I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 131 Nona Serena Dipaksa Menikah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Hari ini Felix pergi mengurus masalah, sebagai orang yang ada di sebelah Ralphie selain Felix, salah satu sekretaris yang bertanggung jawab atas pekerjaan Ralphie yaitu Elizabeth.


Siang hari jam sepuluh, perusahaan mempunyai pertemuan mengenai produk baru.


Hello! Im an artic!


Saat jam sepuluh kurang sepuluh menit, Elizabeth dari pintu mengingatkan Ralphie sekali lagi, tapi di dalam tidak ada suara.


Saat jam sudah hampir jam sepuluh, Elizabeth dengan memaksa diri untuk mengetuk pintu sekali lagi.


Sangat disayangkan saat dia mengetuk beberapa kali, dari dalam tidak ada respon sama sekali.


Waktu rapat sudah di depan mata, Elizabeth sudah tidak ada cara lain, lebih baik memberanikan diri, tanpa ijin membuka pintu kantor Ralphie.


Hello! Im an artic!


Saat dia masuk, dia melihat Ralphie yang sedang membelakangi luar dan berdiri di depan jendela.


Ralphie dengan acuh tak acuh, pada saat ini hatinya penuh dengan kesedihan dan kesepian, ini adalah perasaan dia yang sering muncul akhir-akhir ini.


Elizabeth sangat khawatir, tapi dia jelas sangat tahu peraturan kalau bekerja dengan Ralphie. Jadi tidak pernah sekalipun dia bertanya mengenai masalah Ralphie, juga karena inilah alasannya dia bisa dipindahkan dari Kyoto sampai kesini bekerja sebagai sekretaris Ralphie.


Sorotan mata Elizabeth memancarkan kekhawatiran, lalu mengeluarkan beberapa kata, “Direktur Su.”


“Hm?” Ralphie dengan setengah berjalan perlahan berbalik, lalu menghadap ke dia, “Ada urusan apa?”


Wajah cantiknya yang selalu terlihat tanpa ekspresi dan dingin, wajah kesedihan dan kesepiannya sebelumnya telah hilang, lalu diganti dengan aura kuat yang sangat dingin.


Elizabeth dengan kuat menelan-nelan ludahnya, lalu menjawab, “Direktur Su, anda jam sepuluh ada rapat, waktu sudah hampir jam sepuluh.”


Ralphie menganggukkan kepalanya lalu berkata ‘Oh’, lalu berbalik dan menghadap ke luar kantor dan berjalan pergi.


Berjalan dua langkah, dia lagi-lagi sambil seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu dan berhenti melangkah lalu bertanya, “Felix dimana?”


“Asisten Felix sedang keluar, dan belum kembali.” Elizabeth menjawab.


Ralphie mengerut-ngerutkan keningnya berkata: “Setelah kembali, suruh dia segera cari aku.”


Elizabeth sebenarnya ingin mengatakan kalau dia ingin mengikutinya ke ruang rapat, tapi setelah melihat ekspresi Ralphie, dia dengan nurut menganggukkan kepala lalu mengatakan “Baik.”


Ralphie dengan samar-samar menjawab ‘Hm’, lalu melangkah pergi, langsung masuk ke ruang rapat.


Setelah Elizabeth berdiri di tempat awal lumayan lama, dia baru kembali ke kantornya.

__ADS_1


Saat Ralphie masuk ke ruang rapat, orang-orang yang mengikuti rapat semuanya sudah berkumpul.


Melihat dia masuk, semuanya bangkit dan memberikan salam padanya, “Direktur Su.”


Ralphie dengan dingin berkata satu kalimat ‘Rapat dimulai’, sambil duduk di kursinya.


Pertemuan ini bertujuan mengenai produk-produk baru, jadi departemen bagian pemasaran yang memimpin untuk berbicara.


Setiap orang yang ikut rapat, semuanya dengan sungguh-sungguh dan niat menatap analisis pasar produk-produk baru di layar LCD, dan mendengarkan ketua pemasaran menjelaskan tanpa henti.


Hanya Ralphie yang terdiam dan bersandar pada kursi, memusatkan perhatiannya pada semua orang yang sedang rapat, hanya dia sendiri yang tahu, sebenarnya dia terus menerus mengkhawatirkan Serena.


Kemarin dari percakapan Felix dengan pembantu rumah keluarga Luo dalam telepon, saat mendengar dari seberang pembantu rumah keluarga Luo sedang berbicara dengan seseorang yang ternyata bukan Serena melainkan Flora, dia langsung merasa gelisah.


Meskipun sudah menyuruh Felix memeriksanya, tapi sebelum mendapatkan jawaban, dia bagaimanapun memikirnya juga tidak tenang perasaannya.


Kemarin malam dia menunggu semalaman, dan tidak ada hasil, bahkan meskipun hari ini dia datang ke perusahaan, dia tetap saja tidak memiliki suasana hati untuk bekerja.


Setelah ketua pemasaran selesai berpresentasi dengan sangat bagus, dengan wajah yang penuh penantian melihat ke arah Ralphie, menunggu pujian dari Ralphie.


