I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 108 Ia Memanggilnya Direktur Su


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena dengan wajah pahit melihat lama telepon yang sudah dimatikan sejak tadi, kemudian dengan pelan menaruh ponselnya


Tentu saja telepon dari Ralphie tidak menunjukkan apa-apa, paling karena Isa mereka menanyakan tentang dirinya, makanya dia telepon untuk bertanya, hanya saja ia tetap merasa senang karena telepon dari dia.


Hello! Im an artic!


Tertanya mencintai seseorang akan membuat seseorang menjadi tak berdaya.


Walapun dia tidak memperlukan dirinya untuk muncul lagi dikehidupan dia, tetapi ia masih tidak bisa mati rasa……


Serena memang sudah berencana untuk menghindari semua kemungkinan bertemu dengan Ralphie, tetapi siapa sangka beberapa hari kemudian dia tetap masih ketemu Ralphie.


Subuh hari, kota A diterpa angin kencang, dalam waktu beberapa jam suhu pun menurun banyak.


Hello! Im an artic!


Karena sedang weekend, Serena pun berencana untuk beristirahat saja dirumah.


Tetapi hari itu kertas gambar dia habis jadi perlu keluar untuk membeli.


Jadi setelah sarapan, ia merapikan tasnya dan berangkat keluar.


Serena selalu menuntu kertas gambar harus yang kualitasnya bagus, jadi dia perlu ke mall dan ke toko nya langsung untuk membeli.


Dan hari ini dia pergi ke Snowflake Department Store.


Serena tidak berjalan terlalu lama di Snowflake Department Store, dia hanya membeli barang yang diperlukan saja dan bergegas untuk pulang.


Dan berpas-pas an ketika dia mau keluar dari pintu, tiba-tiba terdengar suara orang yang kaget, “Serena?”


Serena dengan bingung membalikkan badan, lalu melihat seseorang yang menggunakan jas yang rapi.


“Beneran kamu……” Isa berjalan mendekati Serena, “Kebetulan sekali.”


“Kebetulan banget.” Serena menganggukan kepala.


Isa melihat ke arah barang belanjaan Serena, “Kamu datang untuk membeli barang?”


“Ia” Serena membengkamkan mulutnya dan bertanya, “Kamu?”


“Aku datang untuk rapat……” Belum selesai Isa berbicara, tiba-tiba dia menunjuk ke arah belakang Serena, “Ralphie datang.”


Mendengar nama Ralphie, sekejap membuat Serena menjadi patung dan merasa seluruh badan kaku.

__ADS_1


“Ralphie, sini.” Isa berteriak ke arah belakang Serena.


Serena meremas erat ujung baju kemudian menghadap belakang.


Ketika ia sedang membalikkan badan ke belakang untuk melihat Ralphie, ketika tatapan matanya yang sedang mengarah Ralphie, dia juga kebetulan melihat ke arahnya.


Kedua tatapan matapun bertemu, waktu seakan berhenti disini, ia dan dia saling bertatapan yang dihalangi pintu.


Baru saja tiga minggu, dua puluh satu hari tidak bertemunya, seakan tidak bertemu dalam kurun waktu yang sangat lama.


Bahkan disaat itu, ia merasa dirinya sedang halu.


Ia menggengggam tangan sangat erat hingga merasakan sakit baru ia tersadar bahwa ini semua bukan halusinasi dia.


Ia bertemu tanpa sengaja di Snowflake Department Store yang ramai ini.


Ia merindukannya seperti orang idiot, bahkan sampai kebawa mimpi, maka dari itu ia selalu menggunakan seluruh waktunya untuk mengecek data, belajar, design, membuat dirinya tak ada waktu untuk berpikiran yang aneh-aneh.


Hingga hari ini bertemu, ia baru menyadari, selama ini perbuatannya itu hanyalah menyiksa dirinya sendiri.


Ia sangat merindukannya, sangat sangat merindukannya.


Ralphie yang sudah lama tak berjumpa, Ralphie yang ngangenin……


Terus kenapa? Serena kembali cemberut, kemudian mundur dua langkah kebelakang untuk memberikan jalan.


Ketika melihat gerakan Serena, Ralphie merasa seluruh badannya kaku, rasa senang yang muncul karena tanpa sengaja bertemu ini pun hilang mendadak.


Dia terdiam sebentar didepan pintu, melihat wajah Serena yang tertekuk, setelah itu ia baru berjalan masuk kedalam.


