
Hello! Im an artic!
Setelah bangun dari tidur siang pada hari itu, Serena terbiasa langsung berlari ke ruang kerja Ralphie, dari dalam terdengar suara musik, dan Ralphie sedang berdiri di depan jendela…memandangi salju. Melihat diluar penuh dengan salju, mata Serena seketika bersinar, “Wow, turun salju!”
Berkata tanpa sadar dirinya sudah berlari sampai tempat Ralphie berdiri, dengan gembiranya memandangi salju diluar jendela.
Hello! Im an artic!
Ralphie yang melihat ekspresi gembira Serena, Ralphie mengedipkan matanya sekejap dan bertanya, “Kamu suka salju?”
Saat Serena mengulurkan tangannya untuk menyentuh salju, kemudian mendengar suara Ralphie, Serena kembali tersadar dan berkata, “Suka.”
Ralphie tidak berkata apa-apa, tetapi matanya menunjukkan senyum bahagianya.
Serena setelah beberapa saat baru menyadari bahwa Ralphie masih terluka, tidak baik untuk terkena angin dingin. Dia dengan segera menarik tangannya kedalam dan menutup jendela.
Hello! Im an artic!
Ralphie yang melihat tindakan Serena, melihatnya dengan kebingungan, “Bukannya kamu ingin bermain salju? Kenapa menutup jendelanya?”
“Sedikit dingin, lihat sambil tutup saja.” Serena dengan cepat menjawabnya.
Ralphie hanya berkata”Oo”, kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Serena yang dengan cepat menjawabnya kemudian beralih memandang ke arah wajah Ralphie, pelan-pelan berkata:”Terima kasih.”
Dia tiba-tiba saja ingin berterima kasih, membuat Ralphie kaget, memalingkan kepalanya dan dengan heran memandangnya.
Serena menunjuk-nunjuk punggung Ralphie, merasa bersalah berkata, “Maaf, kalau bukan karena aku, Grup Su tidak akan dipaksa meninggalkan Kyoto…… Dan kamu tidak akan terluka.”
Ralphie saat Serena menunjuk punggungnya yang terluka, seketika mengerti alasan Serena berterimaksih kepadanya.
Hati kecilnya tersentuh, saat akan mengatakan sesuatu, kemudian malah mendengar Serena meminta maaf dengan rasa bersalah.
Rasa bersalah?
Ralphie seketika teringat kembali, saat Isa datang kerumah sakit menjenguknya, Serena mendengar Isa berkata ‘ketrampilan sebagus ini, bagaimana bisa terluka’ kemudian segera minggalkan kamar pasien.
Ternyata dia selama ini selau merasa bersalah.
Bagian bawah mata Ralphie berkedut, dia mengalihkan pandangannya, kemudian samar- samar berkata, ” saljunya sangat lebat, bandaranya jadi di tutup.”
Serena yang masih tidak menjangkau cara pikir Ralphie kemudian menyaut, “Apa?”
__ADS_1
Ralphie sekali lagi menjelaskan dengan sabar, “Besok tidak bisa kembali ke kota A.”
“Tidak bisa kembali juga tidak apa-apa.” Serena mengangkat bahunya, lagipula dia tidak terburu-buru ingin segera kembali.
Tidak bisa kembali juga tidak apa-apa? Dia tidak buru-buru kembali ke kota A untuk menemui orang yang disukainya itu? Dia sampai membelikannya sebuah baju.
Ralphie mengedip-ngedipkan matanya, kemudian berlagak seakan sembarangan bertanya, “Tidak buru-buru kembali ke kota A untuk bertemu seseorang kah?”
Buru-buru kembali ke kota A untuk menemui seseorang? Yang Ralphie maksud apakah keluarga Serena?
Teringat keluarga, sorot mata Serena meredup, kemudian dengan sembarangan menjawab, “Tidak buru-buru.”
Ralphie yang menyadari perubahan ekspresi Serena, dia menyimpulkan bahwa Serena dan orang itu sedang bertengkar.
Dan juga, alasannya mungkin karena dia, tidak, seharusnya adalah karena pernikahan mereka.
Ralphie dengan sekuat tenaga mengepalkan tangannya, mengalihkan pandangannya keluar jendela, tidak menjawab lagi perkataan Serena.
Serena yang merasakan suasana yang sedikit kaku, hanya bisa menggigit ujung bibirnya, memulai pembicaraan, “Oh iya, bagaimana dengan kamu?”
“Aku?” Ralphie tertegun, sedikit tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Serena.
Serena membalikan badan dan menyandarkan punggungnya di jendela, memandangi Ralphie selama beberapa detik, dengan sengaja mengatakan, “Apakah kamu punya seseorang yang sangat kamu pedulikan?”
Orang yang sangat di pedulikan? Dia pastinya punya, itu kamu!
