
Hello! Im an artic!
Di hari kedua Ralphie sudah tidak di rumah ketika Serena bangun.
Pelayan berkata bahwa ia pergi bekerja,
Hello! Im an artic!
Sesuai dugaan Serena, tetapi ia masih saja merasa kehilangan,
Sorenya ia menelpon Louisa setelah menghabiskan pagi dengan bosan,
Serena sudah tidak pernah lagi menghubunginya setelah ia suruh pulang oleh Leonard malam itu. Ia sangat ingin mengobrol dengan Louisa, dan sekalian bertanya apakah perusahaan telah memecatnya,
Bagaimanapun ia tidak masuk begitu lama tanpa alasan, bahkan minta izin pun tidak.
Hello! Im an artic!
Akhirnya Louisa memberitahunya bahwa Desainer Zhuo keluar untuk melindunginya dan ia tidak dipecat oleh perusahaan, perusahaan masih menunggunya untuk kembali bekerja.
Serena sangat senang mendengar Louisa berkata bahwa perusahaan tidak memecatnya, tanpa berpikir ia langsung berjanji untuk pergi kerja keesokan harinya.
Setelah mematikan telepon, Serena baru ingat bahwa ia sudah menikah dengan Ralphie, tampaknya ia harus menanyakan pendapat Ralphie mengenai masalah ini.
Sejak jam 17:30 Serena sudah menunggu Ralphie pulang.
Jam pulang Ralphie adalah jam 17:30 dan membutuhkan perjalanan kira-kira 1 jam.
Sudah jam 18:30 tetapi Ralphie belum pulang juga.
Jam 19:00 pelayan memanggilnya untuk makan, ia tidak makan, ia hanya berkata tunggu Ralphie pulang ia akan makan bersama.
Namun menunggu sampai jam 22:00, Ralphie pun tetap belum pulang.
kenapa semalam ini dia masih belum pulang juga? Tidak terjadi apa-apa kan?
Serena dengan cemas mondar-mandir di ruang tamu, sebentar-sebentar ia melihat keluar jendela
Diluar rumah sangat tenang, tidak ada suara mobil.
22:10 hanya lewat 10 menit saja, tapi Serena sudah merasa sangat lama.
Ia berdiri didepan jendela dan menatap keluar tanpa mengkedipkan mata, lalu ia berlari kekamar dan mengeluarkan hpnya dari tas, ia menyalakan hp dan mengetik 11 digit nomor yang tidak pernah dihubungi, tetapi tidak ia telpon.
__ADS_1
Serena memandangi hpnya sebentar, terakhir ia memutuskan untuk menekan tombol telpon.
Serena mendengar bunyi hpnya dan hatinya berdebar.
Setelah bunyi 3 sampai 4 kali, akhirnya diangkat.
Terdengar suara Ralphie, “Halo.”
Serena mengenggam hp dengan kuat dan berkata, “Ini aku.”
Ralphie hanya menjawab “oo” dengan dingin.
Serena ingin menanyakan sudah begitu malam kenapa belum pulang juga, ingin menanyakan apakah ia masih lembur di kantor, namun yang ia ungkapkan adalah “Kamu kenapa… kamu sekarang sibuk? Ada yang ingin aku bicarakan.”
Ralphie terdiam sejenak dan bertanya, “Masalah apa?”
Serena menarik nafas dan berkata, “Aku besok ingin pergi bekerja.”
Ralphie hanya diam saja dan tidak merespon.
Serena menunggu sebentar dan tidak mendapat jawaban dari Ralphie, ia mengira Ralphie sedang sibuk dan tidak mendengarnya, lalu ia mengulangnya, “Aku mulai besok pergi kerja, bolehkah?”
“Kerja dimana?” tanya Ralphie.
Serena dengan senang menjawab, “Aku dulu pernah kerja di sebuah toko perhiasan dipusat kota, dan aku ingin bekerja disana lagi.”
Setelah Serena selesai berbicara, terdengar kata “Baiklah” dari mulut Ralphie.
mendengar Ralphie bilang boleh Serena sangat senang dan mengucapkan terima kasih, “Terima kasih, kamu masih lembur di kantor?”
