
Hello! Im an artic!
Laki-laki yang ada di dalam telepon itu berbicara dengan sangat bergairah: “Ralphie, semua orang sedang menunggumu.”
Ralphie menyipitkan matanya, dan sedikit marah.
Hello! Im an artic!
“Aku sibuk.” Selesai mangatakan dua kata itu, ketika ia bersiap untuk menutup teleponnya, dari sana terdengar suara yang membuat ia tidak jadi menutup teleponnya.
“Sibuk? Ralphie kamu sedang bercanda yah? Sekarang siapa yang tidak tahu calon pengantinmu sudah melarikan diri? Malam ini kami masih bisa berkeliaran? Ayo cepat ke Royal Club…….”
Serena cewek itu juga sudah melarikan diri? Ralphie mengusap-ngusap mulutnya, lalu berkata: “Besok pagi jam 8.” Selesai bicara ia langsung menutup teleponnya, lalu mengangkat kepalanya.
Serena menyadari Ralphie sudah menutup teleponnya, dia terburu-buru untuk mengalihkan pandangannya, tetapi sebelum ia mengalihkan pandangannya, Ralphie sudah mengangkat kepalanya, lalu pandangan mereka berdua bertemu.
Hello! Im an artic!
Pandangan mata Ralphie yang dingin itu, walaupun hanya bertatapan mata dari kaca spion saja sudah bisa membuat jantung Serena berdebar dengan kencang.
Dengan gugup ia menundukkan kepalanya.
Setelah Serena mangalihkan pandangannya, Ralphie merasa canggung beberapa saat, tetapi sebentar saja canggung itu sudah menghilang dan kembali ke hawa dingin sebelumnya.
Didalam mobil terasa sangat sunyi, seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Setelah selang setengah jam, mobil itu pun berhenti.
“Gallowen Manor sudah sampai.”
Serena mengeluarkan suara “A”, pandangannya tertuju pada jalanan yang familiar untuknya, dia melihat ke arah Felix, “Saya sudah sampai, Terima kasih.”
“Tidak apa-apa.” Felix menggelengkan kepalanya.
Serena tidak bisa menahannya dan curi-curi melihatnya dari kaca spion dan menyenter Ralphie.
Tangan kanannya di masukkan kedalam kantong celananya, tangan kirinya sedang memegang handphonenya, wajah tampannya sedang menunduk jadi tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.
Mukanya tidak ada ekspresi seperti es batu, Serena melihat kearah lain, lalu tersenyum kepada Felix dan berkata: “Ehm…..aku tidak bawa dompet, jadi….. bagaimana kalau kamu kasih aku nomor teleponmu, nanti aku kasih kalian ongkosnya.”
__ADS_1
Di dalam suara lembut Serena ada sedikit malu.
Felix melihat seklias Ralphie dari kaca spion lalu menjawab, “Tidak apa-apa.”
“Kalau begitu terima kasih.” Serena mengucapkan terima kasih dan turun dari mobil itu.
Sesaat setelah Serena turun dari mobil, Ralphie yang tadinya sedang melihat handphonenya langsung mengangkat kepalanya, pandangannya tertuju pada bayangan di luar jendela yang semakin lama semakin jauh, tidak tahu sedang memikirkan apa.
Felix mengira Ralphie sedang marah, lalu ia langsung menjelaskan: “Direktur Su, wanita itu adalah Serena.”
Ketika mendengar nama “Serena”, ekspresi di wajah Ralphie tidak berubah sama sekali, tetapi tangannya yang sedang memegang handphonenya tergoyang sebentar.
Dia adalah Serena………
Setelah dua detik berlalu, Ralphie melontarkan satu kata, “Balik.”
“Baik.” Direktur Su yang tidak pernah tercengang, walaupun ia mengatehui wanita tadi adalah calon pengantinnya, ia sama sekali tidak ada reaksi, Felix mengatakannya dalam hati lalu mengendarai mobil itu.
Setelah turun dari mobil, Serena terus berjalan ke arah Gallowen Manor.
Dia tidak tinggal disini, yang tinggal disini adalah teman baiknya Claudia Xu.
Dengan tergesa-gesa, dibelakang pintu terdengar suara langkah kaki, “Sudah datang!”
