I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 204 Dia (Cewek) Takut Dia (Cowok)


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Urusan di siang hari juga tidak ada habis-habisnya, Serena benar – benar lupa kejadian malam saat tidur dengan Ralphie.


Dia tidak ingat kejadian itu, saat makan malam di halaman depan sampai akhirnya dia kembali ke kamar akan tidur, barulah dia ingat kejadian itu.


Hello! Im an artic!


Seperti biasanya, Serena mandi, selesai mandi mengeringkan rambut, lalu mengenakan piyama, setelah itu dia duduk bersila diatas kasurnya sambil melihat telepon genggamnya.


Tiba-tiba pintu kamar ada yang membuka, ternyata Ralphine, dia masuk dengan membawa secangkir minuman.


Serena terdiam sejenak dan baru sadar, sekarang dia menginap di keluarga Su, dan juga tinggal sekamar bersama dengan Ralphine.


Baru beberapa hari yang lalu kejadian itu terjadi….. apa Ralphine sudah berencana tidur satu ranjang lagi dengannya?


Hello! Im an artic!


Sewaktu Serena bertanya tanya dalam hatinya, Ralphine mengarah padanya dengan membawa secangkir minuman itu.


Dia benar-benar kesini, apakah dia tidak keberatan dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua?


Jantung Serena berdebar kencang, matanya menatap telepon genggam ditangannya dan tidak berani bergerak.


Dia mendengar Ralphine menaruh cangkir ke atas meja, diikuti dengan suara berbisik, kemudian merasakan disampingnya dia duduk.


Kenapa dia duduk disebelahnya ? Serena menggerakan jari-jarinya sambil memainkan telepon genggamnya.


Lalu dia mendengar suara lembut Ralphine: “Ulurkan tanganmu.”


Ulurkan tangan untuk apa? Serena menoleh ke Ralphine, dia melihat ralphine memegang salep dan kapas.


Ternyata Ralphie hanya ingin mengoleskan obat pada lengan tangannya! Serena menghelakan nafas pelan, lalu mengulurkan tangan kanannya di depan ralphie.


Ralphie sama sekali tidak tau apa yang dipikirkannya, setelah mengoleskan obat, dia lalu berdiri dari duduknya.


Serena melihatnya berdiri, segera berterima kasih, “terimakasih.”


Ralphie tidak menjawab, lalu meletakkan salep di atas meja, kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Selesainya cuci tangan, dia berjalan ke arah almari dan mengambil selimut.


Biarpun Serena seolah-olah sedang melihat handphone, tapi sebenarnya semua perhatiannya tertuju pada Ralphie.


Ketika melihat Ralphie mengambil selimut dari almari, mata Serena berkedip tanpa berkata-kata.

__ADS_1


Ralphie meletakkan selimut diatas kasur, lalu dari almari itu diambilnya juga bantal dan diletakkannya diatas selimut itu.


Lalu berjalan ke arah meja, lalu diambilnya cangkir diatas meja dan berjalan memberikan kepada Serena, “Susu untukmu.”


Dia mengira Ralphie akan diminumnya sendiri, ternyata minuman ini untuk dirinya……


“Terima kasih.” Serena meletakkan handphone yang ditangannya, lalu menerima secangkir susu dari Ralphie.


Ralphie menjawab “iya.” dengan lembut, lalu lanjut bertanya : ” Isa besok mengajak kita makan malam, apa kamu ada waktu?”


Serena diam sejenak, lalu bertanya: ” Isa mengajak kita makan?”


“Dia besok akan kembali ke kota A.” Jawab Ralphie sambil mengangguk.


Serena menjawab “oh.” Lalu melanjutkan “Ya boleh.”


“Baik, aku bilang kepadanya.” Selesai berkata, Ralphie mengambil selimut dan bantalnya diatas kasur lalu berjalan ke pintu keluar.


Serena tidak menyangka dengan tingkah Ralphie , dia sudah mengira bahwa Ralphie akan tidur satu ranjang dengannya dengan satu selimut yang sama.


Ternyata dia tidak ingin tidur dengannya…..


Hati Serena hancur, air matanya pun mengalir.


Air matanya mengalir di pipì, lalu menetes kedalam gelas dan tercampur susu yang diminumnya….


Saat berjalan sampai pintu kamar, tiba-tiba Ralphie berhenti karena teringat sesuatu.