Hanya terdengar suara tutt tutt, ternyata ia sudah mematikan telpon dari tadi.
Memandangi hpnya yang sudah mati Serena kembali murung lagi, tadi ia baru saja senang karena diizinkan kembali bekerja.
Saat Serena menelepon Ralphie, ia baru saja menyelesaikan konferensi video dan bersandar di kursi dengan mata tertutup.
Ia mengerutkan kening saat hpnya berdering, seperti orang yang sedang istrahat dan terganggu, dengan tidak senang ia mengeluarkan hpnya.
Saat melihat nomor telepon yang ia ketahui tetapi tidak pernah ia hubungi, mukanya terlihat senang
dengan terkejutnya ia mengangkat telpon dari Serena.
Awalnya ia mengira karena sudah malam tapi ia masih belum pulang juga jadi Serena baru menelponnya, ternyata diluar dugaan, ia hanya ingin meminta persetujuan untuk kembali bekerja.
__ADS_1
Ternyata karena masalah kerjaan baru menelponnya, bukan karena khawatir.
Saat itu juga Ralphie merasa hatinya seperti tertusuk oleh pisau, sangat sakit sehingga tidak bisa bernafas.
Dan ia selalu saja tidak bisa menolak Serena, jadi ia baru menyetujui Serena untuk kembali bekerja.
Dan saat Serena mengatakan Terima kasih, ia langsung mematikan teleponnya.
Dia tidak ingin mendengar Serena mengucapkan terima kasih, ia tidak ingin kalimat “Terima kasih” membuat jarak mereka semakin jauh.
Felix tidak mengerti kenapa saat mengangkat telpon Ralphie terlihat senang, kenapa sekarang terlihat begitu sedih?
Felix menyimpan pertanyaan itu dan mengingatkannya, “Direktur Su, Supir sudah menunggu anda dibawah”
Ralphie mengangkat kepalanya dan melirik Felix, lalu berkata, “Mulai besok suruh supir mengantar Nyonya muda untuk pergi dan pulang kerja.”
“Hah… ” Felix sama sekali tidak menanggapinya.
Bukankah seharusnya bulan madu? Ralphie sudah menjadi gila kerja, bahkan Nyonya muda juga kerja mulai besok?
Ralphie mengerutkan kening karena Felix tidak menanggapinya, ia bertanya dengan keras, “Sudah dengar?”
Felix segera berdiri tegak dan menjawab, “Baik, Direktur Su.”
Ralphie hanya menjawab “oo” dan lanjut berkata, “Besok kamu beli Toko perhiasan Man Fook dengan nama pribadi ku.”
Ralphie bagaimana bisa tenang bila Serena bekerja diluar?
Tetapi ia tidak bisa melarang Serena untuk tidak pergi bekerja, jadi yang bisa ia lakukan hanyalah mengubah Toko perhiasan Man Fook menjadi miliknya.
Membuat Serena tetap berada disisinya, dengan begitu ia baru bisa benar-benar tenang.
Felix tidak mengerti mengapa Ralphie ingin membeli Toko perhiasan Man Fook dengan namanya sendiri, melainkan bukan atas nama Grup Su. Tentu saja sebagai seorang asisten yang berkualifikasi, ia tidak boleh mempertanyakan keputusan atasannya. Jadi walaupun ia kebingunggan ia tetap masih mengangguk dan berkata, “baiklah, Direktur Su.”
Ralphie mengambil sebuah dokumen dan membukanya, lalu ia melambaikan tangan kepada Felix sambil berkata, “sudah malam, kamu pulang sana.”
Felix melihat dokumen yang ada ditangan Ralphie dan bertanya, “Anda tidak pulang?”
“Aku masih ada dokumen yang belum selesai dilihat.” jawab Ralphie.
“Direktur Su, sudah sangat malam, dokumen ini besok baru anda…” Felix belum selesai bicara sudah di potong oleh Ralphie, “Pulang sana.”
Felix hanya melirik Ralphie dengan cemas dan memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangannya.
__ADS_1