Pintunya terbuka dan terlihat wajah yang cantik, rambut panjangnya berkibas-kibas, kalau dilihat seperti gadis kecil yang lemah lembut. Kalau kamu menilainya lemah lembut, berartikamu sudah salah, Claudia adalah wanita yang sangat keras.
Melihat Serena yang begitu kacau balau dan luka disekujur tubuhnya, dia terkejut dan bertanya, “Serena, bukanya kamu pergi ke acara pernikahan Flora? Bagaimana bisa jadi begini?
Mendengar kata “Pernikahan”, raut muka Serena langsung berubah, “Aish, emosi….”
“Jangan bahas dulu, kita masuk dulu.” Sambil berbicara Claudia menarik Serena masuk ke rumahnya, dia mengeluarkan sebuah sandal dari rak sepatunya untuk di kenakan Serena, lalu pergi ke dapur.
Serena berjalan menuju dapur, melihat sekeliling dan lalu duduk di sofa yang lembut.
Claudia menuangkan segelas air dari dapur, lalu memberikannya pada Serena, lalu berkata: “Kamu mandi dulu, baru aku bantuin taruk obat di luka kamu, kalau nanti lukanya infeksi akan repot.”
Dengan seteguk Serena manghabiskan air dalam gelas itu lalu menjawab, “Kalau infeksi terus mati saja.”
“Kamu sedang bicara apa?” Claudia memarahinya, lalu menariknya untuk berdiri dari sofa, “Cepat mandi, aku pergi ambil baju untukmu.”
__ADS_1
Serena langsung menyandar ke badan Claudia, lalu berkata: “Ternyata hanya kamu yang masih peduli sama aku.”
“Kalau aku tidak peduli denganmu, mau peduli sama siapa?” Sambil berbicara dia mendorong Serena masuk ke kamar mandi.
Setengah jam berlalu, Serena keluar dari kamar mandi.
Claudia membantunya mengolesi obat ke lukanya, lalu Serena mulai bercerita tentang apa yang terjadi hari ini.
Dengan marah Claudia bertanya: “Menyuruhmu menggantikan Flora menikah? Dia itu ayah kandungmu?
Serena menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa.
Claudia terdiam sejenak lalu bertanya, “Jadi kamu masih mau balik?”
Serena menggelengkan kepalanya, “Tunggu semua sudah berlalu baru kita bahas lagi.”
Claudia menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya, “Begitu juga ada bagusnya, kamu tinggal disini dulu saja.”
“Bukan hanya tinggal, kamu mau merawatku juga tidak masalah.” Serena berkata kepada Claudia dengan mukanya yang manja.
Claudia dengan muka jengkel menjawab: “Kayaknya lebih bagus kamu pergi cari pujaan hatimu Kakak Gu biar dia rawat kamu.”
Mendengar Claudia berkata tentang Kakak Gu, muka Serena langsung memerah.
Claudia melihat Serena yang malu, lalu menggelengkan kepalnya dan berkata: “Aku rasa bagusan kamu cepat utaran cintamu sama Kakak Gu, sekalian kamu juga bisa menyelesaikan masalah sekarang ini.”
“Mengutarakan cintaku?” Muka Serena mengangkat mukanya yang terkejut. Lalu mukanya dengan perlahan kembali memerah, lalu ia pun menundukkan kepalanya lagi.
Claudia sungguh-sungguh membantu Serena memikirkan masalahnya: “Benar, kamu utarakan cintamu, lalu kamu pastikan hubungan kalian dan bawa dia pulang ke rumahmu, jadi nanti mereka tidak bisa memaksamu menikah dengan laki-laki itu lagi? Baru kalian berdua pun sudah bisa berdua selamanya.”
Awalnya Serena tidak menjawab apa-apa, Claudia melihat dia merasa malu, tapi dia juga mengiginkannya, hanya saja dia tidak berani melangkah, jadi ia pun tidak mau membahas masalah ini lagi.
Dia sudah selesai mengolesi obat di seluruh luka yang ada ditubuh Serena, lalu ia membereskan obatnya, dan menarik Serena ke kamar tidurnya.
“Sudah malam, besok masih mau kerja, ayo tidur dulu.”
Serena malah tidak mau bergerak, lalu Claudia menambah, “Jangan berpikir terlalu banyak, semuanya pasti akan berlalu.”
“Iya” Serena menganggukkan kepalanya, lalu menutup matanya.
__ADS_1