I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 392 Pindah Kembali Ke Rumah Keluarga Su


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Molly tiba dalam waktu setengah jam.


“Kak Serena.” Ia menyapa Serena terlebih dahulu, lalu menyapa pelan Ralphie. “Kak Ralphie.”


Hello! Im an artic!


Ralphie mengiyakan Molly pelan dan bangun berjalan menuju ruang makan.


Serena tersenyum dan menyapa balik Molly. “Kamu lapar kan? Kita pergi makan dulu.”


“Oh, baik.” Molly mengangguk.


Saat di meja makan, interaksi Serena dan Ralphie sangat membuat orang iri, tapi juga tidak mengabaikan Molly, kadang juga mengambil lauk untuk Molly atau bertanya kondisi Molly.


Hello! Im an artic!


Setelah makan malam, Molly menemani Serena menonton televisi. Hingga jam sembilan, ia bangun untuk pergi.


“Kak Serena, sudah malam, aku harus pergi.”


“Ini sudah sangat malam, kamu menginap disini saja.” ucap Serena sambil mengerutkan dahi.


Molly sedikit berpikir, “Ini…”


Serena langsung memutuskan dan berkata, “Kamu tinggal disini saja, tidak bagus begitu malam pergi ke hotel.”


Ralphie langsung berbalik badan dan berkata, “Jika kamu besok ada urusan, boleh ikut mobilku ke kota.”


Serena dan Ralphie sudah berbicara seperti itu, jika Molly tidak ingin tinggal, juga hanya bisa tinggal.


Lagipula, ia juga terpikir ia akan tinggal disini, hanya saja khawatir sepupunya itu tidak menyukainya.


Dan sekali Molly tinggal disini , itu menjadi tempat tinggal dia selama bekerja Kota A.


Dalam beberapa hari ini, ia kira-kira bisa bertemu dengan Felix, karena Felix adalah asisten Ralphie, sangat normal jika bertemu Felix di rumah Ralphie, tapi siapa sangka Felix sama sekali tidak pernah muncul.


Hal ini membuat Molly sedikit kecewa.


Hari kepergiannya dari Kota A, ia mencoba bertanya keberadaan Felix ke Serena.


Serena menonton televisi sambil membalas, “Kamu bilang Felix? Ia di perintahkan Ralphie ke Negara M.”

__ADS_1


“Ia pergi ke Negara M?” Molly kaget mendengar ucapan Serena.


Serena memandang bingung ke arah Molly. “Iya, memang ada apa?”


“Tak apa-apa. Tak apa-apa.” Molly mengucapkan kalimat itu untuk dua kali, lalu tergesa-gesa pergi.


Malam hari, Serena memberitahu reaksi janggal Molly ke Ralphie.


“Kamu bilang mengapa reaksi Molly begitu kaget setelah mendengar Felix pergi ke Negara M?”


Ralphie membalas, “Mungkin ia ada masalah ingin mencari Felix.”


“Iya, ada kemungkinan.”


Setelah kepergian Molly, Serena dan Ralphie pindah kembali ke rumah Keluarga Su.


Ralphie tidak punya cara lain lagi, Felix pergi ke Negara M dan kantor membutuhkannya, jadi ia tidak dapat menemani Serena. Akhirnya Ralphie memutuskan untuk pindah kembali ke rumah Keluarga Su dan meminta Kakeknya untuk menjaga cucu menantunya yang sedang hamil.


Misi yang diberikan cucu kepada Kakeknya dilakukan dengan sangat baik.


Aktivitas semuanya hanya bisa di lakukan di lingkungan Villa, Serena ingin keluar rumah juga tidak boleh. Kakek tiap hari mengawasi Serena.


Situasi Serena sekarang seperti ini, pagi jam delapan bangun tidur dan makan sarapan, lalu keluar ke halaman untuk berjalan setengah putaran dan dipanggil kembali ke dalam rumah, setelah itu pergi mengikuti Kakek ke rumah kaca dan melihat Kakek merapikan bunga.


Seminggu berlalu, Serena sama sekali tidak dapat tahan lagi.