Setelah mengatakan ini, rasanya dia enggan untuk melangkah pergi. Dia berjalan keluar kamar dan menutup pintu. “Jangan main handphone terlalu lama, segera istirahat.”


Mendengar suara pintu tertutup, Serena menatap ke arah pintu, berlinanglah air matanya, sambil menghabiskan susunya.


Dia menaruh cangkirnya di meja samping tempat tidurnya, lalu mematikan lampu, kemudian berbaring ditempat tidurnya.


Alih-alih tidur, dia hanya berbaring di tempat tidur sambil diam-diam menangis, setelah lelah menangis barulah dia tertidur ….


Ralphie duduk diam di sofa ruang tamu tanpa rasa kantuk.


Sebenarnya sewaktu dia masuk dari pintu kamar, dia memperhatikan Serena sangat panik, apalagi ketika dia duduk disampingnya, Serena sangat gemetaran.


Apakah dia takut padanya?


Takut dia akan melakukannya lagi…..


Saat itu Ralphie merasakan sakit di dadanya, sangat sakit.

__ADS_1


Saat mengoleskan salep ditangan Serena, sebenarnya dia sangat kaku sekali, sampai kemudian dia ke kamar mandi. Setelah memulihkan suasana hatinya, barulah dia berpura-pura keluar dengan keadaan yang biasa saja, lalu mengatakan bahwa Isa mengajak mereka makan, kemudian membawa selimut keluar kamar.


Sebenarnya dia ingin mengatakan, jangan takut padanya, karena dia tidak akan menyentuhnya lagi.


Tapi dia tidak boleh mengatakannya, dia harus berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa, dia harus menjaga perasaannya.


Menjaga perasaannya…..


Mata Ralphie penuh dengan luka yang mendalam.


Satu-satunya cahaya lampu di dinding ruang tamu itu menyorotkan bayangan tubuh Ralphie yang seakan-akan menggambarkan mendung dalam dirinya sama seperti sakit yang dirasakannya, sungguh sangat bergejolak.


Keesokan harinya, Serena bangun agak siang, saat dia keluar kamar, Ralphie sedang duduk di tempat yang kemarin dia duduk sambil menyalakan laptopnya, di meja terdapat banyak tumpukan dokumen.


Melihat Serena sudah bangun dari tidurnya, dia berhenti mengetik, “Sudah bangun?”


“Sudah.” Jawab serena menggangguk, sambil duduk di sofa yang disisi lain.


Ralphie mulai mengetik beberapa kata, lalu berkata lagi: “Kalau kamu lapar, bilang saja sama pembantuku untuk mengambilkanmu sarapan.”


Serena terdiam sejenak, lalu menggangguk, “Iya, baiklah.”


Ralphie berkata “Oke.” Tanpa melihatnya.


Serena tidak bicara lagi, juga tidak memanggil pembantu untuk menyiapkan dia sarapan, dia hanya duduk diam di sofa.


Selang beberapa saat barulah dia bicara: “Aku ingin bicara sesuatu padamu.”


“Ya.” Ralphie mengangkat kepalanya, melihat ke arah Serena, “Besok sudah hari ke tujuh, aku harus kembali bekerja, apakah aku bisa pulang?”


Jelas-jelas dia sangat suka berada disini, tapi malah ingin pulang, pasti sebenarnya pasti takut padanya.


Ralphie menganggukkan kepala, “Malam ini kita pulang.”


Mendengar jawban Ralphie, Serena menghela nafas lega, dia sangat khawatir kalau di minta untuk tinggal di keluarga besar Su.


Dia sangat suka disini, tapi dia juga tidak bisa berlama-lama membiarkan Ralphie tidur di sofa terus.


Serena tersenyum sambil berkata, “Baiklah.”


Mata Ralphie tertusuk senyuman Serena, dia mengedipkan mata lalu berkata : “Isa mengajak makan malam, setelah makan malam kita langsung pulang, kalau ada barang yang perlu kamu bawa, siapkan dan masukkan dalam mobil.”


“Okey.” Serena mengangguk sambil berbalik arah dan meninggalkannya.


Ketika Serena berbalik arah, mata Ralphie dengan cepat memandangnya sampai dia meninggalkan ruang tamu…

__ADS_1


__ADS_2