I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 309 Akhirnya Bisa Membuat Dia Tetap Disini


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena terbangun dengan tubuh dan pikiran yang kosong dan kelelahan, dia menatap kosong, baru teringat kejadian semalam.


Setelah Ralphie menyetir mobil pergi, dia sendirian berjalan pergi, lalu jalan dan jalan, tiba-tiba merasa sangat lelah, lalu tidak mengingat apa-apa lagi……jadi sekarang dia ada dimana?


Hello! Im an artic!


Serena bangun untuk melihat ruangan sekitar dan dia melihat bayangan yang sedang berdiri di depan jendela.


Dia menatap bayangan itu untuk beberapa detik lalu memanggil, “Ralphie?”


Ralphie tidak bergerak, lalu dengan perlahan membalikkan badan.


“Sudah bangun?” Dia berkata dengan dingin, tanpa ada ekspresi apa-apa.


Hello! Im an artic!


Dibandingkan dengan sikap dingin Ralphie, Serena sangat bersemangat.


Karena dia yakin, kemarin malam sebelum dia kehilangan kesadaran, suara yang dia dengar, dia yakin itu adalah suara Ralphie.


“Ralphie, semalam benar-benar kamu? Bukan mimpi?”


Ralphie tidak menjawab pertanyaannya, hanya berkata satu kalimat “Aku pergi dulu Felix sudah dalam perjalanan kesini.” Lalu dia berjalan keluar.


Sebenarnya setelah dia mengabari Felix, dia mau pergi. Tapi kalau dia belum melihat Serena bangun, hatinya tidak bisa tenang……


“Ralphie, kamu jangan pergi……” melihat Ralpgie mau pergi, Serena panik, dia menyingkirkan selimut yang menyelimuti dia, lalu ingin bangun dari ranjang untuk mengejar Ralphie.


Sayangnya tubuhnya terlalu lemas, kaki baru menyentuh lantai, tubuhnya langsung terasa ingin terjatuh.


Ralphie baru saja memegang pegangan pintu, dia mendengar Serena menyuruh dia jangan pergi, dia tidak sempat membalas, dia sudah mendengar suara Serena yang hampir terjatuh.


Dia langsung kembali menghampirinya dan melihat Serena sudah terjatuh ke lantai.


Saat itu dia sudah tidak ingat keinginannya untuk meninggalkan Serena, dia berjalan cepat menghampiri Serena, membantu Serena bangun, lalu dengan cemas bertanya, “Kenapa bisa jatuh? Sakit tidak?”


Melihat reaksi Ralphie seperti itu, Serena tiba-tiba menjadi senang, “Ralphie, kamu masih peduli denganku.”


Mendengar perkataan Serena, Ralphie tubuhnya menjadi kaku, wajahnya berubah menjadi dingin, dia membantu Serena naik ke atas kasur lagi, lalu berkata: “Aku pergi dulu.”


Kali ini, dia belum sempat membalikkan badan, Serena dengan cepat menjulurkan tangannya dan menarik lengan Ralphie.

__ADS_1


“Lepaskan.” Ralphie tidak melihat Serena, dia melepas tarikan tangan Serena.


Tapi Serena bagaimana bisa melepaskan tangannya? Demi membuat Ralphie tidak melepas tangannya, dia sampai memeluk tangan Ralphie, “Tidak akan aku lepaskan.”


Ralphie mengerutkan keningnya dan dengan tangan satunya lagi mencoba untuk melepas tangan Serena.


Serena menyadari dalam situasi seperti ini, cepat atau lambat dia akan berpisah dengan Ralphie.


Dipikir-pikir, dia langsung melepas tangan Ralphie, lalu menjadi memeluk pinggang Ralphie.


Apa yang dilakukan Serena terlalu tiba-tiba, Ralphie tidak sempat bereaksi apa-apa, jadi pinggangnya di peluk dari belakang oleh Serena.


Dulu saat mereka masih dekat, Serena sering memeluk dia seperti ini.


Perasaan rindu yang sudah ditahan lama ini membuat darah di tubuh Serena menjadi mengalir terbalik, sekujur tubuhnya hanya terdiam memeluk Ralphie.


Serena melihat reaksi Ralphie, dia merasa bangga dengan cara yang dia lakukan ini.


Tapi setelah Ralphie tidak bereaksi seperti itu dan membalikkan badan, wajahnya terlihat kosong dan dingin, matanya juga memancarkan amarah.


Dia mencoba menarik lepasn tangan Serena, sambil berkata dengan marah; “Serena, sebenarnya kamu mau apa?”


