
Hello! Im an artic!
Setelah kepergian Dottie, Louisa langsung berlari ke kantor Serena, lalu dengan tergesa-gesa mengetuk pintu dan bertanya apakah Dottie ada datang mencarinya.
“Designer Zhuo? tidak dateng tuh, kenapa?” Tanya Serena sambil melilhat Louisa.
Hello! Im an artic!
“Tidak datang ya? Kalau gitu aku pergi dulu.” Louisa memegang hidung lalu pergi kembali ke kantornya. Dengan kecepatan cepat sampai Serena ingin memanggilnya saja tidak sempat.
“Apaan sih Louisa ini?” Serena bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian membuat sketsa, bersiap untuk menggambar sesuatu untuk menghabiskan waktu disiang hari. Tetapi sambil gambar ia merasa gambarannya terlihat seperti dikenali, terakhir sebuah gambar wajah yang dingin pun mulai nampak, Serena berhenti sejenak dan melihat ke sketsa yang ia buat.
Mata yang terlihat sedih, masam dan pahit.
Serena mengulurkan tangan menutupi wajahnya dan merebahkan seluruh badannya kebelakang kursi.
Hello! Im an artic!
Lampu didalam kantor menyinari tubuhnya, seperti terinfeksi sebagian dan mengungkapkan sedikit samar kesedihan.
Setelah baikkan sedikit, Serena duduk tegak, mengambil sketsa, meremasnya dan membuangnya ke dalam tong sampah.
Mulai besok, ia tak ingin memikirkannya lagi……Bukan, mulai dari sekarang……
Serena mengambil lembaran kertas baru, kemudian mengambil pensil dan mulai menggambar sketsa kembali……
Ralphie karena pergi membeli hadiah natal, ia pun ketinggalan pesawat, terakhir hanya bisa mengambil pesawat pagi jam dua belas, ketika sampai dikota A waktu sudah menunjukkan pukul empat subuh.
Ia di antar pulang ke rumah oleh Felix, selesai mandi ia pun pergi tidur.
Ketika ia terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Selesai Ralphie gosok gigi dan bersiap untuk masuke ke ruangan buku, ponselnya pun berbunyi.
Felix yang menelepon, katanya pameran toko perhiasan sudah di cek dengan jelas, dia datang untuk memberikan hasil pengecekan padanya, sekaligus bertanya pada dirinya siang ingin makan apa, dia akan membawanya.
Ralphie tahu jelas Felix sebenarnya bisa menjelaskannya langsung melalui telepon, dia sengaja ingin mengantarnya langsung padanya, karena khawatir ia akan seperti sebelumnya, lupa makan siang.
Setelah memesan beberapa menu pada Felix, Ralphie mematikan telepon dan masuk ke ruangan buku untuk melihat file.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, Felix pun akhirnya datang dengan membawa makanan.
Ralphie makan sambil mendengar Felix menyampaikan hasil pengecekan.
“Pameran ini sebenarnya adalah penilaian peserta training di kelas training khusus beberapa hari yang lalu, Elliot bermaksud membiarkan konsumen yang menilai siswa.”
Ralphie yang sedang makan tiba-tiba terhenti, “Penilaian untuk anak kelas training khusus?”
“Iya, sebenarnya Elliot pernah menginformasikannya di dalam data kelas training khusus, tetapi karyawan yang tidak memperhatikannya.” Felix menjawab dengan perasaan sedikit bersalah.
Ralphie dengan datar berkata ‘En’ lalu kembali melanjutkan makan siangnya.
Felix melirik ke arah Ralphie, setelah melihat dia tidak marah, ia bertanya: “Direktur Su, list nama pamerannya, apakah Anda ingin melihat?”
Ralphie awalnya memang tidak mau melihat, tetapi ketika dia akan mengatakannya, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh dari perkataan Felix.
Felix selama ini sudah tahu jelas tentang emosinya, jadi dia tidak akan bertanya hal tidak penting seperti ini.
Kenapa dia hari ini begitu banyak bicara?
Ralphie mengangkat kepalanya melihat kearah Felix, dan menyadari wajahnya penuh dengan ‘penantian harapan’.
“Baik.” Felix menganggukan kepala, kemudian memberikan datanya pada Ralphie, seolah takut Ralphie tidak dapat menemukan letaknya, dia dengan sengaja membukakannya.
