen itu dari tangan Felix, lalu sambil mengecek dokumen itu dia bertanya: “Hari ini ada rencana apa?”
Felix pun membacakan jadwal rencana hari ini, “Jam 9.30 ada pertemuan, jam 11 ada acara konferensi peluncuran produk PT. Wolfoods di pusat kota, jam 2 siang ada rapat PT. Antarts….”
Ketika mendengar jadwal yang dibacakan Felix, mata Ralphie tidak terlepas dari dokumen yang ada ditangannya, dia menunggu sampai Felix selesai berbicara lalu berkata, : Jadwal pagi hari semuanya dibatalkan.”
Awalnya Felix mengeluarkan suara ‘A..’ lalu mengubahnya menjadi, “Baik.”
Ralphie tidak mempedulikan Felix, dia beranjak berdiri dan berjalan keluar, lalu berkata: “Beritahu pimpinan PT. Antarts aku akan pergi rapat jam 9.30.”
__ADS_1
“Baik…Direktur Su.” Felix terbengong sesaat, lalu dengan cepat berjalan keluar.