I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 207 Membereskan Direktur Wen


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Isa yang sedang mengobrol asyik dengan Ryan melihat Serena yang dengan tiba-tiba ingin pergi ke toilet seketika menunjukkan ekspresi yang susah dijelaskan, “Serena kenapa?”


Ryan menaik turunkan pundaknya, menunjukkan eskpresi yang sama, tidak tau.


Hello! Im an artic!


Malah Lacey yang menjawab: ” Serena pergi ke toilet.”


Isa mengiyakan pelan kemudian berkata, “Raphie gantikan Serena main sebentar lah!”


Ralphie hanya menundukkan kepalanya, memandangi kartu yang berada di atas meja, entah apa yang sedang dia lamunkan, sampai saat Isa berkata bahwa agar dia menggantikan Serena main sebentar dia baru mengangkat wajahnya, sorot matanya bergetar dan berkata, “Sudah malam, tidak mau main lagi.”


Isa melihat jam tangan yang dipakainya berkata, “Jam sebelas saja belum sampai, masih pagi.”


Hello! Im an artic!


“Besok masih harus kerja.” Ralphie menjawab pelan.


Serena keluar dari toilet merasa terkejut melihat mereka yang sudah tidak main lagi dan hanya mengobrol saja.


“Kenapa tidak main lagi?” Serena bertanya.


Isa mengangkat bahunya menjawab, “Suamimu tidak ingin main lagi, katanya besok masih harus kerja jadi ingin segera pulang saja.”


Apa Ralphie besok juga harus kerja? Pandangan mata Serena seketika tertuju ke arah Ralphie.


Ralphie bangkit dari tempat duduknya, berkata pelan, “Ayo jalan.”


Serena mengiyakan lirih dan berpamitan kepada Isa dan yang lain baru kemudian mengikuti Ralphie pergi.


Sesampainya dirumah, waktu sudah penunjukkan pukul dua belas.


Serena tidak berdiam terlalu lama di lantai bawah dan segera naik kekamarnya.


Setelah mandi dan akan bersiap untuk tidur kemudian mendengar suara mesin mobil dari luar.


Dia terdiam, kemudian berlari ke arah jendela, kemudian melihat ada sebuah mobil keluar dari garasi depan.


Meskipun diluar gelap gulita, ditambah lagi dia tidak jelas melihat orang itu siapa.


Tetapi dia sadar bahwa itu adalah mobil Ralphie.


Sudah semalam ini, dia mau pergi kemana?


Kalau semalam ini Ralphie masih pergi keluar pasti benar-benar terjadi sesuatu.


Kemarin malam dia sudah menyerahkan semua dokumen untuk ditangani Felix, tetapi dia sibuk bertelepon dengan Serena, tidak sempat pergi kesana untuk mengurusnya.


Sekarang sudah mengantar Serena kembali ke rumah, dia sekarang sudah bisa pergi dengan tenang.

__ADS_1


Ralphie kira-kira mengendarai mobilnya selama satu jam dan kemudian masuk kedalam ruang parkir di salah satu gedung.


Felix yang sedang menunggu disana dengan segera membantunya membukakan pintu mobil.


“Direktur Su.”


Ralphie menyaut lirih kemudian turun dari mobil.”


“Dia bagaimana?”


“Dia membuat keributan, jadi aku membuatnya pingsan.” Felix menjawab dengan jujur.


Ralphie mengiyakan lirih tanpa berkata apapun.


Felix juga tidak berkata apa-apa, membungkukkan badan sambil menunjukkan jalan kepada Ralphie.


Dengan arahan Felix, mereka sampai di lantai tiga.


Dari pintu masuk terlihat ada dua orang berdiri disana


Dua orang yang melihat Ralphie datang segera menyambutnya dan membungkuk, “Direktur Su.”


Ralphie mengangguk pelan, mengiru Felix berjalan kedalam.


Koridor yang benar-benar panjang, kedua ruang disepanjang koridor terlihat samar-samar tetapi malah memancarkan cahaya terang yang terselip melalui celah pintu, tetapi malah terasa sangat tenang tanpa suara apapun.


Felix membawa Ralphie ke dalam ruangan di paling ujung, sesampainya di depan pintu mereka baru menghentikan langkahnya.


Orang-orang yang berada di dalam begitu melihat kedatangan Ralphie seketika memberikan hormat, “Direktur Su.”


Ralphie mengangguk pelan, kemudian melangkah pergi.


Setelah Felix dan Ralphie masuk ke dalam, orang-orang itu kemudian segera keluar dari ruangan dan menutup pintu.


Ruang di dalam nya sangat besar, cahaya terang menyinari seisi ruangan.


Di tengah ruangan terdapat satu kursi, Direktur Wen terikat diatas kursi tersebut kehilangan kesadarannya.