Awalnya Ralphie hanya akan melihat sekilas, tetapi pandangannya tiba-tiba terpacu pada nama seseorang.
Serena, di dalam list pameran ada nama Serena.
Dia berpartisipasi dalam penilaian ini? Bagaimana mungkin, penilaian training khusus bukankah baru-baru ini di mulai? Dan dia sudah resign dari jauh hari!
“Felix, apa yang terjadi? Nama dia kenapa bisa termasuk dalam list ini?”
“Direktur Su, Elliot bilang Nona Serena pernah berpartisipasi dalam lomba mendesign dan mendapatkan juara satu, walaupun dia sudah resign dari PT Antarts, tetapi gimana pun dia pernah belajar di kelas training khusus, jadinya hasil karyanya digunakan pada saat pameran dan sekaligus penilaian siswa training khusus.”
Mengenai perlombaan yang di ikuti Serena, Ralphie tahu tentang hal itu.
Bahkan ia juga tahu di dalam perlombaan itu, Maggie mencoba untuk memfitnah Serena, hanya saja ia tidak pernah melihat sketsa gambar yang digambar oleh Serena.
Terus sekarang ia tahu bahwa sketsa Serena dijadikan pameran, ia semakin penasaran ingin melihatnya.
__ADS_1
Ralphie berpikir seperti itu didalam hatinya, tetapi mulutnya lebih cepat dari yang dikira, “Segera menyuruh orang untuk membawa hasil pamerannya ke sini dari Kyoto, tidak perlu, aku yang pergi sendiri saja ke Kyoto untuk mengambilnya.”
Tatapan Felix bengong dan menjawab, “En itu…..Direktur Su, di Kyoto sudah tidak ada hasil pemeran Nona Serena lagi.”
Mendengar Felix berkata bahwa hasil pameran Serena sudah tidak ada di Kyoto lagi, Ralphie pun menenangkan diri, “Kenapa? Bantu aku cek apa yang terjadi?”
Melihat Direktur marah, Felix dengan cepat menjelaskan, “Direktur Su, hasil pameran itu sebenarnya sudah ada di tangan Anda.”
“Apaan di tangan aku? Kasih aku periksa, kalau aku periksa……” Perkataan Ralphie tiba-tiba terhenti, melihat ke arah Felix, “Apa maksudnya?”
Felix memegang hidungnya, “Direktur Su, cincin yang Anda ambil di toko perhiasan kemarin, itu adalah hasil desain Nona Serena.”
Sebenarnya Felix ingin sekali berkata, gila, ini sungguhh kebetulan banget, ya kan?
“Cincin?” Ralphie terdiam beberapa detik, kemudian ia berpikir keras sambil berdiri dari kursi. Karena tenaga nya terlalu kuat, kursi pun jadi jatuh terbalik.
Dia juga tidak mengangkat kursinya kembali dan terburu-buru naik ke atas.
Melihat Direktur yang terburu-buru lari ke atas, Felix diam-diam menaikkin kursi.
Jangankan Direktur yang sangat bersemangat, ketika dia melihat datanya saja, dia juga sangat bersemangat.
Direktur Su dan Nona Serena bukankah sangat berjodoh?
Direktur Su pergi ke toko perhiasan membelikan hadiah untuk Nona Serena, akhirnya setelah melihat-lihat, pas sekali ia memilih design milik Nona Serena.
Kalau Direktur Su membawa cincin hasil design Nona Serena pergi mencari Nona Serena pasti ia akan bersedia berbaikan dengan Direktur Su kan?
Ralphie bergegas berlari ke kamarnya, ia bahkan tak sempat untuk bernafas, langsung berjalan ke depan lemari mengambil jas yang ia pakai kemarin.
Kemudian ia mengambil cincin yang diambil di toko perhiasan dari kantong jas.
Dia benar-benar tak menyangka kalau cincin ini adalah hasil design Serena.
Saat itu ia hanya merasa cincin ini terlihat tidak asing.
“Tidak asing?” Ralphie menaikkan alisnya, kemudian memegang cincin dan melihatnya dengan teliti.
Setelah melihat beberapa detik, ia akhirnya mengerti kenapa ia merasa cincin ini terlihat tidak asing.
__ADS_1
Ternyata karena batu ruby yang ada di cincin, warnanya sama seperti warna kutek yang ia poleskan di tangan jari manis tangan kanan Serena hari itu, merah seperti darah…