Melihat Ralphie sudah masuk, Isa menarik Serena, “Ralphie, aku kebetulan ketemu Serena.”


Serena tak menyangka Isa akan tiba-tiba menariknya, ia lalu menelan air ludah bahkan sampai lupa melepaskan tangannya.


Tatapan Ralphie melihat ke arah tangan Isa yang menarik tangan Serena, kemudian pelan-pelan melihat ke arah wajah Serena.


Serena tersadar, lalu menarik tangannya dari tangan Isa, kemudia pelan-pelan mendongakan kepala dengan sopan menyapa Ralphie, “Halo Direktur Su.”


Dia pernah memanggilnya Tuan Su, pernah memanggilnya Ralphie, tetapi tidak pernah memanggilnya Direktur Su.


Sopan, hormat, tidak ada yang berlebihan, tetapi membuat Ralphie merasa perkataannya sangat menusuk, bisa dibilang sangat menusuk.


“Serena, kamu kenapa panggil Ralphie Direktur Su?” Isa yang disamping dengan bingung bertanya.


Serena dengan tenang dan datar menjawab, “Dia kan memang sebenarnya atasan aku.”

__ADS_1


“Oh ia aku sampai lupa.” Isa merenggangkan bahunya lalu bertanya, “Serena, kita mau pergi rapat, kamu mau bareng? Tunggu selesai rapat kita sama-sama ke Royal Club.”


“Pergi bareng?” Kalimat pertama Ralphie yang keluar ketika dia membuka mulut.


Dipandangan Serena, Ralphie kurang bersedia dengan perkataan Isa, jadi ia tanpa berpikir langsung menggelangkan kepala dan menolak, “Ngga deh, aku bersama temanku.”


“Ajak temanmu bareng saja.” Isa berkata sambil tertawa.


“Kita masih ada urusan, kalian bersenang-senang saja, aku pergi dulu.” Serena hanya tertawa lalu membalikkan badan dan pergi.


Isa dengan wajah yang kebingungan melihat Serena yang terburu-buru, “Serena, kenapa begitu terburu-buru? Terus hari ini dia juga aneh banget.”


Ralphie tidak bersuara, hanya terus memandangi arah Serena pergi.


Ia tahu dia sebenarnya tidak sedang bersama temannya, itu hanya alasan dia saja.


Dia hanya menghargai apa yang ia inginkan, tidak muncul ditempat yang sama dengan dirinya.


Ralphie membengkam erat bibirnya, diotaknya terus berpikir bagaimana cara ia bisa berbalikkan lagi dengan Serena seperti dulu.


“Menurutmu Serena kenapa ngga mau ikut bareng kita?” Isa mulai mempertanyakan lagi.


Ralphie tidak memperdulikannya lalu berbalik bada berjalan ke arah lift.


Isa berlari kecil mengejar Ralphie, “Ngga mungkin kan kalau temannya itu adalah pacarnya, makanya dia ngga mau bareng kita?”


Ralphie berhenti dengan tatapan dingin memandang Isa, “Dia ngga punya pacar.”


“Kamu tahu darimana?” Isa dengan wajah kesal bertanya kepada Ralphie.


Terakhir ia hanya melangkahkan kaki masuk kedalam lift, kemudian menekan tombol tutup pintu, ingin sekali rasanya membiarkan Isa tertinggal diluar.


Isa dengan cepat masuk kedalam lift, kemudian kembali bertanya, “Ralphie hubungan kamu sebaik itu dengan Serena hingga dia belum punya pacar aja kamu tahu?”


Tidak ada yang memperdulikannya, dia tetap lanjut berbicara seorang diri.


“Menurutmu Serena begitu cantik, bagaimana mungkin ngga punya pacar? Kalau ngga minta tolong Lacey untuk kenalin satu, biasa pilihan Lacey masih okelah……”


Belum selesai Isa berbicara, Ralphie langsung memotong pembicaraanya, “Aku akan membantunya memilih, ngga perlu kalian.”


Wajah Isa seperti salah berbicara kemudian dia hanya melirik Ralphie.


Tatapan matanya sangat dingin, tidak terlihat seperti bercanda……


Tidak……pasti bukan bercanda.

__ADS_1


Ia mengenalnya begitu lama, tidak pernah sekalipun mendengarnya bercanda, sekalipun dia bercanda, dia juga tidak akan bercanda mengenai Serena…


__ADS_2