
Hello! Im an artic!
Sampai saat Ralphie bertanya kepadanya, “Apa judul lagunya?”
Serena memalingkan kepalanya, terkejut melihat ke arah Ralphie sekilas kemudian menjawab, “Menyimpanmu dalam hati.”
Hello! Im an artic!
“Tidak berhayal untuk dapat mendapatkanmu, hanya ingin menyimpnmu dalam hati….” suara musiknya semakin mengecil, dan perlahan menghilang.
Sedangkan kedua tangan Ralphie berada pada setir mobil, tidak mengatakan apapun, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Hingga terdengar dari belakang suara seseorang yang bising menusuk telinga yang membuatnya kembali tersadar.
Ternyata entah sejak kapan jalan sudah mulai lancar kembali, karena dia melamun jadi tidak menjalankan mobilnya. Mobil yang dibelakangnya sangat tidak sabaran, menekan klakson untuk menyuruhnya bergegas mengemudikan mobilnya.
Hello! Im an artic!
Setelah Ralphie berkata ‘lumayan enak didengar’, kedua tangannya mengatur setir mobil, dengan terampilnya mengemudikan mobil dan perlahan menambah kecepatan.
Serena tertegun sebentar, baru kemudian tersadar akan perkataan Ralphie, iya pendapatnya tentang lagu itu barusan.
Kemudian Serena mengiyakan lirih, kemudian perlahan-lahan mengalihkan pandangannya ke arah Ralphie.
Aku akan menyimpanmu dihatiku, hanya akan menyimpanmu dalam hatiku….
Mobil telah melaju selama sejam lebih baru sampai The Ruby Paradise.
Mereka masuk ke lobi, dan menyebutkan ruangan yang telah mereka pesan, kemudian pelayan dengan sangat sopan menuntun mereka menuju ruangan di lantai 2.
Setelah Serena dan Ralphie menempati tempat duduknya, pelayan memberikan mereka menu dari restoran mereka.
Kebetulan telepon Ralphie berdering, kemudian berkata kepada Serena, “Kamu yang pesan, aku mau angkat telepon dulu.”
Serena sebenarnya ingin mengatakan bahwa dia akan menunggunya selesai menelpon baru kemudian memesan tetapi begitu mendengar ralphie berkata seperti itu dia seperti berada dibawah kendalinya, tidak dapat menolak, seketika dia merapatkan mulutnya dan dengan nurutnya melihat-lihat menu apa yang kiranya akan dia pesan.
Harga makanannya semahal yang dia perkirakan, Serena berpikir dengan keras, memesan sesuatu sesuai selera Ralphie, 5 sayur dan 1 kuah.
Mereka hanya berdua, 5 sayur dan 1 kuah pasti cukup. Serena menatap ke arah Ralphie sekilas, kemudian menutup buku menunya, “Sudah itu saja.”
“Baiklah nona.” Pelayan mengangguk tersenyum, mengambil buku menunya dan meninggalkan ruangan.
Raphie ketika sayur sudah mulai datang baru selesai menelpon.
Melihat sayur yang berada di meja membuatnya mengerutkan kening, “Pelayan, tambah sayur.”
__ADS_1
“5 sayur 1 kuah apakah terlalu sedikit? Serena bertanya heran.
Ralphie tidak berkata apapun, hanya meminta pelayan menambah 10 makanan yang disukai Serena.
Keseluruhan ada 16 tertata rapi di meja, benar-benar sangat melimpah ruah, rasa apa saja semua tersedia, Serena dan Ralphie makan dengan sangat bahagia.
Setelah makan malam Serena bangkit dari tempat duduk untuk pergi ke toilet, sedangkan Ralphie pergi untuk mengambil mobil di parkiran bawah tanah.
Setelah Serena keluar dari toilet, dia sebenarnya ingin naik lift untuk turun kebawah, tetapi kebetulan dia melihat ada tangga.
Dia mengingat kembali jika harus naik lift, dia harus jalan beberapa menit, tetapi jika dia turun tangga mungkin akan sedikit lebih cepat. Kemudian dia memutuskan untuk turun tangga saja.
Tetapi tidak disangka setelah dia menuruni beberapa anak tangga, tiba-tiba terdengar ada suara orang sedang buru-buru menuruni anak tangga juga.
Serena tidak sempat melakukan apa-apa, orang itu malah menabraknya, dan terus berlari kebawah, dengan cepat tidak terlihat lagi.
Serena yang tertabrak oleh orang itu membuatnya terdorong ke bawah tangga.
Dia menyadari bahwa dirinya hampir terpeleset jatuh, Serena seketika langsung memegang pegangan yang berada disisi anak tangga.
Kakinya tidak menemukan pijakan, tubuhnya akan terjatuh, tetapi untung saja tangannya segera merenggut pegangan anak tangga, jadi dia tidak menggelundung kebawah, hanya saja dia merasa pergelangan kakinya sangat sakit, mungkin sedikit terluka.
