
Hello! Im an artic!
“Tidak perlu…” Serena menolak.
Sayangnya, Ralphie sudah mengangkatnya langsung, sambil berjalan, dia memanggil pembantunya untuk keluar dari dapur, “Telpon Felix, minta dia untuk menghubungi dokter Chen.”
Hello! Im an artic!
“Baik.” Mendengar perintah, pembantunya segera berlari untuk menelpon.
Ralphie menggendong Serena keluar rumah, lalu menempatkan Serena di kursi co-driver dan memasangkan sabuk pengamannya. Kemudian dia masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas dan pergi meninggalkan perumahan.
Di dalam mobil sangat hening, Serena menundukkan kepala, lalu memandang Ralphie.
Wajahnya berbeda dengan yang dingin sebelumnya, sedikit suram, menunjukkan bahwa sekarang suasana hatinya sangat buruk.
Hello! Im an artic!
Dia tahu kenapa suasana hati Ralphie buruk, karena dia ingin menceraikannya, tapi dia tidak mengerti mengapa suasana hati Ralphie menjadi buruk?
Bukankah Ralphie seharusnya bergembira bahwa akan bercerai dengannya , lalu bisa bersatu dengan kakak?
Seperti katanya? Karena kepentingan bisnis?
Serena tidak bisa memikirkan jawabannya, dia menggeleng-nggelengkan kepalanya , dia menutup matanya dan berhenti berfikir.
Setelah sampai di rumah sakit, saat akan menyuruh Serena keluar, Ralphie melihat Serena tertidur.
Dia mengerutkan bibirnya, lalu keluar dari mobil, kemudian berjalan melewati bagian depan mobil, membuka pintu co-driver dan mengangkat Serena.
Saat mengangkat Serena dia baru tahu bahwa Serena ternyata juga demam.
Bagaimana dia bisa demam? Sambil mengangkatnya masuk ke rumah sakit.
Felix sudah menunggu kedatangan mereka di lobby rumah sakit. Ketika melihat Ralphie datang, dia langsung menyambutnya.
“Direktur Su.”
Ralphie dengan cemas bertanya, “Apa kamu sudah hubungi dokter Chen?”
“Dokter Chen sudah menyiapkan dokter yang terbaik.” Jawab Felix.
“Ya” jawab Ralphie sambil mengikut Felix masuk ke dalam.
__ADS_1
Dokter sudah bersiap-siap dari awal, menunggu Ralphie membawanya kesana, setelah itu mulai di periksa.
Tanya Ralphie, “Dokter, bagaimana keadaan wajahnya? Kenapa bisa demam?”
“Demam disebabkan karena flu, saya akan menyuruh suster memberikan suntikan penurun demam. Lalu untuk luka di wajahnya ini, sebenarnya tidak parah, hanya perlu mengoleskan salep di wajahnya, beberapa hari akan sembuh.” Jawab dokter sambil membersihkan lukanya.
Mungkin karena alkohol yang digunakan untuk membersihkan wajahnya terasa sedikit perih, Serena terbangun dan merintih sakit, “Aduh….”
Ralphie mengerutkan kening dan berteriak pada dokter, “Pelan sedikit, apa tidak tahu dia kesakitan?”
Mendengar teriakan Ralphie, hampir saja dokter pergi meninggalkannya.
Tentu saja dia tahu bahwa itu sakit! Karena pasien hanya tidur dan masih bisa merasakan.
Sepertinya hanya keluargamu yang hanya karena pasien sedikit kesakitan dan berteriak pada dokter.
Tidak, harus dikatakan bahwa jika orang biasa yang mengalami hal ini, pasti mereka hanya akan membeli saleb dan mengoleskan diwajahnya, tidak perlu harus pergi ke dokter.
Tadi sebelum sampai ke rumah sakit, kepala rumah sakit secara khusus menelponnya, memintanya untuk menangani pasien secara pribadi karena dia adalah dokter ahli kecantikan.
Mendengar kepala rumah sakit menyuruhnya dengan nada sangat hati-hati, dia mengira wajahnya terluka sangat parah. Ternyata setelah terburu-buru melihat, baru tahu bahwa hanyalah luka bekas tamparan saja.
Hanya luka seperti itu, haruskah dia menanganinya? Bukankah ini hanya penghinaan saja.