Hasilnya, Ralphie tidak hanya tidak memberikan pujian, bahkan sorotan matanya sedikit pun tidak diberikan padanya.


Ketua pemasaran yang melihat Ralphie yang tidak ada respon, dahinya mengeluarkan keringat dingin.


Dia terus menerus kembali berpikir presentasi dia barusan, tidak menemukan masalah apapun, lalu dengan keberanian bertanya, “Direktur Su, presentasi aku ini……ada masalah kah?”


Semuanya melihat aku, aku melihat kamu, semuanya tidak berani berbicara.


Dan yang menjadi ketua pemasaran yang harus menanggung beban lebih tragis lagi, berdiri tidak, duduk juga tidak, kedua kakinya hanya gemetaran.


Hanya pada saat ini, dari luar terdengar suara krek.


Pintu rapat terbuka dari luar, yang masuk adalah Felix.


Melihat Felix yang masuk ke dalam, semuanya seperti melihat seorang penyelamat datang, terutama ketua pemasaran, yang sedikit lagi menggunakan sorotan mata kecilnya untuk berdoa.


Felix memberikan pandangan ke semua orang agar tetap tenang, lalu berjalan sampai ke tempat Ralphie, “Direktur Su.”


Ralphie kembali sadar, melihat ke arah Felix, “Sudah dapatkan informasi?”


“Sudah.” Felix mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ralphie berkata ‘Hm’, lalu langsung berdiri dari tempat duduknya, berjalan keluar dari ruang rapat.


Orang-orang yang berada di dalam ruang rapat melihat ke arah Ralphie yang langsung berjalan keluar, dengan wajah tercengang.

__ADS_1


Direktur Su ini kenapa? Pergi jalan-jalan sementara?


Saat Felix juga berjalan keluar dari ruang rapat, dengan niat baik mengingatkan mereka untuk bubar rapat selesai.


Lucu sekali, dia yang sudah mendapatkan informasi tentang kondisi Serena, dan setelah Direktur Su tahu, dia masih melanjutkan rapat itu baru aneh namanya.


Saat Felix masuk ke dalam kantor Ralphie, Ralphie sedang duduk di depan meja menunggunya.


Melihat dia masuk, dengan cepat langsung bertanya, “Sudah mendapatkan informasi apa?”


Felix terdiam sejenak, lalu menjawab, “Nona Serena ditahan oleh keluarga Luo di rumah.”


“Ditahan?” kedua mata Ralphie menyipit, dengan suara rendah yang mengandung amarah.


Direktur Su sudah merasa marah, dan jika dia tahu informasi selanjutnya apa dia tidak akan melakukan tindakan kekerasan?


Felix dengan sekuat tenaga menelan ludahnya, lalu berkata: “Benar, menurut data yang saya periksa, Tuan Leonard ingin menyuruh Nona Serena menikah dengan orang, tapi Nona Serena tidak mau, jadi Tuan Leonard mengurungnya.”


Felix selesai berbicara, nafas beratnya pun tidak berani keluar.


Tentu saja, Ralphie saat mendengar Serena dipaksa menikah, ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi dingin sama seperti es batu yang sudah membeku, pupil mata hitam putihnya menyala berapi-api amarah, dengan baik dan terus menerus membunuh suasana, sempai mengembang di atas dahinya.


Felix tidak ada keraguan sedikitpun, kalau Leonard ada disini, Ralphie pasti akan langsung melakukan kekerasan padanya.


“Siapa orang nya?” suara Ralphie yang di dalamnya memgandung aura dingin.


Felix menjawab sambil menekuk lehernya menunduk, “Ini tidak ketemu informasinya.”


“Tidak ketemu?” sorotan mata Ralphie sangat dingin, dengan ketajaman yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun melihat ke arah Felix.


Setelah itu dengan gemetaran menjawab, “Masalah ini, seharusnya hanya Leonard yang lebih tahu.”


“Leonard?” di ujung mulut Ralphie terlihat muncul sebuah lekungan, wajah tampannya terpenuhi oleh kekaburan, mata pupil nya yang gelap seperti malam di bawah sinar cahaya sangatlah terlihat dingin.


Kedua kaki Felix gemetaran, lalu dengan sangat hati-hati berkata, “Direktur Su, kalau tidak saya langsung saja pergi mencari Tuan Leonard……”


Perkataan Felix belum selesai dibicarakan, Ralphie langsung memotongnya.


“Tidak usah, langsung hubungi Flora saja.” tidak usah Leonard, Flora saja sama saja.


Iya, Ralphie teringat terkahir kali Flora saat di kafe pernah bilang, Serena memiliki masalah kontrak pernikahan.


“Baik.” Felix menganggukkan kepalanya, dan langsung dengan cepat mengatur semuanya.


Setelah Felix meninggalkannya, Ralphie dengan tanpa ekspresi bersandar pada kursi, matanya menyorotkan sorotan mata yang dingin.

__ADS_1


Dia tidak akan membiarkan siapapun memaksa Serena menikah, tidak peduli siapapun itu orangnya…


__ADS_2