Ralphie menatap ke arah Felix mengisyaratkan sesuatu, Felix mengangguk mengerti, membalikkan badan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Saat dia keluar, tangannya membawa se-ember air.


Dia membawa air itu, berdiri didepan Direktur Wen dan menyiramkan air ke arahnya.


Malam musim dingin yang sangat dingin, dengan terguyur air di sekujur tubuhnya, pingsan sekalipun juga akan tersadar karena kedinginan.


Terlihat Direktur Wen yang bersin dan membuka matanya.


Dia menatap kebingungan baru kemudian menyadari keberadaan Ralphie yang berdiri disana.


“Ternyata kamu?” Direktur Wen menatap Ralphie dengan tatapan seakan tidak percaya.

__ADS_1


Ralphie tidak berkata apapun, segera melangkahkan kakinya ke arah kursi yang sudah disiapkan Felix untuknya.


Direktur Wen bertanya sambil memberontak, “kamu itu apa-apaan, kenapa menangkapku seperti ini?”


Ralphie pada saat ini tidak mengabaikan perkataan Direktur Wen, dia samar-samar menjawab, “Aku adalah suaminya Serena, kenapa mengurungmu seperti ini, kamu pasti sudah tau alasannya.”


Direktur Wen pada awalnya memang menyadari bahwa Ralphie dan Serena memiliki hubungan yang tidak biasa, tetapi dia tidak menyangka bahwa Ralphie adalah suaminya Serena.


Hanya karena hari ini dia tidak ingin Serena tahu makanya menangkapnya seperti ini.


Seandainya dia tau bahwa Direktur Wen dan Flora bekerja sama untuk mencelakai Serena, meskipun dia menggigil kedinginan dan dipukuli sampai matipun tidak akan mengaku, lagipula Flora sudah tidak berada di kota A, masalah ini tidak seorang pun mengetahuinya.


“Aku… aku tidak tau apa yang kamu katakan, beneran, kamu lebih baik melepaskanku.”


“Tidak tau?” Ralphie menaikkan ujung bibirnya menyeringai, ekspresi muka tampan seketika terlihat suram, mata hitamnya seketika menyorotkan ekspresi dingin, “Apa harus aku ingatkan terlebih dulu baru kamu ingat? Hah?”


Tubuh Direktur Wen gemetaran, kemudian menjawab, “Aku… aku hanya berencana melakukan itu, tetapi tidak benar-benar melakukannya.


Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Ralphie segera memotong, “Kamu dari awal memang sudah melakukannya bersama Flora, tetapi diluar dugaan bisa digagalkan oleh seseorang.”


“Kamu… kamu mengetahui hal itu?” Dengan ekspresi mata bergetar ketakutan Direktur Wen berkata, “Masalah itu tidak ada hubungannya denganku, Flora lah yang menghubungiku dan menyuruhku melakukannya, tetapi tidak berhasil, beneran.”


Flora yang menghubunginya? Ternyata Ralphie belum menyelidiki secara tuntas! Sorot mata Ralphie sedikit bergetar dan bertanya, “Dia yang datang menghubungimu?”


“Iya, dia sendiri yang menghubungiku, memintaku untuk mengantar seseorang, terserah aku mau melakukan apa terhadapnya.”


Meskipun dari awal sudah tau mengenai kebencian Flora terhadap Serena, tetapi dia tidak mengira kebencian Flora sampai ke tahap ini.


Mata Ralphie menyorotkan ekpresi kejamnya, kemudian berkata dengan dingin, “Apakah kamu tahu bahwa meskipun sudah tau dari awal mengenai masalah ini tetapi kenapa baru sekarang menangkapmu kemari?”


Direktur Wen bertanya kebingungan, “Memangnya kenapa?”


“Aku sudah membereskan masalah Flora, awalnya tidak ingin melibatkanmu dan melepaskanmu begitu saja.” Nada bicara Ralphie seketika berubah menjadi penuh kemarahan, “Tetapi kamu malah diam-diam merencanakan sesuatu lagi terhadapnya?”


Masalah Flora sudah dibereskan, sekarang sudah sampai Direktur Wen.


Direktur Wen kemudian menyadari bahwa hilangnya Flora memang sedikit susah dijelaskan seketika membuat sekujur tubuhnya gemetaran.


“Aku mengakui kesalahanku, aku tidak akan mengulanginya….. Aku mohon lepaskan aku…”


Pada saat ini Direktur Wen merasa menyesal setengah mati.


Kenapa dia harus berkerja sama dengan Flora?


Dan kenapa juga kemarin malam dia harus bertemu dengan Serena?


Tetapi dia menyesal pun tidak ada gunanya, Ralphie tidak akan melepskannya begitu saja.


Karena berani menyentuh sesuatu miliknya yang berharga, maka dia akan menerima akibatnya.


Yang paling berharga bagi Ralphie yaitu Serena.

__ADS_1


__ADS_2