Serena memakai piyama tidur dan dengan malas menyandarkan tubuh di bahu Ralphie. “Ralphie…”


Ralphie mengeluarkan salah satu tangannya untuk mengelus kepala Serena.


Serena memanyunkan bibirnya, lalu memanggil lagi. Kali ini bukan dengan panggilan ‘Ralphie’, melainkan ‘Sayang’.


Ralphie segera menaruh pekerjaan disamping dan memeluk Serena. “Ada apa?”


Serena mencibir, “Bahkan Kakek memberi peraturan untuk tidak menonton televisi lebih dari dua jam, membaca buku tidak lebih dari tiga jam. Aku benar-benar bosan.”


Ralphie merendahkan kepalanya dan mencium Serena, lalu tertawa bertanya. “Sebegitu parah kah?”


“Iya. Aku merasa diriku seperti bayi saja.” balas Serena.


Ralphie mengangkat tangannya dan menyentuh pelan ujung hidung Serena. “Orang mana yang mengatai dirinya seperti itu?”


“Memang seperti itu kok.” Serena mengalungkan tangannya di leher Ralphie. “Aku tidak peduli, aku ingin keluar…”

__ADS_1


Ralphie tidak dapat menahan kemanjaan Serena. “Baik, aku akan menemanimu pergi.”


Serena mengedipkan matanya dan bertanya, “Bukankah kamu sedang sibuk?”


“Maafkan aku, seminggu ini jarang menemanimu.” Nada ucapan Ralphie terdengar bersalah kepada Serena.


Serena terdiam sejenak, lalu memberi sebuah ciuman pada pipi Ralphie. “Dasar, untuk apa kamu meminta maaf? Seminggu ini aku sangat baik, hanya saja aku merasa bosan.”


“Lain kali aku tidak akan membuatmu merasa bosan.” Lain kali ia akan meluangkan waktu untuk menemani Serena.


Hari kedua saat Serena dan Ralphie keluar, Kakek sudah banyak mengingat, hampir saja tidak diberikan peraturan yang banyak. Ia hanya takut kalau terjadi sesuatu pada Serena.


Serena menepuk dadanya dan duduk di kursi penumpang. “Kakek terlalu berlebihan.”


“Kakek sangat peduli kepadamu dan kandunganmu.” balas Ralphie.


“Mengapa sebelumnya aku tidak sadar, ia…” Serena tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik melihat ke Ralphie. “Kamu tidak memberitahu Kakek sebelumnya?”


“Aku lupa.” Ucap Ralphie santai.


Pantas Kakek begitu mengawasi dirinya, ternyata seperti itu.


“Kakek tidak mengocehimu?” Mengingat dulu Ralphie pernah menghilang, lalu Kakek tahu mereka semua menipunya dan Kakek mengocehi Ralphie banyak. (Hehe, sebenarnya orang yang merencanakan itu Serena, hanya saja Kakek tidak enak untuk mengocehinya.)


Masalah Serena hamil dan tidak diberitahu kepada Kakek, menurut Serena, Ralphie pasti kena marah.


Ralphie mengerutkan dahinya dan membalas, “Tidak diocehi, tapi dipukul dengan tongkatnya.”


Serena tidak tahan dan tertawa. “Haha…”


Ralphie tidak menghentikan suara tawanya dan menyetir kendaraannya dengan serius. Ia harus serius, karena didalam kendaraan terdapat seluruh dunianya.


Setelah Serena selesai tertawa, ia baru bertanya. “Kapan kamu dipukul? Sakit tidak? Mengapa kamu tidak memberitahuku?”


“Malam dimana kita pulang. Dipukul beberapa kali, tidak sakit kok.” ucap Ralphie.


Serena langsung berkata, “Sini aku lihat lukanya.”


“Sudah sembuh, kamu tidak perlu lihat.” Ralphie menggelengkan kepalanya.


Serena tetap ingin melihatnya. “Aku mau lihat.”


“Setelah selesai jalan-jalan, baru lihat di kantor ya?” kata Ralphie kepada Serena.

__ADS_1


Serena berpikir sejenak dan menyetujuinya. “Baik.”


__ADS_2