
Hello! Im an artic!
Setelah masak di Shadewoods kali ini, Serena kalau ada waktu pasti akan meminta asisten rumah tangga untuk mengajarnya masak menu baru, kalau sudah bisa dia akan memasak untuk Ralphie, kemudian kalau Ralphie di rumah, dia pasti akan menemani Serena didapur.
Ada satu malam, Serena dan Ralphie didapur, dan ternyata Leonard menelepon.
Hello! Im an artic!
Serena melihat tampilan layar ponsel, lalu memberikan panci yang ditangan ke Ralphie, kemudian meninggalkan dapur untuk mengangkat telepon.
Setelah Serena mengangkat telepon, dia langsung bertanya, “Ayah meneleponku, ada keperluan?”
“Serena, kamu sudah balik dari luar negeri?” Tanya Leonard.
Serena dengan datar menjawab: “Sudah.”
Hello! Im an artic!
Mendengar Serena sudah kembali tetapi tidak menjenguk dia, Leonard langsung marah, “Anak durhaka, sudah balik kenapa tidak datang ke rumah sakit untuk melihat ayah?”
Serena bahkan tidak mengedipkan mata dan melihat ke arah Ralphie yang sedang sibuk didapur, tanpa berkata apapun.
Leonard mendengar Serena yang tidak bersuara, langsung berbicara dengan nada yang lebih lembut, “Serena, aku sekarang selain kamu, sudah tidak ada apa-apa lagi, kalau kamu juga……”
Serena tidak menunggu Leonard menyelesaikan perkataannya, langsung memutuskan pembicaraan, “Aku tahu, aku matiin telepon dulu.”
Leonard bertanya lagi, “Kamu besok datang lihat aku kan?”
Serena tidak menjawab dan memutuskan telepon.
Setelah memutuskan telepon, Serena duduk diam disofa, memikirkan apakah dia ingin pergi menemui Leonard atau tidak.
Serena membenci Leonard, benci karena dia terlalu melindungi Bella, makanya hampir saja membuat dia dan Ralphie tidak ada kesempatan untuk berbalikan. Membencinya karena jelas dia sudah tahu Bella banyak melakukan perbuatan yang seperti ini tetapi masih memintanya untuk melepaskan Bella.
Tetapi disaat yang bersamaan Serena juga merasa Leonard kasihan, sendirian di rumah sakit……
Ralphie keluar dari dapur, melihat Serena sedang duduk melamun disofa, jadi dia menghampiri Serena dan bertanya: “Kenapa?”
Serena sadar dari lamunannya dan melihat Ralphie, tersenyum tipis bertanya, “Tidak apa-apa, sayur sudah selesai dimasak?”
Serena tidak ingin ngomong, Ralphie juga tidak berencana bertanya jadi hanya berkata: “Sudah aku taroh dipiring, asisten rumah tangga lagi ambilin sup.”
“Ya sudah yuk kita pergi makan.” Serena berdiri sambil menarik Ralphie kedapur.
__ADS_1
Pada akhirnya Serena memutuskan untuk pergi menjenguk Leonard, tetapi dia berencana memberi tahu Ralphie, dia juga tidak punya muka untuk membiarkan Ralphie tahu. Karena bagaimananpun hubungan dia dan Ralphie hampir saja tidak dapat balikan karena ulah Bella yang memanfaatkan Leonard yang kena stroke.
Jadi hari kedua siang jam dua, Serena pergi mencari Karina untuk izin.
Tak disangka Kepala departemen juga ada disana, kebetulan ada dikantor Karina.
Kepala departemen sejak awal memang tidak begitu suka pada Karina, hanya saja kemampuan Karina memang tidak dapat dia ganggu, jadi Kepala departemen hanya bisa melampiskan pada Serena, “Kamu anak bawahan designer siapa sih? Kamu tidak tahu kalau mau izin juga harus lewat Kepala departemen?”
Serena dengan bingung melihat sekilas ke Karina, kemudian menjawab, “Maaf, saya tidak tahu.”
“Kamu……” Kepala departemen baru saja akan memaki Serena, Karina buka suara untuk membantu Serena, “Kepala departemen, dia anak baru, masih kurang paham untuk masalah ini, mohon pengertiannya.”
Kepala departemen tidak mungkin menghancurkan image Karina begitu saja, jadi hanya berkata, “Kalau memang dibawah Karina, ya sudah.”
Serena dengan cepat berkata, “Terima kasih Kepala departemen.”