Dia sudah jelas berkata jangan mencari dia lagi. Ralphie juga sudah mendengar langsung dari dia untuk melepas dia, tapi dia sekarang mengerjar Ralphie dari Perancis sampai ke Swiss.


Sebenarnya dia mau apa?


Air matanya tetes per tetes jatuh ke kasur, tapi juga membakar hati Ralphie.


Dia mengerti jelas, dirinya sendiri sangat sulit untuk tetap berpura-pura acuh terhadapnya, hatinya juga perlahan menjadi lembut.


Hingga berpikir ingin memeluk Serena untuk menghentikan air mata Serena.


Dia sudah tidak bisa menahan lagi, dari awal walaupun Serena menolak dia, dia memiliki hati yang lembut pada Serena.


Tentu saja Ralphie tidak memeluk Serena, dia hanya berkata: “Jangan menangis.”


Mendengar dia berkata begitu, Serena langsung mengangkat kepalanya, melihat langsung ke matanya dengan air mata di matanya sendiri, “Bolehkah kalau kamu tidak pergi?”


Ralphie memandangi dia untuk beberapa saat, akhirnya mengalah, memutuskan untuk tidak pergi sebelum Felix datang.


“Kalau Felix belum datang, aku tidak akan pergi.”


Serena tidak puas dengan jawaban Ralphie, tapi dia sudah berpikir dengan jelas. Buat Ralphie tetap disini, nantinya dia akan menyuruh Felix untuk tidak datang, Ralphie akhirnya hanya bisa tetap disana.

__ADS_1


Dia sudah memikirkan cara di dalam hatinya, suasanya hatinya juga sudah membaik, wajah Serena menunjukkan senyuman yang lebar, “Kamu sudah berkata begitu, tidak boleh membohongi aku.”


Melihat senyuman Serena, Ralphie menjadi ingin tersenyum, tapi dia terpikir sesuatu jadi dia kembali ke wajahnya yang semula.


Serena melihat Ralphie terdiam, mengira dia sudah menyesal, dengan cepat bangun dari kasurnya untuk menarik Ralphie, tapi dia lupa kakinya terkilir.


“Auuu……”


Ralphie langsung menghampiri dia dan membantu dia bangun, “Kakimu masih belum membaik, untuk apa banyak bergerak?”


“Aku lupa.” Serena menjawab dengan polos.


Kakimu sendiri terkilir, kamu lupa?


Ralphie melihat dia yang kasian, akhirnya tidak mengatakan apa-apa, hanya membantu dia kembali ke kasurnya, lalu melihat kakinya untuk memeriksa.


Melihat kakinya yang membengkak lagi, Ralphie mengerutkan kening, “Aku panggil dokter kesini.”


Serena takut setelah Ralphie meninggalkan ruangan itu, dia tidak akan kembali lagi, jadi dia menggemgam tangan Ralphie.


Ralphie memandangi dia, pada akhirnya dia tidak meninggalkan ruangan itu, tapi memencet tombol di dalam ruangan itu untuk memanggil dokter.


Dokternya langsung datang dan memeriksa kaki Serena, lalu yakin karena dia terus bergerak, kakinya semakin parah.


Setelah memberikan sebotol obat dan resep dokter, dia pergi.


Serena yang salah, dia seperti anak yang terkena omelan, dia menundukkan wajahnya dan tidak berani berbicara.


Ralphie membuka obat itu tanpa berkata apa-apa dan membantu dia memakaikan obatnya.


Kakinya sangat sakit bila terkena obat, tapi Serena takut Ralphie marah, jadi dia hanya bisa menahan sakit, tapi kakinya bisa bergerak tanpa sadar.


Ralphie mengangkat kepalanya dan menatap dia, tidak berkata apa-apa, tapi dia meringankan gerakan tangannya.


Setelah membantu Serena memakaikan obat di kakinya, Ralphie menyelimuti dia, lalu mengambil obat itu dan berdiri.


Serena menarik tangannya dan dengan hati-hati memanggil Namanya, “Ralphie……”


Ralphie membalikkan kepala untuk melihat dia, lalu berkata dengan lembut: “Aku ingin pergi mencuci tangan.”


“Oh.” Serena baru menarik kembali tangannya.


Setelah menunggu Ralphie masuk ke kamar kecil, Serena langsung bangun dari kasur.

__ADS_1


Melihat ke arah kamar mandi, lalu mengambil tasnya dari meja yang ada di samping kasur, lalu dia membuka tasnya dia mengambil hpnya.


Lalu mengirimkan pesan ke Felix, “Felix, aku sedang memikirkan cara untuk membuat Ralphie tetap disini, kamu jangan kesini.”


__ADS_2