
Hello! Im an artic!
Pada akhirnya Ralphie membawa Serena ke halaman taman.
Taman tak hanya ditanami penuh tanaman, tetapi di tengah taman masih ada danau kecil dan ditengahnya terdapat bunga lotus.
Hello! Im an artic!
Dimusim dingin seperti ini, teratai bisa terlihat begitu indah, Club ini benar-benar berbeda.
Ketika Serena dan Ralphie masuk kedalam ruangan, tamu masih belum datang.
Setelah masuk, Ralphie melepaskan jaketnya, diberikannya kepada pelayan, kemudian memanggil Serena untuk duduk.
“Tamunya masih belum datang, jadi harus tunggu sebentar.” Ralphie terdiam sebentar, kemudian mengambil menu makanan dan diberikan kepada Serena, “Mau makan apa? Kamu pesan sendiri.”
Hello! Im an artic!
“Apa?” Serena jadi tidak tahu mau respon apa.
Ralphie menjelaskan dengan datar, “Kamu bukannya lapar? Pesen sedikit makanan dulu untuk ganjel perut.”
Serena menggelengkan kepala, “Tunggu tamunya datang saja.”
Ralphie tidak merespon perkataan Serena dan langsung membantu Serena memesan makanan kecil.
Pelayanan pelayan juga sangat cepat, tidak sampai sepuluh menit, makanan sudah dihidangkan.
Kedua menu makanan kecil ini adalah makanan ternama di club pribadi Keluarga Su, satu pangsit udang, satu lagi egg tart.
Karena makanannya sudah datang, Serena juga tak lagi sungkan, karena dia memang sangat lapar, apalagi kedua makanan yang tersusun indah ini sangat menggoda selera.
Ralphie melihat Serena yang dengan senang memakan makanannya, dia pun tersenyum hangat.
Serena mendongakan kepala dan melihat Ralphie sedang melihat kearahnya, ia merasa sedikit tidak enak dan berkata: “Kamu mau makan?”
“Ngga perlu.” Ralphie menggelengkan kepala.
“Ini beneran enak, kamu beneran ngga mau?” Serena bertanya dengan mengedipkan mata.
Ralphie kembali menggelengkan kepala, “Tidak.”
Serena juga tak lagi bertanya dan lanjut makan.
__ADS_1
Menunggu dia selesai makan, tamu juga pas-pas an datang.
“Direktur Ye, Nyonya Ye……” Ralphie berdiri dan bertegur sapa dengan pria dan wanita muda tersebut.
“Direktur Su……” Direktur Ye dan Nyonya Ye menyapa balik dengan sopan lalu menyapa Serena yang ada dibelakang.
Direktur Su mempersilhkan tamu duduk, “Direktur Ye, Nyonya Ye silahkan duduk.”
“Direktur Su terlalu sungkan.” Direktur Ye dan Nyonya Ye duduk.
Ralphie dan Serena juga ikut duduk dan pelayan memulai menyajikan makanan.
Semuanya mulai makan sambil berbicara, karena memang ini pertemuan makan pribadi bukan untuk membicarakan bisnis.
Serena tidak terlalu kenal dengan tamu yang datang, jadi dia hanya terus tersenyum dan mendengar pembicaraan mereka.
Setelah berbicara lama, Direktur Ye tiba-tiba berbicara tentang Serena.
“Pacar Direktur Su cantik sekali.”
Serena terdiam beberapa detik baru sadar kembali, dari mulut Nyonya Ye terdengar ‘Pacar direktur Su’ adalah dia, dia dengan cepat berkata: “Bukan, nyonya salah paham, aku bukan pacar dia.” Selesai berbicara Serena melirik ke arah Ralphie, melihat raut wajah Ralphie yang tidak senang, dia merasa sedih.
Hanya disalah pahami sebagai pacar dia saja, dia sudah sangat marah……
Sebenarnya pemikiran Serena salah, Ralphie memang marah, tetapi bukan karena disalahpahami kalau Serena adalah pacarnya, dia marah karena Serena dengan terburu-burunya mengatakan pada Nyonya Ye bahwa dia bukan pacarnya.
Ralphie tertawa dengan sikap dingin melihat kearah Serena, kemudian menjawab ‘En’.”
Karena kedua belah pihak menyangkal, maka Nyonya Ye juga mengerti bahwa dialah yang salah paham dan segera minta maaf, “Maaf, aku salah paham.”