Ralphie takut kalau Serena kesakitan, tangannya menggenggam tangan Serena, dan menenangkannya.
Setelah dokter selesai memeriksa Serena, dia segera memanggil suster untuk memberikan suntikan penurun demam, lalu pergi.
Setelah dokter pergi, Ralphie duduk di kursi samping ranjang pasien, melihat Serena sudah tertidur lama, dia berdiri.
Saat akan pergi, dia mendengar suara pelan Serena, “Jangan pergi…..”
Ralphie memandangnya, melihat Serena menutup mata dengan erat sambil mengerutkan alisnya, seolah-olah sedang menahan sakit.
“Aku tidak pergi.” Jawab Ralphie mengerutkan kening dan bibirnya, lalu dia duduk kembali dengan pelan.
Seperti sudah merasa bahwa Ralphie tidak meninggalkannya, barulah Serena lebih tenang dan kemudian tidur lagi.
Ralphie dengan hati-hati menarik tangannya, dan mulai meninggalkan ruangan pasien.
Diluar ruangan, Felix terlihat disana menunggu dan melihat Ralphine keluar, “Direktur Su, mengapa anda keluar? ”
Ralphie menatap kembali ruangan pasien, lalu tertawa sendiri, “Kalau tidak keluar sekarang, aku khawatir tidak bisa keluar.”
__ADS_1
Dia berpikir bahwa terlalu memaksa jika tetap berada di sampingnya, bahkan Serena sendiri pun sangat ingin menjauh dari Ralphie, jadi lebih baik Ralphine menjauh lebih dulu.
Felix sudah paham apa yang dikatakan Ralphie, dia melihat ke arah ruangan pasien, lalu kembali melihat Ralphie: ” Direktur Su, wajah Nyonya muda seperti itu karena terkena pukulan dari Leonard saat dia mencarinya.”
“Ya.” Jawab Ralphie pelan, lalu bertanya: “Alamat tempat dimana Serena sering pergi ke Kota Barat sudah ada belum?”
“Sudah ada.” Felix bertanya dengan ragu, “Apa perlu minta anak buah untuk membawa orang itu kesini?”
Tangan Ralphie melambai, “Tidak, aku akan pergi kesana sendiri.”
Ingin melihat sebenarnya orang seperti apa dia, kalau…….
Ralphie melihat ke arah ruang pasien sejenak, lalu segera pergi!
Dia pergi dari rumah sakit menuju ke Kota Barat, lalu mencari alamat yang diberikan oleh Felix.
Dia memencet bell rumah itu, terdengar suara wanita dari dalam, “Ya segera datang.”
Kenapa yang tinggal adalah seorang wanita? Apakah salah alamat? (Direktur besar Su, mengapa anda selalu menganggap bahwa yang tinggal disini adalah kekasih Serena.)
Ketika Ralphie sedang bertanya-tanya dalam hatinya, pintu rumah itu terbuka.
Seorang wanita, wanita yang berparas cantik.
Sepertinya salah rumah.
Claudia memandang pria yang tidak begitu asing di depan pintu rumahnya ini, “Anda cari siapa?”
“Maaf, mungkin saya salah rumah.” Setelah meminta maaf, dia langsung berbalik arah.
Claudia memandang Ralphie dari belakang, baru ingat orang ini seperti gambaran kekasih yang di ceritakan oleh Serena kepadanya.
Claudia bertanya ragu, “Maaf, apakah anda kenal Serena?”
Mendengar orang dibelakangnya bertanya tentang Serena, dia berhenti dan menoleh: “Apa kamu kenal dengan Serena?”
Mendengar Ralphie bertanya, Claudia yakin dan tidak salah lagi, orang ini adalah kekasih Serena yang di ceritakan padanya.
Claudia menatap Ralphie dari atas kebawah, sambil dalam hati berkata, pria ini meskipun tidak mirip dengan yang dikatakan Serena, tapi dia benar-benar sempurna.
Setelah sejenak menilai Ralphie, Claudia dengan sopan berkata, “Hai, aku teman dekat Serena saat kuliah, namaku Claudia.”
Teman dekat Serena? Ralphie menatap Claudia, kemudian melihat nomor rumah itu, apakah ini kebetulan?
__ADS_1