Setelah Kepala departemen pergi, Karina langsung meminta maaf pada Serena, “Nyonya Serena, masalah tadi Kepala departemen sedang mencari hal dengan saya, mohon pengertiannya.”
“Mencari hal dengan kamu?” Serena menaikkan alisnya.
“En, karena masalah kecil.” Karina tidak berencana untuk membicarkan masalah yang ada antara dia dan Kepala departemen, jadi langsung mengalihkan pembicaraan, “Oh ia, Anda ingin izin berapa lama?”
Sepertinya Karina seperti Manajer Ye, sudah ketakutan karena Serena izin.
“Oke.” Karina menganggukan kepala, kemudian berkata: “Aku baru saja dapetin sketsa customer, aku rasa cocok dengan style Anda, Anda mau lihat dulu?”
Serena terdiam sebentar, kemudian menganggukan kepala, “En, oke.”
Karina menjawab ‘En’, lalu dari laci mengambil berkas dan memberikannya kepada Serena.
“Anda lihat dulu.”
Serena membuka berkas dan melihatnya, kemudian bertanya, “Ini kasih aku kerjakan?”
“Kalau Anda bersedia.” Karina memasang ekspresi wajah ‘Semua tergantung pilihan Anda’.
Malah membuat Serena menjadi tidak enak, “Kapan deadline waktu untuk menyerahkan sketsa? Selain persyaratan yang ada diberkas, masih ada syarat lain?”
“Sketsa diserahkan hari jumat, Nona Hannah Jiang adalah customer lama kantor, persyaratannya tidak banyak, semua sudah ditulis diberkas, tidak akan ditambah.” Jawab Karina.
“En, hari jumat aku kasih Kak Karina.” Serena menganggukan kepala lalu berdiri.
Karina juga ikut berdiri dan berkata: “Repotin Anda.”
__ADS_1
Serena tidak berbicara, memegang berkas ditangan lalu pergi meninggalkan kantor Karina.
Karena sudah izin, setelah Serena keluar dari kantor Karina, dia langsung membereskan barang bersiap pergi ke rumah sakit.
Meja Sarah tak jauh dari meja dia, melihat Serena membereskan barang, Sarah langsung bertanya, “Serena, kamu beresin barang ngapain?”
“Sore nanti aku ada urusan, jadi izin.” Jawab Serena.
“Oh.” Sarah menganggukan kepala, kemudian melihat sekeliling, kebetulan melihat kearah berkas yang diberikan Karina kepada Serena, “Eh, ini apaan?”
“Itu sketsa yang perlu aku kerjakan dari Kak Karina.” Jawab Serena tak begitu serius menanggapi.
Mendengar perkataan Serena, mata Sarah memancarkan rasa iri, tapi dengan cepat sudah berlalu.
“Serena, Kak Karina sangat menghargai kamu.”
“En.” Serena menganggukan kepala, kemudian berkata: “Sarah, aku buru-buru, aku pergi dulu ya.”
“Oke, ini berkas kamu.” Sarah berbicara sambil memberikan berkas kepada Serena.
Serena mengambil berkas lalu memasukinya kedalam tas, “Terima kasih, aku hampir saja lupa.”
Mata Sarah memancarkan cahaya kemudian berkata: “Hubungan kita memang seperti apa, ngapain begitu segan?”
“En, bye-bye……”
“Bye-bye……”
Setelah Serena meninggalkan kantor, dia pergi ke supermarket sebentar membeli buah, kemudian memanggil taxi pergi ke rumah sakit No 3.
Setelah membayar dan turun dari taxi, Serena berjalan ke arah kamar Leonard.
Sepanjang jalan banyak dokter dan perawat yang menyapanya.
Ketika Serena membuka pintu kamar Leonard, Leonard sedang telponan. Melihat Serena masuk, mata dia terlihat kelabakan, kemudian dengan cepat mematikan telepon, “Serena, kamu sudah datang?”
Serena tidak menyadari ada yang aneh dari Leonard, jadi dia hanya menjawab ‘En’, meletakkan buah di atas meja.
Mata Leonard mengikuti gerak Serena, “Serena, kamu datang jenguk ayah ngapain repot-repot bawa buah?”
“Aku cuma tidak mau aja dikira anak durhaka.” Jawab Serena datar.
Leonard yang dibalas Serena seperti itu, tidak dapat berkata apa-apa.
__ADS_1
Serena juga tidak mempedulikan dia, hanya meletakkan buah lalu balik badan untuk pergi, “Aku masih ada urusan, aku pergi dulu.”