“Tidak apa-apa.” Jawab Ralphie dengan senyuman dinginnya.
Dan Serena takut Ralphie akan marah, dia tak berani berbicara apapun.
Setelah makan malam, Direktur Ye dan Nyonya Ye izin pulang.
Ralphie dan Serena juga terburu-buru untuk segera kembali ke kota A, dan tak lagi menunda-nunda, setelah menunggu direktur Ye mereka pergi, mereka juga ikut bangun.
Ketika Raplhie bangun untuk mengambil jaket, ia juga ingin mengambil jaket Serena. Ketika dia memegang jaket tersebut, tiba-tiba dia teringat dengan penjelasan Serena yang terburu-buru tentang hubungan mereka. Raut wajah kembali menunduk dan tidak jadi mengambil.
Serena pikir Ralphie masih marah karena masalah salah paham tadi, jadi dia hanya diam-diam mengenakan jaket dan mengikuti keluar.
Sepanjang jalan keluar dari clubhouse, Ralphie terus menghadap lurus, sama sekali tidak melihat Serena, dan tidak seperti biasanya yang akan menyocokkan langkah kaki Serena.
__ADS_1
Ketika keluar dari clubhouse, Elizabeth sedang berdiri disamping mobil, melihat Ralphie keluar, dia langsung membukakan pintu belakang.
Ralphie masuk kedalam mobil, malah tidak seperti biasanya yang akan membukakan pintu untuk Serena masuk duluan, tetapi dia malah menutup pintunya.
Serena lebih terlambat dua menit keluar dari pintu clubhouse dan melihat pintu belakang sudah tertutup.
Langkah kakinya melambat sebentar lalu langsung mengarah kepintu mobil depan.
Ketika dia akan buka pintu depan, Suara Elizabeth terdengar, “Nona Serena, Anda duduk belakang.”
Serena melihat kearah pintu belakang mobil yang terbuka dan melihat wajah Raphie yang tanpa ekspresi duduk didalam.
Dia sepertinya tidak ingin duduk dengannya! Tetapi……
Melihat sekilas Elizabeth, Serena hanya menghela nafas dalam-dalam, kemudian masuk duduk dibelakang.
Agar Ralphie bisa tenangin diri, setelah masuk mobil, Serena sebisa mungkin membuat diri duduk mendekati pintu.
Sudut mata Ralphie memperhatikan gerak-gerik dia, membengkam kedua mulut dengan erat, lalu mengangkat tangan menekan tombol buka jendela.
Angin malam dimusim dingin bertiup dengan kencang, tak lama, suhu didalam mobil tergantikan oleh hawa dingin.
Serena yang duduk disamping Ralphie merasa kedinginan dan mengulurkan tangan untuk mengeratkan jaket.
Ketika Ralphie sedang menoleh, pas banget melihat gerakan dia.
Ralphie kembali membengkamkan bibir dengan tenaga kemudian dengan tenaga pula menutup jendela.
Setelah terdiam beberapa detik, sama sekali tidak merasakan suhu didalam mobil naik, dengan dinginnya berkata kepada supir, “Naikkan suhu mobil.”
Supir yang tak salah pun terkena dampaknya, suhu mobil rendah, bukankah karena Anda yang membuka jendela?
Tentu saja supir tersebut tidak punya nyali untuk melawan perkataan Ralphie, jadi hanya bisa mengikuti perkataannya untuk menaikkan suhu mobil.
Tak lama suhu mobil sudah mulai naik, tetapi tetap tidak mencairkan amarah Ralphie yang terlihat jelas dari raut wajah.
Setelah satu jam berlalu, mobil berhenti di bandara Kyoto.
Mobil baru saja stabil sampai ditujuan, Ralphie langusng membuka pintu dan turun, berjalan dengan cepat kedalam bandara.
“Direktur Ralphie, tiket pesawat Anda.” Elizabeth dengan suara tergesa-gesa memanggil Ralphie tetapi tidak berhasil.
Serena melihat seklias punggung Ralphie yang berjalan pergi, kemudian berbalik kearah Elizabeth dan berkata, “Tiket pesawatnya kasih aku saja.”
__ADS_1
Elizabeth menganggukan kepala, lalu memberikan tiket yang ada ditangan kepada Serena, “Repotin Nona Serena jadinya.”
“Ngga repot kok, terima kasih.” Serena melambaikan tangan ke Elizabeth kemudian masuk kedalam bandara.