Ralphie tidak mengatakannya, dia hanya memandang Serena.
Serena melihat Ralphie yang enggan menjawab, mengira dia tidak ingin memberitahunya, kemudian berkata, “Apakah kamu sangat menyukainya?”
Suka? Ralphie jelas-jelas sangat menyukaimu.
Ralphie sekuat tenaga menahan sudut bibirnya dan berkata: “Suka, suka dari saat pertama kali melihatnya.”
Pertama kali melihatnya? Oh ternyata dia dari awal sudah sangat menyukai kakak.
Serena menundukkan sorot matanya, kemudian berkata, “Cinta pada pandangan pertama memang indah………”
Ralphie dengan ekspresi malu karena terpesona kemudian melanjutkan, “Awal yang sangat indah, bukan berarti akan mempunyai akhir yang indah juga.”
Dia dan kakak berawal dari cinta pada pandangan pertama, karena Serena yang tiba-tiba muncul jadi mengakibatkan akhir yang tidak bagus. Hati Serena terasa tercabik-cabik, dia sekuat tenanga menggigit bawah bibirnya, dan bertanya, “Apakah tidak ada keinginan untuk mengubah hasil akhir? Membuatnya menjadi akhir yang indah.”
“Mengubah hasil akhir? Membuat akhir yang indah?” Ralphie mencerna kata-kata Serena dengan pelan-pelan.
__ADS_1
Ralphie sangat berharap bisa mengubah akhir antara dirinya dan Serena…. Tetapi dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengubahnya.
Muka Ralphie masih saja tanpa ekspresi, tidak fokus melihat keluar jendela, nada bicara yang mulai berubah menjadi sedikit tak beraturan, “Tidak ada kesempatan.”
Tidak ada kesempatan? Apakah karena perjanjian sebelum nikah itu?
Alis Serena berkerut diluar keinginannya, kemudian beberapa saat kemudian baru bertanya dengan ragu-ragu, “Sedikit kemungkinan pun tidak ada?”
“Tidak ada.” Ralphie terbata-bata melanjutkan, “Sama sekali tidak ada kesempatan.”
Hubungannya dengan kakak mungkin semua bergantung pada kakak yang memutuskan, sampai-sampai sedikit kemungkinan pun tidak ada.
Hubungan antara Ralphie dan kakak itu tidak mungkin, apakah dengan Serena bisa……..
Serena menahan sekuat tenaga detak jantungnya yang berdegup kencang, kemudian kembali menyela dan berkata, “Kalau sudah tidak mungkin, apakah kamu masih mencintainya?”
Karena terlalu menggebu-gebu, Serena sama sekali tidak memperhatikan bahwa pertanyaannya sedikit nyeleneh.
Sudah jelas tidak mungkin, kenapa masih mencintainya?
Sedangkan Ralphie sama seklai tidak ingin menjawab kata “Cinta” itu sendiri.
Kemudian Ralphie mengalihkan pandangannya ke arah Serena, menatap matanya dan dengan serius menjawab, “Ya, mencintainya.”
“Masih selalu mencintainya.”
Meskipun sudah tidak mungkin, dia masih sangat mencintai kakak, terlebih lagi masih selalu mencintainya, Serena sama tidak ada kesempatan sedikitpun.
Iya juga, andaikata tidak ada kakak pun dia sama sekali tidak ada kesempatan, apalagi dengan adanya kakak dihatinya?
Mungkin Serena harus menyerah, kemudian setelah ini semua berlalu, saat Ralphie dan kakak ada kesempatan, dia baru bisa benar- benar menghilang.
Alunan musik yang terdengar, “Aa, sahabatku, aa sahabatku. Diam tanpa sengaja, hanya tidak ingin membuatmu semakin sedih. Kita berdiri dibawah jendela, anggap saja dapat menjangkau batas dunia. Jika dapat melampaui batas dunia bagian sana, lebih baik mendekat atau menjauh. Percayalah kita dapat berjalan menuju bagin dunia yang lain, untuk persahabatan yang abadi. Jika kata aku mencintaimu hanya bisa menjadi perkataan belaka, apa bisa bertambah, apa bisa berkurang?”
Menjadi teman baik, Seperti layaknya mereka sedia kala.
Serena mengangkat bibirnya dan tersenyum tipis, “Dia pasti sangat bahagia.”
Alunan musik kembali terdengar, ….Apakah kamu pernah terlintas perasaan seperti ini? Jika aku mencintaimu dapat menjadi pedang, apakah akan menghilang, apakah akan kembali seperti sedia kala. Yang pada intinya, aku akan tetap mencintaimu dalam diam.
Ralphie diam-diam mencintainya, apakah membuatnya bahagia?
Ralphie memandangi Serena, sorot matanya muai bergetar…
__ADS_1