Serena menstabilkan tubuhnya, menunggu sampai pergelangan kakinya tidak begitu sakit sambil duduk sebentar di pijakan anak tangga.
Melihat sekilas di kakinya yang berdarah, Serena mengenduskan hidungnya yang berair, kemudian mengampul hpnya dari tas untuk menelpon Ralphie.
“Halo?”
Pada awalnya Serena masih bisa menahan rasa sakit di kakinya, tetapi begitu mendengar suara Ralphie, seketika dia menangis terisak, “Ralphie, aku terpeleset.”
Suara Ralphie mulai terdengar tidak tenang, “Apanya yang sakit? Kamu dimana?”
“Kakiku sakit.” Serena menjawab sambil menarik hidungnya yang berair.
Ralphie kembali bertanya, “Kamu dimana sekarang?”
Serena menarik ingus nya dan berkata, “Aku…. di tangga.”
“Kamu disana tunggu aku.” Setelah mengucapkan kata ini, Ralphie seketika menutup teleponnya.
Serena mengangkat tangannya mengusap air mata yang menetes di pipinya, dengan nurutnya menunggu Ralphie dan terduduk di tangga.
Ralphie sampai begitu cepat, tidak sampai 5 menit sudah menemukan dimana Serena berada.
Melihat betis Serena yang terluka dan berdarah, ekspresi nya seketika terlihat sangat murung, nada bicaranya berubah menjadi marah.
__ADS_1
“Kamu gimana jalannya? Kenapa bisa terjatuh sampai begini?”
Serena yang awalnya sudah sangat sedih, sekarang malah terkena kemarahan Ralphie, dia jadi semakin sedih.
“Aku juga bukan karena keslahanku sendiri jadi sampai begini, aku tadi tertabrak sama seseorang, kalau aku tidak memegang pegangan ini, aku pasti sudah menggelundung kebawah.”
Ralphie yang awalnya marah karena Serena yang terluka, sekarang begitu mendengar penjelasan Serena yang terjatuh karena ditabrak orang, dan hampir saja membuatnya menggelundung kebawah, ekspresi mukanya seketika berubah penuh dengan kemarahan.
Tetapi sekarang Ralphie tidak ada waktu membereskan hal ini, dia harus segera membawa Serena pergi ke dokter.
“Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Ralphie berkata sambil mengulurkan tangan untuk menggendong Serena, tetapi Serena dengan tidak senang mendorong Ralphie.
“Tidak mau.” Serena memanyunkan bibirnya menolak.
Mendengar nada suara Serena yang terlihat ngambek, Ralphie diam-diam tertawa tipis.
Ralphie tau bahwa Serena berbuat seperti ini karena Ralphie memarahinya tadi, dan membuatnya semakin sedih.
Jadi, Ralphie melembutkan suaranya sedikit, “Kalau begitu kita kembali kerumah, nanti aku akan panggil dokter Chen kerumah untuk memeriksamu, oke?”
Serena terdiam beberapa saat, kemudian baru mengiyakan lirih.
Mendapat persetujuan Serena, Ralphie kemudian membungkukkan badannya dan membopong Serena kemudian.
Sepanjang jalan Ralphie membopong Serena keluar dari The Ruby Paradise, dengan sangat hati-hati memindahkan Serena kedalam mobil dan mendudukkannya, setelah kemudian baru Ralphie menelpon dokter Chen dan memintanya untuk datang kerumah memeriksa luka Serena.
Setelah selesai menepon, Ralphie segera melajukan mobilnya kembali kerumah.
Ralphie mengendarai mobil dengan sedikit cepat, biasanya perjalanan pulang membutuhkan waktu 2jam, saat ini 1 jam saja mereka sudah sampai dirumah.
Mobil sudah sampi dirumah, setelah mematikan mesin mobil Ralphie segera turun dan berlari ke kesamping mobil, membuka pintu, dan membopong Serena keluar.
Pelayan yang mendengar ada seseorang diluar, segera membuka pintu.
Pelayan yang melihat Ralphie membopong Serena, dan melihat ada darah dikakinya seketika bertanya dengan khawatir, “Apa yang terjadi dengan nyonya?”
Ralphie tidak menjawab pertanyaan pelayan, dia hanya bertanya, “Apa dokter Chen sudah datang?”
“Belum.” Pelayan menjawab.
Ralphie tidak berkata apa-apa lagi, hanya berjalan membopong Serena ke lantai atas. Pelayan sangat penasaran, kemudian mengikuti dengan langkah pelan dan membukakan pintu untuk Ralphie.
Setelah sampai di kamar, Ralphie yang khawatir bahwa tulang Serena juga terluka, dia tidak berani sembarangan menyentuh Serena, hanya membantunya melepas sepatu dan membaringkannya.
Kira-kira setelah dua menit, dari luar terdengar suara klakson mobil.
__ADS_1
Ralphie mengintip dari jendela sekilas dan melihat mobil dokter Chen, seketika memerintahkan pelayan untuk segera turun kebawah membuka pintu.